
"Menurut kamu, meminta maaf duluan itu perlu nggak Kend?" tanya Elang tiba-tiba, merubah topik pembicaraan. Dan sesi curhat colongan di mulai.
"Bos ada masalah dengan nona?" tanya Kendra.
"Hem, dia bikin ulah lagi," sahut Elang, ia menjelaskan apa yang terjadi siang tadi setelah ia selesai meeting dan berpisah dengan Kendra.
"Bos bertemu tuan Ervan? Tuan Ervan yang menolong nona?" tanya Kendra memastikan.
"Hem," sahut Elang singkat.
"Pantas saja bad mood, musuhku pahlawan istriku judulnya, yang tadinya benci jadi ada hutang budi. Berat-berat!" batin Kendra mendesah sambil mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Berat," gumam Kendra.
"Apanya yang berat?" tanya Elang.
"Aku kan cuma tanya apa perlu jika aku meminta maaf duluan, sedangkan yang salah dia," lanjutnya.
"Menurut saya, Anda bisalah sedikit menurunkan ego Anda demi nona. Bos dan nona itu menikah dulu baru sekarang sedang mencoba saling mengenal, bukan saling mengenal dulu baru menikah. Jadi, wajar jika masih banyak harus belajar saling memahami satu sama lain. Mereka yang sudah mengenal dan menjalin hubungan lama saja, tetap saja membutuhkan waktu untuk dan tetap akan butuh waktu untuk benar-benar saling memahami," Kendra mencoba memberi saran sebijak mungin mumpung otaknya belum kumat absurdnya.
Elang memicingkan matanya, tumben asistennya itu bener ngomongnya.
"Super sekali Anda pak Kendra," ucap Elang memicingkan matanya membuat Kendra terkekeh.
"Lalu bagaimana dengan tuan Ervan bos? Klien kita yang satunya memilih bekerja sama dengannya," tanya Kendra.
"Biarkan saja, aku tidak mau ambil pusing hanya karena satu klien tidak tahu berterima kasih seperti dia," jawab Elang.
Mereka meneruskan obrolan, membahas tentang pekerjaan.
Sementara Senja sedang sibuk memasak di dapur. Meski masih kesal, ia tetap memasak untuk makan malam nanti. Ia menyiapkan beberapa menu makan malam karena Kendra membawa cukup banyak bahan makanan.
πΌπΌπΌ
Waktu makan malam pun tiba, Kendra yang masih belum pulang ikut bergabung makan malam dengan sepasang suami istri yang sedang saling mogok bicara tersebut karena di paksa oleh Elang guna menengahi kecanggungan yang terjadi di antara ia dan Senja.
Suasana di meja makan cukup mencekam bagi Kendra. Ia merasa aura dingin dari keduanya.
"Bos, sebaiknya saya pulang saja," ucap Kendra yang merasa aneh jika harus berada di antara dua orang yang sedang perang dingin tersebut.
"Beranjak satu langkah, tanggung akibatnya!" ancam Elang.
Kendra yang sudah setengah berdiri daro duduknya langsung duduk kembali sambil berdecih.
Senja tetap melayani Elang, dengan mengambilkannya nasi dan pelengkapnya meski tanpa suara.
"Biar saya ambil sendiri nona," ucap Kendra ketika Senja hendak mengambil piring di depan Kendra untuk di isi nasi.
Mereka mulai makan malam dalam keheningan. Sesekali Kendra melirik ke arah keduanya yang seolah sedang melampiaskan kekesalan mereka kepada makanan yang mereka santap. Membuatnya merasa merinding dan merutuki nasibnya sendiri yang harus terjebak dalam situasi canggung tersebut.
"Bos, katanya mau minta maaf?" Kendra mengirim pesan kepada Elang.
Elang hanya mengernyit setelah membacanya.
"Kita cuma bersebrangan meja saja, kenapa pakai pesan singkat segala?" ucap Elang kepada Kendra. Senja hanya melirik sekilas, lalu melanjutkan makannya.
"Soal hal itu, aku punya caraku sendiri," lanjutnya.
Mereka kembali terdiam. Kendra yang merasa gemas melihat keduanya yang masih sok jaim, langsung menjatuhkan punggungnya di sandara kursi yang ia duduki.
"Huh nggak asyik!" seru Kendra tiba-tiba. Otak nya mulai memberontak.
__ADS_1
Elang dan Senja langsung menatap penuh tanya ke arahnya.
"Saya merasa seperti sedang menonton televisi jaman dulu, ada gambarnya tapi nggak ada suaranya," ucapnya lirih namun cukup menohok hati Elang dan Senja.
"Aku cuci piringnya dulu," ucap Senja, membereskan lalu membawa piring yang baru saja mereka gunakan ke dapur.
Elang hanya menatap langkah Senja tanpa bersuara.
πΌπΌπΌ
Selesai mencuci piring Senja hendak ke kamarnya. Ia melirik sekilas ke ruang kerja Elang, dua orang laki-laki itu sepertinya berada di sana. Sedang membahas apa, entahlah. Senja tak ingin tahu. Ia meneruskan langkahnya menuju ke kamar.
