Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 78


__ADS_3

Dini hari, Senja terpaksa membuka kedua matanya karena ponselnya terus berdering dan bergetar. Sayup-sayup, diambilnya ponsel tersebut. Nama Dino memenuhi layar ponselnya.


"Dino?" gumamnya tersenyum, sudah lama sekali ia tak bertemu atau berkabar dengan adik sepupunya tersebut. Terakhir mereka bertemu di saat hari pernikahan Senja dan Elang, itupun Dino pulang beberapa saat setelah pesta di mulai karena ibu dan kakaknya tidak tahan melihat Senja yang beruntung menikah dengan Elang yang tamoan dan kaya.


Senja langsung menggeser ikon berwarna hijau lalu menempelkan benda pipih tersebut ke telinganya, "Halo dek, assalamualaikum," ucapnya memulai pembicaraan.


"Waalaikumsalam Kak. Kak Senja apa kabar? Sudah lama Dino nggak tahu kabar kakak, apa kakak baik-baik saja? Apa kakak bahagia? Apa suami kakak memperlakukan kakak dengan baik?"


"Tanyanya satu-satu Dino, kakak jadi bibgung jawabnya," ujar Senja seraya tersenyum.


"Iya kak maaf, Aku hanya khawatir sama kakak. Tapi dari suara kakak, sepertinya kakak bahagia. Setidaknya jaih lebih baik dariada tinggal sama kami," ucap Dino.


"Iya, kakak bahagia, jadi Dino nggak usah khawatirin kak Senja ya,"


"Syukurlahbkalau kakak bahagia, aku senang dengarnya. O ya, selamat ulang tahun ya kak. Semoga panjang umur, dan bahagia selalu. Dan Semoga Allah senantiasa mempermudah segala urusan kakak," ternyata tujuan utama Dino menelepon Senja selain ingin bertanya kabar juga untuk mengucapkan selamat ulang tahun kepadanya.


" Aamiin, makasih ya Din, kamu ingat ulang tahun kakak? Kakak aja lupa," ujar Senja, matanya berkaca-kaca. Ia jadi ingat dengan alamarhum kakek Hardian. Dulu, kakek yang selalu ingat ulang tahunnya. Kakek dan Dino selalu merayakan ulang tahun Senja secara sederhana, paling tidak ada acara makan bersama mereka bertiga.


" Ingat dong kak, masa lupa sama ultah kakak sendiri. O ya, makan-makan nggak nih? Biasanya kita makan di kuar kalau kakak ulang tahun, kali ini aku yang traktir kak. Aku habis gajian kemarin. Dulu kan selalu kak Senja yang trkatir, sekarang gantian deh. Tapi, apa suami kakak ngijinin kakak ketemuan sama aku... " ada nada tidak percaya diri di akhir kalimatnya. Mungkin karena Dino tahu kalau Elang tidak menyukai keluarga bibi angkat Senja yang bersikap tidak naik terhadapnya dulu sehingga Dino pikir, suami Senja tersebut akan membatasi bahkan melarangnya berhubungan dengan mereka termasuk Dino.


"Kamu kerja Din?" Senja menoleh ke arah Elang yang masih pulas, ia memelankan suaranya supaya tidak menggangu tidurnya.


" Terus kuliah kamu gimana?" lanjutnya.


"Hanya part time kok kak, nggak full. Kuliah aman jadinya. Jadi gimana kak, bisa kita keluar makan bareng? Aku kangen sama kakak, maubke rumahbka Senjantapi takut ganggu juga,"


"Kamu ngomong apa sih Din, yang ganggu kakak siapa. Kakak jugbkangen sama kamu tahu. Tapi, sekarang kakak nggak bisa, kakak lagi di Paris Din," ucap Senja.


"Paris, Perancis kak?"

__ADS_1


"Iya, kakak lagi bulan madu," sahut Senja malu-malu, ia kembali menoleh melihat Elang yang tidak terusik oleh suaranya. Senja tersenyum tipis, karena nyatanya bulan madu mungkin hanya sebagai judul perjalanannya saja ke Paris, karena nyatanya merekanbelum juga melakukannya sejak tiba di sana. Namun, bagi senja tak masalah, apa yanh suaminya lakukan selama ini sudah sangat banyak dan buay dia semakin Tak melulu soal di atas ranjang saja, bulan madu mereka kali ini , justru terasa sangat istimewa


"Sama ada sedikit urusan yang harus dinurus di sini," imbuh Senja.


"Waaah, kalau begitu sekarang di sana masih dini harindong kak, aku ganggu berarti ini ya? Aku kira kakak di Jakarta, makanyabaku telepon jam tujuh, biar nggak ganggu tidur kakak. Eh malah ganggu ternyata..." dari nadanya, Dino pasti merasa bersalah.


Senja melihat jam dinding di kamarnya, memang masih jam dua dini hari di Paris," Enggaklah, nggak ganggu kok. Tadi kakak tidur terlalu awal, jadi nggak apa-apa kebangun jam segini," timpal Senja.


