
"Kend, tissue!" Senja meminta tissue kepada Kendra kemudian membantu mengusap keringat suaminya tanpa bersuara.
Mobil kembali melaju dengan kecepatan sedang. Senja kembali terdiam, meski tidak mendengar dengan jelas percakapan antara suaminya dan Ervan, namun nama Bianca terdengar sangat jelas di telinganya tadi ketika jadi bahan pembicaraan dua pria yang entah apa masalah keduanya tersebut.
"Sebenarnya siapa Ervan, dan apa hubungannya dengan El maupun Bianca. Kenapa El begitu terlihat marah tadi?" Senja terus bertanya dalam hatinya, hingga ia melamun dan tak menyahut ketika El mengajaknya bicara.
"Senja," Elang menyentuh pundak Senja. Senja Langsung kaget dan menengok kearah suaminya.
"Melamun? Apa yang kau pikirkan?" tanya Elang.
"Eh tidak, kau bicara apa tadi?" Senja benar-benar tak ingin membahas apapun atau siapapun sekarang.
"Besok kita akan kembali ke Jakarta, sekarang kau mau kemana? Mau shopping atau jalan-jalan?" tawar Elang, ia mengulangi pertanyaannya tadi yang tak di dengar oleh Senja.
"Apa urusanmu di sini sudah selesai?" tanya Senja.
"Hem," Elang menganggukkan kepalanya.
"Em, kita ke pantai yang terlihat dari hotel saja," ucap Senja setelah berpikir sejenak.
"Tak ingin belanja?"
Senja menggeleng, ia kembali fokus menatap jalanan dari jendela mobil.
"Kend, ke pantai!" perintah Elang.
"Baik bos," sahut Kendra.
Elang melirik istrinya yang lagi-lagi terdiam.
"Apa dia mendengar pembicaraanku dengan Ervan tadi?" batin Elang bertanya.
πΌπΌπΌ
Sesampainya di pantai, Senja langsung melepas sepatunya, ia berlari mendekati ombak yang sedang bergulung ke bibir pantai. Saat, ombak semakin mendekat, Senja justru berlari menghindarinya. Begitu seterusnya sampai berkali-kali.
Senja selalu berteriak histeris ketika air laut menerpa kakinya dan langsung berlari menjauh. Pemandangan tersebut membuat Elang tersenyum dan melupakan sejenak segala kepenatannya. Tingkah menggemaskan sang istri yang berlari ke sana kemari dengan tawa bahagia membuatnya merasa senang.
Senja seperti anak gadis yang baru saja lepas dari pingitan orang tuanya, sangat senang sekali.
Sementara Kendra lebih memilih menunggu di dalam mobil. Ia tak mau melihat ke-uwu-an sepasang suami istri tersebut lagi dan lagi. Cukup kenyang dirinya mengingat kejadian di kantor tadi.
Puas bermain-main sendiri. Senja menoleh ke arah Elang yang tengah memperhatikannya sejak tadi. Perlahan ia berjalan mendekati suaminya yang berdiri beberapa meter dari bibir pantai tersebut.
__ADS_1
"Senang?" tanya Elang tersenyum sambil menyingkirkan rambut yang menutupi wajah cantik istrinya karena angin yang begitu kencang membuat rambut Senja yang tergerai berlarian ke sana kemari, dan sebagian menutupi wajahnya.
Senja mengangguk puas.
"Terima kasih sudah mengajakku ke sini. Setidaknya bebanku sedikit berkurang dengan melihat pemandangan pantai dan suara ombak ini," ucap Senja tulus.
"Hem," sahut Elang mengangguk dan tersenyum.
Senja berdiri di samping Elang, menatap hamparan laut yang luas. Elang meraih tangan Senja dan menyelipkan jari-jari tangannya diantara jari-jari tangan milik Senja. Di genggamnya erat tangan istrinya tersebut. Senja menoleh ke arah Elang yang pandangannya fokus ke depan. Ia tersenyum menatap tangannya yang di gandeng oleh suaminya tersebut. Mereka menikmati hari yang semakin sore di tandai dengan akan datangnya Senja tersebut dengan banyak diam.
"Mau kemana lagi?" tanya Elang.
"Kembali ke hotel saja setelah ini," ucap Senja.
"Baiklah. Pulang sekarang atau masih ingin bermain-main?"
"Emmm, bermain sebentar lagi juga boleh," Senja menarik tangan Elang yang meggandengnya.
"Senja..." Elang mencoba melepaskan tangan Senja namun istrinya tersebut mencegahnya.
"Ayo kita bermain bersama El, kejar aku kalau bisa," tantang Senja, ia melepas tangan Elang dan langsung menjulurkan lidahnya lalu berlari menjauhi Elang.
Elang berdecak, ia menggulung lengan kemejanya sebatas siku dan melipat celana kerjanya sedikit ke atas laku bersiap mengejar istrinya.
Mereka terus bermain kejar-kejaran, kebahagiaan terpancar dari wajah dan tingkah keduanya yang selalu tertawa, hingga akhirnya Elang berhasil menangkap Senja dengan melingkarkan tangannya di perut sang istri.
"Tidak bisa, cium dulu baru aku lepas!" ucap Elang.
"Cium ya? merem dulu," pinta Senja. Elang menurutinya. Namun, bukannya mencium, Senja malah menggigit tangan suaminya dan kembali berlari.