Senja berdiri di balkon kamarnya. Memikirkan akan di bawa kemana sebenarnya pernikahannya dengan Elang tersebut. Apakah pernikahan mereka akan bertahan hingga nanti, sampai mereka tua dan mau yabg memisahkan. Atau akan berakhir dengan cepat, mengingat ini merupakan pernikahan dadakan.
"Sebenarnya apa yang aku cari dari pernikahan ini? Apa yang aku inginkan dari pernikahan ini?" gumamnya seraya mendesah pelan. Jujur saja, perasaan nyaman itu memang ia dapatkan, tapi rasa marah juga masih memiliki tempat di hatinya, marah dan benci karena Elang sudah menyebabkan satu-satunya orang yang tulus menyayanginya pergi untuk selamanya. Dan ia yakin jika Elang menikahinya hanya karena merasa bersalah.
"Jujur aku masih takut untuk benar-benar membuka hati, setelah semua yang mereka (Niko dan Mitha) lakukan. Sulit untuk aku mempercayai cinta lagi, kau juga pasti masih menyimpan nama itu di hatimu El. Lalu kemana pernikahan ini akan berlabuh. Kau akan membawaku berlayar kemana El?" gumamnya.
Tanpa Senja sadari, ternyata Elang mendengar gumamannya sejak tadi. Laki-laki itu kini tengah menyandarkan kepala dan pundaknya di bibir pintu, melipat kedua tangannya di dada sambil menikmati pemandangan indah di depannya, yaitu istrinya yang sedang menatap langit sambil bergumam.
Elang akui, apa yang di ucapkan oleh Senja benar adanya. Alasan utamanya menikahi Senja adalah karena janjinya kepada sang kakek, dan tentu saja nama Bianca tidak akan pernah bisa benar-benar hilang begitu saja.
Elang berjalan mendekati Senja perlahan.
"Sebagai nahkoda, aku akan bertanggung jawab membawamu berlayar hingga sampai ke pantai kebahagiaan. Aku tidak akan membawamu berlayar hanya sampai di tengah lautan," ucap Elang seraya tangannya menyusup ke celah di antara kedua tangan Senja yang menggantung. Memeluk istrinya dari belakang seperti itu menjadi kesukaan barunya.
Senja langsung menoleh, sedikit mendongak ketika suara Elang terdengar jelas di telinganya. dan sepasang tangan kokoh melingkar posesif diperutnya.
"El...?"
"Maafkan aku," ucap keduanya bersamaan, karena sudah saling mendiamkan sejak siang tadi dan itu sungguh tidak nyaman bagi keduanya. Mereka tersenyum karena mengucapkan kata maaf bersamaan.
"Aku tahu, untuk membawamu berlayar di samudra, aku butuh keberanian yang cukup. Keberanian untuk menyembuhkan luka hatimu, untuk bisa membuat kamu bahagia dan keberanian untuk membawamu melawan ombak kehidupan yang pasti tidak akan mudah bisa lepas dari bayang-bayang masa lalu. Aku dan kamu sama-sama memiliki masa lalu yang pasti meninggalkan bekas di hati. Tapi, mari kita saling mencoba," ucap Elang panjang lebar.
"Aku tidak apa-apa, tidak sakit juga tidak terluka karena mas Niko lagi," ucap Senja.
Mendengar Senja memanggil Niko dengan sebutan mas, Elang langsung merenggangkan pelukannya.
"Kenapa kamu memanggilnya mesra sekali? Aku sebagai suami saja kamu panggil nama," Elang mengerutkan keningnya, protes dengan ucapan Senja.
"Mesra apanya? Astaga, aku dari dulu memang memanggil dia begitu, dia lebih tua dari aku, dan dia atasan aku di kantor. Apanya yang salah El jika aku memanggilnya mas Niko?"
"Orangnya tidak ada di sini, tak perlu sebagus itu nyebut namanya, seolah dia pria baik yang tidak pernah menyakiti kamu saja," cebik Elang.
"Kau cemburu? Mau aku panggil mas juga?" tanya Senja menatap mata suaminya. Elang menggeleng.
"Lalu?"
"Aku tidak mau disamakan dengannya," ucap Elang.
"Lalu aku harus memanggilmu apa? Sayang?" entah kenapa kata itu keluar begitu saja dari mulutnya.
"Apa kamu sudah mulai sayang sama aku?" kembali mengeratkan pelukannya.
"Kau sendiri?" Senja balik bertanya.
"Sedang berusaha," sahut Elang jujur.
"Apa kau mau berusaha bersamaku? Apa kamu mau mencoba membuka hati untukku?"
"El...aku..." Senja tidak tahu harus menjawab apa, ini terlalu cepat menurutnya.
__ADS_1
"Sudahlah, tidak perlu di jawab sekarang. Dan panggil saja aku El, jika sayang tidak nyaman untukmu,"
"Aku butuh waktu, untuk yakin," ucap Senja.
