
Senja dan Gisel kini sudah duduk berjejeran di sofa ruang tamu, mereka bersiap menunggu panggilan dari Elang. Sementara Rega duduk memperhatikan keduanya di seberang sofa dengan kedua tangannya ia silangkan di dada dan kaki kanannya bertumpu pada kaki kirinya. Tanpa bersuara, hanya menatap kedua perempuan yang tengah duduk menunggu sang tuan muda menelepon kembali.
Elang melirik ponselnya yang tergeletak di atas tempat tidur setelah di lemparnya tanpa perasaan tadi. Rasa kesal masih berkecamuk dalam dirinya. Dengan malas, ia memungut kembali gawainya tersebut.
Elang akan mencoba menghubungi istrinya sekali lagi, memastikan jika semuanya baik-baik saja. Tak tenang jika hanya tahu dari pesan yang di kirim oleh Rega tadi. Jika kali ini tetap tidak di angkat oleh Senja, ia tidak akan memberi ampun, tekadnya dalam amarah.
Senja dan Gisel saling melempar pandang saat ponsel milk Senja yang ia letakkan di atas meja kembali menyala dan berdering.
"Cepat angkat! Jangan buat El tambah kesal," ucap Rega.
Senja pun langsung menggeser ikon berwarna hijau dan terpampanglah wajah berkharisma suaminya.
"Kenapa baru diangkat?" Tanya Elang dengan nada dinginnya, membuat Senja serasa membeku.
Seram juga jika suaminya tersebut sudah marah. Ini baru lewat video call saja aura kemarahannya sudah terasa menelisik, bagaimana jika berhadapan secara langsung, Senja bahkan tak bisa membayangkannya. Sorot mata tajam yang menakutkan tampak jelas dari laki-laki tersebut.
"Jelaskan!" ucap Elang tanpa menunggu Senja menyahut pertanyaan pertamanya tadi.
Senja melongo, ia tak tahu mana yang harus di jelaskan. Apakah soal ia yang lama mengangkat panggilan darinya atau masalah di club.
"Kenapa diam?" tanya Elang semakin kesal.
"Tenang dulu El, bertanya yang jelas. Sepertinya istrimu bingung menjawabnya," terdengar suara Rega, namun Elang tak melihat orangnya karena yang ia lihat di depannya adalah Senja dan Gisel. Gisel tampak terdiam, pasrah menunggu hukuman apa yang akan kakaknya berikan.
Elang mengembuskan napasnya kasar, kemudian bicara lagi.
"Jelaskan kenapa kalian bisa nekad datang ke tempat seperti itu? Apa kalian tahu kalau tempat itu bahaya, apalagi buat perempuan seperti kalian?"
"El aku..."
"Bukan kamu, aku tunggu penjelasan dari Gisel," potong Elang ketika Senja ingin bicara.
"Kakak, maaf. Gisel nggak ada niat apa-apa ngajak kakak ipar ke sana swear. Aku cuma nonton aja kak nggak lebih dan ini juga pertama kali ke tempat seperti itu, janji nggak diulang lagi. Kakak udahan marahnya ya, jangan marah sama kakak ipar juga, dia nggak salah, aku yang salah," ucap Gisel mengakui kesalahannya.
"Tahu tempat apa itu kenapa nekad? Hanya gara-gara apa tadi? Nonton? Kakak minta kamu menemani Senja supaya dia tidak kesepian, bukan berati kakak bebasin kamu ajak dia sesuka hatimu," ucap Elang tegas.
"Uang jajan kakak stop satu bulan full, nggak boleh bawa mobil sendiri, dan selama satu bulan nggak boleh keluar selain urusan kuliah. Tidak ada bego!" lanjutnya kemudian.
Gisel terbelalak mendengarnya. Kalau masalah uang jajan di stop, ia masih bisa bertahan karena masih punya tabungan, tapi kalau tidak boleh keluar rumah selama satu bulan? Sama saja seperti penjara buat dia.
"Abang..." rengeknya meminta bantuan Rega, karena Elang biasanya akan mendengarkan sahabatnya tersebut.
"Apa dek? Mau abang tambah hukuman dari El?" tawar Rega serius.
"Ih abang nggak asyik," ketus Gisel yang hanya di balas gelengan kepala oleh Rega.
