Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
NOVEL SEBATAS IBU PENGGANTI


__ADS_3

Assalamualaikum.... Hai apa kabar semua.. Author membawa karya baru nih.. Yuk kepoin segera.


Judul : Sebatas ibu pengganti.


Tema : Ibu pengganti.


Kategory : wanita.


Napen : embunpagi


Sinopsis :


Binar di wajah cantik Adhisty pudar ketika ia mendapati bahwa suaminya yang baru beberapa jam yang lalu sah menjadi suaminya ternyata memiliki istri lain selain dirinya.


Yang lebih menyakitkan lagi, pernikahan tersebut di lakukan hanya karena untuk menjadikannya sebagai ibu pengganti yang akan mengandung dan melahirkan anak untuk Zayn, suaminya, dan juga madunya Salwa, karena Salwa tidak bisa mengandung dan melahirkan anak untuk Zayn.


Dalam kurun waktu satu tahun, Adhisty harus bisa mmeberikan keturunan untuk Zayn. Dan saat itu ia harus merelakan anaknya dan pergi dari hidup Zayn sesuai dengan surat perjanjian yang sudah di tanda tangani oleh ayah Adhisty tanpa sepengetahuan Adhisty.


Adhisty merasa terjebak, ia bahkan rela memutuskan kekasihnya hanya demi menuruti keinginan orang tuanya untuk menikah dengan pria pilihan mereka. Karena menurutnya pria pilihan orang tuanya pasti yang terbaik.


Tapi, nyatanya? Ia hanya di jadikan alat sebagai ibu pengganti. Status pernikahannya hanyalah sebuah alibi.


"Jangan harap aku mau menyentuhmu malam ini. Ayahmu itu terlalu serakah, sudah menerima sejumlah uang dari istriku, masih memintaku untuk menikahimu! Harusnya dengan sejumlah uang itu sudah bisa membeli wanita sepertimu! Tanpa perlu adanya pernikahan ini! Jangan mengharap apapun dari pernikahan ini, karenanya aku melakukannya demi istriku!" ucap Zayn sengit.


Adhisty menatap pria yang sudah sah menjadi suaminya tersebut dengan mata berkaca-kaca. Hatinya terluka dan kecewa," Kau pikir, aku mau menjadi istrimu? Apalagi melahirkan anak untuk pria sepertimu? Tidak! Aku juga di jebak! Di jebak!" ia ingin marah dan mengumpat, namun sorot mata pria di depannya terlalu kuat dan menusuk hingga membuat nyalinya ciut. Ia hanya bisa menatap kesal dan benci pada suaminya tanpa bisa berkata-kata.


...----------------...


Cuplikan....

__ADS_1


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Zayn, Adhisty banyak diam karena suaminya yang saat ini duduk di sampingnya juga diam.


Untuk memulai bicara pun Adhisty merasa canggung. Pasalnya ia dan Zayn belum lama kenal. Bahkan mereka bertemu baru dua kali ini. Pertama saat acara lamaran sebulan lalu dan kedua saat akad hari ini.


Mobil memasuki halaman sebuah rumah yang sangat besar dan mewah menurut Adhisty. Ia sama sekali tak menyangka, suaminya sekaya itu ternyata. Ia pikir suaminya hanya seorang pekerja kantoran. Tapi, melihat rumah di depannya yang begitu besar dan mewah, Adhisty menebak jika suaminya adalah seorang pengusaha atau jangan-jangan seorang ketua mafia?


"Kenapa lihatin saya seperti itu?" tanya Zayn tanpa menoleh kearah istrinya.


"Kita akan tinggal di sini, mas?" tanya Adhisty.


Zayn tak menyahut, ia berjalan masuk mendahului Adhisty.


Adhisty hanya mengikuti langkah suaminya hingga sampai pada sebuah kamar yang ada di lantai dua.


Kamar tersebut sangat luas dan di hias menjadi kamar pengantin yang di hias sangat cantik. Senyum Adhisty langsung mengembang ketika melihat bunga-bunga yang di susun menghiasi ranjang dengan indahnya. Ia tak mempedulikan Zayn yang sedang berada di balkon menerima telepon.


Ia tertegun sejenak, mengingat mantan kekasihnya yang terpaksa ia putuskan demi menuruti keinginan kedua orang tuanya menikah dengan laki-laki pilihan mereka. Sesak ia rasakan, ingin menangis rasanya.


