Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 66 (Makan malam dramatis)


__ADS_3

"Sudah El, nanti kita terlambat datang ke rumah daddy, ini sudah jam berapa ucap Senja ketika Elang ingin melakukan ronde yang ke dua


"Sekali lagi," tawar Elang.


"Aku sudah lelah El..." sahut Senja. Benar saja, meskipun satu ronde yang di lakukan cepat dan kilat mengingat waktu yang sudah mepet tapi Elang butuh penyaluran hasratnya. Senja memimpin permainan dan tentu saja hal itu menguras energinya karena baru pertama kali ia melakukannya.


"Aku mandi dulu," ucap Senja yang langsung turun dari tempat tidur.


"Bareng aja ya? Biar hemat waktu," ucap Elang tersenyum.


"Tidak sendiri-sendiri saja," sahut Senja cepat berlari ke kamar mandi, dari senyum yang di tunjukkan oleh Elang, Senja curiga pasti ada niat terselubung di kamar mandi jika ia membiarkan Elang ikut mandi bersamanya.


Di balik pintu kamar mandi, Senja tersenyum malu mengingat betapa liarnya dia tadi saat memimpin permainan. Benar-benar malu jika terus mengingatnya.


Elang langsung memakai celananya dan keluar dari kamar, ia memutuskan untuk mandi di kamar mandi tamu untuk menghemat waktu karena mengingat waktu yang semakin malam.


Saat kembali ke kamar, Senja belum selesai dengan ritual mandinya. Elang melihat ponselnya yang tergeletak di atas nakas sambil mengacak-acak rambutnya menggunakan handuk.


Elang tersenyum tipis saat membaca pesan dari Kendra tadi. Meski aksi Kendra menggagalkannya yang sudah berlutut di depan Senja untuk mengungkapkan cintanya, tapi ia tetap berterima kasih.


"Lima kali lipat plus bonus di transfer," Elang membalas pesan yang di kirim oleh Kendra.


Sejak dari klinik tempat Elang dan Ervan di obati luka akibat adu jotos mereka sepulang kantor tadi, Kendra sudah curiga dengan sikap Senja yang pergi meninggalkan Elang begitu saja, pasti ada sesuatu yang salah. Merasa tidak tenang, akhirnya Kendra diam-diam mencari tahu dengan caranya sendiri.


"Kau terbaik Kend," gumam Elang seraya meletakkan kembali ponselnya ke atas nakas.


Elang menoleh ke pintu kamar mandi, istrinya tak kunjung keluar, "Mandi atau pingsan sih di dalam?" gumamnya.


Elang mendekat ke pintu kamar mandi, ia mencoba membukanya dan ternyata di kunci.


"Astaga, segitu takutnya aku masuk sampai di kunci pintunya?" decak Elang.


Tok tok tok! "Senja, sayang kamu baik-baik saja di dalam? Kamu tidak pingsan kan sayang?" teriak Elang namun tak di sahut oleh Senja.


"Astaga, kenapa lama sekali, jangan-jangan dia beneran pingsan karena kelelahan," Elang menjadi panik.


Namun, sejurus kemudian Elang langsung bernapas lega ketika pintu kamar mandi terbuka dan muncullah sang istri dengan bathrobenya.


"Astaga sayang, kamu bikin aku khawatir," ucap Elang, membuat Senja mengernyit. Apa yang perlu di khawatirkan, dia cuma mandi bukan kabur.

__ADS_1


"Aku kira kamu pingsan di dalam karena mandi lama sekali," lanjut Elang.


"Ck, kamu berlebihan, aku cuma mandi," ucap Senja memegang pipi suaminya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Senja ketika menyadari rambut suaminya yang masih setengah basah.


"Atau ini keringat karena tadi?" sambung Senja sebelum Elang menjawab. Ia tersipu malu mengingat kejadian beberapa saat yang lalu.


"Kenapa? Mau lagi?" tanya Elang menggoda membuat pipi Senja memerah.


"Aku mandi di kamar mandi tamu,"


"Ohh...Kenapa tidak ganti baju? Tidak jadi ke rumah mommy?" tanya Anes.


"Bajunya belum di siapkan sama istriku yang cantik ini," ucap Elang manja. Bucin sudah nampak hilalnya rupanya ini.


"Hem manja, ya udah aku siapkan sebentar," ucap Senja dan langsung menyiapkan keperluan sang suami.


Setelah siap, Elang dan Senja berangkat ke kediaman Parvis. Saat melewati ruang tamu, mereka melihat Kendra tengah tertidur di sana.


"Kend?" gumam Senja ketika melihat asisten suaminya tertidur di sofa.


🌼🌼🌼


Tak butuh waktu lama, Elang dan Senja sampai di kediaman Parvis.


"Sayang, kau baik-baik saja? Kata El kamu sakit? Kamu mual-mual? Apakah kamu hamil? Apa sudah mengeceknya?" tanya Anes yang menyambut kedatangan anak dan menantunya.


