
"Dia kenapa sih, udah langsung te *** aja begitu masuk pesawat," ucap Senja, dagunya menunjuk arah Kendra yang kini sedang berada dalam alam mimpinya dengan posisi duduk.
"Dia kurang tidur, akhir-akhir ini selalu lembur sampai larut malam katanya. Semalam juga nggak tidur nemenin aku begadang. Mau ngajak kamu begadang di kasur nggak tega, keliatan capek kamunya. Sekarang kalau nggak ada kamu, aku pasti juga udah ngantuk ini. Udah biarin aja dia tidur, malah nggak ganggu kita kan?" ucap Elang mengerling.
"Kamu sih pakai nyuruh dia jemput segala. Kasihan kan anak orang. Berilah dia waktu untuk dirinya sendiri. Biar cari cewek, biar ada yang diurusin selain kamu. Kasihan jomblo terus," ucap Senja.
" Sini!" Elang menarik tangan Senja supaya duduk di pangkuannya," Udah jangan lihatin dia terus, aku juga bisa cemburu loh meskipun itu Kendra," ucapnya seraya meraih dagu Senja supaya menatapnya.
Senja tersenyum lalu kembali menoleh, melihat Kendra yang tidak sadar sedang menjadi objek kecemburuan Erlangga.
"Tapi, seriusan deh Boo, Kend itu ganteng. Banget malah, masa iya jomblo sih. Kasihan banget, ketampanannya mubazir gitu aja hanya demi mengagumi gisel yang jelas-jelas hanya melihat Rega, tanpa bisa menoleh sedikitpun ke pria lain," ucap Senja yang tetap mengamati Kendra yang sedang tidur dengan pulasnya.
Kening Elang langsung mengkerut begitu mendengar istrinya memuji Kend," Apa kamu bilang? Kend ganteng? Banget?" tanyanya dengan nada tak terima.
" Hehem!" Senja mengangguk dengan mantap.
"Coba katakan sekali lagi kalau Kend ganteng!" kesal Elang.
"Kendra emang gan..." belum juga kenyelesaikan ucapannya, bibir Senja sudah di bungkam duluan oleh bibir Elang.
__ADS_1
"Awas ya, kalau berani bilang ada laki-laki lain ganteng lagi. Terutama si Kend, jangan buat aku tersinggung. Atau aku akan menghukummu," ucap Elang seraya mengendus-ngendus leher Senja. Membuat tubuh Senja meremang.
"Lah, katarak kali yang bilang Kend jelek. Anak kita aja memgakuinya, aku serasa ngidam pengin lihat muka Kend lama-lama," goda Senja yang mana membuat Elang semakin gelisah, merasa kalah saing.
"Sayang, Please dong, jangan buat aku insecure begini. Iya, iya dia ganteng, tapi cukup kamu simpan aja dalam hati, nggak perlu diucapkan," ucap Elang, ingin marah tapi ingat jika istronya sedang hamil, dan mood wanita hamil itu naik turun. Jika ia marah, bisa-bisa Senja lebih marah lagi dan itu tidak mengenakkan buatnya.
"Tapi...."
"Cukup sayang, jangan teruskan. Ya ampun, jangan sampai anakku malah lebih mirip Kend nanti dari pada aku, jangan menimbulkan kecurigaan orang!" peringat Elang.
"Curiga apa?" tanya Senja.
Senja tergelak mendengarnya, "Ya ampun boo, segitunya. Dia anakmu, tentu saja dia akan mirip denganmu. Bagaimana bisa kau berpikiran dia akan mirip Kend, sedangkan yang tanam benih kamu boo. Astaga! Ada-ada saja. Ya, meskipun Kend itu ganteng, tapi.... Suamiku yang terganteng, yang terbaik pokoknya, nggak ada duanya," Senja melingkarkan kedua tangannta di leher Elang lalu menyandarkan kepalanya di bahu Elang.
" Ya, tapi nggak bilang Kend ganteng juga kali, aku hukum beneran nih!" Elang kembali mencium bibir Senja.