"El, apa itu tidak berlebihan? Di sana beneran tidak aneh-aneh, lagian aku juga salah karena..."
"Kamu diam dulu, jangan membela Gisel, atau aku akan menambah hukumannya," ucap Elang, Senja pun langsung diam.
"Sekarang pulanglah, biar diantar Rega," tatapan Elang beralih ke Gisel.
",Nggak jadi di suruh nemenin kakak ipar?" tanya Gisel.
"Nanti kamu ajarin yang enggak-enggak lagi kalau tetap di sana, kakak masih kecewa sama kamu," sahut Elang.
"Ck, kakak gitu amat," cebik Gisel.
Elang diam tak menyahut.
"Ayo abang antar pulang dek," ucap Rega.
__ADS_1
Gissel pun pamit kepada Senja, ia meminta maaf kepada kakak iparnya tersebut sebelum pamit pulang.
"Kakak jangan lama-lama marah sama Gisel,"ucapnya menatap serius ke arah ponsel Senja yang masih menyala di meja.
"Amarah kakak tergantung sikap kamu sendiri dan bagaimana kakak iparmu mampu mengubah kemarahan kakak menjadi...ah sudahlah yang penting kau pulang dulu," ucap Elang.
"Eh kok aku...? dan maksudnya menjadi apa? Ah dasar bambang!" umpat Senja dalam hati.
"Aku antar Gisel dan Rega ke depan dulu," ucap Senja kepda Elang.
"Jangan di matikan, dan cepat kembali! urusan kita belum selesai!"titah Elang,
"Eh urusan apa lagi? Belum kelar marahnya?" batinnya.
Senja mengangguk pasrah. Padahal itu mau ia jadikan alasan untuk mengakhiri panggilan.
Setelah mengantar Gisel dan Rega, Senja kembali duduk manis di depan ponselnya.
"Lama!" cebik Elang.
"Cuma berapa detik," protes Senja.
"El udah ya, semua udah jelas kan? Aku capek, mau mandi belum makan juga," ucap Senja mencari alasan.
"Dikira aku juga udah makan?" batin Elang menatap Senja tajam.
"Apa kau tidak tahu aku sedang kesal? Baru dua hari aku tinggal, kamu udah bikin ulah di rumah, kalau kamu nggak mengiyakan ajakan Gisel, tuh anak nggak bakal pergi ke tempat begitu,"
"Iya aku yang salah, maaf," ucap Senja,
Aapun yang Elang katakan iya hanya mengeluarkan kata maaf dengan wajah seperti tertindas namun sangat manis dan menggemaskan, berharap drama Club ini akan segera berakhir. Dan berhasil, Elang malah di buat salah tingkah dengan melihat wajah imut Senja. Ia mengusap wajahnya kasar.
"Baiklah, sekarang lekas mandi dan makan malam. Jangan tidur larut malam," ucapnya.
"Tapi bukan berarti kamu lolos dari hukuman," peringat Elang.
"Eh apa katanya? Masih ada hukuman? Aku juga kena hukuman?" Senja mencebikkan bibirnya.
"Jangan manyun, cepat sana mandi dan makan biar gemukan sedikit!" ujar Elang.
Panggilan Video call pun berakhir.
Ya setidaknya untuk malam ini drama Club ini berkahir, perkara hukuman tunggu saja, toh masih beberapa hari lagi suaminya itu berada di luar kota, siapa tahu saat Elang kembali, ia sudah melupakannya, pikir Senja yang kini tengah berendam di bath up kamar mandinya.
πΌπΌπΌ
Malam semakin larut, dan lagi-lagi Elang masih belum bisa memejamkan matanya. Ia hanya menatap langit-langit kamarnya. Entah kenap wajah istrinya saat tersenyum menghiasi langit-langit kamar tersebut yang membuatnya frustrasi.
"Aaarggghh aku sudah gila!" umpatnya yang langsung menutup wajahnya dengan bantal.
Elang mengambil ponselnya, dan seperti biasa Kendra akan menjadi sasarannya saat insomnia melandanya.
