Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 62 (Tidak sinkron )


__ADS_3

Senja masuk ke dalam salah satu kamar yang ada di rumah besar tersebut. Ia menumpahkan semua air matanya di sana. Tak mengira jika ia akan mengucapkan kata perpisahan tersebut untuk membuat Elang menentukan pilihan hatinya. Ada rasa takut setelah mengucapkan kalimat itu tentunya. Tujuannya hanya ingin menggertak suaminya, akan tetapi bagaimana jika Elang menyetujuinya? Tapi Senja juga berpikir jika apa yang dilakukannya sudah benar. Ya, dia butuh kepastian dalam hubungan rumah tangganya tersebut.


Sementara Elang masih duduk di dalam kamarnya, masih mencoba mencerna apa.yang tadi Senja katakan. Berpisah? Bercerai? Apa maksudnya semua itu? Berkali kali Elang mengerang sembari mengacak-ngacak rambutnya frustrasi.


"Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi dari hidupku tanpa alasan yang jelas!"" ucap Elang mantab, ia segera menuju ke ruang ganti baju untuk berganti pakaian dan akan menyusul Senja.


Setelah memakai pakaiannya, Elang keluar dari walk in closet. Saat melewati meja rias, mata Elang memicing melihat ponsel dan tas milik Senja yang tergeletak di sana.


"Astaga, ceroboh sekali. Mau kabur tapi ponsel dan tas tidak di bawa," gumamnya. Ia mendekati ponsel tersebut lalu mengambilnya. Mengingat sikap Senja, Elang mencoba mencari info dari ponsel tersebut, siapa tahu ada curhatan Senja mengenai rumah tangganya kepada salah satu temannya, terutama Sarah yang notabennya adalah sahabat dekatnya.


Rahang Elang langsung mengeras ketika matanya menangkap sebuah pesan gambar yang di kirim oleh nomor tak bernama tersebut.


"Sial! Siapa yang mengirim photo ini?" Elang meremat ponsel milik Senja kuat-kuat.


"Apa dia salah paham karena photo ini? Arrgh shit!" umpatnya yang langsung bergegas keluar dari kamar tanpa membawa ponsel Senja yang ia letakkan kembali ke atas meja rias.


Elang segera menuju garasi mobil.


"Tuan," sapa anak buahnya.


"Siapkan mobil!" perintah Elang. Anak buahnya pun langsung melakukan perintah tuannya tanpa bertanya karena ia melihat raut wajah Elang yang sudah tidak bersahabat.


"Minggir!" Elang menyuruh anak buahnya keluar dari mobil karena ia sendiri yang akan mengemudikan mobilnya.


Elang segera menyalakan mobilnya, ingin segera menyusul Senja, berharap istrinya itu belum jauh perginya. Ia tak tahu jika Senja tak pergi hanya berpindah kamar saja. Pikiran kalutnya mengecoh akal sehatnya untuk bertanya terlebih dahulu apakah nyonya muda rumah tersebut keluar atau tidak. Yang ada dalam pikirannya, pasti Senja salah paham dan kabur dari rumah.


Senja yang berada di kamar lantai satu, mendengar suara mobil dan langsung membuka gordyn jendela untuk mengintip keluar.


Senja pikir, Elang telah menentukan pilihannya dan pilihannya berada di luar rumah, yaitu Bianca.


Tanpa terasa air mata Senja kembali menetes.


"Kau sudah menentukan pilihanmu El, dan aku akan menentukan pilihanku. Aku akan mengakhiri semuanya," ucapnya berusaha tetap tegar. Bagaimanapun, ia tak ingin hanya memiliki raga suaminya, tapi dia ingin memiliki semuanya baik raga maupun hatinya. Jika Elang tak bisa memberikan hatinya, lebih baik ia mundur dari pada menjalani pernikahan hanya atas dasar rasa tanggung jawab dan amanah dari kakeknya.


Elang terus menyusuri jalanan sekitar rumahnya. Ia yakin dengan keadaan Senja yang tidak membawa apapun istrinya itu pasti berjalan belum jauh.


"Senja kau kemana?" gumam Elang sambil terus melihat sisi kanan dan kiri jalan. Ia terus mengumpat karena Senja salah paham begitu saja tanpa bertanya kebenarannya.


