
Kendra melajukan mobil dengan kecepatan pelan. Ia mengikuti Elang dan Senja yang kini sedang asyik berjalan-jalan membelah malam kota Paris. Ia hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat Senja yang begitu menikmati berada di gendongan Elang yang dilihatnya sudah kelelahan, dari jendela mobil yang kacanya ia turunkan untuk memantau bosnya. Entah mereka sudah berjalan berapa kilo malam ini.
Elang yang melihat Kendra yang melongokkan kepalanya dari dalam mobil hanya bisa mencebik saat Kendra tersenyum memgejek kepadanya.
“Lelah bos? Mau saya gantiin gendong nona?” tawar Kendra setengah meledek.
“Tidak perlu, aku masih kuat gendong istriku ke ujung dunia pun. Dasar modus, bilang mau gantiin, aslinya iri kan lihat yang romantis begini?” jawab Elang seraya berjalan beriringan dengan Kendra yang melajukan mobilnya pelan.
“Hadeh romantis kok gini amat, nyiksa. Ini baru awal nona hamil bos, masih ada delapan bulan lagi loh. Siapin mental aja ya, kayaknya anaknya pintar tuh, masih dalam perut aja udah pintar ngerjain ayahnya,” ucap kendra menyeringai.
“Dasar kamu ya Kend, hadirmu bukannya mengurangi beban malah nambah majin runyam. Ku sunat juga nanti gajimu,” Ucap Elang kesal karena di ledek terus okeh Kendra.
“Haha ampun bos, Cuma becanda. Jangan di ambil jantung begitu, biar nggak tegang dan cepat tua. Baru juga mau punya baby satu. Saya tunggu di depan sana, hati-hati takutnya encok habis ini,” Kendra memeperceat laju mobilnya tanpa memperdulikan Elang yang siap mengumpat.
“Ck dasar, awas aja nanti kalau kamu udah nikah dan istrimu ngidamnya lebih parah dari ini, aku bakal ketawain sampai guling-guling di tanah. Lihat aja nanti!”dengus Elang pelan.
“Sayang,” panggil Elang sedikit menoleh karena sejak tadi Senja hanya diam menyaksikan perdebatan suami dan asistennya tersebut.
“Hem...” jawab Senja.
“Kenapa aku harus punya asisten menyebalkan seperti itu,” keluhnya manja.
Senja tergelak mendengarnya, “Percayalah, kau dan kend itu ibarat sayur tanpa garam sayang. Kend tanpamu hampa karena dia jomblo, dan... Kau tanpa Kend sama saja sego kucing tanpa karet tali. Ambyar! Kalian itu saling membutuhkan, bahkan aku iri dengannya,” ujar Senja terkekeh, membayangkan jika orang lain melihat mereka bertengkar, lebih mirip sepasang kekasih.
“Huft, ingin rasanya aku tukar tambah saja itu si Kend, punya mulut nggak ada akhlak, kalau asisten lain mungkin udah di lempar ke langit ke tujuh,” kesal Elang. Senja hanya bisa terkekeh mendengar suaminya terus menggerutu, berjalan sambil menggendongnya.
“Capek Boo? Turunin, biar aku jalan,”ucap Senja. Mungkin karena capek, suaminya jadi sensitif dan mengimel, pikirnya.
“Enggak sayang, Cuma gendong kamu mah masih kuat, Cuma kok kamu tambah berat ya,” canda Elang.
“Maksudnya aku gendut gitu?” protes Senja. Jiwa sensitif hamilnya keluar.
“Enggak, bukan begitu maksudnya. Mungkin karena sekarang aku gendongnya double, kamu sama baby kita. Jadi makin berasa bobotnya. Please give me spirirt!” Elang menoleh dan memejamkan matanya. Dengan cepat Senja mencium pipi Elang penuh perasaan. Kanan, kiri dan diakhiri sebuah kecupan di bibirnya.
__ADS_1
“Thank you ma amour! Ayo kita terbang melintasi kota nalam ini!” seru Elang seraya berlari sambil tetap menggendong Senja.
Senja tergelak sambil. Merentangakna kedua tanganbya, menyambut angin malam yang menerpa.
Kendra hanya bisa tersenyum sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah bosnya.
“Semoga kebahagiaan dan cinta kalian akan abadi,” doanya tulus untuk pasangan yang sedang bahagia karena akan hadirnya buah cinta mereka.
🌼 🌼 🌼
Setelah berkonsultasi dengan dokter, akhirnya hari ini Elang dan Senja memutuskan untuk kembalI ke tanah air. Namun, sebelum mereka ke Bandara, mereka pergi ke rumah tuan Albert terlebih dahulu untuk berpamitan.
