
Pagi pun tiba, Senja mengerjapkan kedua matanya. Ia tersenyum ketika merasakan kehangatan benda yang ia peluk. Ia semakin mengeratkan pelukannya. Semakin erat pelukannya, semakin ia sadar kalau yang di peluknya bukanlah bantal guling seperti yang ada dalam pikirannya. Senja langsung membuka matanya sempurna.
"Aaaarggghh!" Senja berteriak sangat keras, saat ia sadar kalau di depan matanya adalah dada seseorang dan tangannya melingkar erat di pinggang laki-laki tersebut. Refleks, kakinya menendang pria yang semalaman memberikan kehangatan untuknya tersebut.
"Aw!" pekik Elang terkejut, karena teriakan dan tendangan Senja yang cukup keras dan tepat mengenai benda pusaka miliknya, membuat si empunya merasa ngilu dan memaksanya untuk membuka kedua matanya.
"Astaga! Senja apa yang kau lakukan? Kenapa kau berteriak dan menendang aset masa depan kita!" kesal Elang.
"El...?"
"Iya, ini aku suami kamu! Kamu pikir siapa?"
"Maaf, aku pikir siapa. Kenapa kamu bisa tidur di sini?"
"Terus aku harus tidur dimana? Ini tempat tidurku. Kau ini bikin aku ingin tertawa saja mendengar pertanyaan konyolmu itu. Sudah sini tidur lagi, masih terlalu pagi untuk bangun," Elang menarik Senja ke dalam pelukannya.
"El lepaskan!" Senja mencoba memberontak namun sia-sia. Tenaganya tak bisa mengimbangi eratnya pelukan Elang.
"Bisa diam nggak!" ucap Elang karena Senja terus bergerak, membuat Elang yang masih ingin menikmati tidurnya menjadi terganggu.
"Makanya lepaskan El, kenapa kau senang sekali memelukku.Seperti beruang saja," cebik Senja.
"Kenapa kau selalu menuduhku? Padahal kamu yang suka nyumpel-nyumpel di ketiakku, kau yang selalu menarikku ke dalam pelukanmu. Sepertinya kau sangat menyukai aroma ketiakku. Astaga kau ini!"
"El lepaskan!" Senja terus bergerak, erusaha melepaskan pelukan Elang.
"Bisa diam nggak sih? Kalau kamu bergerak terus, bukan cuma mataku saja yang bangun, tapi adikku juga," ucap Elang gemas.
"Adik? Siapa? Gisel? Kau juga menyuruhnya ke sini untuk mendapat hukuman? Atau Gavin?" tanya Senja polos.
"Adik yang ini," Elang menyeringai, menggiring tangan Senja untuk menyentuh sesuatu yang sudah kaku.
Menyadari benda apa yang ia sentuh, Senja langsung menjerit.
"Arrggh!" teriak Senja, tangannya langsung menabok apa yang tadi Elang ucapkan sebagai adiknya tersebut.
"Aw! Kau ini benar-benar! Kenapa senang sekali menyakitinya, tadi di tendang, sekarang di tabok! Awas saja kalau gara-gara tendangan sama tabokan kamu kita jadi gak bisa berkembang biak," ucap Elang menunjuk adik kecilnya.
"Makanya lepaskan El,"
"Tidak mau!" tolak Elang.
"Baiklah, kalau begitu aku buang air kecil aja di sini," ucap Senja santai.
"Kenapa tidak bilang kalau kau kebelet, aih sana keluarkan dulu!" Elang langsung melepas pelukannya.
__ADS_1
"Kau yang sejak tadi menahanku, dasar!" ucap Senja, ia langsung turun dari tempat tidur dan berlari menuju ke kamar mandi sambil terus mengomel.
Elang terkekeh melihatnya.
🌼🌼🌼
Senja menatap kesal suaminya, pasalnya kini di meja makan hanya ada satu porsi menu makanan.
"Kenapa menatap makanannya seperti itu? Seperti memiliki dendam pribadi saja," ucap Elang yang baru turun dari kamarnya dengan satu tangan ia masukkan ke dalam saku celana kolornya.
"Kau yang sepertinya memiliki dendam pribadi denganku. Lihatlah! Kau egois, cuma memesan satu makanan saja!" cibir Senja.
"Ah aku lupa jika ada kamu di sini," ucap Elang tanpa dosa. Padahal Ia senagaja hanya memesan satu.
"Baiklah kalau begitu aku masak sendiri saja," kesal Senja, ia bangkit dari duduknya hendak meninggalkan meja makan. Namun Elang segera meraih tangannya, mencegahnya untuk pergi
"Makan sepiring berdua tidak masalah kan? Di dapur tidak ada bahan makanan yang bisa kau masak," ucapnya lembut, mendongak menatap manik mata sang istri yang kini sedang menatapnya kesal.