" Kalau hukumannya enak begini sih, aku bakal terus bilang Kendra gant..." gida Senja di sela-sela kegiatan penyatuan bibir mereka.
"Nakal ya kamu," Elang mencubit hidung Senja, kemudian ia membenamkan wajahnya di leher sang istri.
__ADS_1
Detik kemudian, Senja menetap Elang penuh arti. Membuat Elang mennggerakkan kedua alisnya keatas dengan arti 'kenapa?'. Senja mendekatkan bibirnya ke telinga Elang lalu berbisik, "Kangen....Pengin," bisiknya sambil tersenyum menggoda.
Elang langsung membulatkn matanya tak percaya, istrinya tersebut berani meminta duluan tanpa malu-malu. Mungkin, karena efek hormon kehamilannya. Namun, detik kemudian seulas senyum langsung tersungging dari bibir Elang, "Be my pleasure nyonya, Erlangga," ucapnya. Tangannya langsung berkelana ke dalam balik dress yang Senja kenakan. Bibirnya sudah menyusuri setip inci wajah dan juga leher jenjang milik Senja. Membuat pertahanan Senja untuk tidak mengeluarkan suara khasnya luruh begitu saja. Suara ******* kecil itu lolos begitu saja dari bibirnya yang merah bak cherry.
Entahlah, semenjak hamil, ia semakin sensisitif dengan sentuhan Elang. Sedikit saja Elang menyentuhnya, terutama di bagian-bagian sensitifnya, mampu membuatnya langsung meremang dalam sekejap, tak perlu waktu lama. Namun, akl sehatnya yang ternyata masih berfungsi dengan baik membuatnya menyentuh tangan sang suami yang kini sedang berselancar di area favoritnya.
Elang menghentikan aktivitas menyenangkannya sejenak, ia menatap Senja dengan tatapan sayu, yang menandakan kalau dirinya sudah di selimuti hawa panas, "Tadi katanya kangen?" tanyanya protes karena kegiatannya yang mampu membuat Senja melayang sesaat tadi di paksa berhenti oleh sentuhan lembut tangan Senja.
Senja menunjuk ke arah Kendra dengan dagunya, "Kalau dia tiba-tiba bangun, dia akan syok melihat pertunjukan secara live, kalau kita melakukannya di sini. Kasihan, nanti matanya ternodai," ucap Senja dengan senyum jahilnya. Ia tak tahu saja, jika mata Kendra memang sudah tidak per jaka lagi.
"Biarkan saja, biar dia belajar secara langsung. Bukankah belajar langsung itu akan lebih mudah di pahami, biar dia lebih matang," jawab Elang.
"Ish boo, nanti dia minta ikut praktik gimana. Alasannya praktik secara langsung akan lebih mudah di pahami, daripada sekedar teori," sergah Senja menggelengkan kepalanya cepat, tak bisa membayangkan jika adegan laganya dan elangbketangkap basah oleh mata Kendra yang baru saja sadar dari alam bawah sadarnya.
"So?" Elang mengernyit, ia tak setuju jika apa yang sudah ia mulai tersebut harus berakhir padahal ia baru melakukan mukadimahnya saja belum sampai ke intinya.
"Pindah kamar Sayang," ujar Senja mengerlingkan matanya. Elang lantas tersenyum dan langsung menggendong Senja ala bridal style memuju kamar yang ada di pesawat jet miliknya tersebut.
Setelah suara langkah kaki Elang tak terdengar lagi, Kendra langsung mendengus sebal," Gagal deh dapat tontonn gratis!" gumamnya gusar dengan mata tetap terpejam. Ternyata kesadarannya sudah kembali ke dunia nyata tepat saat tadi Senja mengeluarkan suara khas enaknya. Kendra sengaja tak membuka matanya dan berpura-pura tetap tidur, demi menjaga harga diri Senja dari rasa malu yang luar biasa jika tahu ternyata Kendra tak tidur. Meski kini ada akhirnya Kendra sendiri yang gelisah, ia butuh mbak Lux sepertinya.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