Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 106


__ADS_3

Hingga larut malam, Senja masih sibuk memeriksa dokumen-dokumen yang ia bawa pulang dari kantor.


"Sayang, minum susunya dulu," ucap Elang yang baru saja masuk ke dalam kamar.


"Makasih,boo,"sambil tersenyum, Senja mengambil gelas berisi susu ibu hamil tersebut lalu meminumnya hingga tandas.


" Ngerjain apa sih? Sampai jam segini belum selesai. Apa nggak cukup di kerjakan di kantor, sayang? Kalau di rumah, apalagi udah malam, gunakan untuk istirahat. Kasihan anak kita, jangan diajak kerja terus," Elang mencoba menasihati Senja secara halus. Sebenarnya ia tak suka jika Senja terlalu memforsir diri untuk bekerja.


" Ini soal mas Niko Boo,"


" Niko? Kenapa dengan dia? Buat masalah? Dia cari gara-gara sama kamu?"emosi Elang langsung twrsukut ala mendengar nama mantan kekasih istrinya tersebut. Ingat pria itu masih berada satu kantor dengan istrinya, sering membuat Elang kesal dan cemburu, meskipun ia percaya dengan Senja, tapi tidak dengan laki-laki itu.


" Ini, aku curiga ada yang tidak beres dengan laporan-laporan ini. Aku curiga mas Niko melakukan penggelapan dana perusahaan. Beberapa dokumen udah aku periksa, dan memang ada yang menghabiskan dana tidak lazim untuk sebuah proyek. Ada juga pengeluaran perusahaan yang tidak jelas kegunaannya. Aku harus mastiin, semuanya dengan jelas," jelas Senja.


"Lanjutkan besok lagi, sekarang waktunya istirahat. Anakku butuh istirahat, momminya juga," sembari tersenyum, Elang menutup dokumen yang ada di depan Senja pelan. Ia menarik tangan Senja supaya berdiri dan mengikutinya ke tempat tidur.


"Menurut kamu, mungkin tidak mas Niko melakukan penggelaan dana perusahaan?" Senja yang sudah duduk di tepi ranjang dan bersiap untuk tidur, merasa setengah tidak percaya jika Niko yang dulu ia kenal jujur akan berbuat seperti itu.


"Orang akan melakukan segalanya demi uang. Waktu bisa merubah sifat seseorang, jadi hal itu bisa saja terjadi, tidak ada yang tidak mungkin," jawab Elang.


Senja mengangguk dan mendesah, "Padahal Mitha lagi hamil besar, kasihan," gumamnya pelan.


"Sudah, jangan terlalu di pikirkan. Kasihan juga anak aku, sepertinya dia kangen daddinya..." senyum mencurigakan terlukis jelas dari bibir Elang.


"Katanya di suruh tidur?" ucap Senja yang mengerti arti senyum suaminya.


"Ya, setelah ini. Sekalian hukuman karena kamu masih saja memanggil laki-laki itu dengan sebutan Mas," Elang mendorong tubuh Senja pelan, hingga istrinya tersebut kini berada di bawah kungkungannya.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


Masih dalam pelukan hangat Elang, Senja yang belum mengenakan kembali piama satin yang tadi ia pakai sudah terlelap karena lelah setelah memenuhi keinginan suaminya melakukan kunjungan kepada calon anak mereka.


Elang melepaskan pelukannya pelan-pelan. Ia merapikan selimut tebal yang menutupi tubuh Senja.


Dengan hanya mengenakan celana panjang piyama tanpa bajunya, Elang berjalan mendekati meja, lalu memeriksa berkas-berkas yang di periksa oleh Senja tadi.


Elang mendesah, setelah selesai memeriksa berkas-berkas tersebut. Benar apa yang di takutkan oleh Senja. Elang menutup kembali dan merapikan dokumen-dokumen itu, karena rasa kantuk sudah melandanya, mengingat waktu sudah hampir pagi.


Pagi harinya...


"Pagi istriku, pagi anak daddy!" sapa Elang yang baru saja turun ke ruang makan dengan pakaian sudah rapi, siap berangkat ke kantor. Ia mencium puncak kepala Senja dan mengusap perut istrinya tersebut.


Meski sejak membuka mata mereka sudah saling bicara, tapi Elang tetap selalu menyapa kembali Senja jika mereka tak bersama turun ke meja makan.


"Pagi suamiku... Mau sarapan apa?" tanya Senja.


Senja langsung mengambil satu tangkup roti tawar yang akan ia beri topping lettuce, tomat, selada, dan juga daging salmon, tanpa telur mata sapi maupun telur rebus karena Elang tak menyukai itu.


