Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 64 (Sepenggal kisah masa lalu)


__ADS_3

Elang merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dengan kaki menjuntai ke lantai. Sesaat ia menunggu reaksi istrinya apakah akan ikut rebahan atau tidak dan ternyata Senja masih saja diam dengan posisi duduknya, tak bergeming sama sekali.


Elang kembali bangun dan menggiring tubuh Senja supaya ikut rebahan, "Sambil tiduran biar lebih santai," ucapnya.


Senja hanya pasrah tak bersuara, menunggu Elang untuk memulai ceritanya.


"Aku dan Bianca sudah dekat sejak kecil. Seperti yang kamu tahu, om Juna dan tante Evelyn adalah sahabat mommy dan daddy, jadi kami sering bertemu. Waktu Bianca Smp kelas dua, om Juna dan tante Evelyn memutuskan untuk menetap di luar negeri tapi Bianca tidak mau ikut pindah, ia lebih nyaman tinggal di Jakarta. Jadi dia tinggal di Jakarta hanya bersama bibi dan om Juna menitipkannya kepadaku," Elang menjeda kalimatnya, ia menoleh ke arah istrinya. Senja masih diam tanpa bereaksi. Kemudian Elang melanjutkan ceritanya.


"Karena sering bersama membuat aku merasa kalau aku mencintainya dan aku tidak bisa jauh darinya barang sebentar saja..." Mendengar ucapan tersebut, Senja sedikit memberikan reaksi, tanda bahwa ia cemburu namun ia masih tetap menyimak.


"Aku merasa seperti menanggung beban untuk selalu menjaganya saat om Juna menitipkannya kepadaku. Aku tidak boleh membuatnya sedih dan merasa kesepian sendiri di sini,"

__ADS_1


"Kenapa harus kamu?" Senja mulai memberikan komentar, tatapannya tetap fokus pada langit-langit kamar. Elang menoleh ke arahnya mendengar pertanyaan sang istri.


"Karena keluarga mereka sebagian besar tinggal dan menetap di luar negeri dan Bianca hanya akrab bersamaku dan Rega, tapi lebih dekat denganku," sahut Elang.


"Bianca memiliki sahabat bernama Ersya, dia adalah adik Ervan. Ervan dan aku juga dulu bersahabat baik sejak SMP. Ersya sering menyatakan cinta kepadaku tapi aku selalu menolaknya karena yang aku sukai Bianca, sahabatnya. Mengetahui aku dan Bianca menjalin hubungan sebagai kekasih, Ersya merasa kecewa, putus asa dan frustrasi. Ia marah besar kepada Bianca. Ersya menyatakan sekali lagi cintanya terhadapku, berharap aku memilih dia daripada Bianca, namun aku yang waktu itu sudah bersama Bianca tidak mungkin memilih dia hanya atas dasar kasihan...


"Ersya kemudian memberiku pesan, memintaku untuk datang ke apartemennya bersama Ervan, ia mengancam jika aku tidak datang dan memilih dia, ia lebih memilih untuk mati. Aku pikir itu hanya gertakannya saja sehingga aki mengabaikan pesannya. Beberapa jam setelah ia mengirim pesan itu, perasaanku yang tidak enak membuatku akhirnya datang ke sana hanya untuk memastikan kalau dia baik-baik saja. Sesampainya di sana, aku menemukan dia sudah tidak sadarkan diri dengan botol obat tidur yang sudah kosong tergeletak di sampingnya, saat aku mengecek.denyut nadinya ia sudah tidak bernapas..." Elang menghela napasnya panjang, mengulik memory masa lalunya membuatnya serasa sesak. Ia menoleh ke Senja yang kini ternyata sedang memandanginya, seolah penasaran dengan cerita suaminya selanjutnya meski ada bumbu-bumbu cemburu ketika Elang membicarakan Bianca, tapi ia mencoba berpikir positif, ada hal lebih penting untuk di dengarkan, pikirnya.


