
Ervan segera membawa Senja yang tak sadarkan diri ke ugd sebelum ia mencari dimana Elang dan Kendra di rawat, "Kmau di sini, nungguin Senja. Aku ke resepsionis dulu mencari info soal El dan Kend,"
Sarah hanya bisa mengangguk. Ia juga tak kalah khawatir. Pikirannya sejak tadi serasa blank, perasaan takut kehilangan tiba-tiba muncul di hatinya.
Sarah menatap punggung Ervan yang berlalu dari depan ruang UGD," Semoga pak Erlangga dan Kendra baik-baik saja," gumamnya dalam hati.
Setelah bertanya kepada resepsionis, Ervan langsung menuju ke ruang ICU dimana Elang berada saat ini. Karena kondisinya sangat kritis, ia langsung di bawa ke ruang ICU. Sementara Kendra yang lukanya lebih ringan di rawat di kamar VVIP.
"Van?" Rega menepuk bahu Ervan ketika.
Ervan menoleh, "Bagaimana keadaannya, Ga?" tanya Ervan, ia menoleh, melihat Elang dari kaca.
"Benturan di kepalanya sangat keras. Kita hanya bisa menunggu sebuah keajaiban," ucap Rega, seolah tak ada kekuatan dalam nada bicaranya, lemah dan hampir putus asa.
Ervan mundur selangkah dan langsung menyadarkan tubuhnya di dinding kaca di belakangnya, ia mengembuskan napasnya dalan seraya memejamkan matanya. Jika Rega saja sudah seperti pasrah, apa yang bisa ia dan lainnya harapkan kecuali sebuah mukjizat.
"Senja, aku harus menemui dia dulu," tiba-tiba, Ervan ingta dengan Senja.
"Senja? Dimana dia sekarang? Apa dia tahu kalau El kecelakaan?" tanya Rega.
Ervan mengangguk, " Tadi polisi menelepon saat membawa El ke sini. Dan dia pingsan, sekarang mungkin masih belum sadarkan diri," jawab Ervan.
"Ya ampun," Rega mengusap wajahnya kasar. Ia tak bisa membayangkan bagaimana jika Senja mengetahui kondisi Elang saat ini, sementara ia sedang hamil.
Terlihat dua orang sedang berjalan tergopoh-gopoh mendekati Rega dan Ervan dengan raut penuh kecemasan.
" Ga, dimana El? Bagaimana keadaannya?" tanya daddy Alex yang baru saja datang.
Rega terdiam, ia hanya bisa menjawab dengan menoleh ke ruangan di sampingnya,"Benturan di kepalanya sangat keras," hanya itu yang bisa Rega katakan. Tangis mommy Anes pun pecah di dalam pelukan daddy Alex.
Daddy Alex berusaha menenangkan mommy Anes meskipun hatinya juga ikut remuk redam. Bahkan daddy yang terlihat selalu tegar pun kini menitikkan air matanya ketika Rega mengatakan jika kemungkinan Elang untuk sadar sangat tipis.
__ADS_1
"Kend, bagaimana keadaannya?" tanya daddy Alex.
"Masih belum sadar, dia sudah berada di ruang rawat," jawab Rega.
Di sela-sela tangisnya, mommy Anes teringat menantunya, " Senja, dimana dia? Apa dia sudah tahu keadaan suaminya? Dimana menantuku?"
"Em, itu, Senja sekarang di ruang UGD, tadi saat hendak kesini dia pingsan, om, tante," Ervan yang menjawab. Ia belum sempat pergi menemui Senja karena Mommy dan daddy keburu datang.
"Oh, ya ampun... Mas.. Kenapa semua jadi begini?" Mommy Anes hampir kehilangan keseimbangan tubuhnya jika tidak di tahan oleh daddy Alex.
"Sayang , tenang lah dulu, kita harus yakin kalau El pasti akan sadar dan sembuh. Mas percaya keajaiban itu pasti ada, meskipun sedikit. Kita harus berdoa yang terbaik untuk anak-anak kita," Daddy Alex memapah mommy Anes untuk duduk.
"Bagaimana ini bisa terjadi mas, si kembar pergi dan sekarang El..." momny Anes terus saja menangis.
Ervan pamit untuk melihta kondisi Senja kepada mereka dan ternyata Senja sudah di pindahkan ke ruang rawat VVIP.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
"Bagaimana?" tanya Ervan setelah masuk ke ruang rawat Senja.
"Kendra bekum sadar juga, tapi dia udah melewati masa kritis. Tapi El..." belum juga Ervan menyelesaikan kalimatnya, Senja melenguh, ia siuman dari pingsannya.
