Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 81


__ADS_3

Puas menikmati keindahan menara Eiffell di siang hari, Elang mengajak Senja untuk kembali ke mobil. Namun, Senja menolaknya. Ia justru mengajak Elang untuk berjalan kaki untuk menyusuri tempat-tempat terdekat dari menara Eifell tersebut. Elang tak bisa menolak, mengingat cuaca juga tak begitu panas siang itu dan masih ada sedikit waktu lagi sebelum . Ke acara.


Senja menghentikan langkah kakinya ketika melihat sebuah monumen berwaran gold yang sedang di kerumuni segerombolan orang. Beberapa di antaranya terlihat membawa buket bunga.


"Itu monumen tidak resmi putri Diana," jelas Elang tanpa di minta ketika melihat kemana arah pandangan Senja.


Senja menatap suaminya untuk meminta penjelasan lebih.


"Itu sebenarnya monumen statue of Liberty flame atau patung api kebebasan. Simbol persahabatan antara Perancis dengan Amerika Serikat. Namun, karena Lady Diana mengalami kecelakaan dan meninggal di terowongan itu, monumen itu secara tidak resmi di gunakan oleh para fansnya untuk mengenang kematian Lady Diana," jelas Elang seraya menatap monumem berbentuk obor tersebut. Ia melirik Sang istri yang masih menatap segerombolan orang itu sambil mangguk-mangguk.


" Ehem?" Elang berdehem yang mana membuat Senja menoleh ke arahnya, "Apa?" tanyanya.


Elang sedikit menunduk dan menunjuk pipi kanannya, "Bayarannya karena udah jadi tour guide dadakan kamu," ucapnya tersenyum.


Senja berdecak mendengarnya namun ia tetap mencium pipi suaminya tersebut, "Udah," ucapnya, tangannya mengusap-usap lembut pipi yang baru saja ia cium. Elang memegang tangan itu lalu mengecupnya mesra, membuat Senja tersipu.


Elang kembali menggandeng tangan Senja dan mengajaknya melanjutkan langkah kaki mereka. Hingga mereka sampai di sebuah jembatan beralas kayu berlapis besi. Jembatan khusus untuk para pejalan kaki yang terbentang di atas sungai Seine. Elang mengajak Senja duduk di salah satu bangku yang terletak di tengah jembatan bernama pont des Art tersebut sambil menikmati alunan musik jalanan yang terdengar syahdu dan menambah suasana romantis.


"Pernah dengar nama pont des art bridge atau jembatan gembok cinta? Di sini tempatnya sayang," ucap Elang.


"Pernah, katanya di sini kalau kita beli gembok terus nulis nama pasangan kita dan mengaitkan di dinding jembatan, terus buang kuncinya di sungai seine, cinta kita akan abadi," sahut Senja, setidaknya begitulah yang pernah ia dengar soal jembatan tersebut.


"Tapi..." Senja menoleh ke sisi kiri dan kanan jembatan tersebut, tak ada ribuan atau bahkan mungkin jutaan gembok yang ia maksudkan. Yang ia lihat adalah dinding kaca dengan lukisan street art.


Senja kembali menatap Elang yang sudah paham dengan apa yang sedang di pikirkan oleh istrinya kini.


Elang mendesah pelan lalu tersenyum. Begini ribetnya jika tidak menggunakan jasa tour guide, ia harus menjelaskan segala sesuatu yang ingin istrinya tahu. Namun, di sinilah letak romantisnya, ia bisa menjelaskan dengan imbalan sebuah pelukan atau kecupan. Baik kecupan singkat di kening, pipi atau bibir.


"Istriku ketinggalan berita ternyata. Dulu emang di sini hampir semua sisi tembok kanan dan kirir di penuhi dengan gembok, tapi itu membuat jembatan keberatan dan bisa membahayakan para pejalan kaki yang lewat. Makanya oleh pemerintah di renovasi menjadi kaca sehingga tidak bisa memasang tembok lagi," jelas Elang.

__ADS_1


Senja kembali mengangguk-anggukan kepalanya," Tapi emang jadi terlihat rapi sih dari gambar yang pernah aku lihat di internet. Bisa di bayangkan kalau tradisi gantung gembok itu terus berlanjut, pasti jembatan ini akan semakin membahayakan, "ucapnya.


" Tapi kalau cinta kamu yang memenuhi hati aku nggak akan keberatan dan nggak akan bahaya, " gombalan receh dari Elang mampu membuat Senja tersenyum dan merona.


" Tapi lihatlah di tiang itu masih ada yang menggantung gembok di sana, " Senja menunjuk tiang jembatan yang terdapat beberapa gembok menggantung di sana.


" Apa kamu penasaran? Mau mencobanya? Menggantung gembok seperti itu?" tanya Elang.


Senja menggelengkan kepalanya," Bukankah sudah tidak boleh? Kenapa mereka masih memasang gembok di sana?"


"Entahlah aku juga nggak tahu , apa perlu aku cari tahu kenapa mereka masih saja menggantung gembok di sana? Aku akan cari tahu nama yang tertulis di sana dan bertanya padanya," seloroh Elang yang yang di balas Sebuah cubitan di pinggangnya. Elang langsung tersenyum meringis karena geli.


