
Terdengar suara para karyawan sedang bergosip saat Senja memasuki lobbya kantor. Sarah yabg sudah datang lebih dulu langsung menyapanya, "Pagi, Bu bos!" dengan riang, Sarah menyapanya.
"Pagi, nyonya Sarah," balas Senja membalas ledekan Sarah. Yang mana membuat Sarah mencebik.
"Ada apa?" Tanya Senja, matanya menunjuk ke arah sekumpulan karyawan yang sedang berkumpul mengerubungi Mitha.
"Biasa, ada yang lagi sok kaya. Pamer baru beli tas baru!" ucap Sarah, sengaja meninggikan suaranya.
"Bilang aja kalau kamu iri Sar, ini asli loh punya Mitha. Baru beli seminggu yang lalu. Kamu yang KW aja enggak punya kan?" ucap salah seorang teman Mitha.
"Eh siapa bilang, aku ada ya tas branded ori. Oleh-oleh sari Sen, bu Senja maksudnya," ucap Sarah, kalau di depan karyawan lain dia harus memanggil Senja bu.
"Ck, tas pemberian aja bangga, beli sendiri dong, nggak modal!" sindir temannya lagi. Beberapa karyawan memang iri dengan Sarah yang sekarang menjadi asisten pribadi Senja.
Sejak tadi, Mitha hanya diam saja, ia cukup mendengarkan perdebatan para temannya sambil tersenyum sinis dan mengejek.
Pun dengan Senja, ia hanya bisa menghela napas, melihat mereka berdebat, ia tak bisa terang-terangan membela Sarah atau ia akan di cap pilih kasih. Selama perdebatan mereka masih wajar, dan tidak mengganggu pekerjaa, biarkan saja. Lebih-lebih moodnya yang memang sedang tak begitu bagus pagi ini, membuatnya malas ikut campur.
"Mending di kasih. Dari ada beli dari hasil..." Senja langsung menyenggol lengan Sarah, sebelum Sarah keceplosan. Meskipun penjelasan Elang tadi pagi sudah jelas jika memang Niko menggelapkan dana perusahaan, tapi ia tak ingin membongkarnya di hadapan karyawan lain.
Sarah langsung mengatup kan mulutnya rapat,"Hampir saja," gumamnya lirih.
"Udah Sar, nggak usah ribut lagi. Kalian bisa mulai bekerja," ucap Senja.
Mereka hanya mengangguk dan pergi. Sementara Senja dan Sarah berjalan ke lift khusus menuju ruang kerjanya.
Sesampainya di ruangannya, Senja meletakkan tasnya di atas meja dan langsung duduk. Ia memijit pangkal hidungnya.
" Kenapa? Apa ada masalah?" tanya Sarah sambil meletakkan berkas-berkas yang tadi ia ambil alih dari tangan Senja ketika di lift.
"Nggak tahu, pagi ini El sangat menyebalkan. Baru kali ini aku merasa kesal dan sebal sama dia," ucap Senja.
__ADS_1
"Woah yang bucin bisa kesal juga ternyata. Kenapa-kenapa? Apa nggak dapat jatah semlma dari pak suami? Sampai bad mood begini,"
"Kalau itu mah, jangan di tanya. Dia nggak akan berhenti sebelum Berkali-kali melakukannya, dan aku nggak akan membiarkan dia berhenti sebelum aku menginginkannya berhenti. Semalam aja tiga ronde,"
"Ah gila kamu, kayak gitu aja diomongin! Aku mana paham,"
Senja langsung menutup mulutnya karena keceplosan. Ia hanya bisa meringis.
"Terus apa yang buat kalian ribut pagi-pagi?" tanya Sarah penasaran.
🌼 🌼 🌼
Sementara itu di Perusahaan Elang...
"Bos kenapa sih, dari tadi uring-uringan terus?" tanya Kendra yang sejak tadi di jadikan sasaran kekesalan Elang.
