Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 129


__ADS_3

Senja kembali melanjutkan langkahnya tanpa berniat untuk menyapa laki-laki tersebut. Sungguh! Saat ini ia sedang tidak ingin bicara dengan siapapun.


Laki-laki itu dengan ceat mensejajarkan langkahnya dengan Senja, "Mau kemana? Pulang? Aku antar!" tawarnya.


"Tidak, aku bisa pulang sendiri. Ada taksi yang menunggumu," tolak Senja.


"Taksi yang mana? Nggak ada?" kata laki-laki itu seraya mengangkat sudut bibirnya keatas hingga membentuk sebuah senyuman.


Senja memejamkan matanya lalu menghela napas dalam, "Ervan!" geramnya menatap Ervan yang sama sekali tak merasa bersah karena telah menyuruh sopir taksi yang di pesan Senja pergi. Tentu saja dengan iming-iming uang.


"So? Nggak bisa nolak bukan? Aku antar!" kekeh Ervan. Sejujurnya ia merasa lega karena Senja masih bisa dibilang baik-baik saja secara fisik, tapi tak tahu dengan psikisnya. Ia berharap hati wanita yang pernah mencuri hatinya itu sekuat jasmaninya yang selalu terlihat tegar dalam situasi apapun.


"Nggak perlu! Aku bisa pesan taksi lagi!" tolak Senja lagi. Ia segera merogoh ponselnya untuk memesan taksi online. Namun, dengan cepat Ervn merebut ponselnya dan memasukkan kembali ke dalam tas yang tergantung di bahu kiri wanita tersebut.


"Jangan keras kepala, cepat masuklah. Mau Kemana pun, aku antar," ucap Ervan tak menerima penolakan.


Senja tetap bergeming. Tiba-tiba, pintu mobil Ervan terbuka dan muncul seseorang, "Senja, ayo masuk!" ucap orang itu yang tak lain adalah Bianca.


Sempat mengernyit penuh tanya karena ternyata Ervan bersama Bianca, ia menatap Bianca DAN Ervan secara bergantian, namun keduanya hanya tersenyum tanpa suara.


Akhirnya Senjapun membuka pintu belakang mobil milik Ervan lalu masuk. Ervan tersenyum samar lalu mengitari mobilnya untuk kemudian menyusul masuk ke dalam.


"Kita makan siang dulu ya?" ucap Ervan memecah keheningan yang beberapa menit terjadi diantar merek bertiga setelah kuda besi itu melaju.


"Iya, mau kan Nja? Aku udah lapar banget nih, calon ponakan aku juga asti udah lapar kan?" kata Bianca menoleh ke belakang. Sebenarnya ia dan Ervan tadi memang berencana makan siang berdua namun mereka menundanya demi mencari Senja.


Senja hanya diam, namun kepalanya mengangguk setuju karena sejujurnya ia juga sudah lapar.


" Baiklah, kamu lagi pengin makan apa, Nja?" tanya Bianca.


Dan di sinilah mereka sekarang, di sebuah rumah makan padang bernama Rumah adang geledek, milik seorang youtuber ternama . Sudah sejak beberapa hari yang lalu Senja ingin sekali makan soto padang dan kepala kakap yang tersedia di sana setelah melihat acara kuliner di pesbok. Dan Senja ingin sekali makan di tempatnya. Namun, ia memendamnya, tak sampai hati mengatakannya kepada suaminya karena sudah pasti Elang tidak akan mau di ajak keluar rumah apalagi ke tempat umum yang ramai seperti itu.


Kini, di depan mereka bertiga ada begitu banyak menu yang terhidang. Senja sangat menikmati makanan yang memang ia idaman tersebut. Sementara Bianca dan Ervan justru lebih sering berdebat soal menu apa yang mereka makan.


"Bie, jangan kebanyakan makan pedas. Kamu paling nggak bisa makan pedas, nnti sakit perut," ucap Ervan memperingati Bianca.


"Hais, tapi ini enak, Kak. Aku enggak ngerasa pedas sama sekali, rasanya bikin nagih lagi dan lagi," sahut Bianca yang sedang asyik mengunyah. Perempuan yang berprofesi sebagai model tersebut sangat menikmati makan menggunakan tangannya.