" Percayalah, tanpa gembok itu pun cinta kita akan abadi," ucap Elang serius. Tangannya membelai lembut pipi sang istri. Senja tersenyum memegang tangan suaminya dan mengaminkan apa yang diucapkan oleh Elang barusan dalam hatinya. Karena itulah juga harapan dan doanya untuk pernikahan mereka.


Detik kemudian, Elang sudah mencondongkan wajahnya mendekati wajah Senja siap meminta bayaran, "Bayaran, karena aku udah jelasin lagi, tour guide mahal loh, kalau aku cukup kiss aja," selorohnya dengam mata terpejam.


" Lihatlah, bahkan ada yang lebih parah," Elang menggerakkan dagunya untuk menunjuk sepasang muda muda uang sedang berciuman, saling melilit dan mel*mat tanpa rasa malu.


Senja langsung mengatupkam bibirnya ketika matanya mengikuti arah yang si maksud Elang.


Senja dan Elang begitu menikmati suasana di jembatan tersebut. Di sebuah sisi terdapat seasang calon pengantin yang sedang melakukan photo prewedding. Senja kembali tersenyum melihatnya. Tak jarang pula mereka melihat perahu yang melintas di bawah jembatan tersebut.


Elang menarik tubuh Senja agar bersandar di bahunya sambil menikmati suasana di jembatan tersebut yang ramai orang berlalu lalang, ada yang sekedar lewat saja dan ada juga yang memang khusus mengunjungi jembatan tersebut sebagai salah satu tujuan tempat wisata mereka.


Elang merogoh ponsel yang berada di saku celananya. Ia membaca pesan yang di kirim oleh Kendra, "Dasar emang Kend! Nggak tenang apa hidupnya kalau nggak ganggu kesenangan orang," umpatnya lirih.


"Kenapa boo?" tanya Senja yang seperti mendengar suaminya bicara namun tidak jelas.


"Sayang, apa kau sudah siap? Sepertinya sekarang saat kita pergi ke acara BaileyTex," ujar Elang.

__ADS_1


Siap mengangguk, siap tidak siap, dirinya pada akhirnya harus sampai pada titik ini. Tidak ada pilihan lain, ia harus mengmbil kembali apa yang sudah orang tuanya perjuangakan dulu.


" Ayo!" Elang mengulurkan tangannya dan di sambut oleh Senja.


🌼 🌼 🌼


Elang dan Kendra sudah memasuki tempat acara, mereka di sambut oleh beberapa rekan bisnis. Setelah mengobrol basa basi sebentar, akhirnya Elang dan Kendra duduk di kursi VIP.


Sementara Senja, sejak turun dari mobil ia ikut dengan bawahan tuan Albert untuk menemui tuan Albert sesuai rencana. Bukannya Elang tak ingin menemani Senja, tapi ini adalah rencana tuan Albert karena mereka masih perlu membaca situasi setelah apa yang akan terjadi nanti.


Selain itu, masih ada isi surat wasiat dari tuan Bailey yang masih samar di ketahui oleh tuan Albert, yaitu masalah jodoh Senja yang kemungkinn ada hubungannya dengan masalah perusahaan dan lainnya.


Di sebuah ruangan, tuan Albert yang sedang menunggu Senja tampak sedang duduk berhadapan dengan dua pria. Satu laki-laki paruh baya dan anaknya yang tampak masih muda dan tampan.


"Albert, mana calon menantuku yang kau bicarakan itu. Kau bilang sudah menemukannya. Dimana dia?" tanya laki-laki paruh baya itu.


"Sabar tuan, sebentar lagi dia akan datang," jawab tuan Albert. Sebenarnya ia ingin memberi tahu sahabat dari tuan Bailey itu jika Senja sudah menikah, tapi kembali lagi ia harus tahu isi wasiat itu secara keseluruhan terlebih dahulu, tidak bisa gegabah. Semua tinggal di depan mata, tidak boleh gagal, pikirnya.


"Kalau masih lama, saya permisi dulu," ucap pemuda yang duduk di sebelah ayahnya tersebut. Ia bangkit dari duduknya dan melangkahkan kakinya menuju pintu tanpa meminta persetujuan dari sang ayah. Semua ini bukan yang ia inginkan, ia tak pernah mengharap perjodoham dengan siapapun.


" Ervan tunggu!" seru ayahnya.


Pemuda yang tak lain adalah Ervan tersebut tak mendengarkan, ia terus melangkahkan kakinya hingga sampai di depan pintu. Saat ia membuka pintu, ia terkejut ketika melihat Senja yang berdiri di depan bawahan tuan Albert yang bersiap untuk membuka pintu.


"Senja?" ucap Ervan.


Mendengar suara yang tak asing baginya, Senja yang sedari tadi menunduk langsung mengangkat kepalanya, "Ervan?" Senja cukup terkejut melihat Ervan, pun dengan Ervan yang bertanya-tanya kenapa Senja bisa ada di sana.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2