Cukup jauh melajukan mobilnya, Elang tak juga menemukan istrinya yang ternyata malah ketiduran di rumah setelah menangis, padahal rencananya ingin mengemasi Barang lalu pergi.


Saat hampir memutar balik laju mobilnya karena tidak ketemu juga. Ada sosok wanita yang sedang berjalan di trotoar jalan. Dari belakang wanita tersebut sangat mirip dengan Senja. Elang langsung menghentikan mobilnya. Ia keluar dan berlari mendekati wanita itu. Didekapnya wanita itu dari belakang oleh Elang.


"Senja, jangan pergi. Maafkan aku," ucap Elang menghela napas lega. Wanita itu terkejut karena tiba-tiba di peluk oleh seseorang dari belakang sehingga sesaat ia seperti mematung.


Wanita itu tersenyum kemudian, dari suaranya pasti laki-laki yang memeluknya ini tampan pikirnya.

__ADS_1


"Iya, aku maafin kok," ucap wanita gemulai itu yang ternyata wanita jadi-jadian yang Elang kira Senja.


"Suaranya..." menyadari suara aneh dari orang yang ia peluk, Elang langsung melepaskan pelukannya.


"Astaghfirullah!" seru Elang ketika wanita setengah laki-laki itu menoleh setelah Elang melepas pelukannya.


"Waria!" seri Elang dalam hati sambil mundur satu langkah.


"Si siapa kamu?" tanya Elang.


"Aku Senjamu tampan. Ya, memang hari sudah senja, dan aku siap menemani senjamu tampan. Mau di mana? Hotel atau hutan?" sahutnya sambil mencolek dagu Elang.


"Sial!" umpat Elang mengusap wajahnya kasar.


"Kenapa tampan? Kau butuh kehangatan malam ini?" waria itu mulai mendekati Elang.


"Jangan dekat-dekat dan cepat pergi dari sini!" titah Elang dengan tegas.


"Iiih kau ini jual mahal, tadi kau yang memelukku duluan kan. Untukmu yang tampannya tiada tara ini, aku kasih service gratis. Bagaimana? Deal?" waria itu semakin mendekat dan tanpa ampun Elang langsung mencekal tangannya ke belakang.


"Berani mendekat dan menyentuhku, tanggung akibatnya!" ucap Elang sambil melintir tangan waria tersebut.


"Aduh aduh! Ampun ampun!" rintih waria tersebut. Elang melepaskan tangannya kasar dengan sedikit dorongan hinga wanita setengah mateng itu hampir terjungkal.


"Sial, kirain mau dapat umpan kelas kakap, tahunya dapat plintiran!" umpat waria tersebut dengan suara aslinya sebagai laki-laki.


"Bagaimana mungkin aku mengira wanita nanggung setengah jadi seperti itu sebagai istriku. Apa mataku ini sudah rabun?" kesal Elang mengusap wajahnya kasar.


Elang kembali melajukan mobilnya dengan berbalik laju karena sudah sejauh itu rasanya tidak mungkin Senja berjalan sampai sejauh itu. Ia memutuskan untuk pulang terlebih dahulu.


Tiba-tiba ponsel Elang bergetar, dipasangkannya earphone bluetooth di telinga kirinya, "Halo dad," ucapnya.


"El, malam nanti kau jadi mengajak istrimu makan malam di rumah kan?" tanya Alex dari seberang telepon, membuat Elang gelagapan tak tahu harus menjawab apa. Rencananya ia akan mengajak Senja ke kediaman Parvis lebih awal supaya Senja bisa membantu Anes memasak, tapi kalau sudah begini? Dia mau bilang apa?


"El... Kau mendengar daddy bicara kan?" Suara Alex membuyarkan lamunan Elang.


"Eh, iya dad. Senja sedang tidak enak badan hari ini, tapi nanti Elang usahakan tetap datang," akhirnya Elang memilih untuk berbohong. Tidak mungkin bilang istrinya kini sedang kabur. Bisa-bisa di pecat jadi anak, pikir Elang sejenak.