"Kakak juga, awas kolesterol!" Bianca tak mau kalah untuk menasihati Ervan.


Mereka terus berdebat di tengah-tengah kegiatan makan mereka. Membuat Senja tak jarang menghentikan makannya demi melerai dua manusia di depannya. Meskipun sebenarnya ia heran, sejak kapan mereka berdua menjadi sedekat ini? Bahkan ia curiga kalau keduanya kini memiliki hubungan spesial. Namun, ia tak ingin terlalu kepo dengan urusan mereka, biarlah mereka sendiri yang memberi tahu jika memang ada hubungan spesial. Toh itu privasi mereka. Senja hanya merasa ikut senang jika keduanya benar-benar menjalin hubungan serius dan ia selalu mendoakan yang terbaik untuk mereka.


Ervan terlihat sekali perhatian dengan Bianca, ia bahkan mengelak sudut bibir Bianca yang belepotan karena kuah gulai.


"Makan kok kayak anak kecil begini," ucap Ervan sambil mengusap sudut bibir Bianca.


Bianca tampak merona di perlakukan seperti itu oleh Ervan, persis seperti perempuan yang sedang jatuh cinta. Senja hnya mengulum senyum melihatnya. Senja jadi teringat masa-masa pertama kali mengenal suaminya dulu. Ingat akan suaminya yang kini entah sedang apa di rumah, tiba-tiba Senja ingin cepat-cepat pulang.

__ADS_1


"Habis ini mau kemana lagi? Ke kantor atau mau langsung pulang?" tanya Bianca kepada Senja.


"Langsung pulang saja, aku merindukan El," Jawab Senja jujur.


"Ck, kalian ini macam pengantin baru saja. Baru tidak ketemu berapa jam, udah kayak berapa minggu aja," cebik Ervan bercanda.


"Biarin aja kenapa sih? Cemburu?" tukas Bianca ketus.


"Enggak juga, geli aja," Seloroh Ervan.


"Itu namanya romantis, cinta memang begitu, selalu rindu meskipun sedang bersama," ucap Bianca.


"Kayak kita gini? Aku tetep aja rindu sama kamu meskipun kita sedang bersama,"


Dan... Blushhhh... Wajah Bianca kembali merona. Senja terkekeh melihat tingkah lucu Bianca yang kenakan omongannya sendiri.


🌼 🌼 🌼


Elang sedang berada di balkon kamarnya ketika mobil Ervn memasuki halaman rumahnya. Ia menatap mobil tersebut dengan tatapan yang sulit diartikan.


Senja langsung menuju kamarnya begitu turun dari mobil Ervan. Ia langsung mendekati Elang yang masih berada di balkon.


"Boo...." panggil Senja seraya mendekat. Elang menoleh ke arahnya, ia sedikit mengangkat susudt bibirnya hingga membentuk senyum yang samar. Senja mendekat lalu memeluk leher suaminya tersebut dari belakang.


Elang tak menolak pelukan istrinya namun ia hanya terdiam. Larut dengan pikirannya sendiri. Senja berpikir jika suaminya pasti Elang melihat ia diantar oleh Ervan dan salah paham.


"Tolong buatkan aku makanan, aku lapar," Belum sempat Senja menjelaskan jika tadi ia tidak diantar oleh Ervan seorang diri melainkan bersama Bianca, Elang sudah memotong ucapannya.


Senja menghela napasnya dalam, "Baiklah, kamu Tunggulah di dalam, aku akan masak untukmu," ucap Senja, ia mendorong kursi roda yang di duduk Elang ke dalam kamar.


"Aku akan segera kembali," ucap Senja lembut sebelum meninggalkan Elang sendiri


Elang mengepalkan tangannya kuat-kuat, bukan karena marah melihat Senja diantar Ervan namun lebih kepada marah kepada diri sendiri yang merasa tak berhak untuk marah ataupun cemburu karena kondisinya yang kini tak lagi sempurna.


Tak butuh waktu lama, Senja telah kembali dengan membawa nampan berisi makan siang untuk suaminya. Dengan senyum hangat, ia mendekati suaminya yang tengah mengecek ponselnya.


