Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 46 (Claudia)


__ADS_3

"Tadi kamu tanya untuk apa aku minta kamu ikut kan? Jawabannya setelah ini kamu akan tahu, ayo! Kend pasti sudah ngedumel menunggu kita," ajak Elang. Ia menarik tangan Senja supaya mengikutinya.


Sampai di lobby, Kendra sedang duduk menunggu sambil memainkan gadget canggih miliknya.


"Bos, nona," Kendra langsung berdiri begitu melihat Elang dan Senja.


"Kau tidak sabaran sekali Kend, sampai mengirimiku pesan singkat segala," ucap Elang.


"Maaf bos, demi menghemat waktu dan tenaga sebaiknya kita segera menemui nona Claudia. Beliau sudah menunggu kita," ucap Kendra.


Elang mendengus mendengar nama itu lagi. Ia sangat tidak suka jika harus meeting dengan anak dari kliennya tersebut. Karena wanita bernama Claudia tersebut selalu meminta meeting di tempat yang romantis, entah itu restoran ataupun kafe tapi yang suasananya romantis. Tapi, untunglah kali ini dia mengajak serta Senja yang akan ia jadikan senjata untuk membuat Wanita itu jera dan tidak lagi mengambil kesempatan setiap ada pertemuan dengan Elang.


Tiga puluh menit kemudian, mereka sampai di sebuah restoran mewah yang suasananya sangat romantis.


"Mereka ke sini untuk meeting atau apa sih? kok tempatnya lebih cocok untuk pacaran yah?" batin Senja saat memasuki restoran tersebut.


Elang berjalan menuju meja dimana Claudia sudah menunggu. Tangannya tak lepas sedikitpun menggandeng Senja.


Claudia yang sudah cukup lama menunggu tersenyum melihat kedatangan Elang, namun senyumnya langsung memudar ketika melihat Elang datang tidak sendiri, tidak sesuai rencananya.


"El, kau sudah datang? Kenapa membawa pasukan? O ya, kenapa tadi teleponku tidak kamu angkat?" tanyanya setelah Elang sampai di meja yang sudah Claudia pesan, ia menatap sinis kepada Senja dan Kendra.


"Kita langsung mulai saja meetingnya, saya masih banyak urusan," ucap Elang angkuh.


"Kamu seperti biasa Kend, menjauhlah! Sana duduk dengan Marry," Claudia menunjuk sekretarisnya uang duduk tak begitu jauh dari tempat mereka berada sekarang.


"Dan kamu juga. Siapa dia El? Apa dia asisten barumu? Apa Kendra saja tidak cukup? Kamu bisa bergabung dengan sekretarisku dengan Kendra," ucap Claudia menunjuk Senja tanpa memperhatikan Elang yang menggandeng tangan Senja posesif.


"Saya tidak mau, sekertaris nona Claudia galak, kalaupun saya harus menjauh, saya tidak mau satu meja dengannya," Kendra menggedik ngeri mengingat pernah di di gampar oleh sekretaris Claudia hanya karena salah paham. Waktu itu, sendok Kendra jatuh dan Marry langsung marah dan menamparnya ketika Kendra membungkuk mengambil sendok tersebut. Marry menuduhnya sengaja menjatuhkan sendok itu untuk mengintip isi roknya.


"Terserah! tapi ajak dia!" Claudia lagi-lagi menunjuk sinis Senja.


"Cukup! Claudia jaga sikap kamu, tidak ada yang akan menjauh dari sini. Dan dia, dia istriku bukan asisten ataupun yang lainnya. Jika kamu masih ingin kerja sama ini berlanjut, kita mulai saja meetingnya. Jangan bertindak melampaui batas!" peringat Elang.


Claudia seperti tersambar petir mendengar penyataan Elang bahwa perempuan yabg datang bersamanya adalah istrinya.


"Istri? Kau bercanda El? Baru berapa bulan kita tidak bertemu dan kamu bilang sekarang dia istri kamu. Lalu Bianca?" Ya, Claudia ingat betul jika kekasih Elang adalah Bianca, wanita satu-satunya yang selalu mengisi hati Elang. Wanita yang menjadi saingan cintanya dalam mendapatkan Elang.


Beruntung Claudia tidak tinggal di Jakarta, sehingga Elang tidak harus pusing dengan ulahnya yang selalu membuatnya muak jika bertemu.


"Claudia, sebaiknya kamu tahu batasanmu!" ujar Elang dengan nada tegasnya.


"El... kau membentakku? Kau lupa atas apa yang sudah papaku lakukan untuk perusahaanmu dulu?" Claudia selalu menggunakan kebaikan ayahnya yang sudah membantu Elang di masa-masa sulitnya dulu saat memulai membangun karirnya sebagai seorang pengusaha. Elang kala itu tak meminta bantuan Alex maupun David karena benar-benar ingin mandiri dan Ayah Claudia Lah yang membantunya bahkan sekarang perusahaan milik ayah Claudia itu tidak ada apa-apanya di bandingkan dengan perusahaan milik Elang. sebagai senjata untuk membuat Elang merasa berhutang budi. Meskipun Elang sudah membalas kebaikan ayah Claudia berkali-kali lipat namun tetap saja ia tidak serta merta melupakan kebaikan ayah Claudia.