Tapi, segera Adhisty tepis rasa itu. Mungkin memang bukan jodohnya dengan pria yang menjadi kekasihnya selama tiga tahun terakhir itu. Adhisty harus mencoba mengikhlaskan dan menerima takdirnya menjadi istri dari seorang Zayn Sadhavir Erlangga sebagai baktinya kepada kedua orang tuanya. Meski tidak itu tidaklah akan mudah ia lakukan. Namun, Adhisty selalu bisa menyembunyikan perasaannya dengan senyuman.


Adhisty duduk di tepi ranjang, menunggu Zayn yang masih di balkon. Ia menyentuh kelopak bunga yang menghiasi tempat tidur berukuran besar tersebut. Ia mengambil setangkai mawar merah lalu menghirup aromanya. Bibirnya mengulum senyum, seolah aroma mawar itu telak merasuk dalam jiwanya.


Namun, binar senyum tulus itu tak berlangsung lama, saat sebuah kenyataan menampar hatinya.


"Mas..." panggil Adhisty karena suaminya lama berada di balkon.


Karena Zayn tak menyahut, Adhisty mendekatinya. Ia menyentuh punggung Zayn, "Mas, belum selesai teleponnya?"


Zayn menoleh, "Jangan berani menyentuh saya!" bentak Zayn. Ia langsung menutup teleponnya dan masuk ke dalam kamar.

__ADS_1


Adhisty tentu saja terkejut, pria yang sudah sah menjadi suaminya itu membentaknya hanya karena dia menyentuh punggungnya.


Adhisty ikut masuk ke dalam, ia mencoba berpikir positif, mungkin suaminya lelah.


"Mas mau mandi? Biar aku siapkan air, ya?"


Zayn berdiri, ia menatap tajam Adhisty penuh kebencian,"Dengar saya, kamu tidak perlu berperilaku layaknya seorang istri kepada saya. Bukankah tugasmu hanya untuk melahirkan anak untukku dan istriku?"


Deg!


Adhisty tak mengerti kalimat yang baru saja keluar dari bibir suaminya. Melahirkan anak untuknya dan istrinya? Bukankah dia istri dari pria yang kini berubah dingin tersebut.


"Apa maksud mas?" tanya Adhisty.


"Ck, jangan pura-pura sok polos. Ayahmu terlalu serakah dengan meminta saya menikahimu. Padahal uang yang sudah istriku berikan untuk keluargamu saya rasa sudah lebih dari cukup untuk membayar rahimmu selama mengandung dan melahirkan anakku nanti,"


"Maksud mas apa? Aku nggak ngerti, isteri mas yang mana? Aku istri mas, baru beberapa jam yang lalu kita menikah,"


Zayn mengertakkan giginya, rahangnya semakin terlihat jelas saat ia menahan amarahnya, "Entah kamu yang terlalu polos atau bodoh sampai mau di bohongi orang tuamu sendiri! Dengar baik-baik. Aku menikahimu bukan karena aku ingin. Tapi hanya demi seorang anak! Demi istriku yang menginginkan seorang anak, keturunan dari darah dagingku, tidak lebih! Tidak perlu kamu terlalu dalami peran sebagai istri, cukup persiapkan diri untuk memberikan aku dan istriku keturunan!"


Adhisty semakin tak mengerti kemana arah perkataan suaminya. Semakin ia cerna kalimat dari suaminya, Dadanya semakin merasa sakit bagai tersayat sembilu.


Adhisty menatap kedua manik mata milik Zayn,"Kalau tahu seperti ini, ku juga tidak sudi menikah denganmu! Aku di jebak! Di jebak!" ingin sekali rasanya Adhisty berteriak, mengumpat di depan wajah suaminya tersebut. Namun sorot mata Zayn yang begitu tajam dan menusuk, membuat nyalinya ciut seketika.


Tanpa bicara lagi, Zayn meninggalkan Adhisty.


Adhisty langsung merosot ke lantai setelah Zayn pergi. Sejak tadi ia menahan supaya air matanya tidak tumpah. Tapi, begitu pria itu pergi, ia langsung menangisi nasibnya.


"Ayah, ibu... Kenapa jadi begini?" rintih Adhisty.

__ADS_1


__ADS_2