Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 118


__ADS_3

Gavin yang sejak tadi sudah di ceramahi tentang banyak hal oleh daddy dan juga kakaknya hanya bisa menggelengkan kepalanya dengan tangan bersedekap di dada. Ini dia ke luar negeri juga buat kuliah, tapi di rumah sudah di kuliah terlebih dahulu, pikirnya.


"Sudah? " ucap Gavin datar. Membuat daddy dan kakaknya langsung mengatup.


"Dari tadi kalian berdebat terus tentang siapa yang lebih hebat, kalian sama-sama hebat. Aku udah mencerna dan mencatat semua yang kalian katakan di kepala Gavin, tidak perlu khawatir. Kalau kalian berdebat terus, Gavin malah puyeng dengarnya. Gavin ke sana juga untuk menuntut ilmu dalam dunia bisnis, jangan lupa itu. Lihat saja nanti, Gavin akan buktikan jika Gavin juga mampu menjadi seperti kalian berdua yang hebat," ucapnya penuh rasa percaya diri. Memang sudah takdirnya terlahir dari keluarga berada, lalu apa yang salah dengan itu? Justru ia bertekad akan menambah pundi-pundi kekayaan keluarganya tersebut dengan kemampuannya nanti.


" Apa kalian sudah selesai? Kita bisa berangkat sekarang?" suara Senja terdengar dari ambang pintu ruang kerja daddy Alex tersebut.


Ketiganya menoleh lalu mengangguk bersamaan. Tanpa bicara, Elang berjalan mendekati Senja, "Ayo sayang," ucapnya sambil meraih pinggang sang istri.


🌼 🌼 🌼


Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di Bandara.


Mommy Anes tak bisa menghentikan air matanya saat melepas kedua anaknya, ia terus memeluk si kembar bergantian, sangat berat baginya untuk melepas mereka.


"Mommy nggak usah khawatir, Gisel akan jaga diri baik-baik, makan dengan baik, tidur dengan baik dan belajar dengan baik. Udah, jangan nangis terus, nanti daddy marah sama Gisel karena udah buat mommy nangis begini," ucap Gisel seraya menahan isaknya. Matanya sesekali mengedar, berharap bisa melihat sosok yang seharusnya tak ia harapkan lagi untuk terakhir kalinya sebelum ia pergi.


"Kita bisa berangkat sekarang?" tanya Kendra seraya melihat jam tangannya.


" Sel, ayo!" ajak Gavin, namun Gisel bergeming, entah apa lagi yang ia harapkan. ,


" Sel!" Gavin menarik tangan Gisel hingga gadis itu tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya," Gisel pun berjalan mengikuti Gavin setelah berpamitan kepada semuanya.


Sekali lagi Gisel menoleh, "Abang bahkan tidak datang mengantarku. Baiklah jika ini mau abang, mulai hari ini Gisel akan hapus abang dari hidup Gisel. Gisel nggak akan mengganggu abang lagi, semuanya berakhir!" Batin Gisel, hatinya begitu sakit. Ia mengambil ponselnya, lalu memblokir nomor ponsel Rega. Rasa sakitnya begitu menggerus hatinya. Ia meletakkan harapannya untuk bersanding dengan Rega seiring dengan langkah kakinya yang terus berjalan.

__ADS_1


" Sayang, ayo pulang. Mereka akan baik-baik saja Gavin dan Kendra akan mengurus semuanya," ajak daddy Alex setelah memastikan Gavin dan Gisel sudah berada di dalam pesawat jet pribadi milik Elang.


"Tapi Kendra sama Gavin hanya beberapa hari di sana, mereka akan meninggalkan Putri semata wayang kita sendiri di sana," sergah mommy Anes.


"Sudahlah, mom. Biarkan mereka belajar mandiri. Mereka cuma pergi Ke Paris, yang satunya akan ke Ausy. Kalau kangen tinggal datangi mereka. Jangan lupa Gisel itu anak mommy, bukankah dulu mommy juga kuliah di luar negeri, sendiri? Percayalah, Gisel juga akan mampu kayak mommy. Jangan pernah meragukan anak gadis mommy, dia bisa lebih sedih jika mommy meragukannya," ucap Elang mencoba menasihati momminya namun dengan nada tegas. Ia tak tahan lagi melihat momminya terus saja menangis.


"Kami tunggu di mobil, "Elang menggandeng tangan Senja dan meninggalkan mommy dan daddy.


