Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 79


__ADS_3

Tiga perempuan yang masing-masing bertugas menata rambut, wajah dan pakaiannya sedang sibuk menyulap penampilan Senja yang sedang duduk di depan meja rias yang ada di kamarnya.


Senja cukup terkejut tadi saat keluar dari kamar mandi ada yang memencet bel, ia kira itu suaminya yang memang tak kelihatan batang hidungnya sejak ia membuka matanya di pagi hari tadi. Namun, ternyata yang ia lihat berdiri di depan pintu adalah tiga perempuan yang usianya sedikit lebih tua darinya. Mereka tersenyum, menyapa dan mengatakan kalau mereka di beri tugas untuk melayani Senja menggunakan bahasa inggris. Meski sedikit bingung antara ingin membiarkan mereka masuk atau menyuruh mereka pergi saja karena ia merasa tak butuh di layani, apalagi soal memakai baju atau sekedar memoles wajahnya, ia bisa sendiri, pikir Senja.


Namun, Senja ingat pesan singkat yang dikirim oleh Elang, "Akan ada orang yang membantumu bersiap-siap nanti, nikmati saja jangan protes. Aku ada urusan sebentar, nanti segera kembali 😘😘," begitulah isi pesan singkatnya, sehingga Senja membiarkan tiga wanita tersebut masuk dan siap mengubah penampilannya.


Dua wanita yang bertugas mendandani dan menata rambutnya telah selesai. Senja tampak cantik dan elegan. Ia tersenyum tipis ke arah cermin, dalam hati ia memuji dirinya sendiri, "cantik," batinnya. Ia merasa ini adalah riasan wajahnya yang paling bagus, terlihat natural namun tetap elegan dan sangat cantik. Wanita yang meriasnya sangay pinyat dan tahu keinginannya, pikir Senja.


Setelahnya, ia di hadapkan dengan beberapa gaun yang di sodorkan oleh wanita yang satunya, "Gaun mana yang akan Anda kenakan nyonya?" tanya wanita itu kepada Senja, masih menggunakan bahasa inggris.


Senja terdiam, ia ingin meminta pendapat kepada suaminya karena Elang bwgitu posesif soal pakaian yang ia kenakan. Namun, entahlah sekarang sedang berada di mana laki-laki itu berada.


"Menurutmu mana yang cocok untukku?" tanya Senja kepada wanita itu.


"Sepertinya yang ini lebih cocok, tidak terlalu terbuka," jawab Wanita itu.


Senja langsung setuju, akhirnya ia mengenakan gaun berwana hitam, berlengan, panjang sampai mata kakinya. Karena diantara gaun-gaun yang di ada di hadapannya , gaun itulah yang menurutnya paling sopan. Ia tahu, suaminya tidak akan mengijinkan Senja terlalu mengekspose bagian tubuhnya sekalipun itu hanya lengan saja.


Ngomong-ngomong soal suaminya, dimana laki-laki itu sekarang. Sejak Senja membuka mata hingga kini ia sudah berpenampilan cantik masih juga belum kelihatan wajah tampannya. Membuat Senja sedikit kesal, suaminya tidak menunggunya bangun terlebih dahulu sebelum pergi. Senja tahu, suaminya memang sedang ada hal penting yang harus diurus, tapi ini kan hari ulang tahun istrinya, malah ngilang begini.


Selesai memakai gaun beserta sepatu yang berwarna senada, tiga wanita yang sejak pagi sudah sibuk melayaninya tersebut pamit pergi.


"Tunggu!" sergah Senja saat mereka sampai di ambang pintu.


"Ya nyonya?" mereka berhenti dan menoleh.

__ADS_1


"Apa kalian tahu dimana suamiku?"


"Tidak nyonya, kalau tidak ada lagi kami permisi," ucap salah satunya masih dengan bahasa inggris.


Hah, pertanyaan macam apa yang baru saja ia lontarkan, dirinya yang istrinya saja tidak tahu dimana Elang berada, apalagi mereka, ada-ada saja, begitulah yang di pikirkan Senja saat ini.


Senja keluar menuju ke teras kamarnya, menikmati kesendiriannya memandangi menara Eiffell, menunggu sang pangeran menjemputnya.


