Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 109


__ADS_3

Senja, Sarah dan juga pak Erlan (Direktur utama) seperti sedang kehabisan kata-kata ketika ketiga orang itu menunggu kedatangan Niko ke ruangan tersebut. Bukan karena Niko yang akan datang, melainkan karena kini ruang Kerja Senja di penuhi oleh bunga.


Setiap sudut ruangan tersebut penuh dengan berbagai macam rangkaian bunga yang di rangkai dengan begitu cantiknya.


Ketiganya hanya bisa melongo, saat petugas pengantar bunga tersebut masih saja memasukkan bunga-bunga ke dalam ruangannya. Dan sudah bisa di pastikan, jika saat ini di lobby perusahaan pasti sedang heboh karena ulah dari suami pemilik perusahaan tersebut.


"Nja, suami kamu lagi mindahin toko bunga ke sini?" bisik Sarah setengah tak percaya, ia bahkan seperti tak memiliki tempat untuk sekedar berdiri sangking banyaknya bunga di ruangan tersebut yang kini lebih mirip seperti toko bunga.


Senja hanya mengangkat bahunya sambil mendesah sebagai jawaban.


Entah, ia sendiri merasa dilema, antara terharu dan bahagia karena usaha suaminya untuk meminta maaf, atau harus merasa kesal karena ini terlalu berlebihan. Padahal, satu buket bunga saja sudah bisa mewakilkan perasaan suaminya tersebut. Kenapa harus sebanyak ini? Bahkan mungkin pemilik tokonya juga akan dia beli kalau mau.


Tapi, kembali lagi, bukan Elang namanya kalau tidak melakukan sesuatu secara maksimal. Dan Senja paham betul akan sikap suaminya itu. Tapi, lebih dari itu semua, kehadiran suaminyalah sebenarnya yang paling ia nantikan. Perdebatan tadi pagi sungguh membuatnya gelisah dan tak tenang. Ya, ia sendiri yang memperpanjang masalah, tapi ia juga jadi merasa tidak tenang.


"Elang emang luar biasa!" puji pak Erlan sambil menggut-manggut, "Bisa di contoh nih kalau istri lagi anjlok moodnya," sambungnya lagi.


Sarah mengangguk setuju dengan ucapan pak Erlan. Ia jadi beranda-andai sendiri. Andai suatu saat ia memiliki suami seromantis suami bosnya, pasti dia bakal kekepin terus suaminya nanti.


Tok tok tok!


Suara ketikan pintu membubarkan lamunan ketiga orang tersebut. Tampak Niko berdiri di depan pintu yang terbuka karena petugas pengantar bunga masih sibuk wira-wiri memasukkan dan menata bunga supaya muat di dalam.


"Masuk!" ucap Senja mempersilakan Niko.


"Em, pak. Bunga-bunga yang belum masuk, bisa di letakkan di depan saja, di sini sudah terlalu banyak, terima kasih," ucap Senja kepada petugas pengantar bunga.


Niko melangkah masuk berpapasan dengan keluarnya petugas pengantar bunga. Ia sedikit bingung dengan suasana ruangan wakil direktur yang penuh bunga tersebut. Tapi, bukan itu intinya dia di panggil ke sana, bukan untuk memikirkan soal rangkaian-rangkaian bunga itu. Pasti bukan, pikirnya dalam hati.


Niko sedikit terkejut, karena tak hanya Senja yang ada di ruangan tersebut, melainkan ada pak Erlan yang selama ini di percaya sebagai direktur di kantor tersebut.


"Silahkan duduk, pak Niko," ucap Senja. Tanpa basa-basi lagi, Senja langsung menyodorkan berkas bukti kejahatan yang Niko lakukan.

__ADS_1


"Saya tidak menyangka Anda bisa melakukan semua ini. Anda melakukan penggelapan dana perusahaan dengan jumlah yang besar," ucap pak Erlan tegas.


Wajah Niko seketika pucat, ia melihat Senja yang kini hanya mampu menunjukkan raut kekecewaan yang dalam.


"Senja, tolong dengarkan penjelasan dulu," Niko berusaha mencari pembelaan, padahal bukti nyata kalau dia sudah merugikan perusahaan.


"Tolong jaga bicara Anda, pak Niko. Saya di sini atasan Anda, dimana sopan santun Anda?" ucap Senja tegas.


Niko tercengang, Senja yang dikiranya masih sama, ternyata sudah berubah.


"Maksud saya, tolong dengarkan penjelasan saya, bu Senja," Niko buru-buru meralat ucapannya.