"Sudah sudah, ayo pulang. Jangan nangis terus, kayak nganter anak ke medan perang aja. Lihat itu anak sulungmu udah badmood karena lihat mommy kesayangannya nangis terus," ucap daddy Alex yang tahu betul jika Elang paling benci melihat ibunya menangis, apapun alasannya.


Daddy Alex menarik mommy Anes ke dalam pelukannya," Hidup itu selalu ada pilihan, sayang. Dan ini pilihan anak kita, kita hanya bisa mendoakan yang terbaik selama itu positif," ucapnya lembut, di kecupnya kening sang istri lalu menggiringnya untuk berjalan bersama dengannya menyusul Elang dan Senja.


"Rumah akan jadi sepi, mas," ucap mommy saat berjalan.


"Sepi ya? Emmm, apa kita perlu membuat adik seperti mereka lagi? Kembar lagi? Ide bagus sepertinya, makasih sarannya sayang," ide briliant menurut daddy Alex tercetus begitu saja.


"Kenapa? ada yang salah sama omongan mas? Mas masih mampu loh sayang. Bibit mas kualitasnya masih unggul, tidak di ragukan lagi, lihat saja hasilnya kan? Udah ada tiga dengan kualitas terbaik. Katanya mau rumah ramai lagi, masih bisa kalau mau nambah lagi, dua atu tiga mungkin? Biar makin ramai," ucap daddy Alex menyeringai.


"Tahu ah, ayo pulang! Dari pada harus hamil lagi, malu! Nanti dikira saingan sama menantu sendiri. Kayak nggak mau kalah sama menantu yang lagi hamil, mending aku minta Elang yang gaspol buat cucu untuk kita, yang banyak biar ramai," tukas mommy Anes.


Daddy Alex terus saja menggoda mommy Anes sepanjang jalan menuju ke mobil.


" Lihat, Boo. Mommy udah mau tersenyum. Daddy hebat ya, keren bisa buat mommy melupakan kesedihannya dengan cepat, "ucap Senja yang melihat kedua mertuanya berjalan beriringan, mommy Anes menggandeng mesra lengan daddy Alex smbil sesekali mencubit pinggang suaminya tersebut.


" Aku juga bisa menghibur istriku dengan cepat, gampang, bawa ke kasur udah, beres," ucap Elang yang langsung mendapat tabokan di lengannya, " Apa sih," ucapnya merona.


"Dih, nggak ngaku," ucap Elang terkekeh.

__ADS_1


Senja memalingkan wajahnya sambil terus mengomel pelan dengan bibir mencebik. Memang benar, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dan seperti itulah mereka, melihat Elang sama saja melihat masa muda daddy Alex, sama omesnya.


"Heh, suami di sini malah di belakangin, nggak sopan!ngadeo sini, cepat. Jangan ngomel begitu, aku tahu loh sayang, atau memang sengaja itu bibir di monyongin biar di cium iya?" ucap Elang menahan tawa.


Senja bergeming, membuat Elang gemasd i buatnya.


"SENJA KAHAIRA DEWI! Nggak balik badan, beneran aku uyel-uyel di sini!"


Senja langsung membalik tubuhnya Menghadap, dari pada di uyel-uyel di mobil yang sebentar lagi kedua mertuanya akan sampai. Bisa malu kalau mereka melihatnya. Sedangkan Elang tidak pernah main-main dengan ucapannnya. Jika ingin, di depan orang tuanya pun ia tidak akan peduli.


Elang menahan senyumnya demi melihat wajah cemberut sang istri, "Jngan kebanyakan cemberut ah, makin cantik tahu kalau begitu, aku jadi beneran takut kilat di sini,"


Senja semakin mencebik mendengarnya, MembuatElang tergelak. Tak menyadari jika kedua orang tuanya sudah menunggu di samping mobil.


Sementara itu, tampak seorang pria yang sedang menengadah, menatap pesawat yang melintas di atasnya dari dalam mobilnya.


Ia tersenyum getir ketika mengetahui nomor ponselnya sudah di blokir oleh Gisel.


"Mungkin ini lebih baik," ucapnya lirih.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Jangan lupa like, komen dan tehnya... Oh iya, votenya juga boleh dong buat My Boo Elang πŸ˜„πŸ˜„


Terima kasih πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ


Salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ πŸ’ 

__ADS_1


__ADS_2