“Apa kamu yakin akan kembali ke Indonesia Senja? Tidakkah kamu berpikir lagi untuk tetap berada di sini. Mengelola perusahaan yang ada di sini. Kalian bisa tinggal denganku, biar masa tuaku ini tak kesepian,” ucap tuan Albert yang sebenarnya enggan melepas kepergian Senja dan Elang.
“Tidak tuan, keputusan saya sudah bulat. Saya harus mengabdi kepada suami saya. Dimanapun ia tinggal, saya harus ada untuknya. Biarkan saya urus perusahaan yang ada di sana. Yang di sini biar tuan Albert dan manajemen yang mengurus,” sahut Senja mantap.
“Tuan tenang saja, kami pasti akan sering ke sini mengunjungi Tuan,” imbuh Elang yang melihat ada ketidakrelaan dari sorot mata tuan Albert.
“Baiklah kalau begitu. Jika itu keputusan kalian, saya bisa apa. Jaga diri kalian baik-baik. Terutama jaga calon pewaris BaileyTex. Sering-seringlah ke sini, pintu rumahku tentu saja akan selalu terbuka lebar buat kalian. Dan... Tuan Erlangga, jaga nona Senja, saya titipkan dia kepada Anda,” ucap tuan Albert tulus.
“Tunggu tuan Erlangga!” suara tuan Albert menghentikan langkah Elang dan diikuti Senja. Mereka menoleh.
“Bolehkah saya memeluk nona Senja?” ijin tuan albert yang langsung di balas tatapan tajam oleh Elang.
“Tua-tua tahu aja yang bening, dasar tua-tua keladi. Modus!” hati Elang langsung di penuhi curiga.
“Sebentar saja, anggap saya sedang melepas anak gadis saya untuk pergi,” ucap tuan Albert kemudian.
“Boo...” Senja menoleh meminta ijin. Ia tahu tuan Albert tak ada maksud apa-apa. Tuan Albert menyayanginya sejak kecil, tentu saja ia akan merasa kehilangan Senja kembali setelah sekian lama baru menemukannya kembali. Namun, mengingat posesifnya Elang, membuatnya tetap harus minta ijin.
“Hem,” Elang mengangguk meski tak rela.
Senja mendekati tuan Albert lalu memeluknya erat. Seperti seorang putri yang memeluk ayahnya. Hangat dan nyaman yang ia rasakan. Ia bisa merasakan kasih sayang tuan Albert yang tak pernah hilang meski sekian lama tak bertemu karena menghilangnya Cherry kecil.
“Jaga diri nona baik-baik. Hiduplah dengan bahagia,” ucap tuan Albert dengan nada bergetar, menahan tangis. Lagi-lagi teringat mantan majikannya, tuan dan nyonya Bailey.
__ADS_1
“pasti tuan, pasti aku akan hidup dengan baik. Tuan jangan khawatir,” sahut Senja.
“Jika ke makam Hardian, sampaikan maafku kepadanya karena belum bisa mengunjunginya. Nanti aku akan datang sendiri untuk minta maaf, aku banyak salah dengannya. Dia lebih tua tapi aku selalu tak menghormatinya, aku selalu melunjak, tapi justru itu yang buatvkami dekat, ah Hardian" kenang tuan Albert.
“Karena kalian saling menyayangi, kakek pasti tahu itu,”timpal Senja.
“Ehem!” Elang berdehem karena menurutnya mereka berpelukan cukup lama. Dan itu membuatnya kesal.
Tuan Albert segera melepas pelukannya, “Jangan cemburu tuan Erlangga, ini hanya pelukan saya dari seorang ayah untuk putrinya. Bahkan saat nona kecil aku yang mengasuhnya. Aku bahkan sudah menciumnya lebih dahulu sebelum Anda,” ujar tuan Albert tergelak.
“Sudah jangan katakan apapun lagi tuan Albert, atau akan ada hati yang mendidih. sayang ayo!” sergah Elang yang tak bisa menyembunyikan kecemburuannya.
“Aku pergi tuan. Secepatnya aku akan ke sini lagi jaga diri tuan baik-baik. Suruhlah anak dan cucu tuan kembali ke sini untuk menemani tuan,” pesan Senja sebelum ia benar-benar meninggalkan kediaman tuan Albert.
"Modus amat, modus itu biar bisa peluk kamu!" bisik Elang sambil berjalan keluar menuju mobil dimana Kendra sudah menunggu.
"Modus apa sih, cemburu nggak tahu tempat. Masa sama yang udah ubana begitu tajut kalah saing," balas Senj, ia mengeratkan pelukannya terhadap lengan Elang.
🌼 🌼 🌼
💠💠Jangan lupa like komen dan 🍵 atau 🌹 untuk mas Bara Fira... Votenya juga boleh banget jika masih ada.. Yang udah habis, besok udah senin lagi loh, bisa dong votenya buat Elang 😊😊 Tenkyuuuu 🙏🏼🙏🏼
Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠
__ADS_1