"Kau lupa menyiapkan dasiku, sayang," ucap Elang. Menggoyang-goyangkan dasi yang di pakai ya sambil menunggu Senja selesai membuatkan sarapan untuknya, mirip seorang anak TK yang sedang protes karena ibunya mengabaikan permintaannya.


"Benarkah? Maafkan aku, boo. Banyak yang harus aku siapkan sebelum. Kita berangkat, dan aku melewatkan dasimu," ucap Senja menyesal. Ia telah selesai membuat sandwich untuk Elang.


"Makasih," ucap Elang ketika Senja menyodorkan piring berisi Open Sandwich kesukaannya.


"Bagiamana, apa dasi ini cocok untuk kemeja yang kau siapkan?" Elang menanyakan Pendapat Senja sebelum ia memakan sadwichnya.


"Cocok, apapun pilihamu yang terbaik, sayang," ucap Senja tersenyum. Semenjak menikah, memang semua keperluan pakaian Elang selalu Senja yang menyiapkan. Elang hanya tinggal mengenakannya tanpa pernah protes akan pilihan istrinya hingga mungkin ia kini tak terlalu percaya diri jika harus memilih sesuatu untuk ia kenakan sendiri.


Mereka memulai sarapan tanpa banyak bicara. Sesekali Elang menyuapkan sepotong kecil sandwichnya karena istrinya itu selalu meliriknya. Dengan senyum mengembang dari bibirnya, Senja menyambut suapan itu. Ia merasa 'rumput tetangga jauh lebih enak' padahal ia sendiri tadi memilih sarapan nasi goreng spesial dengan telur mata sapi dua.

__ADS_1


"Soal penggelapan dana perusahaan, semalam aku sudah memeriksanya. Dan benar, laki-laki itu melakukannya. Tidak sedikit jumlahnya. Tapi, aku lihat baru beberapa bulan terakhir ini hal itu terjadi, laporan sebelum-sebelumnya aman-aman saja, semua anggaran jelas mengalirnya kemana dan jumlahnya sesuai," Elang mulai menyinggung soal masalah perusahaan Senja.


" Uuuhhh makasih sayang udah bantuin pekerjaan aku," Senja terharu karena diam-diam Elang membantu memeriksa pekerjaannya.


"mas Niko, kenapa dia bisa melakukannya," lanjutnya, ia merasa setengah tak percaya.


"Sudah ku bilang, jangan panggil dia mas lagi. Aku nggak suka!" protes Elang tegas. Ia memang lebih sentimentil akhir-akhir ini.


"Iya, maaf sayang," ujar Senja menyesal.


"Hem, jangn diulang lagi. Kenapa kamu jadi tak bersemangat?"


"Aku cuma lagi mikirin soal Niko. Kenapa dia melakukannya, apa dia tidak berpikir akibatnya. Apa dia tidak berpikir kalau tindak kejahatannya cepat atau lambat pasti akan ketahuan," ucap Senja.


Mendengarnya, Elang mendengus. Mendadak napsu makannya menguap. Padahal tinggal sesuap lagi sandwich kesukaannya habis.


" Kenapa kamu masih begitu peduli dengannya? Masih ada rasa sama dia?" tuduh Elang.


"Kok ngomongnya gitu sih? Aku kan cuma menyayangkan tindakannya. Bukan berarti masih suka!" Sahut Senja tak terima. Ia hampir saja menangis karena kesal. . Suara Elang yang meninggi barusan sungguh membuat hatinya sakit. Ia sendiri tak tahu kenapa bisa sesensitif dan secengeng.


Melihatnya, Elang menghela napas," Maafkan aku, aku hanya tidak suka kamu masih memikirkan laki-laki itu," ucap Elang, kali ini dengan intonasi rendah.


"Aku juga nggak ada ngomong yang bagaimana-bagaimana. Nggak ad yang menunjukkan kalau aku masih suka sama dia. Kenapa kamu marah? Kamu saja yang masih suka berkomunikasi dengan Bianca, aku diam, aku terima!" emosi Senja sedikit meledak, selama ini ia tak pernah mempermasalahkan saat Bianca mengirim pesan sekedar say hai atau menanyakan kabar. Ia pikir tak masalah, selama masih batas wajar. Terlebih lagi hubungan mereka memang baik-baik saja.


"Sayang, bukan itu maksudku. Kamu tahu kan semua isi chat Bianca? Kadang juga kamu kan yang membalasnya. Tapi soal Niko beda, Aku cuma..."


"Sudahlah, nggak usah di bahas...Antar aku sekarang. Aku ambil tas dulu di atas!" pupus Senja sedikit ketus. Ia tak ingin perdebatan pagi ini berlanjut, namun ia juga masih merasa kesal karena sikap suaminya yang di rasanya berlebihan.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2