"Kau tak perlu mengungkit apa yang sudah pak Burhan lakukan untuk saya, saya cukup tahu diri untuk membalas kebaikan beliau. Sebaiknya kamu tahu sebatas mana harus bersikap, hubungan kita hanya sebatas pekerjaan dan kau tak perlu mengurusi kehidupan pribadi saya," tegas Elang. Ia sengaja mengajak Senja karena ingin menunjukkan kepada Claudia jika dia sudah memiliki seorang istri dan berharap wanita tersebut tidak akan mengganggunya lagi selain urusan pekerjaan.

__ADS_1


"Sial! Aku kira saingan terberatku hanya Bianca yang selalu memikirkan karirnya itu, makanya aku santai, ternyata ada wanita lain. Arrgh! Kenapa aku waktu itu menolak permintaan papa untuk tinggal di Jakarta. Aku kecolongan!" umpat Claudia dalam hati.


"Tapi El...?"


"Tolong jaga kata-kata Anda nona, bos paling tidak suka orang yang tidak memiliki kedekatan dengannya memanggil beliau seperti itu," kali ini Kendra yang memperingatkan Claudia.


Claudia mendengus kesal. Bahkan ia tak memiliki tempat istimewa sedikitpun di sisi Elang hingga ia harus memanggil laki-laki itu seperti orang asing.


Senja hanya diam dan menyaksikan drama cinta bertepuk sebelah tangan tersebut. Mau ikut nyumbang kata-kata juga tidak tahu harus bicara apa. Yang jelas ia hanya bersikap setenang mungkin saat mendengar Claudia memanggil Elang dengan suara manja, karena jujur ia tak suka mendengarnya.


"Sebaiknya kita mulai saja meetingnya, daripada buang-buang waktu untuk hal tidak penting. Nona Marry, Anda bisa bergabung di sini," ucap Kendra melihat ke arah sekertaris Claudia.


Wanita berkaca mata tebal itu menatap sinis ke arah Kendra lalu beralih menatap Claudia yang tampak kesal.


"Kemarilah!" ucap Claudia ketus.


Meeting pun di mulai dengan suasana yang cukup tegang. Elang sama sekali tak peduli dengan perasaan Claudia yang sejak tadi sudah mendidih hingga ke ubun-ubun. Kalau bukan karena kerja sama itu sangat penting untuk perusahaan ayahnya, ingin rasanya Claudia membatalkan meeting tersebut.


"Ternyata ini maksud El membawaku, menjadikanku senjata untuk mematahkan hati perempuan ini. Ini baru satu, adakah yang lain? Berapa lagi? Satu, dua atau ratusan lagi?" batin Senja yang tak menghiraukan pembicaraan soal pekerjaan yang sedang berlangsung. Ia asyik dengan pikirannya sendiri.


Sementara Elang yang duduk di samping Senja hanya menyimak setiap detail yang di bahas oleh Marry dan Kendra. Ya, akhirnya Marry dan Kendralah yang banyak bicara di sini.


"Tuan Kendra, bisa tidak Anda menatap saya biasa saja?" ucap Marry tiba-tiba menatap Kendra yang sebenarnya sedang mengamati berkas yang ada di depannya.


"Apa? Kenapa saya?" protes Kendra.


Kendra menghela napasnya kasar, kenapa wanita di depannya ini sangat terlalu percaya diri sekali.


"Nona Marry, kenapa Anda selalu salah paham? Saya punya standar sendiri untuk tertarik kepada seorang wanita, dan sayangnya Anda tidak termasuk," ucap Kendra tak mau terus di salah pahami oleh wanita yang selalu ke-GR-an tersebut.


Marry menatap kesal kepada Kendra ," Saya tidak akan salah paham jika Anda bersikap biasa saja," ucapnya jutek.


" Heran, kenapa mata indah karunia Tuhan ini selalu di salahkan? Perasaan mata ini biasa saja menatap apapun, siapapun kecuali satu nama...Gisel," batin Kendra. Ia tak sudah malas berdebat, nanti salah-salah gamparan kedua bisa melayang di wajah tampannya lagi. Tidak mungkin juga Kendra membalas menggampar wanita itu meski ia terlihat seperti samsonwati. Tapi, tetap saja perempuan.


Senja yang sejak tadi banyak diampun lidahnya gatal ingin berkomentar.


"Hati-hati yang benci-benci dan jutek-jutek itu biasanya lama-lama suka dan jodoh," ucap Senja yang langsung menutup mulutnya.


Elang tersenyum tipis mendengarnya, sejak tadi ia tak mendengar suara istrinya tersebut, sekalinya bersuara malah menggoda dua orang yang sedang adu mulut tersebut.