"Oh ya ampun, menantu mommy sakit? Kalau begitu biar mommy sama daddy yang datang ke sana," ucap Anes yang ternyata sejak tadi ponsel Alex di loud speaker dan Anes berada di sampingnya.


Mendengarnya, Elang memejamkan matanya sejenak. Bisa gawat kalau mereka beneran ke rumah, pikir Elang.


"Tidak perlu mom, nanti kalau senja udah baikan pasti El ajak ke sana, kalau pun tidak El yang akan datang sendiri, biar Senja istirahat di rumah," ucap Elang, ia tak tahu harus bicara apa.


"Em baiklah kalau begitu, istrimu mana? Mommy pengin dengar suaranya," ucap Anes kemudian.

__ADS_1


"Se senja lagi tidur mom, tadi dia mual-mual," sahut Elang asal. Sekenanya yang ada dalam pikirannya saja ia lontarkan, mau percaya atau tidak urusan belakangan, pikirnya.


"Wah mas, kayaknya kita bakalan dpat cucu nih.," ucap Anea senang.


"Tidak mom, hanya masuk angin biasa,"


"Mana kamu tahu El, coba dulu di cek, siapa tahu hamil beneran. Kamu kan garap terus itu sawah pasti," ucap Alex.


Elang mengernyit mendengarnya. Sepertinya ia salah bicara tadi dengan mengatakan Senja mual, mereka malah salah paham, pikir Elang.


"Ya udah mom, El tutup dulu teleponnya," Elang langsung memutus teleponnya, jika terus berlanjut, pasti akan semakin ribet.


"Senja kau dimana sayang? Astaga, aku hampir gila mencarimu," gumam Elang.


🌼🌼🌼


Senja mengerjapkan matanya.


"Astaga, aku malah ketiduran," gumamnya sembari mencoba mengumpulkan nyawanya.


Senja mengingat kembali saat Elang tadi pergi, ia oun hanya mamou mengembuskan napasnya kasar.


Senja keluar dari kamar tamu tersebut dan kembali ke kamar utama untuk mengemasi barang-barangnya. Tekadnya sudah bulat, ia akan pergi setelah Elang pergi menemui pilihannya, pikir Senja.


Tak lama kemudian, Elang telah sampai di rumah. Dengan malas ia melangkahkan kakinya menaiki anak tangga menuju lantai atas.


"Bi, apa nyonya pulang?" Elang menghentikan langkahnya ketika melihat salah satu pelayannya.


"Nyonya tuan muda? Sejak tadi nyonya tidak pergi setahu bibi, pulang dari mana maksud tuan?" sahut bibi yang malah tampak bingung.


"Senja tidak pergi?" Elang mengernyitkan dahinya.


"Iya tuan muda, nyonya muda tadi saya lihat keluar dari kamar tamu, dan sepertinya sekarang berada di kamar utama tuan," ucap Bibi melihat ke atas.


Tanpa bicara lagi, Elang langsung mempercepat langkahnya menaiki anak tangga. Ia merutuki dirinya sendiri yang sudah seperti orang gila mencari Senja kesana-kemari, sementara yang di cari tidak kemana-mana.


Senja baru saja selesai mengemasi barangnya, ia menatap seluruh ruangan kamar tersebut dengan tatapan sendu. Mungkin ini terkahir kali ia menginjakkan kakinya di kamar tersebut, tempat dimana ia dan Elang pernah memadu kasih. Air matanya kembali menetes, namun segera ia tepis. Kemudian, ia menarik kopernya dan berjalan menuju ke pintu.


Saat Senja hendak membuka pintunya, pintu tersebut terlebih dahulu terbuka dan terlihatlah Elang di depan pintu.


Pandangan mereka bertemu sesaat. Elang langsung menghela napas lega ketika melihat istrinya ada di depan matanya.


"Bodoh!" ucap Elang tersenyum lega yang langsung memeluk Senja dengan erat. Sementara Senja hanya bisa mematung.


🌼🌼🌼

__ADS_1


πŸ’  Selamat berbuka puasa bagi yang menjalankan...walaupun nggak tahu lolosnya sebelum atau setelah buka πŸ˜…πŸ’ 


__ADS_2