Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 113


__ADS_3

Setelah melakukannya beberapa ronde, mereka pun chek out dari hotel. Elang dan Senja keluar dari hotel dengan wajah segar dan berseri. Saling menautkan jari jemari tangan mereka. Perasaan kesal, marah dan cemburu yang seja pagi tadi menguasai perasaan mereka, kini menguap entah kemana.


"Aku akan mengantarmu pulang, tidak usah kembali lagi ke kantor," ucap Elang sesaat setelah mereka memasuki mobil.


"Hem," Senja mengangguk setuju, ia terlalu lelah untuk kembali ke kantor.


Elang tersenyum lalu mengacak rambut Senja yang masih setengah basah. Ia mencium bibir Senja sekilas sebelum mulai menyalakan mobilnya, "Makasih," ucapnya seraya mengedipkan satu matanya.


"Badan aku pegal semua, kamu kalau cemburu menakutkan," ucap Senja tersenyum mengingat apa yang baru saja mereka lakukan. Meski sudah melakukannya Berkali-kali, tapi Senja tetap saja selalu kewalahan, mereka tetap merasa seperti pengantin baru.


"Kamu juga, marahnya kelamaan, aku kan jadi mumet. Dan obatnya ya cuma itu,"


"Enak ya obatnya," seloroh Senja.


"Banget, bikin nagih, lagi dan lagi," jawab Elang tergelak.


Senja langsung mencubit mesra pinggang Elang.


Saat melewati sebuah kedai bakso, Senja meminta Elang untuk menghentikan mobilnya, "Kenapa?" tanya Elang mengernyit.


Senja menunjuk kedai bakso tersebut menggunakan dagunya yang diikuti oleh mata Elang, "Mau itu, kayaknya enak," ucap Senja memohon.


"Kita baru saja makan tadi, sayang. Dan juga, itu terlalu ramai," sahut Elang menatap ke arah kedai bakso.


"Iya, tapi aku lapar lagi. Kamu kan yang udah mengurah energiku lagi. Dan justru karena ramai pasti enak baksonya," rengek Senja.


"Yang lain aja, ya?" tawar Elang.


"Kalau gitu, aku mau mie aceh, yang dibuat di Aceh sekarang,"


Elang semakin mengernyit.


"Sayang," Elang hanya bisa mengusap tengkuknya, ia tak tahu lagi harus bicara apa. Ibu hamil satu ini memang benar-benar moodian sekarang.


"Ayo turun, makan bakso aja! Ini maunya anak kita loh, boo!" Senja sudah melingkarkan tasnya di bahu dan siap untuk turun.


Elang yang tak berkutik, hanya bisa menuruti kemauan istrinya meski dengan setengah hati.


Suasana kedai bisa di bilang ramai, Senja dan Elang sampai harus menunggu pelanggan lainnya menyelesaikan makan mereka lalu pergi. Barulah keduanya bisa duduk dengan tenang.


"Kita bisa makan bakso di tempat lain, di restoran juga ada bakso, di sini terlalu ramai," ucap Elang saat mengantri tempat duduk tadi.


"Nggak bisa, maunya di sini. Itu sebentar lagi udah pada mau habis, kita bisa duduk di situ!" Senja menunjuk meja dimana sepasang suami istri yang hampir selesai menyantap mie ayam.


Kalau tidak ingat dengan buah cintanya, hasil kerja kerasnya di dalam perut sang istri, mungkin Elang sudah langsung angkat kaki dari tempat itu daripada harus mengantre, menunggui orang lain makan seperti ini.

__ADS_1


Oh, ayolah, jangan, kenapa sampai harus merelakan kaki pegal-pegal karena menunggu meja kosong, sambil melihat orang suap-suapan mie ayam. BAHKAN, n kedai baso itu bisa ia beli dengan hanya menjentikkan jari saja. Begitulah kiranya yang Elang pikirkan, namun tentu saja ia tak berani mengucapkannya terang-terangn atau istrinya akan kembali merajuk. Ya, meskipun cara damainya enak dan membuat ketagihan, tapi sungguh ia tak ingin melakukannya hanya karena sebuah amarah.