"Maaf nona, tapi saya sudah berkeluarga, jadi tidak mungkin tertarik dengannya," ucap Marry dingin.


"Yang model seperti Marry saja punya pasangan masa kamu enggak," Elang iseng mengirim pesan kepada Kendra. Kendra langsung menatap bosnya yang sedang asyik bermain dengan jari-jari tangan istrinya tersebut,"Dasar bos nggak ada akhlak," umpatnya dalam hati.


Kendra langsung berpikir sejenak, benar juga ucapan bosnya. Marry saja yang juteknya minta ampun, kaku sebelas dua belas sama patung es, dan ngga modis sama sekali saja ternyata punya pasangan. Sedangkan dia yang ganteng, penyayang, baik hati, dan tidak sombong masih setia dengan gelar jomblonya. Emang nasib, pikir Kendra.

__ADS_1


"Ehem! Lanjutkan meetingnya! Malah bahas yang tidak berguna!" seru Claudia yang semakin kesal karena suasana. Apalagi melihat Elang yang sedang asyik mengajak Senja bicara.


Meeting kembali berlanjut. Senja yang merasa bosan akhirnya memilih pergi ke toilet untuk buang air kecil.


"Aku ke toilet dulu," pamitnya kepada Elang.


"Mau aku antar?" tanya Elang.


"Tidak perlu, kalian lanjutkan saja," tolak Senja.


"Hem," Elang mengangguk, tak lupa senyum termanisnya ia berikan untuk istrinya tersebut, membuat Claudia semakin kebakar hatinya. Tapi, ia juga tidak bisa berbuat apa-apa.


🌼🌼🌼


Selesai buang air kecil, Senja menata rambutnya di depan cermin toilet.


"Apa yang sudah kamu lakukan, hingga El menikahimu?" Suara Claudia yang baru saja keluar dari toilet sebelah mengagetkan Senja, namun ia tetap santai.


"Apa maksud Anda?" tanya Senja tanpa menoleh, ia terus menata rambutnya.


"Kau pasti sudah menjebaknya bukan? Hah, dasar wanita ular. Jangan pikir, karena Elang bersikap baik terhadapmu kamu jadi bisa besar kepala. Kamu tahu siapa wanita yang sebenarnya di cintai Elang?" ucap Claudia tersenyum sinis.


"Yang jelas bukan Anda," ucapan Senja tak kalah pedasnya, Claudia langsung terpancing emosinya.


Senja hanya tersenyum senyum tipis lalu melewati Claudia dan memegang handle pintu toilet dan Keluar. Claudia langsung menyusulnya keluar dan berteriak ,"Bianca!"


Senja menghentikan langkahnya mendengar Claudia meneriakkan nama Bianca.


"Hah, memang benar bukan aku yang Elang cintai, tapi Bianca!" ucap Claudia sambil mendekati Senja dengan senyum sinisnya.


"Jadi jangan GR deh, apalagi sok kecantikan, dasar ular!" lanjut Claudia.


Senja menarik napasnya dalam lalu mengembuskannya pelan. Ia tersenyum menatap Claudia.


"Sudah bicaranya? Apapun yang Anda katakan, tapi kenyataannya sayalah yang di pilih oleh Elang untuk menjadi istrinya, jadi di sini posisi saya lebih unggul dari pada Anda maupun Bianca. Dan satu lagi, ular jangan teriak ular, sebaiknya Anda ngaca sebelum mengatai orang," ucap Senja penuh penekanan meski dengan nada bergetar. Hatinya tak bisa bohong jika merasa sakit saat nama Bianca di sebut sebagai wanita yang suaminya cintai, karena tanpa di beritahu pun, ia sudah tahu akan hal itu.


"Kurang ajar kamu, jangan karena Elang menikahimu, kamu jadi besar kepala!" Claudia tak terima, ia melayangkan tangannya ke udara untuk menampar Senja. Tapi di cegah oleh Elang yang baru saja tiba. Ia sengaja mencari Senja karena perasaannya tidak enak ketika Claudia juga pergi ke toilet dan cukup lama mereka tidak kembali.


"Apa yang kau lakukan!" ucap Elang yang rahangnya sudah mengeras.


"El...?" Claudia terkejut melihat laki-laki berbadan tinggi tersebut mencengkeram tangannya dengan keras.


"Jangan panggil saya seperti itu! Dan jangan pernah berani menyentuh istriku seujung kukupun atau kamu akan tahu akibatnya! Erlangga tidak pernah main-main dengan ucapannya, camkan itu!" tegas Elang, ia langsung menarik tangan Senja dan membawanya pergi dari sana.


Claudia hanya mampu menatap punggung laki-laki yang selama ini ia cintai dengan derai air mata. Ia bisa melihat tatapan Elang barusan sangat menakutkan dan ini untuk pertama kalinya Elang benar-benar marah kepadanya. Biasanya laki-laki tersebut hanya selalu bersikap acuh dan dingin, namun kali ini ia sangat berbeda.

__ADS_1



__ADS_2