Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 74


__ADS_3

Selesai mengeringkan rambut, Senja dan Elang menikmati sarapan bersama di teras pribadi sambil menikmati menara Eiffell. Raut wajah Senja begitu bersinar karena bahagia, ini adalah salah satu mimpinya, bisa makan bersama orang tercinta sambil menikmati indahnya menara Eiffell.



Mereka sarapan di selingi dengan mengobrol dan sesekali Elang menyuapi Senja, padahal menu makanan mereka sama, namun tetap saja Elang mempetlakukan Senja bak seorang ratu.


"Sayang," panggil Elang.


"Hem...?" sahut Senja yang tengah menyendok makanan di depannya.


"Ada yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting," ucap Elang.


"Soal?"


"Soal amanah almarhum Kakek," jawab Elang.


"Iya, kakek minta kita menikah, dan kita sudah menikah, bahkan boo menjaga dan memperlakukan aku sangat baik, buat aku bahagia. Menjaga aku seperti permintaannya. Apa lagi?" kata Senja sambil tetap fokus pada makanannya. Ia seperti sangat menyukai makanan tersebut, padahal ini pertama kali ia memakannya.


" Ini soal lain sayang, bukan hal itu,"


" Iya apa Boo?"


"Ini menyangkut jati diri kamu, tentang siapa kamu sebenarnya, tentang siapa orangvtua kandung kamu,"


Deg! Ucapan Elang membuat Senja menghentikan aktivitasnya.


"Maksudnya??" Senja menatap penasaran suaminya, makanan yang sudah hampir masuk ke mulutnya, ia letakkan kembali ke piring.


"Iya, ini masalah yang serius, biar aku jelaskan dulu. Kamu jangan menyela ya, biar aku selesai bicara dulu," ucap Elang. Senja mengangguk, ia sangat antusias ingin mendengar apa yang akan di ceritakan oleh suaminya.


Elang mulai bercerita, di awali dari hari dimana sang kakek memintanya untuk membantu Senja mengambil kembali apa yang menjadi haknya dan kalung yang Senja pakai adalah kunci utamanya.


"Jangan menatap aku seperti itu sayang, aku jadi tidak konsen cerita kalau kamu lihatin akunya seperti itu," ucap Elang, jika Senja menatapnya sedekat itu, rasanya Elang ingin sekali meraup bibir cherry yang menjadi candunya tersebut. Bibir itu seakan melambai-lambai minta di cium. Senja mendengus kesal, saat ia sedang serius-seriusnya mendengarkan, pikiran suaminya malah treaveling kemana-mana.


" Ya sudah aku nggak lihatin lagi, lanjutkan Boo," Senja melengos, pandangannya beralih pada menara Eiffell.

__ADS_1


"Enggak gitu juga maksudnya sayang, kok malah melengos nggak mau liat muka aku sih," ucap Elang.


"Tadi katanya nggak boleh lihat, giliran aku nggak lihatin protes, apa sih boo, kalau mau cerita ya cerita. Konsen, nanti aku kasih bonus kiss kalau udah selesai ceritanya,"Senja kembali menatapnya lekat.


Elang terssenyum, istrinya tahu saja apa yang menjadi kelemahannya. Terutama kelemahan imannya.


" Baiklah, aku akan melanjutkan ceritanya..." sahut Elang semangat dan kali ini ia benar-benar serius menceritakan secara detail kepada sang istri.


Senja sangat terkejut setelah mendengar semua yang di jelaskan oleh Elang.


Ia hanya bisa diam dan mencoba mencerna apa yang di katakan oleh suaminya satu persatu. Sebenarnya, ia masih berharap ada keajaiban dimana kedua orang tuanya ternyata masih hidup, tapi dari cerita Elang, sudah di pastikan jika kedua orang tuanya memang sudah meninggal. Tapi, ada satu hal yang masih ia ragukan, dimana Elang mengatakan jika orangtuanya bukanlah orang biasa seperti yang ia pikirkan selama ini, yaitu kedua orang tuanya bekerja di luar negeri dan meninggal disana.