Kendra yang terlihat sedang senyum-senyum dalam tidur lelapnya, entah laki-laki itu sedang memimpikan apa yang jelas dari raut wajahnya ia sedang mimpi indah, dan mimpi indahnya langsung berubah menjadi mimpi buruk ketika ponselnya berdering dan bergetar dengan keras tepat di telinganya. Kendra langsung terbangun karena kaget.
Dengan mengumpat di lihatnya layar ponsel canggihnya dan langsung membuang napas kasar.
"Pantas jadi mimpi buruk," gumamnya kesal dan seketika ia menyesal kenapa tadi tidak ia matikan saja ponselnya saat hendak tidur.
"Ya bos, ada apa? Tidak bisa tidur? Mau saya kelonin atau bagaimana?" ucap Kendra yang masih setengah sadar, nyawanya belum terkumpul sepenuhnya.
Mendengar ucapan Kendra, Elang langsung menjauhkan ponselnya dari telinganya, ia menatap tajam ponselnya tersebut dan mencebik.
__ADS_1
Kemudian, Elang mengatakan apa yang ingin ia katakan dan langsung mengakhiri panggilannya setelah selesai bicara.
"Satu lagi, aku masih normal tidak suka singkong," ucap Elang tadi sebelum mengakhiri teleponnya yang sukses membuat Kendra mendelik.
"Kenapa bos ngomong begitu? Emang tadi aku ngomong apa ya?" gumamnya dalam hati sambil menatap heran layar ponselnya. Masa bodoh karena masih mengantuk, Kendra langsung melempar ponselnya dan melanjutkan tidurnya, berharap mimpi indah tadi masih bisa di lanjutkan.
πΌπΌπΌ
Keesokan harinya...
Senja sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Ia berdiri di depan cermin, sedikit merapikan rambutnya dan kemudian mengambil sepatunya. Disambarnya tas miliknya, lalu beranjak menuju ke pintu setelah memastikan isi tasnya tidak ada yang salah.
Senja terkejut melihat seorang laki-laki berdiri tepat di depan pintu kamarnya.
"Astaghfirullah, bikin kaget saja," ucap Senja sambil mengusap dadanya pelan, menatap punggung laki-laki yang kini berdiri membelakanginya tepat di depan pintu.
"Kend...?" ucap Senja saat laki-laki tersebut balik badan.
"Selamat pagi nona," sapa Kendra sambil cengengesan seperti tak punya dosa.
Senja celingukan, mencari sosok yang ia rindukan.
"Bos masih di luar kota nona," ucap Kendra seolah tahu apa yang ada dalam pikiran Senja.
"Aku tak mencarinya. Ka kamu ngapain di sini?
Bukannya kamu pergi ke luar kota bersamanya? Kenapa tiba-tiba bisa disini? Seperti punya pintu doraemon saja,"
Kendra hanya tersenyum mendengar ocehan istri bosnya tersebut.
"Katakan! Kenapa sepagi ini sudah berdiri di sini?" tanya Senja sekali lagi.
"Apakah Anda sudah siap nona?" bukannya menjawab, Kendra justru menanyakan kesiapan Senja yang tentu saja membuat perempuan tersebut menyipitkan matanya.
"Siap apa?" tanyanya.
"Siap menjemput hukuman Anda nona," jawab Kendra menyeringai.
"Maksudnya?" Senja masih tak mengerti.
"Sebaiknya sekarang nona ikut saya," ucap Kendra.
"Tidak mau, aku harus bekerja, minggir!"
"Nona, mohon kerja samanya, atau bos akan semakin marah dan hukuman Anda semakin berat,"
"Tapi aku harus bekerja sekarang,"
"Ini perintah bukan sekedar negosiasi nona, dan jika bos sudah memerintah, maka saya harus membawa Anda menghadap, tidak bisa tidak," tegas Kendra.
"Kend..."
"Ya nona?"
" Kau gila!" cebik Senja.
"Bos lebih gila lagi," sahutnya terkekeh sementara Senja hanya menatapnya kesal.
Senja benar-benar tak habis pikir dengan isi kepala suaminya. Apa tidak bisa di tunda sampai Elang kembali memberi hukumannya, kenapa sampai harus ia menyerahkan diri untuk di hukum. Dalam hatinya, ia terus saja merutuki suaminya yang seenak jidatnya tersebut.
πΌπΌπΌ
__ADS_1
.