"Aw!" pekik Elang mengibas-ngibas tangannya pura-pura meringis kesakitan padahal Senja tidak keras menggigitnya.
"Wleeek, kejar lagi kalau bisa," tantang Senja.
"Awas ya kalau kena, gantian aku gigit kamu!" Seru Elang lalu kembali mengejar istrinya.
"Yes dapat lagi, sekarang nggak bisa lepas lagi kan?" ucap Elang, kali ini dia menggunankan kedua tangannya erat memeluk Senja dari belakang. Senja memberontak lagi, namun sia-sia. Kali ini Elang benar-benar menguncinya dalam pelukannya. Senja menoleh ke belakang, mendongak menatap suaminya ingin protes minta di lepaskan. Namun, suaranya terasa tercekat di tenggorokan saat melihat wajah tampan suaminya. Senyum manis dari bibir Elang meresahkan hati Senja seketika.
Memanfaatkan kebaperan istrinya, Elang langsung mendekatkan bibirnya ke bibir cherry istrinya yang sejak tadi sudah melambai-lambai rasanya ingin ia lahap. Di dukung suasana pantai yang romantis, Senja membalas ciuman suaminya. Ia memutar badannya dan mengalungkan tangannya di leher Elang. Elang tersenyum, lalu meneruskan aksinya beberapa saat.
Menyadari keduanya kekurangan oksigen karena kegiatan barusan, mereka langsung melepaskan pagutan masing-masing.
Senja kembali memutar badannya membelakangi Elang dan berlari sekali lagi. Dengan cepat Elang mengejarnya dan kembaki memeluknya dari belakang.
__ADS_1
"Dapat lagi kan, jangan lari lagi," ucap Elang.
"Huh, kau beruntung saja karena aku sudah lelah berlari El," ucap Senja dengan napas terengah-engah
"Kalaupun kamu lari lagi, akan aku kejar sampai dapat lagi," lanjutnya.
"Aku lelah El," ucapan Senja seolah mengutarakan isi hatinya yang sudah lelah menghadapi banyak cobaan dalam hidupnya.
"Maka jangan lari lagi. Jangan berlari, jika berlari membuatmu lelah. Hadapi semuanya di tempat, apapun itu," ucap Elang seolah mengerti maksud ucapan istrinya.
"Jangan bilang selalu baik-baik saja jika memang kamu merasa lelah, supaya aku tahu cara mengobati lelahmu. Jika kamu hanya menunjukkannya dengan sikapmu, lalu apa gunanya mulutku bertanya. Terkadang tak selalu aku mengerti maksud dari tingkah lakumu itu," lanjutnya.
Masih dalam posisi yang sama, Senja terdiam sejenak mendengar ucapan suaminya, mencoba mencerna ucapan suaminya tersebut dengan otaknya.
"Apa dia ingin aku terbuka kepadanya?Sayangnya aku bukan tipe orang yang akan mudah mempercayakan hatiku untuk berlabuh kepada hati yang lain. Tak semudah itu El, aku butuh suatu keyakinan yang kuat untuk kembali menautkan hatiku pada seorang pria. Jika kamu masih saja menyimpan nama itu di hatimu, bagaimana aku bisa yakin? Kau melakukan ini semua hanya karena tanggung jawabmu terhadap almarhum kakek," gumamnya dalam hati.
Mereka berdua kembali menikmati indahnya laut dalam diam dengan pikiran masing-masing namun tetap dengan posisi Elang memeluknya dari belakang.
"El, kita kembali ke hotel. Aku lelah," ucap Senja menoleh, menatap suaminya.
"Hem," sahut Elang, menganggukkan kepalanya.
Elang menggandeng tangan Senja. Satu tangan mereka menenteng sepatu masing-masing sambil berjalan menuju ke mobil.
Elang mengetuk-ngetuk kaca mobil karena rupanya Kendra ketiduran saat menunggu bosnya yang sedang berkencan dengan istrinya.
"Bos, sudah selesai?" tanya Kendra setengah sadar sambil mengumpulkan nyawanya.
"Buka pintunya!" perintah Elang.
Kendra langsung membukakan pintu untu Elang dan Senja.
"Bisa-bisanya kamu tidur Kend,"
"Daripada melihat kalian pacaran, yang ada saya semakin tampak menyedihkan. Mending saya tidur, siapa tahu kan bos di dalam mimpi saya berjodoh dengan..." Kendra tak melanjutkan bicaranya, ia takut kelepasan menyebut nama Gisel. Ia malu, meski perasaannya tersebut sudah di ketahui okeh Elang, namun mereka belum membahasnya secara langsung.
"Udahlah, aku tahu. Kau naksir adikku kan?"
"Jangan di perjelas juga kali bos, saya malu,"
"Buat apa malu, perasaan tidak bisa kita atur semau kita kepada siapa ia akan berlabuh Aku tak masalah dengan hal itu, namun jangan memaksa adikku, jika dia mau kamu boleh maju, jika tidak berusaha lebih lagi sampai mau, jangan memaksa," ucap Elang.
"Iya bos, saya mengerti," sahut Kendra.
__ADS_1
"Mau berusaha bagaiamanapun, yang ada di hati nona Gisel cuma tuan Rega," batin Kendra mendesah, ia melajukan mobilnya menuju ke hotel yang letaknya tak jauh dari pantai.
πΌπΌπΌ