Setelah menunggu sekian lamanya, akhirnya sepasang suami istri itu selesai dan beranjak dari duduk mereka.


"Boo, ayo! Mereka udahan," Senja manrik tangan Elang. Senja duduk dengan mata berbinar, tak sabar menyantap bakso yang katanya enak tersebut.


"Udah lama aku pengin makan di sini, tapi belum kesampaian, akhirnya sekarang bisa. Bareng suami tercinta lagi, duh nggak sabar!" ucap Senja riang. Membuat Elang mengernyit, sampai sebegitunya ekspresi sang istri. Namun, sejurus kemudian ia ikut tersenyum, bahagia melihat istrinya tersenyum bahagia seperti itu.


"Sayang, mau makan apa?" tanya Senja saat pelayan menanyakan pesanan.


"Aku nggak makan, kamu saja,"toalk Elang halus.


Akhirnya Senja memesan dua porsi bakso untuk dirinya sendiri.


" Sayang, sambalnya jangan banyak-banyak. Nggak bagus, kamu lagi hamil," peringkat Elang saat Senja menang sambal ke baksonya.


"Nggak banyak, cuma sedikit. Kalau nggak pedas nggak enak," sahut Senja yang memang menyukai pedas.


Elang menyentuh tangan Senja ketika wanita itu hendak menang kembaki sambal ke dalam mangkuk bakso di depannya. Ia menggelengkan kepala saat Senja melayangkan tatapan protes terhadapnya,"Udah, cukup, jangan banyak-banyak," ucapnya lembut.


"Jangan ngambek lagi, atau mau aku ajak balik ke hotel lagi? Mumpung belum jauh ini, kalau ngambek," sambungnya cepat saat melihat ekspresi Senja yang mulai kesal.


Akhirnya Senja menyerah, ia meletakkan kembali sambal itu ke tempatnya, "Aku masih capek, nggak kuat kalau mau berantem di atas kasur lagi," ucapnya polos.


Elang tersenyum mendengarnya, ia mengambil alih sendok yang di pegang Senja, "Sini, aku yang suapi. Kasihan yang sejak tadi lihatin orang suap-suapan," ucapnya.


"Aku juga bisa, aku juga sayang, cinta... Nggak kerasa?" tanya Elang tak terima istrinya memuji pria lain.


"Kerasa kok, kerasa banget cintanya, malah barusan aku ngerasainnya," Senja terkekeh.


"Ck. Dasar," Elang mengusap lembut pipi Senja. Tanpa mereka sadari, kini mereka sedang menjadi pusat perhatian beberapa pengunjung. Kelakuan keduanya membuat mereka baper. Ada yang menoel-noel pinggang suami atau pacar saat mereka melihat keuwuan sepasang suami istri tersebut. Ada pula yang terang-terangn protes kepada pasangannya karena tidak pernah di perlakukan seperti itu.


🌼 🌼 🌼


Malam harinya...


Senja sedang membaca novel online di ponselnya ketika Elang masuk ke dalam kamar. Dengan cepat, Senja langsung berlari dan melompat ke pelukan Elang. Ia menautkan kedua kakinya di pinggang Elang.


Elang tersenyum, ia berjalan mendekati ranjang dengan menahan tubuh Senja yang bergelayut manja dengannya.


"Belum tidur?" tanya Elang seraya menghujani wajah Senja dengan ciumannya.


"Aku menunggumu, mana bisa aku tidur kalau suami belum pulang," Jawab Senja.


"Maaf, aku pulang sampai larut," ucap Elang.

__ADS_1


Elang mendudukkan tubuh Senja di ranjang, "Aku mandi dulu," ucapnya mengecup kening sang istri.


"Hem," Senja mengangguk.


"Buka di sini aja bajunya," pinta Senja. Meski mengernyitkan Keningnya, Elang hanya menurut. Ia membuka satu persatu pakaiannya di depan sang istri.


Senja duduk bersila demi menikmati pemandangan indah di depannya. Pemandangan yang selalu berhasil membuat jantungnya berdesir hebat.