"Kapan aku bisa ke sana?" gumamnya seraya menatap lekat tower icon kota Paria tersebut, ingin sekali ia berfoto ria di sana lalu memamerkannya kepada Sarah. Pasti sahabatnya itu heboh dan iri, pikir Senja tersenyum.


Perasaan deg-degan, cemas dan khawatir tiba-tiba menghampirinya, pasalnya Elang bilang kalau hari ini Senja akan mendapatkan apanyang memang menjadi haknya. Ya artinya kalau hari ini juga jati diri, kisah tragis masa lalu kemungkinan besar akan terungkap secara publik. Senja hanya perlu memantapkan hatinya, tak perlu banyak berpikir, semua akan baik-baik saja selama Elang bersamanya. Itulah yang selalu Elang katakan untuk menenangkannya.


Senja melirik makanan yang memenuhi meja di teras tersebut, belum ada satupun yang tersentuh apalagi di makan. Di ambilnya roti croissant, roti dengan adonan berlapis ( flaky bread) yang bentuknya seperti bulan sabit, sekedar untuk mengganjal perutnya.


"Kenapa lama sekali sih, emangnya pergi kemana, ninggalin aku sendiri begini, katanya udah di jalan balik, kok belum sampai juga," ucap Senja bermonolog sambil mengunyah roti terenak di dunia menurut CNN travel tersebut.


"Boo... Kau sudah kembali?" Senja langsung memutar tubuhnya sehingga kini ia bisa melihat jelas wajah yang sudah sangat ia rindukan, padahal baru beberapa jam di tinggal tersebut. Tanpa bisa menyembunyikan senyumnya.


"Sesenang itu bertemu denganku?" goda Elang, tangannya tetap melingkar di pinggang Senja.


"Ck, kau dari mana? Bahkan saat aku buka mata sudah tidak ada, menyebalkan!" Senja memukul pelan dada suaminya.


"Ssst jangan manyun, udah dandan secantik ini bukannya buat menyambut suami malah manyun. Aku baru saja menemui tuan Albert sayang, kau jangan berpikir macam-macam," Elang mengusap hidung Senja menggunakan punggung jari telunjuknya.


"Aku kira booboo ninggalin aku balik ke Jakarta," canda Senja.

__ADS_1


"Mana mungkin," Elang memeluk erat istrinya. Rasanya, ia juga sudh rindu berat. Setiap Jam,. Menit bahkan detik adalah rindu buay keduanya yang memang sedang di mabuk asmara.


"Dasimu berantakan sayang, miring juga," Senja menggigit roti croissant yang sejak tadi ia pegang, lalu membenarkan dasi suaminya.


"Itulah gunanya punya istri," ucap Elang tersenyum. Ia langsung menggigit roti croissant yang setengahnya masuk ke mulut Senja. Tak hanya menggigit rotinya, tapi Elang juga sedikit menggigit bibir cherry yang langsung mengatup tersebut.


"Aku belum sarapan," kata Elang santai saat Senja menatapnya tajam.


"Itu kan masih ada, kenapa menggigit bibirku?"


"Lebih nikmat dari bibir kamu sayang," sahut Elang, jempolnya mengusap bibir Senja dengan lembut, "Kalau tidak takut merusak riasanmu bahkan aku ingin sarapan yang lain," Elang mengedipkan satu matanya yang di balas satu cubitan mesra di pinggangnya.


"Apa sih boo, masih pagi juga," ucap Senja merona.


"Mau pagi, siang sore, malam juga tidak masalah, suka-suka kita sayang,"


Senja hanya tersenyum tipis menanggapinya, otak suaminya benar-benar udah terkontaminasi racun mesum pikirnya.


"Aduh gimana ini!" seru Elang tiba-tiba.


"Kenapa boo?" tanya Senja mendongak, wajahnya sudah panik.


"Kalau kau seperti ini, rasanya aku benar-benar ingin mengurungmu di kamar terus selama di Paris," ucap Elang tersenyum. Lagi-lagi Senja mencubitnya, tidak sakit malah membuat Elang semakin tidak ingin pergi jika tidak ingat acara hari ini sangat penting.


"Ah ayo, kita pergi sekarang atau aku benar-benar akan menguurung dan mengukungmu di kamar," Elang menarik tangan Senja. Wanita itu hanya bisa mengulum senyumnya lalu melingkarkan tangannya dilengan sang suami dengan manja.

__ADS_1


🌼 🌼 🌼


__ADS_2