"Jika berat, tidak perlu di lanjutkan," ucap Senja, nada bicaranya sudah melunak. Elang Elang tersenyum sekilas kepada Senja lalu melanjutkan ceritanya.


"Bosan dengar ceritaku?" tanya Elang dan Senja menggeleng. Elang menggenggam erat tangan Senja, menyelipkan jari-jari tangannya di sela-sela jari sang istri.

__ADS_1


"Aku lanjut ya?" Senja mengangguk mengiyakan.


"Kematian Ersya membuat Bianca syok, ia benar-benar tak menyangka sahabatnya ternyata memendam cinta yang dalam untukku. Sementara Ervan menjadi sangat membenciku dan selalu menyalahkan aku, Ersya adalah adiknya satu-satunya yang paling dia sayangi. Di sini mereka hanya berdua, orang tua mereka berada di Paris. Ervan tak terima melihatku dan Bianca hidup tenang dan bahagia sementara dia harus kehilangan Ersya...


"Suatu ketika, Ervan yang sebelumnya tidak pernah mabuk, ia sengaja membuat dirinya mabuk berat dan lupa diri, melupakan akal sehat dan nuraninya yang sebenarnya sangat bertolak belakang dengan sikapnya yang sangat baik. Ia sengaja mabuk hanya untuk menodai Bianca, karena jika dalam keadaan sadar, ia tidak akan tega melakukannya. Beruntung, aku datang sebelum terlambat waktu itu namun kejadian itu membuat Bianca trauma dan perlu waktu empat bulan untuk mengembalikan kepercayaan dirinya kembali...


"Kau bosan?"


"Tidak, lanjutkan!" sahut Senja.


"Kejadian dimana Bianca hampir kehilangan kehormatannya itu membuatku merasa bersalah padanya, kerena masalahku dia harus menjadi korban dan aku berjanji akan terus menjaganya sampai kapanpun dan tidak akan pernah meninggalkannya...Bianca selalu menggantungkan semuanya kepadaku, bahkan aku mewujudkan impiannya menjadi artis besar seperti saat ini. Dan kau tahu, meski begitu nyatanya kalau tidak jodoh tetap tidak jodoh, aku sudah tiga kali melamar Bianca dan dia selalu menolak dengan alasan yang sama sekali tidak bisa aku terima, dia bahkan memutuskan untuk berpisah denganku tepat saat dihari dimana aku menyebabkan kakek kamu meninggal..." kali ini Senja yang menghela napas panjangnya mengingat almarhum sang kakek.

__ADS_1


"Kau percaya atau tidak, saat pertama kali melihatmu di rumah sakit, aku begitu merasakan sakit yang teramat ketika melihatmu menangis karena kecerobohanku. Dan bayangan masa lalu di mana aku menyebabkan Ersya memutuskan untuk bunuh diri, Ervan yang terluka batinnya dan Bianca yang juga harus mengalami trauma, kembali menghantuiku. Makanya saat kakek memintaku untuk menikahimu dan bertanggung jawab atas hidupmu aku setuju, karena aku tidak mau kamu seperti mereka yang menderita karenaku, aku bertekad untuk membahagiakanmu seperti janjiku. Aku melihatmu waktu itu berbeda dengan aku melihat Bianca, yang aku tidak tahu apa itu perbedaannya waktu itu. Tapi semakin hari kita menghabiskan waktu bersama, aku semakin yakin jika perasaanku terhadap Bianca adalah sebuah keterbiasaaan bersama, aku merasa melihat Bianca seperti aku melihat Gisel selama ini. Berbeda denganmu yang menghadirkan perasaan berbeda di hatiku yang aku sadari kalau itu adalah sebuah cinta," Senja terkejut mendengar kalimat terakhir suaminya yang secara tidak langsung mengutarakan cintanya.


🌼🌼🌼


__ADS_2