Elang melirik istrinya yang berusaha menelan salivanya sambil terus menatapnya tanpa berkedip. Benar-benar, ibu hamil yang satu itu, ada-ada saja maunya.


Elang hanya tersenyum maklum, ia ingat cerita kedua orang tuanya saat mengidam dulu, dan hal yang diminta istrinya masih bis di bilang wajar dan ia bisa menurutinya. Kecuali, jika istrinya tersebut minta pria lain yang telan jang, tentu saja itu akan membuatnya kalang kabut.


Saat ia membuka penutup terakhir bagian bawahnya, secara reflek Senja menutup mukanya, namun ia mengintip dari celah jari jemari ya, membuat Elang semakin mengernyit.


Dengan santai, Elang berjalan masuk ke dalam kamar mandi dengan tubuh polosnya. Sengaja menggoda sang istri yang semakin gelisah di atas tempat tidur.


"Oh ya ampun, sayang apa kamu pengin daddy mengunjungiku kembali? Ayolah, jangan buat mommy malu," ucap Senja sambil mengusap perutnya. Dan tentu saja ucapannya berhasil membuat Elang terkekeh di balik pintu kamar mandi yang masih sedikit terbuka itu.


Senja yang meminta Elang membuka baju di depannya, namun ia sendiri juga yang merasa gelisah dan sulit bernapas. Bahkan, bayi dalam kandungannya di jadikan alasan hasratnya yang kembali naik.


Sembari menunggu Elang mandi, Senja kembali membuka aplikasi novel online di ponselnya. Namun, tetap saja, ia kehilangan konsentrasi membacanya. Pikirannya selalu teringat kepada si uang yang tadi menggantung bebas, seolah melambai-lambai, meminta untuk di sayang-sayang.


Tak berselang lama, Elang keluar dengan hanya melilit kan handuk di pinggangnya. Ia mendekati Senja lalu kembali mencium keningnya, "Udah malam, Tidurlah!" ucapnya.


Senja menggeleng, "Nggak bisa tidur," ucapnya.


"Kenapa? Apa yang membuatmu gelisah samapai tak bisa tidur?" tanya Elang.


"Maafkan aku, kalu sikapku jadi menyebalkan. Suka gampang marah dan baper berkepanjangan. Aku juga nggak tahu kenapa. Kamu jangan sebal ya sama aku, jangan benci dan jangan bosan sabar sama aku, karena sikapku yang berubah," ucap Senja.


"Hei, bagaimana bisa aku sebel, aku benci dengan wanita yng sedang mengandung anakku? Tidak apa-apa, marah, ngomel, baper, lakukan yang kamu suka, asal denganku," ucap Elang lembut. Ia tahu emosi ibu hamil memang susah di tebak.


"Aku pakai baju dulu," Elang hendak memutar badannya menuju walk in closet, namun di tahan oleh Senja, "Jangan," ucapnya dengan sorot memohon.


Elang memiringkan kepalanya dengan dahi mengernyit demi melihat wajah sang istri.


"Aku mau kamu tidur tidak pakai baju, aku suka," ucapnya malu-malu. Ya, tidur dan mengendus-endus bau maskulin khas pria dari tubuh suaminya secara langsung, hingga wajahnya bisa menempel tanpa penghalang di dada suami hingga mendusel di ketiaknya sangat menyenangkan dan menenangkan buat Senja.


"Baiklah, Apa celana juga tidak di butuhkan malam ini?" tanya Elang dengan senyum mengerling.


"Sepertinya tidak tuan Erlangga," jawab Senja merona.


"Baik, ayo nyonya Erlangga, silahkan lakukan sesuka Anda pada tubuh suami Anda ini," Elang naik ke tempat tidur. Dengan malu-malu, Senja menggeser tubuhnya dan membenarkan wajahnya di dada Elang. Elang mendekapnya gemas. Berapa kali merek sudah bercinta namun tetap saja, istrinya itu selalu memasang wajah polos nan malu-malu tapi butuh. Menggemaskn sekali, pikirnya.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


πŸ’ πŸ’ Jangan lupa like. Komen dan kopinya, votenya yang masih juga boleh πŸ˜„πŸ˜„


Salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ πŸ’ 


__ADS_2