" Ya udah kak kalau begitu, kakak lanjut aja istirahat, lanjut kapan-kapan lagi ngobrolnya. Kakak jaga diri baik-baik ya, dan... Harus selalu bahagia," mengetahui Senja sedang di Paris, Dino jadi tidak enak kalau harus berlama-lama ngobrol karena ia tahu sekarang waktu istritahat di negara tersebut.


"Iya Dino sayang, kamu juga jaga diri baik-baik yah. Kuliah yang benar, jangan terlalu memaksa buat kerja, kalau mengganggu kuliah kamu. Kalau ada butuh apa-apa bisa bilang kakak, pasti kakak bantu kalau bisa. Nanti kapan-kapan kalau kakak udah balik ke Jakarta kita ketemu yah. Traktirannya di pending dulu, nanti kakak tagih pokoknya,"


" Iya kak siap, udah dulu ya kak. Assalamualaikum.


"Waalaikumsalam," jawab Senja,


"Sekali lagi Selamat ulang tahun kak..." ucap Dino sekali lagi sebelum ia benar-benar memutus panggilannya.


"Astaga boo, ngagetin aja," ucap Senja.


"Siapa yang di panggil sayang tadi?" rupanya Elang mendengar saat tadi Senja menyebut Dino sayang. Perasaan tadi ia tertidur sangat pulas, tapi kenapa pendengarannya peka sekali kalau soal hal-hal yang berbau mengundang kecemburuannya, Senja tak habis pikir.


" Siapa?" tanya Elang sekali lagi penuh selidik. Karena Senja tak langsung menjawab.


"Oh itu, tadi Dino yang telepon sayang," Senja melembutkan suaranya, tangannya menyentuh pipi Elang yang di tekuk, karena sudah terindikasi adanya kecemburuan.


"Dino siapa? Dinosaurus?" masih terlihat kesal.


"Dino adik sepupu angkat aku Boo, masa lupa,"

__ADS_1


"Ohh..." Elang hanya berohria, ia juga tak terlalu mengingat siapa nama sepupunya Senja tersebut, sedikit banyak ia tak peduli apalagi soal keluarga tante angkatnya.


"Kenapa telepon jam segini?" tanya Elang, ia masih belum puas karena belum mendapat penjelasan soal panggilan sayang Senja tadi terhadap Dino.


"Cuma nanyain kabar aja, udah lama aku nggak berkabar sama dia, kangen juga. Dia satu-satunya yang peduli sama aku..."


"Aku nggak di anggap?" Elang langsung menyerobot tak terima dengan ucapan Senja.


"Iya, my Boo juga, paling peduli malah. Maksudku dulu, selain kakek, hanya Dino peduli , care sama aku. Aku sayang sama dia sebagai adik, itu aja," Senja menangkup kefua pipi Elang.


"Nggak juga harus panggil sayang kan? Cukup Dino saja," Elang mengungkapkan ketidaksukaannya, biar bagaimanapun menurutnya mereka tidak ada hubungan darah dan itu bisa memicu salah paham, atau sebenarnya Elangnya saja yang over posesif, berpikir berlebihan.


"Cemburu? Masa sama adik aku cemburu juga sayang. Lagian mana ada sih yang suka sama aku, apa lagi ingin merebutku dari tuan Erlangga, hem. Jangan berpikir terlalu jauh Boo,"


"Ada, banyak. Banyak yang suka dan ingin merebutmu dariku tentunya. Kamu tahubitu sayang. Pokoknya jangan panggil orang lain sayang lagi, atau aku akan mengurungmu di kamar seumur hidupmu,"


"Iya, Dino saja, nggak sayang lagi," Senja mengecup bibir suaminya, cara ampuh meluluhkan hati suaminya jika sedang di landa cemburu.


"Ya udah, ayo tidur lagi, masih jam segini," Elang menarik Senja untuk berbaring dalam pelukkannya.


"Em, tadi sebenarnya Dino telepon juga untuk mengucapkan selamat ulang tahun buat aku," ucao Senja pelan, ia mendongak, menunggu reaksi Elang, apa suaminya ingat atau tau kalau hari ini adalah hari ulang tahunnya.


"Hem, lanjut besok ngobrolnya, sekarang tidurlah lagi," bukannya mengucapkan selamat, Elang justru hanya mempererat pelukkannya dan matanya semakin rapat terpejam. Tadi saja, matanya membelalak saat dengar Senja panggil orang lain sayang, tapi dengan kata ulang tahun, biasa saja. Tidak cemburu juga karena keduluan Dino ngucapinnya? Tidak merasa di salip sama Dino? Senja hanya bisa mendesah pelan, mungkin memang suaminya tersebut tidak suka mengucapkan atau mendapat ucapan selamat ulang tahun, makanya cuek, pikirnya.


Elang hanya tersenyum dalam diam, ketika hembusan napas kecewa Senja menerpa lehernya.


Senja pun akhirnya, memilih berpikir positif dan ikut memejamkan matanya dalam pelukan Elang.


__ADS_1


💠💠Udah hari senin lagi nih, yuk vote dan hadiahnya buat Senja yang lagi ultah... 😄😄


__ADS_2