
"Kenapa diam saja? Masih belum percaya?" tanya Elang melirik ke arah Senja. Kini mereka sudah berada di dalam mobil.
"Tidak, bukan begitu," sahut Senja, pikirannya masih menerawang sesuatu.
"Lantas?"
"Itu, aku cuma penasaran aja sama hubungan kalian dulu seperti apa, apa Boo-boo mau cerita?" Senja memiringkan tubuhnya menghadap Elang, Ia penasaran setelah mendengar curhatan Bianca tadi.
"Kenapa tiba-tiba jadi kepo? Emang tadi Bianca bicara apa sama kamu?" tanya Elang, pura-pura tidak tahu apa yang sudah di bicarakan oleh Bianca kepada istrinya.
"Tidak cerita apa-apa sih, aku cuma penasaran aja boo, nggak mau cerita ya?" sahut Senja.
"Tidak ada cerita, nggak usah kepo nanti yang ada kamu malah cemburu lagi kalau aku cerita masa lalu," ujar Elang, ia menolak untuk bercerita.
Senja mengerucutkan bibirnya mendengar penolakan Elang.
"Biasanya kan perempuan begitu, pengin tahu, penasaran sama cerita masa lalu pasangannya, eh giliran udah di ceritain ujung-ujungnya ngambek karena cemburu, lakinya yang di salahin, di tuduh masih cintalah, masih ngareplah apalah, padahal yang minta cerita perempuannya. Perempuan kan selalu benar, makhluk Tuhan paling perfect, tidak ada salah. Kesalahan itu mutlak milik para pria kalau kata perempuan," jelas Elang panjang lebar diiringi senyunmnya.
" Ya sudah kalau nggak mau cerita, enggak penting juga," Senja kembali fokus menatap jalanan di depannya dengan tangan bersedekap.
Elang yang melihatnya manyun hanya bisa tersenyum tipis," Yang penting kan masa depan kita sayang," ucapnya, tangan kirinya mengacak-acak rambut Senja.
" Rambutku jadi berantakan," Senja menepis pelan tangan Elang.
"Ck, jangan manyun begitu. Itu membuat imanku goyah tahu nggak sih? Nggak tahan buat nggak ngecup," goda Elang.
Senja hanya bisa berdecak, namun langsung di susul dengan senyumannya. Suaminya sudah mulai pandai menggombal, pikirnya.
Bukan Elang namanya jika tidak membuktikan ucapannya, ia langsung menghentikan mobil dan melepas seat beltnya lalu mengecup bibir sang istri yang di bonusi dengan sedikit gigitan. Membuat Senja menabok lengannya.
"Aw! Kenapa di tabok sih?" Elang meringis, padahal tabokan Senja sama sekali tidak terasa sakit sama sekali.
"Kenapa menggigit?" protes Senja.
"Sengaja, habisnya bibir my cherry bikin nagih, penginnya gigit terus," sahut Elang cengengesan seperti tanpa dosa.
Elang kembali memasang seat beltnya dan kembali melajukan mobil Lamborgini Aventador miliknya.
"Sekarang udah percaya kan? Kalau aku udah nggak ada apa-apa lagi sama Bianca. Aku mengajak kamu bertemu Bianca hanya untuk memastikan dan menyakinkan kamu, siapa pemilik hatiku yang sesungguhnya," ucap Elang.
Senja yang sedang melihat ke luar jendela pun langsung menoleh, "Boo, sekarang pandai sekali menggombal ya," ucapnya.
"Entahlah, mungkin karena aku anaknya daddy jadi ketularan dia. Kau tahu, hampir setipa hari setiap detik bahkan, daddy selalu menggombali mommy. Aku bahkan sampai enek mendengarnya," sahut Elang tersenyum.
"Tapi percayalah, baru kali ini aku bisa menggombal kepada seorang wanita," sambungnya.
"Tapi aku iri dengan daddy dan mommy, mereka sepertinya sangat akur sekali, tidak pernah bertengkar," ucap Senja.
__ADS_1
"Ya, begitulah. Paling hanya perdebatan kecil saja," sahut Elang.
"Aku harap kita bisa seperti mereka yang sampai tua cinta mereka tidak pernah berkurang," ucap Senja bersemangat. Ya, pasangan mertuanya ia jadikan sebagai panutan.
"Tidak hanya tidak berkurang, tapi cinta kita akan semakin bertambah," Elang menggenggam tangan senja dan menciumnya.
🌼 🌼 🌼
"Kenapa kita ke kantor? Bukankah ini weekend?" tanya senja begitu menyadaro kini mereka sudah sampai di depan gedung pencakar langit bertuliskan Elang Corp. milik suaminya tersebut.
"Ya, aku ada urusan sebentar, ayo turun!" ajak Elang. Senja menurut, ia membuka pintu mobil lalu turun. Elang menggandeng tangan Senja dan mengajaknya masuk.
"El...Senja..." sapa David yang sedang berjalan di lobby.
"Pa..." Elang dan Senja menyapa balik David bersamaan.
"Semuanya sudah papa jelaskan kepada Kendra, berkas-berkas yang di perlukan juga sudah papa serahkan kepadanya. Papa harus segera pergi, masih ada urusan lain," ucap David.
"Iya pa, terima kasih atas bantun papa," sahut Elang.