"Aku mengerti. Tapi satu hal harus kamu tahu, aku tidak pernah menganggap pernikahan ini sebagai sebuah kesalahan. Menjadikan kamu istri adalah pilihanku, bukan kesalahan,"
Senja tersenyum mendengarnya,"Terima kasih," ucapnya tulus. Ia memutar badannya hingga kini mereka berhadapan. Tangan Elang tak lepas memeluk pinggangnya.
Senja menyentuh ujung bibir Elang yang siang tadi berdarah dan sekarang meninggalkan luka di sana. Elang meringis saat luka itu di sentuh oleh Senja.
"Sakit ya? Maaf gara-gara aku kamu jadi..."
Sebelum Senja menyelesaikan kalimatnya, Elang sudah membungkam mulut Senja dengan bibirnya.
"Karena ini gara-gara kamu, maka kamu harus mengobatinya," ucap Elang setelah mencium bibir cherrynya dan kembali mencium bibir tersebut dengan lembut. Sejenak terdiam, Senja berinisiatif membalas ciuman suaminya. Tangannya, ia lingkarkan di tengkuk Elang. Elang tersenyum.
"Sudah mulai pintar berciuman," batinnya senang.
Ciuman itu semakin lama semakin panas. Membuat Elang menginginkan lebih dan lebih.
"Aku ingin menagih hukumanmu sekarang," bisiknya di telinga Senja, suaranya terdengar serak menahan hasrat dan terdengar seksi. Tubuh Senja langsung bereaksi mendengarnya, langsung menangkap apa yang di maksud suaminya tersebut, membuat tubuhnya berdesir.
Senja menatap dalam mata Elang yang tidak bisa Elang artika apa arti tatapan itu.
"Aku tidak memaksa, kita pernah melakukannya sekali karena kebodohanku. Aku akan menunggu sampai kamu benar-benar sudah siap," ucap Elang.
"Maafkan aku," ucap Senja.
"Tidak apa-apa," sahut Elang meski kecewa.
Senja mengembuskan napasnya, memantapkan hatinya.
"Lakukanlah!" ucapnya. Membuat Elang menatap penuh tanya.
"Aku istrimu, kamu berhak melakukannya. Justru aku akan berdosa jika menolak. Tapi..."
"Tapi apa?"
"Aku belum siap jika hamil," Elang mengerutkan keningnya.
"Maksudku, aku ingin jika anak itu ada dalam keadaan kita benar-benar saling mencintai, bukan hadir karena memenuhi kebutuhan batin semata. Aku ingin anak itu hadir karena cinta," jelas Senja lirih. Apa ia terlalu egois jika memikirkan akan hadirnya cinta diantara keduanya. Namun itulah keinginannya, ia tak ingin nantinya anak yang menjadi korban jika suatu saat Elang kembali ke masa lalunya, karena segala kemungkinan itu bisa terjadi.
"Baiklah, aku akan memperhitungkannya saat melakukan," sahut Elang, ia akan memberi waktu untuk Senja menerima semuanya.
Karena sudah sepakat, Senja memberanikan diri mencium Elang duluan. Elang cukup terkejut, istrinya berinisiatif seperti itu. Di balasnya ciuman Senja dengan rakus. Beralih ke leher putih Senja dan meninggalkan bekas merah di sana dan kembali memagut bibir istrinya.
Elang membopong tubuh Senja dan menidurkannya pelan di ranjang tanpa melepas ciuman mereka. Elang melepas baju yang Senja kenakan tanpa sisa. Elang menatapnya penuh damba, membuat Senja merasa malu ditatap seperti itu. Ia menutupi bagian intinya.
"Tidak usah malu, ini bukan yang pertama kalinya," ucap Elang dan langsung menyusuri setiap inchi tubuh sang istri sambil melepas pakaiannya satu persatu. Kini mereka sama-sama tanpa busana.
"Adil kan?" ucap Elang dengan senyum smirknya.
Elang kembali melakukan serangan demi serangan terhadap tubuh istrinya. Di telusurinya dari ujung rambut hingga ujung kaki dengan bibirnya, membuat Senja benar-benar kehilangan akal. Tangan Elang tak mau diam, sibuk bermain di dada Senja.
Elang menatap Senja, meminta persetujuan istrinya ketika hendak memasukkan bola ke dalam gawangnya. Senja mengangguk pasrah, karena dia juga sudah tidak tahan ingin segera di mantap mantap oleh suaminya karena birahinya juga sudah tinggi akibat pemanasan yang Elang berikan.
Elang tersenyum, pelan-pelan ia mendekatkan Adiknya ke gawang dan....
Goooollll!
Gol kedua pun terjadi. Entah berapa ronde mereka melakukannya. Suara seksi mereka berdua memenuhi seisi kamar kedap suara tersebut. Malam yang panjang pun di mulai. Dan hukuman pun sudah Senja lunasi.
__ADS_1