Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 138 (End)


__ADS_3

Dua Tahun kemudian....


Senja baru saja meeting dengan klien barunya di sebuah restauran sore itu. Ia sedang menunggu untuk di jemput oleh suami dan kedua buah hatinya yang sedang dalam perjalanan. Ia dan keluarga kecilnya berencana akan menghabiskan weekend bersama di puncak dan akan berangkat sore itu setelah ia selesai meeting.


Saat sedang menunggu, Senja melihat seorang wanita yang tak asing baginya. Orang yang sudah tiga tahun lebih tak pernah bertemu. Mitha, ya Senja melihat Mitha yang kini terlihat sedang menggandeng seorang balita laki-laki berusia diatas Zea dengan perut yang besar. Bisa di perkirakan jika saat ini Mitha sedang mengandung.


"Senja?" sapa Mitha yang baru saja mendekat.


"Mitha? Ini?" Senja mengarahkanpandangannya ke arah anak laki-laki yang di gandeng oleh Mitha.


"Iya, ini anak aku sama mas Niko," kata Mitha memperkenalkan anaknya.


"Oh, hai tampan. Siapa namanya?" Senja mengusap pipi anak laki-laki itu dengan lembut.


"Azka, tante," jawab anak laki-laki itu. Senja tersenyum, anak itu sangat mirip dengan Niko.


Mereka pun duduk dan mengobrol sambil menunggu suami masing-masing. Mitha mulai pembicaraan dengan meminta maaf kepada Senja atas kejahatan ya di masa lalu. Wanita itu kini tampak sangat berbeda, lebih dewasa dan bijak.

__ADS_1


"Aku dan mas Niko udah cerai, dua tahun yang lalu. Aku nggak bisa terus menunggu mas Niko. Semenjak Azka lahir, aku sangat kesusahan, apalagi setelah mas Niko di penjara, dia bahkan sama sekali tak menafkahi kami. Aku bingung harus bagaimana menghidupi Azka seorang diri. Tak ada pekerjaan, membuatku harus pontang panting cari pinjaman. Tak jarang hanya sebuah hinaan yang aku dapatkan. Hingga akhirnya, ada seorang pria aruh baya yang mau menikahi ku dan menerima Azka menjadi putranya. Aku menerimanya karena aku tidak sanggup lagi menunggu mas Niko. Demi Azka, apapun aku lakukan, termasuk menikah dengan pria dewasa yang tidak aku cintai," Mitha bercerita soal kehidupannya saat ini


Senja trenyuh mendengarnya, ternyata sesuatu yang di rebut dengan paksa tak selamanya mendatangkan kebahagiaan. Mitha lebih memilih bercerai dengan Niko yang dulu mati-matian ia rebut darinya.


"Sayang, ayo!" Elang baru saja tiba, ia menggandeng seorang gadis kecil berusia tiga tahun dan menggendong seorang balita laki-laki berusia dua tahun.


"Aku pergi dulu ya, Mith. Suami dan anak-anakku udah jemput. Bye bye Azka. Kapan-kapan main ya ke rumah tante," Senja mencubit lembut anak Mitha yang sedang melihat ke arah ayah sambungnya yang baru saja masuk ke dalam restauran tersebut.


Mitha mengangguk dan tersenyum canggung kepada Elang yang sama sekali tak berniat membalas menyapanya. Mitha tak mempermasalahkan hal itu, ia memang pantas di benci. Wajar jika Elang masih belum bisa memaafkannya.


Senja menganggukkan kepalanya sopan saat berpapasan dengan laki-laki yang berusia kira-kira di bawah daddy Alex yang ia pikir asti itu suami Mitha sekarang. Laki-laki itu balas menganggukkan kepalanya.


Pada akhirnya semua mendapatkan kebahagiaan dengan porsinya masing-masing. Mitha yang kini terlihat lebih tenang hidupnya bersama laki-laki yang mungkin tidak ia cintai tapi mampu melindunginya dan Azka.


Lalu, bagaimana dengan nasib Niko? Senja merasa kasihan mengingat pria itu, apakah ini balasan atas apa yang dulu ia lakukan. Semuanya pergi di saat ia terpuruk. Adilkah ini untuknya? Senja tak bisa menjawab pertanyaannya sendiri. Yang jelas, ia berharap jika nanti pria yang pernah menjadi bagian penting dalam hidupnya tersebut keluar dari penjara, ia pun akan menemukan kebahagiannya kembali, meski tak bersama dengan Mitha. Karena pada dasarnya, Niko adalah laki-laki yang baik.


Tak ada rasa benci dan dendam lagi yang tersisa untuk Niko dan Mitha. Mereka sudah cukup mendapat balasan atas apa yang mereka lakukan dulu. Senja justru kini berterima kasih kepada mereka yang tanpa sengaja telah mengajarkannya arti hidup keadanya. Dan kini Senja sudah bahagia dan tenang bersama keluarga kecilnya. Tuhan begitu baik kepadanya dengan menghadirkan seorang bayi laki-laki dua tahun yang lalu, yang semakin melengkapi kebahagiaannya dan Elang. Tak ada hal yng tak ia syukuri dalam hidupnya yang begitu baik. Semoga kebahagiaan juga selalu menyertai mereka.

__ADS_1


" Zea capek ya? Di gendong sama daddy ya? Zayn di gendong sama mommy sini!" Senja mengambil alih baby Zayn, anak keduanya yang kini berusia dua tahun dari gendongan Elang.


"Kita langsung jalan ke puncak ya? Zea senang ya, mau liburan ke puncak, mau nyusul oma sama opa di sana?" tanya Senja kepada putri sulungnya.


"Zea senang, mommy," jawab gadis kecil tersebut riang.


"Dedek Zayn, juga senang?" Senja mencium putra bungsunya yang langsung terkekeh karena ciuman momminya.


"Daddinya lebih senang lagi, nanti di sana kita bisa bebas buat berkeringat bareng lagi, biar Zea dan Zayn sama oma opanya," seloroh Elang berbisik yang langsung di cubit mesra oleh Senja.


"Loh kenapa? Benar kan? Katanya mau punya banyak anak dari aku, bisalah kita gas lagi, Zayn udah dua tahun," bisik Elang seraya mengedipkan sebelah matanya, Senja hanya tersenyum menanggapinya.


"Nanti di puncak kita pesta barbeque, ya? Zea suka?" tanya Elang.


"Suka, daddy!" jawab gadis cilik itu.


Langkah Senja dan Elang begitu ringan dan riang, suara obrolan mereka menghilang seiring langkah kaki mereka keluar dari restauran tersebut.

__ADS_1


... 💞 TAMAT💞...



__ADS_2