"El,,, El baik-baik saja kan? Suamiku, dia baik-baik saja kan?" Senja langsung menanyakan keadaan suaminya. Ervan dan Sarah hanya bisa saling memandang, tak ada yang berani bicara. Mereka sama-sama mengkhawatirkan kondisi Senja dan bayinya.
"Van, Sar. Kenapa kalian diam saja? Baiklah, kalau kalian tidak mau memberitahuku, aku akan mencarinya sendiri!" Senja menyingkap selimut yang menutupi tubuhnya hingga bagian perut. Saat ia hendak melepas jarum infus dari tangannya, Ervan dengan cepat mencegahnya," Kau harus tenang dulu Nja. Percayalah Elang baik-baik saja, jika kondisimu sudah lebih baik, aku akan membawamu untuk melihatnya," UCAP Ervan memohon.
"Kenapa? Kenapa tidak dia yang kesini? Apa dia, terluka parah? Katakan Van, katakan yang sejujurnya!"
Ervan mengangguk, "Di masih kritis di ruang ICU. Tapi, percayalah kalau dia akan bangun secepatnya. Semua akan baik-baik saja," Ervan mencoba meyakinkan Senja, meskipun ia sendiri tak yakin.
Senja kembali menangis, "Semua salahku, Van. Salahku. Seandainya aku tidak memintanya membelikan makanan dia tidak akan seperti ini," Senja meluapkan kesedihannya.
__ADS_1
Sarah yang melihatnya tak sanggup menahan air matanya, ia mendekati Senja dan memeluknya erat, "Semua akan baik-baik saja, pak Erlangga laki-laki yang kuat, dia tidak akan kenapa-kenapa, kamu harus yakin itu, Nja," ucap Sarah.
"Kalau saja aku tidak egois Sar, kalau saja ku tidak memintanya cepat kembali, semua salahku. Salahku!" Senja terus menangis dalam pelukan sarah. Dari gelagat Ervan, Senja Bisa merasakan jika suaminya pasti tidak baik-baik saja.
"Bawa aku ke sana, Van. Aku mau melihat El. Aku harus melihatnya, sekarang!" ucap Senja tanpa bisa di bantah.
"Baiklah, aku akan membawamu ke sana, tapi kau harus janji, untuk kuat," ucap Ervan.
Senja mengangguk, ia berusaha menata hatinya untuk kemungkinan terburuk. Sarah dengan cepat mengambil kursi roda untuk di duduki Senja. Dengan di papah Ervan, Senja pelan-pelan turun dari ranjang dan duduk di kursi roda.
Ervan mendorong Senja yang duduk di kursi roda ke ruang ICU tempat Elang berada.
Mommy Anes langsung menubruk menantunya ketika Senja sampai di sana. Mereka berdua saling berpelukan sambil menangis. Membuat mereka yang berada di sana tak tega melihatnya.
"Maafi Senja, mom. Semua salah Senja, Senja yang menyebabkan Elang kecelakaan," ucap Senja penuh penyesalan.
"Tidak sayang, ini bukan Salah kamu," Momny Anes menggeleng.
Senja melihat ke arah dalam, "Aku mau masuk," ucapnya meliht Rega.
Rega mengangguk, ia mendorong kursi roda yang diduduki oleh Senja ke dalam, mendekati ranjang dimana Elang terbaring lemah tak berdaya dengan banyak alat menempel di tubuhnya.
Seketika Senja merasa seluruh tulangnya lolos melihat kondisi suaminya.
Senja lebih mendekatkan kursi rodanya kepada Elang. Di genggamannya tangan Elang tanpa perlawanan, "Maafin aku, boo. Maaf. Kamu harus cepat bangun, demi aku, demi anak kita. Kamu harus baik-baik saja. Aku mohon bangunlah segera," ucapnya lirih nyaris tak bertenaga. Ia terus mengecup jari jemari Elang.
Kenapa semua berubah dalam sekejap, rasanya baru kemarin. Bahkan sore tadi mereka masih saling berkirim pesan dan bercanda, tapi kini prianya tersebut terbaring lemah tak berdaya hanya dalam hitungan jam saja. Dunianya yang penuh warna, penuh kebahagiaan, kini berubah begitu saja, seakan semua warna itu hnya sebuh fatamorgana, dan sekarang berubah menjadi gelap.
"El, cepatlah bangun. Aku dan anak kita butuh kamu," Senja menoleh sekali lagi saat Rega mendorong kursi roda ya untuk keluar dari ruangn tersebut.
๐ผ ๐ผ ๐ผ
__ADS_1
๐ ๐ Jangan lupa like, komen dan hadiahnya, terima kasih ๐๐ผ
Salam hangat author ๐คโค๏ธโค๏ธ๐ ๐