"Untuk lebih memastikan, kita butuh bantuan tuan Albert. Beliau adalah sahabat almarhum kakek yang juga anak buah kepercayaan tuan Bailey yang kemungkinan besar adalah orang tua kandung kamu. Beliau pasti tahu apa yang terjadi sekitar dua puluh tahun yang lalu dan sebelumnya,"


Senja masih bengong, perasaannya campur aduk, antara senang, takut, dan haru. Senang karena ia akan mengetahui siapa orang tua kandungnya, takut kalau ternyata apa yang selama ini menjadi mimpi buruknya adalah apa yang sebenarnya ia alami dan haru karena ternyata suaminya diam-diam melakukan ini semua untuknya.


Elang meraih tangan Senja, "Jangan takut, ada aku," ucap Elang yang mengerti perasan sang istri.


"Aku..." ucap Senja terbata, ia tidak tahu harus berkata apa.


Senja mencoba tersenyum dan mengangguk, meskipun ia masih tak percaya dan terkejut. Dan entah bagaimana kehidupannya selanjutnya jika benar dia adalah pewaris tunggal BaileyTex. Tapi, Senja yakin, selama Elang berada di sisinya, semua akan baik-baik saja.


Elang melepas genggaman tangannya dan mengangkat ponselnya yang berdering,


"Bos, saya sudah berada di lobby, apa bos dan nona sudah siap?" tanya Kendra di ujung telepon.


"Kau kerajinan sekali Kend, aku bahkan belum selesai sarapan," sahut Elang.


"Setengah jam lagi aku turun," sambungnya


"Setengah jam? Apa bos mengunyah makannanya sebanyak tiga puluh dua kali seperti sunnah Rasul?" tanya Kendra.


Elang mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Kendra yang bahkan ia sendiri tidak ingat akan sunah tersebut, biasanya makan ya makan tanpa menghitung.


" Iyalah, emang kamu yang main telan aja kalau makan," celetuk Elang.

__ADS_1


" Ya udah, tiga puluh menit lagi, saya tunggu," tukas Kendra.


"Hem," Elang langsung memutus panggilan.


🌼 🌼 🌼


Setelah selesai sarapan, Elang dan Senja menghampiri Kendra yang masih setia menunggu di loby hotel. Laki-laki itu sampai ketiduran karena setengah jam yang di katakan oleh Elang, ternyata ngaret menjadi satu jam lebih.


Elang menepuk bahu Kendra untuk membangunkannya.


"Eh bos," ucap Kendra gelagapan. Ia langsung membenarkan posisi duduknya.


"Ilermu lap dulu, di Paris kok ileran,"


Kendra mencebik, ia tak ingin menyentuh sudut bibirnya, karena ia tak pernah ileran. Tapi, jika kali ini dia beneran ileran, hancur sudah reputasi. Apa kata dunia, Kendra ngiler di Paris. Akhirnya Kendra pun menyentuh susut bibirnya untuk memastikan, yang membuat Elang tersenyum jahil. Karena nyatanya sudut bibir Kendra bersih.


"Kenapa tidur di sini, kamarmu di gusur?" tanya Elang. Yang di tanya hanya mencebik.


"Katanya setengah jam, ini satu jam lebih," protes Kendra seraya melihat jam tangannya.


"Kau lupa kalau aku ke sini untuk bulan madu juga, jadi jangan banyak protes jika kau harus banyak menunggu," sahut Elang.


"Ayo cepat, tuan Albert pasti sudah menunggu," imbuhnya yang langsung berjalan mendahului Kendra. Tangannya menggandeng tangan Senja.


Tidak sampai tiga puluh menit, mobil yang mereka tumpanhi kini sudah memasuki halaman sebuah rumah French style yang terkesan artsy dengan gabungan beberapa arsitektur.


Elang menggenggam tangan Senja erat saat mereka memasuki ruang tamu yang tampak Elagan dengan nuansa gotik Eropa.


Tampak seorang laki-laki paruh baya tengah duduk di ruangan yang di dominasi warna putih dengan sentuhan aksen warna merah muda di beberapa sudut. Ia langsung berdiri saat pelayannya mengatakan jika tamunya sudah datang.


"Dewi...." gumam tuan Albert ketika melihat Senja yang kini berdiri di hadapannya.


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Assalamu'alaikum, Elang dan Senja come back dari libur lebaran.. Adakah yang merindukan mereka?

__ADS_1


Berhububg masih suasana lebaran, author dan segenap keluarga besar Erlangga mengucapkan taqoballahu minna waminkum taqobbal ya karim, minal aidin wal faizin mohon maaf lahir dan batin untuk para pembaca setia Senja untuj Elang πŸ™πŸ™πŸ’ πŸ’ 


__ADS_2