
"Kenapa tadi nggak nungguin?" tanya Elang sembari berjalan mendekati istrinya yang baru selesai berganti pakaian setelah mandi.
"Nggak apa-apa aku hanya lelah saja tadi makanya pulang duluan," jawab Senja tanpa menatap suaminya. Ia tengah sibuk menyisir rambutnya di depan meja rias.
Elang mendekati Senja, memegang bahu istrinya tersebut lalu menundukkan badannya dan mencium pipi Senja.
Melihat wajah Elang, sebenarnya membuat Senja merasa ikut sakit di dalam hatinya. Ingin sekali ia mengusap dan memberi kecupan untuk setiap luka lebam yang ia lihat melalui pantulan cermin di depannya tersebut. Ia tahu, suaminya tidak akan segegabah itu mempertaruhkan harga dirinya di depan umum dengan bertindak konyol dan bodoh, tidak mempedulikan citranya sebagai seorang ceo yang berwibawa dan di segani tanpa adanya sebuah alasan. Pasti masalahnya sudah sangat membuatnya marah, hanya saja ia tidak tahu apa itu sebenarnya.
Namun, lagi-lagi bayang-bayang photo itu membuatnya mengurungkan keinginannya tersebut. Ia kembali ragu akan perasaan suaminya. Karena jelas-jelas suaminya lebih memilih jalan dan merangkul wanita lain di saat ia sedang benar-benar membutuhkannya malam itu. Hatinya merasa di bohongi akan sikap suaminya selama ini.
"Aku mandi dulu," ucap Elang, ia meninggalkan Senja dalam diamnya.
Senja menoleh, menatap pintu kamar mandi setelah bayangan suaminya itu ikut hilang bersama tertutupnya pintu. Sebenarnya ingin sekali Senja bertanya perihal perasaan Elang yang sebenarnya kepada dirinya. Jika memang Elang masih mencintai Bianca, Senja akan mundur perlahan sebelum perasaannya terhadap laki-laki yang berstatus sebagai suaminya tersebut semakin dalam.
Namun, rasa takut juga melanda hati Senja sekarang. Takut jika Elang mengiyakan pertanyaan tersebut, mengakui kalau memang dia masih mencintai Bianca. Takut akan mendengar kenyataan yang menyakiti perasaannya tersebut. Takut akan kehilangan sosok yang memberikan kehangatan kepadanya setelah semua yang menimpanya. Takut akan berubahnya hubungan baiknya selama ini dengan Elang setelah ia tahu seperti apa perasaan suaminya. Senja belum siap untuk semua itu.
"Aku harua bagaimana El? Aku belum siap jika kau mengakui masih mencintainya," desah Senja dalam hati. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja membasahi pipinya yang mulus. Karena sejujurnya kini ia sudah menambatkan hatinya kepada suaminya tersebut. Apakah dia akan siap untuk patah hati lagi setelah luka yang Niko berikan baru saja sembuh.
πΌπΌπΌ
Menyelesaikan ritual mandinya dalam waktu yang cukup singkat, karena ia akan mengajak Senja untuk makan malam di rumah utama keluarga Parvis sesuai permintaan sang mommy, Elang melilitkan handuk kimono ke tubuhnya lalu keluar. Di lihatnya, Senja sudah berbaring di atas tempat tidur dengan memunggunginya.
Belum menggunakan pakaian, Elang langsung duduk mendekati Senja.
"Kau kenapa? Tidak enak badan?" tanya Elang memulai pembicaraan, pasalnya sejak tadi ia merasa aneh dengan sikap sang istri.
__ADS_1
"Tidak, aku baik-baik saja," jawab Senja.
"Apa, kau marah gara-gara tadi aku berkelahi dengan Ervan? Maafkan aku," ucap Elang masih dalam mode tenang. Ia menyadari kalau memang sikapnya tadi berlebihan tapi ia melakukannya karena tak terima dengan apa yang sudah Ervan lakukan.
"Tidak," jawab senja singkat dan terkesan jutek. Membuat Elang menautkan kedua alisnya.
"Senja kau kenapa? Sejak tadi siang sikapmu aneh, oke aku minta maaf soal berantem tadi sama Ervan, jika karena itu kamu marah dan anggap aku kayak anak kecil," ucap Elang.
"Lakukanlah sesukamu, jangan pedulikan perasaanku," sahutan Senja membuat Elang semakin mengernyit tak mengerti.
