
Keesokan harinya...
Berita gossip yang melibatkan anak dan menantunya, telah sampai di telinga Alex dan Anes yang baru saja pulang dari Australia semalam.
Pagi ini, Alex dan Anes langsung mendatangai kediaman sang putra, mereka ingin melihat sendiri jika rumah tangga anak dan menantunya baik-baik saja.
"Mas ayo cepat, aku belum tenang jika belum melihat menantu kita baik-baik saja," ucap Anes yang sejak semalam sudah kepikiran terus soal berita tidak benar itu.
"Iya sebentar sayang, mas juga barus selesai mandi ini. Ganti baju dulu, atau begini saja mas kesananya?" ucap Alex yang baru saja keluar dari kamar mandi dengan hanya memakai handuk kimono.
"Iya, biar nanti sekalian beritanya tambah, menantu kita di katai pelakor plus ayah mertuanya rada-rada nggak waras. Masih sempat-sempatnya bercanda kamu tuh mas. Cepat ini pakai aku sudah siapkan bajunya.
Alex terkekeh mendengar istrinya mengomel.
"Kalau kelamaan, aku pergi sama Gavin nih," ucap Anes.
"Iya, iya sabar sih sayang, " menoel dagu Anes.
Anes hanya mencebikkan bibirnya. Meski sudah berusia tidak muda lagi, namun keromantisan dan keharmonisan keduanya masih sama tak pernah pudar sedikitpun dan cinta keduanya semakin kuat seiring lamanya mereka menghabiskan waktu menua bersama.
πΌπΌπΌ
Kediaman Erlangga...
Hari ini dan mungkin beberapa hari ke depan Elang tidak mengijinkan Senja untuk pergi bekerja. Awalnya Senja kekeh tetap ingin bekerja, ia tak ingin lepas dari tanggung jawabnya sebagai karyawan apalagi dia sudah sangat sering tidak masuk bekerja, namun bukan Elang namanya jika tidak membuat hal yang Senja anggap sulit menjadi mudah. Ia sudah mengatur semuanya.
"Mau kemana?" tanya Elang ketika Senja hendak keluar kamar.
"Mau ambil minum, aku haus," jawab Senja.
"Benar mau ambil minum?" Elang memastikan.
__ADS_1
"Ya sudah kalau tidak percaya, kamu saja uang ambilkan!" cebik Senja. Ia kesal, pasalnya Sejak bangun tidur hingga sekarang Elang mengurungnya di kamar, tidak membiarkannya menghilang dari pandangan Elang. Elang hanya ingin memastikan jika Senja baik-baik saja dan tidak terpengaruh akan gossip murahan itu. Tapi tidak segitunya juga, itu berlebihan menurut Senja.
"Iya, iya percaya. Biar aku aja yang ambil!" akhirnya tetap Elang yang pergi keluar dari kamar itu.
"Terserah kamu sajalah El," ucap Sena malas, masih terlalu pagi untuk berdebat.
Elang keluar dari kamar menuju ke dapur. Bukan tanpa alasan ia mengurung Senja dan menutup semua akses media sosialnya. Seperti saat ini, di depan gerbang rumahnya, sudah ada beberapa wartawan yang berdiri untuk memburu berita dari si tuan rumah. Penjaga rumah sudah berkali-kali mengusir namun selalu datang lagi silih berganti.
Mengetahui hal itu, membuat Elang kesal. Ia keluar dan menemui mereka.
"Kalian sudah punya pekerjaan cadangan? Beraninya mengusik kediamanku seperti ini!" ucap Elang menatap para wartawan itu berang. Ia tetap terlihat tampan dan berwibawa meskipun saat ini hanya memakai kaos oblong santai dan celana pendek tanpa setelan jas seperti biasanya. Sebagian wartawan perempuan menatapnya kagum dan hampir lupa akan tujuan mereka mendatangai kediaman Erlangga.
"Maaf tuan, kami hanya ingin mengkonfirmasi secara langsung kebenaran berita yang beredar," jawab salah satu dari mereka.
"Berani kalian merekam, saya pastikan kalian akan kehilangan pekerjaan!" sarkas Elang saat para wartawan mulai ingin mengarahkan kamera ke arahnya. Berita itu pagi ini sudah di hapus dari seluruh media online tanpa meninggalkan jejak sama sekali. Namun, para wartawan itu seakan punya nyawa dobel, berani mendatangi kediaman Erlangga.