"Sa~sakit? Hamil?" gumam Senja tak mengerti, ia melirik ke arah suaminya yang kini berlagak tidak tahu apa-apa.


"Eh itu, cuma masuk angin biasa mom. Sekarang sudah enakan," ucap Senja merasa kikuk.


"Kamu yakin, siapa tahu kamu beneran hamil sayang. Bukankah kalian sering melakukannya?" ucap Anes tersenyum melihat tanda kemerahan di leher Elang.


Pipi Senja langsung merah seperti tomat, malu semalu-malunya. Kenapa itu hasil cipokannya bisa terlihat jelas di leher sang suami dan ia tak menyadari hal itu sejak tadi. Elang juga, kenapa dia nggak menyembunyikan tiga tanda merah itu. Astaga, Senja benar-benar ingin tenggelam di dasar lautan rasanya.


"Mommy kayak nggak pernah muda aja, sudah tua saja kalian masih sering kan melakukannya? Jangan di kira El idak tahu, El tahu akal busuk daddy," Elang melakukan serangan balik.


"Ck, kau ini El...ya sudah ayo masuk. Daddy dan lainnya sudah menunggu di dalam," ajak Anes, berjalan terlebih dahulu di depan dan diikuti oleh Elang dan Senja.

__ADS_1


Senja menatap Elang tajam, seakan ia ingin menerkam suaminya itu hidup-hidup.


"Kamu yang buat ini sayang, jadi jangan salahkan aku," ucap Elang lirih di telinga Senja.


"Apa tidak bisa di sembunyikan?" ucap Senja.


"Caranya?Aku tidak memiliki rambut yang panjang,".


"Kan bisa pakai syal sayang,"


"Ayolah sayang, suamimu ini tidak mungkin memakai syal, kau bergurau,"


Tau ah! Senja benar-benar malu. Kini apa yang di pikirkan ibu mertuanya tersebut. Pasti berpikir dia adalah wanita liar. Rasanya ia ingin putar balik dan pulang saja, menutupi seluruh wajahnya dengan bantal.


"Sudah jangan di pikirkan," ucap Elang. Senja hanya mencebik. Sementara Anes tersenyum mendengar obrolan keduanya tanpa menoleh, ia tak.ingin menantunya semakin malu.


Sesampainya di meja makan Elang dan Senja menyapa semuanya. Di sana juga ada David, Amel dan juga Rega. Mereka memang sering mengadakan makan malam bersama. Rega dan Elang yang sering absen acara makan.malam.karena kesibukan mereka. Tapi.kali ini, baik Elang maupun Rega bisa hadir semuanya, membuat suasana semakin ramai. Dan tentu saja Gisel merasa senang akan kedatangan sang pujaan hatinya.


Alex dan yang lainnya sengaja menunggu Elang dan Senja meskipun akhirnya acara makan malam mereka menjadi sedikit terlambat karena tadi Elang audah mengirim pesan jika ia akan datang tapi terlambat.


Acara makan malampun di mulai. Senja sesekali.melirik suaminya yang terlihat nyaman-nyaman saja dengan lehernya. Justru ia yang merasa gelisah.


"Ini yang masuk angin kakak ipar atau kakak? Kenapa leher kakak yang di kerok?" Nah kan, si bungsu nan polos itu sudah mulai kepo lagi. Dulu di kira digigit nyamuk, yang ini di kira kerokan.


"Astaga kau beneran sepolos itu? Masih belum paham juga kalau itu..." ucap Gavin tak percaya. Setidaknya ia lebih paham meskipun ia juga belum berpengalaman.


"Gavin," Anes menatap Gavin, memberi kode supaya tidak melanjutkan bicaranya, atau Senja benar-benar akan kehilangan muka di meja makan ini. Mereka semua, kecuali Gisel juga paham akan hal itu, tapi mereka lebih memilih diam demi menjaga perasaan menantu keluarga Parvis tersebut. Berbeda dengan Elang dulu yang di ledek habis-habisan oleh Alex dan David.


Gavin langsung diam dan mengerti. Ia tak bicara lagi dan melanjutkan makannya.


"Ih mommy kenapa?" tanya Gisel.


"Sel, tidak baik banyak bicara di meja makan. Ngobrolnya bisa di lanjutkan nanti," ucap Rega.


"Iya bang," sahut Gisel langsung patuh. Di dunia ini ada tiga laki-laki yang bisa buat Gisel takluk, Alex, Elang dan Rega. Jika dengan Gavin ia juga bisa takluk tapi lebih sering bertengkar. Sedangkan David, selalu memanjakan dan sangat menyayangi Gisel. Makanya ia selalu mewanti-wanti Rega untuk tidak membuatnya kehilangan mimpi dan masa depannya.


Elang hanya mengernyit, seumur-umur dia belum pernah yang namanya kerokan. Namun, tidak mungkin juga ia menjelaskan kepada Gisel, kalau itu adalah tanda cinta Senja untuknya.


🌼🌼🌼

__ADS_1


__ADS_2