"Kau ini kenapa? Jika ada masalah cerita sama aku, aku suami kamu! Kalau kau selalu bilang tidak apa-apa, tidak apa apa bagaimana aku bisa tahu? aku bukan cen@yang yang bisa tahu apa yang ada dalam pikiranmu,"
"Tidak usah pedulikan aku, kau urus saja Bianca!" ujar Senja menahan tangis saat menyebut mantan kekasih suaminya tersebut.
"Kau ini bicara apa? Kenapa jadi bawa-bawa Bianca?"
"Senja, bicaralah supaya aku tahu. Kau jangan seperti anak kecil," ucap Elang yang mulai merasa frustrasi menghadapi istrinya.
"Ya, aku memang seperti anak kecil yang mudah sekali di bohongi," sahut Senja.
Elang yang lelah karena banyaknya pekerjaan di kantor, di tambah lagi tadi harus beradu jotos dengan Ervan , akhirnya mulai kehilangan kesabarannya.
"Maksudmu apa? Kenapa dari tadi kau bicara tidak jelas? Lihat aku jika aku sedang bicara!" Elang mencoba menyentuh lengan Senja namun di tepis olehnya.
"Kau ini kenapa! Aku capek, aku lelah jagan kau tambah dengan sikapmu yang kekanakan seperti ini!" Elang sudah meninggikan nadanya satu oktaf.
__ADS_1
"Kau yang kenapa El, ada apa denganmu? Kenapa kau selalu tak jujur kepadaku? Kau jelas-jelas masih peduli, masih mencintai mantanmu tapi kenapa kau selalu perlakukan aku layaknya orang yang spesial di hatimu? Seharusnya kau jujur saja jika memang masih mencintainya biar aku yang mundur!" teriak Senja, karena lelah ia pun tidak bisa mengontrol emosinya. Senja beranjak dari tempat tidur hendak pergi. Namun Elang segera mencekal tangannya.
"Harus aku bilang berapa kali, jangan pergi dalam keadaan marah," ucap Elang.
"Lepaskan!" kali ini Senja tak menurut, ia menepis tangan suaminya.
"Aku kasih waktu kamu berpikir tentang perasaanmu sesungguhnya seperti apa El, jika memang kamu masih mencintainya, maaf aku tidak bisa melanjutkan pernikahan kita," ucap Senja sambil menghapus air mata yang sudah jatuh sejak tadi.
"A apa maksudmu? Bicara yang jelas? Kenapa kau dari tadi membawa bawa nama Bianca? Ada apa dengannya?"
"Mari kita bercerai," satu kalimat yang tidak ingin Senja ucapkan dan juga tidak ingin Elang dengarkan akhirnya lolos juga dari bibir cherry itu. Senja mengatakannya dengan derai air mata. Memang seharusnya dia mengambil sikap sejak dulu sebelum hubungan mereka terlanjur jauh. Selama ini Senja sudah berusaha membentengi hatinya supaya bisa legowo dengan rumah tangganya yang memang di awali bukan atas dasar cinta dan ia pun ingat selalu kalau Elang sering bilang tidak bisa lepas dari Bianca.
Namun, perasaan cinta itu tidak bisa ia tekan seiring berjalannya waktu. Semakin ia tekan, semakin besar rasa itu untuk suaminya.
"Kau jangan asal bicara Senja, kenapa kau bicara omong kosong seperti itu?" Elang tak percaya dengan apa yang ia dengar.
"Maka tentukan pilihanmu, aku tidak bisa terus hidup bersama orang yang masih memiliki cinta untuk masa lalunya. Lebih baik kita berpisah saja, jangan saling menyakiti lagi jika memang kita tidak ada jodohnya.
Senja berlari keluar meninggalkan Elang yang masih mematung dan mencoba mencerna apa yang sejak tadi istrinya coba katakan.
Ada apa sebenarnya dengan istrinya, kenapa tanpa alasan yang jelas ia bicara seperti itu. Apa salahnya? Tidak ada angin tidak ada hujan kenapa Senja membicarakan perceraian. Apa karena ia sebenarnya belum bisa menerima Elang? idak bisa menerima kesalahan yang pernah Elang lakukan? Lantas kenapa sejak tadi hanya Bianca yang ia ucapkan, ada apa dengannya dan Bianca?
"Arrgh sial!" umpat Elang.
Elang mengerang frustrasi, ia duduk di tepi ranjang, menyisir rambutnya dengan tangannya.
__ADS_1
πΌπΌπΌ