"Sayang, makan dulu," ucap Senja.


Elang mengangguk.


"Kamu udah makan?" tanya Elang.


Senja terpaksa menggeleng meskipun sebenarnya ia sudah kenyang demi bisa menemani Elang makan. Ia benar-benar menyesal tadi sudah makan terlebih dahulu, padahal suaminya di rumah mungkin kelaparan.


"Maunya disuapin lagi, enak makan sepiring berdua begini, " ucap Senja. dengan cara yang sederhana seperti ini, ia ingin menunjukkan kepada suaminya bahwa ia masih sangat berguna dan berarti untuk Senja


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


Malam hari, Senja kebangun untuk buang air kecil. Tiba-tiba, ia merasa lapar dan ingin sekali makan nasi goreng yang di jual di taman. Nasi goreng yang dulu pernah ia makan bersama Elang. Senja menoleh melihat suaminya yang tampk terlelap. Ia mengusap perutnya, "Harus banget ya nak, nasi goreng yang di taman itu?" gumamnya.


Senja melirik jam dan ternyata baru pukul sepuluh malam. Ia dan Elang memang tidur lebih awal tadi setelah makan malam.


Senja mencium kening suaminya penuh sayang, kemudian ia mengambil jaket milik Elang lalu memakainya. Meminta sopir untuk mengantarnya.


Setelah Senja pergi, Elang membuka matanya, ia lalu menghubungi seseorang melalui ponselnya.


🌼 🌼 🌼


Suasana cukup ramai, Senja meminta sopir ya menunggu di parkiran saja. Ia akan membeli sendiri nasi gorengnya.


Nasi goreng yang ia inginkan cukup panjang antreannya, bahkan ia tak mendapatkan tempat duduk sehingga terpaksa tetap berdiri menunggu giliran. Karen menggunakan jaket Elang, tak ada yang ngeh jika ia wanita hamil sehingga tidak ada yang menawarinya kursi untuk duduk.


Tak lama kemudian, Ervan datang dan menyuruh Senja untuk duduk di kursi taman yang cukup jauh dari pedagang nasi goreng tersebut.


"Duduklah di sana. Biar aku yang menunggu pesanan kamu di sini," ucap Ervan yang mengejutkan Senja.


"Ervan? Kok kamu di sini?"


"Kenapa? Nggak boleh? Ini kan tempat umum?" jawab Ervan santai.


"Boleh sih, nggak sama Bianca lagi?"


"Nggak, dia tidur awal. Besok pagi ada pemotretan," jawab Ervan. Ia menarik tangan Senja ke kursi yang kosong, "Tunghu di sini, biar aku yang antre nunggu nasi gorengnya!" ucap Ervan tanpa bisa di bantah, ia langsung melenggang kembali ke penjual nasi goreng.


Dari kejauhan, Elang yang baru saja tiba dengan Kendra meminta Kendra menghentikan dorongannya saat ia melihat isteinya bersama Ervan.


"Kita pulang!" Ucap Elang kepada Kendra.


"Tapi bos, apa tidak sebaiknya kita..."


"Aku bilang pulang, sekarang!" ucap Elang tegas. Nadanya penuh rasa amarah.


Elang tahu, istrinya tak mungkin berbuat aneh-aneh, tapi entah kenapa hatinya tetap merasa sakit.


Elang tak bisa tidur sampai Senja kembali. Saat Senja kembali ke dalam kamar, Elang pura-pura masih tertidur pulas. Senja kembali mencium kening suaminya tersebut.


"Maaf," hanya itu yang bisa Elang katakan dalam hatinya. Ia merasakan tangan istrinya melingkar di perutnya. Hangat ia rasakan. Ia merasa tak adil bagi Senja jika ia masih begitu mencintainya dengan kondisinya yang sekarang.


🌼 🌼 🌼


💠💠


Yang sebel sama othor, jangan nimpuk sendal yah, timpuk aja pake kopi segalon biar semangat up lagi dan segera munculin pelangi 😄😄


Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠

__ADS_1


__ADS_2