Ya, itu adalah salah satu cara Elang untuk mencoba semakin dekat dengan istrinya, mencoba membangun Chemistry dari hal-hal kecil yang mungkin bisa menumbuhkan cinta di antara keduanya, meski ia sadar itu mungkin tak akan mudah dan akan butuh waktu.
Elang sendiri memiliki sebuah keyakinan dalam hatinya, jika Senja pasti menyimpan amarah tersendiri terhadapnya, mengingat apa yang sudah ia sebabkan terhadap kakeknya.
Baik Elang maupun Senja, tentu masih menyimpan goresan luka yang masa lalu mereka ciptakan. Seandainya mereka bertemu di saat yang tepat, tidak dalam keadaan duka bagi Senja, mungkin mereka akan cepat menjadi obat satu sama lain.
"Duduklah, kita makan bersama. Ini lebih dari cukup untuk kita berdua," imbuhnya lagi sambil menarik pelan tangan Senja supaya duduk kembali.
Senja semakin kesal, ia menjatuhkan badannya supaya bersandar di sandaran kursi, kedua tangannya di lipat di dada, menatap sebal kepada suaminya yang tidak peka menurutnya tersebut.
Dalam hati Elang tertawa senang melihat tingkah menggemaskan istrinya tersebut yang berhasil ia kerjai. Apalagi, bibir cherrinya yang sesekali manyun menambah kadar menggemaskannya.
"Ya sudahlah, aku minum air saja!" cebik Senja mengambil gelas berisi air putih di depannya.
Seolah tak mendengar ucapannya, Elang tetap cuek menyendok nasi, membuat Senja semakin kesal.
"Aaaaa!" tak di duga, Elang menyodorkan sendok tersebut ke mulut Senja.
"Ayo cepat buka mulutmu! Kau lapar kan, emang kenyang dengan hanya melihatku makan?" ucapnya cuek.
Astaga! Nggak peka amat sih El, Niatnya pengen romantis, tapi mulutnya nggak di ajak kompromi!.
"Tidak mau!" tolak Senja.
"Ayolah, aku cuma bercanda, cepat aaaa,"
"Takut rabies!" sahut Senja asal.
__ADS_1
"Astaga kau!" Elang langsung meletakkan sendok yang ia pegang ke piring dan langsung menarik tengkuk istrinya tersebut, mendaratkan bibirnya ke bibir Senja, memagutnya beberapa detik. Senja yang tidak tiap hanya bisa memukul-mukul lengan suami nggak pekanya tersebut.
"See? Kala aku rabies, kau sudah ketularan," ucap Elang santai. Ia kembali mengambil sendok dan menyodorkannya ke mulut Senja.
"Tidak menerima protes! makan saja, atau kau akan mati kelaparan, aku tak mau menjadi duda secepat itu," Nah kan! mulut Elang benar-benar bisa diajak kerja sama, maksud hati apa yang keluar dari mulut apa. Tidak di ragukan lagi jika dia adalah titisan seorang Alex Abraham Parvis.
"El..." menatapnya kesal.
"Cepat Senja, tanganku pegal ini sejak tadi memegang sendok, ah aku tahu kau mau sarapan bibirku kan sebenarnya makanya tak mau membuka mulut jika sendok yang maju?" ucapnya dengan senyum Devilnya.
"Salah sendiri dari tadi menggodaku, menyebalkan!" cebik Senja, ia langsung membuka mulutnya menerima suapan dari suaminya.
Elang hanya tersenyum. Secara bergantian ia menyuapi dirinya sendiri dan istrinya.
"Semalam kau pulang jam berapa?" tanya Senja.
"Baru jam delapan lebih seperempat, tapi kau sudah tidur," jawab Elang sambil kembali menyuapi Senja.
"Maaf, aku ngantuk banget semalam," ucap Senja.
"Kenapa tak membangunkan aku?" lanjutnya bertanya.
"Aku sudah membangunkanmu, tapi kau malah menarikku dan langsung menyusup ke ketiakku," ujar Elang berbohong.
"Ish, mana mungkin aku begitu,"
"Kau kan tidur, mana sadar. Harusnya aku rekam biar kamu tidak bisa mengelak. Heran, kenapa kamu mpelor sekali sih, gampang banget tidur," ucap Elang.
"Mpelor?"Senja tak mengerti.
"Sekali nempel bantal langsung molor," jelas Elang terkekeh.
"Kau sungguh menyebalkan!" Senja menabok lengan Elang yang di balas satu kecupan singkat di bibirnya.
"El...!" menatap tajam suaminya.
Elang terkekeh.
"Kenapa? Ini milikku! My Cherry," ucapnya menunjuk bibir Senja.
Senja menatapnya semakin tak mengerti dan hanya bisa menghela napasnya dalam. Jika protes maka ia yakin suaminya akan semakin menggila dan menyebalkan.
🌼🌼🌼
💠💠Happy reading all, jangan lupa like, komen, tip atau votenya. Bunga mawar atau kopi juga boleh banget! hehehe.
__ADS_1
Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