"Semoga berhasil. Papa harap, setelah kamu kembali nanti, papa akan dengar kabar bahagia," David menepuk bahu Elang sebelum akhirnya ia meneruskan langkahnya.
"Doakan El pa!" seru Elang yang di balas acungan jempol oleh David tanpa menoleh. Senja hanya diam saja, ia tak mengerti apa yang mereka bahas. Elang mengajak senja menuju ke ruangannya dimana Kendra sudah menunggu.
"Melihat Senja, aku jadi pengin punya menantu sendiri. Seandainya yang di cintai Rega bukan dia, pasti sekarang udah aku nikahkan dia dan aku udah punya mantu, atau bahkan cucu. Sepertinya aku harus lebih sabar menunggu," gumam David.
"Halo Ga..." David menerima telepon dari putranya seraya berjalan menuju depan gedung dimana mobilnya sudah terparkir di sana.
Sementara Elang dan Senja baru saja sampai di depan ruangan yang terdapat papan nama Dirut Erlangga tersebut.
"Bagaimana? Apa kau sudah menyiapkan semuanya Kend?" tanya Elang begitu melihat Kendra di dalam ruangannya.
"Sudah bos, semuanya sudah saya atur, di bantu oleh tuan David. Nanti di sana kita harus menemui seseorang terlebih dahulu," sahut Kendra, ia menyerahkan berkas yang sedang di pegangnya. Elang memeriksanya sekilas.
"Kau atur saja semuanya. Jika semua sudah siap, sore ini kita berangkat," ucap Elang.
"Baik bos,"
Senja yang masih tidak mengerti hanya bisa diam dan memperhatikan saja.
"Sayang, ayo pulang. Kita harus bersiap-siap untuk terbang sore ini," ucap Elang.
"Terbang kemana?" Senja tak mengerti.
"Kita akan Honeymoon, bukankah kita belum melakukannya?" sahut Elang.
"Melakukan apa? Bahkan semalam kita baru saja melakukannya," ucap Senja keceplosan. Ia lupa jika di sana ada Kendra. Senja langsung menutup mulutnya.
__ADS_1
"Kenapa? Pengin? Makanya kawin," ledek Elang yang melihat Kendra menahan tawanya karena ucapan senja tadi.
"Nikah dululah, baru kawin. Emang bos kawin dulu baru nikah ya?" sahut Kendra.
"Kepo!" timpal Elang.
"Maksudnya kita belum honeymoon sayang," pandangan Elang beralih kepada Senja.
"Wihh bos kayak bunglon, bisa berubah dengan cepat. Sama saya jutek tapi begitu menatap nona langsung tersenyum cerah, ngalahin matahari tengah hari," ledek Kendra, ia langsung meninggalkan ruangan bosnya tersebut. Tak ingin terlalu lama melihat kemesraan mereka atau hanyabakan membuat kepengin.
"Iri! Bilang bos!" seru Elang.
"Bukannya kita sudah honeymoon?" tanya Senja yang mana langsung mengalihkan perhatian Elang kembali kepadanya.
"Kapan?" tanya Senja. Elang menarik pinggang Senja supaya mendekat.
"Waktu itu, aku nyusul ke kota S," jawab Senja.
"Hem, itu bukan honeymoon," kata Elang.
Senja membuang napasnya kasar, "Emang beda?" tanyanya.
"Beda, waktu itu kan hukuman bukan honeymoon," jawab Elang sambil merapikan rambut Senja yang sedikit menutup matanya.
"Heleh modus, padahal ujung-ujungnya juga sama begitu-begitu juga kan," Senja memutar bola matanya malas.
Elang terkekeh mendengarnya, "Tapi kali ini kita akan melakukannya di Paris sayang," ucapnya. Senja langsung menatap Elang tak percaya.
"Paris?" matanya berbinar, sudah lama ia ingin sekali ke sana, tempat dimana ia di lahirkan, meskipun ada sedikit trauma di hatinya yang ia sendiri tak tahu kenapa. Ia juga berharap bisa mengunjungi makam kedua orang tuanya. Tapi, sayanganya ia tak tahu dimana makam itu berada. Kakek tidak pernah memberitahunya.
"Hehem, bagaimana? Deal kita honeymoon ke sana? Kamu juga bisa mengunjungi makam orang tuamu di sana," ucap Elang membelai rambut Senja.
"Benarkah? Booboo tahu dimana makam orang tuaku?" mata indah itu semakin berbinar.
"Ah tidak, mana mungkin, pasti bercanda," ucapnya lesu kemudian.
"Apa suamimu ini terlihat bercanda?" tanya Elang.
Senja memegang dagu Elang, menggerakkan ke kiri dan ke kanan, mengamati apakah suaminya itu sedang mengerjainya atau tidak, "Sepertinya serius," ucap senja kemudian.
"Memang serius, bagaimana? Deal nggak nih?" tanya Elang. "Nggak mau yaudah nggak ja..."
"Mau!" seru Senja yang langsung membungkam mulut Elang dengan bibirnya.Di kecupnya bibir Elang sekejap.
Elang tersenyum, "Nakal ya," Elang langsung menarik tengkuk sang istri dan menciumnya, lebih lama dan lebih dalam.
"Ayo kita pulang, siap-siap," ucap Senja semangat.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