"Sekarang kalian pergi dan beritahu teman seprofesi kalian untuk tidak lagi mengusik kehidupan saya, terutama istri saya Jika kalian masih ingin bekerja. Nanti akan ada waktunya sendiri saya melakukan konferensi pers," jelas Elang. Tanpa menunggu respon, ia langsung balik badan.
"Bagaimana persiapan konferensi persnya?" Elang mengirim pesan kepada Kendra.
"Besok pagi siap bos," balasan dari Kendra.
"Bianca bagaimana?" Elang kembali mengirim pesan.
"Semalam saat dayang-dayangnya datang saya langsung pergi, tidak menunggu operasi sampai selesai," balasan dari Kendra tak lagi di balas oleh Elang, ia memasukkan ponselnya ke dalam saku celana.
Elang segera menuju ke dapur untuk mengambil minum.
"Biar bibi yang bawakan ke atas Tuan muda," tawar Bibi.
"Biar saya saja," jawabnya singkat dan langsung pergi untuk kembali ke kamar. Tak lupa ia membawa beberapa camilan untuk istrinya, karena pasti Senja akan bosan jika terus di kurung di kamar seharian nanti sampai konferensi pers yang sedang Kendra atur siap.
__ADS_1
"Beruntungnya nona Senja memiliki suami seperti tuan muda yang tidak hanya ingin di layani, tapi juga mau melayani," gumam bibi menatap kagum.punggung laki-laki berwajah rupawan tersebut.
Elang masuk ke dalam kamar, istrinya tampak sedang berdiri di depan jendela kamarnya. Elang yakin Senja melihat dirinya saat mengusir wartawan tadi.
Elang meletakkan nampan berisi minum dan camilan yang ia bawa di atas nakas. Ia mendekati Senja.
"Katanya mau minum, itu udah aku ambilkan," ucap Elang, satu tangannya merengkuh pinggang Senja, sedangkan tangan yang satunya menutup kembali tirai yang di buka oleh Senja.
"Jangan ditutup El, biarkan terbuka," ucap Senja dengan nada sendu.
Elang menurutinya, toh para wartawan itu juga sudah pergi dan idak mungkin akan berani kembali lagi jika Erlangga sendiri yang sudah turun tangan memberikan peringatan.
Senja masih tak bergeming dari posisinya, menatap pintu gerbang utama itu dari sana. Tatapannya sangat jelas jika ia sedih, meski selaku berkilah baik-baik saja.
"Kau tenang saja, aku akan membereskan semuanya," Elang mengerti apa yang di rasakan Senja, ia mengecup lama puncak kepala istrinya tersebut.
"Aku tidak apa-apa. Semua berita itu tidak benar. Aku bukan pelakor El, aku tak pernah merebutmu dari siapa-siapa," Senja membiarkan tubuhnya masuk ke dalam dekapan suaminya.
"Aku tahu, Kau tak perlu menjelaskan apapun kepada siapapun. Cukup aku yang akan melakukannya," ucap Elang. Sebenarnya Senja yang selaku bilang dia baik-baik saja tidak Elang sukai, ia ingin Senja mengeluh padanya, menceritakan apa yang dia rasakan, menjadikan Elang tempatnya berkeluh kesah, tidak menyimpan semuanya sendiri. Jika Senja bilang selalu baik-baik saja, bagaimana Elang akan mengobati lukanya. Tapi mungkin karena terbiasa hidup mandiri sejak kecil, membuat perempuan itu lebih kuat, walaupun terkadang hal itu justru menunjukkan jika dia sebenarnya rapuh.
Dari posisinya, Elang melihat mobil Alex masuk ke halaman rumahnya. Ia tahu, pasti cepat atau lambat gossip itu akan sampai terdengar ke telinga orang tuanya. Dan ia yakin, mereka datang untuk meminta meminta penjelasan darinya.
"Sampai lupa kan mau minum, cepat minumlah dan ikut aku turun. Ada mertuamu datang," ucap Elang melepas pelukannya.
"Siapa?" Senja mengikuti pandangan suaminya.
"Mertuamu," menunjuk ke bawah dengan dagunya.
"Itu daddy dan mommy, orang tuamu,"
"Ya aku tahu, tapi lihat saja sebentar lagi akan ada drama anak kandung rasa anak tiri," ucap Elang santai sambil berjalan mengambilkan minum untuk Senja.
__ADS_1
πΌπΌπΌ