"Senja ngambek," ucap Elang setelah beberapa saat lamanya dia diam tak menyahut ucapan Kendra.
Elang menajamkan tatapan ya, "Terus, aku harus ngamuk Senja, begitu tuan Kendra?" ucapnya seraya menggerakkan gigi.
"Yang ada aku nggak hanya tidur di sofa, tapi bisa-bisa di teras rumah!" sambungnya kesal.
"Ya minta Maaf lah kalau begitu,"
"Udah, tapi tetap aja masih ngambek,"
"Nggak biasanya non begitu, emang bos apain sampai bisa ngambek begitu. Biasanya juga kalem, jinak dan nggak nuntut macam-macam. Tipe wanita Idaman banget buat jadiin istri,"
"Itu dia, makanya aku bingung sekarang. Dia nggak pernah ngambek. Sekali ya ngambek bikin mumet!"
"Penyebabnya apa? Bos kurang muasin kali semalam, makanya nona kesal,"
__ADS_1
"Enak aja, servis Erlangga selalu memuaskan. Dia sampai minta ampun kalau udah aku kasih. Tapi selalu minta nambah lagi dan lagi. Semalam aja baru aku kasih tiga ronde, udah kuwalahan!" Cebik Elang tak terima di ledek soal kegagahannya.
"Nggak usah cerita soal gituan juga kali! Kalau saya jadi pengin kan repot," UCAP Kendra. Sesekali ia melirik ponselnya, lalu geleng-geleng kepala, "Dasar perempuan," gumamnya lirih.
"Terus apa masalahnya?" Kendra kembali bertanya.
Elang menceritakan awal perdebatannya dengan Senja hingga berbuntut panjang.
"Yaelah, perkara manggil Mas aja di permasalahkan. Dimana-mana kalau manggil cowok mas itu biasa, Gisel manggil saya juga mas. Adik saya manggil saya mas. Bos iri mau di panggil mas juga? Ngomong dong, nggak perlu ngegas dan nuduh nona masi suka, masih cinta sama pria itu. Itu namanya simpati, bukan berarti masih suka. Masa mantan korupsi di perusahaannya masih di sukai, nona nggak sebodoh itu. Pantas aja nona ngambek. Apalagi wanita hamil itu sangat sensitif. Moodnya susah di tebak, naik turun kayak roal coaster. Bisa-bisa tidur di teras beneran ini mah,"
"Malah ngomporin, lihat aja nanti kalau kamu ketemu perempuan yang bikin kamu bucin setengah mati, aku sumpah lebih posesif dari pada aku. Pria itu akan posesif pada wanita yang tepat!"
"Boleh dong nanti posesif sama Gisel berarti?"
"Kend, sadar diri! Buka hati. Kisah Kalian itu rumit! Serumit benang kusut!"
"Kembali ke topik utama aja deh, kalau udah ngomongin benang kusut, saya juga jadi mumet," ucap Kendra. Ia bukannya tak mau sadar diri dengan keadaan, tapi bukankah perasaan tak bisa di paksaan, tak bisa di cegah kepada siapa ia akan berlabuh. Dia juga bukan tak berusaha menghilangkan perasaannya dengan mencoba kencan dengan beberapa wanita yang menggilainya, namun tetap saja belum bisa.
Kendra sudah menyukai gadis periang itu sejak pertama kali bertemu, saat Gisel berusia enam belas tahun. Memang kalah cepat dengan Rega yang sudah mencuri hati gadis itu, bahkan sejak balita dan ia tahu betul akan hal itu. Tapi, kembali lagi ia tak bisa mengendalikan perasaannya sesuai keinginannya.
"Pesankan bunga, dan kirim ke kantor Senja. Yang banyak yang romantis!" ucap Elang kemudian.
"Siap bos!" Sahut Kendra.
"Makan siang nanti, ke kantor nona tidak bos?"
"Kenapa emang?"
"Ikut!" sahut Kendra cepat.
Elang mengernyit heran.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