"Semua sudah jelas, tidak ada lagi yang perlu di jelaskan. Mulai hari ini, Anda saya pecat. Seluruh fasilitas yang di berikan oleh Kantor akan di sita," ucap Senja tanpa ragu.


Niko membelalakkan matanya, perempuan yang dulu tak pernah tega kepadanya, yang selalu mendukungnya dan menurut dengan apa yang dia katakan, kini bicara dengan tegas tanpa ragu sedikitpun.


"Senja, kita Bisa bicarakan ini baik-baik. Kamu tahu aku, aku nggak mungkin melakukan hal seperti ini, kamu tahu aku seperti apa kan?" masih saja berilah, membuat yang ada di sana berdecak sebal, terutama Sarah. Ia yang sudah tak sabar menunggu kepergian Niko dari perusahaan.


"Waktu bisa merubah sikap seseorang, pak Niko. Jika dulu mungkin saya tahunya Anda orang baik, tapi saya juga percaya kalau sekarang Anda juga bis jadi orang licik dan jahat.


" Ayolah, Senja. Uang segitu tak ada apa-apanya dengan apa yang sudah aku lakukan dulu buat kamu,"


Senja tersenyum sinis, dalam hatinya merasa sakit. Memang, dulu setiap kesusahan, Niko selalu membantunya. Dalam hal apapun, pria itu selalu ada untuknya sebelum semuanya berubah karena sebuah pengkhianatan yang dilakukannya. Senja tak menyangka, Kebaikan yang dulu Niko lakukan untuknya, kini diungkit seakan sedang meminta balasan.


"Saya tidak pernah melupakan setiap detail kebaikan Anda, pak Niko. Dan saya ucapkan banyak terima kasih kepada anda yang dulu sudah banyak membantu saya..."


Niko sedikit tersenyum, ia pikir Senja mulai goyah.


"Tapi, bukan berarti saya memaafkan apa yang sudah Anda lakukan terhadap perusahaan ini. Saya masih berbesar hati, dengan tidak menjelaskan Anda ke penjara, karena saya kasihan kepada istri Anda yang sebentar lagi melahirkan. Anda hanya akan di pecat tanpa pesangon, dan seluruh fasilitas perusahaan akan di tarik kembali. Itu saja," Ya, setidaknya Senja masih berbaik hati tidak memenjarakan Niko. Bukan karena ia peduli dengan pria itu, tapi karena ia ingat bayi yang tak berdosa di dalam perut mantan sahabatnya.


Ia yakin, setelah ini pun, jika Niko ingin mencari pekerjaan di tempat lain akan sulit. Tak akan ada perusahaan yang mau menerima orang yang sudah melakukan kejahatan di perusahaan sebelumnya. Pengalaman akan mengajarkan orang untuk berpikir.

__ADS_1


Niko terdiam, ia tak lagi bisa membujuk. Wanita di depannya benar-benar sudah berubah, bukan lagi Senja yang ia kenal dulu.


"Masih mending nggak di penjara, kalau aku jadi Senja, udah aku kirim ke kutub Utara aja, biar beku di sana sam kayak hatinya, jahat," cibir Sarah lirih hampir tak terdengar.


"Senja, kenapa kamu melakukan ini kepadaku? Apa karena kamu dendam sama aku, kalau soal itu aku benar-benar minta maaf, aku menyesal,"


"Ini tak ada hubungannya selain karena pekerjaan, Anda telah melakukan kejahatan terhadap perusahaan, ini tak ad hubungannya dengan masa lalu di antara kita. Sekarang semuanya berakhir, hubungan pekerjaan pun sampai di sini. Jika tak ada lagi, Silahkan Anda keluar dari sini dan segera kemasi barang-barang Anda!" ucap Senja tegas.


Ia ingin masalah ini segera berakhir. Tak ingin ada urusan lagi dengan Niko.


"Ta-tapi...."


"Pak Niko, seertinya semua sudah jelas. Silahkan anda segera mengemasi barang-barang anda dan tinggalkan perusahaa! Atau saya akan menyeret Anda ke kantor polisi!" geram pak Erlan. Dia benar-benar kecewa, dulu Niko adalah karyawan terbaik ya yang selalu ia banggakan. Tapi, kini ia mengecewakan. Benar-benar mengecewakan.


Tak bicara lagi, Niko langsung berdiri untuk meninggalkan ruangan tersebut.


" Maafkan aku atas semua yang sudah terjadi. Aku benar-benar menyesal. Andai saja waktu bisa berputar kembali, mungkin aku akan berpikir dua kali untuk semua ini," ucap Niko sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan Senja.


Setelah Niko keluar, pak Erlan juga ikut keluar dan kembali ke ruangannya.


Senja menghela napasnya dalam, ruangan tersebut kembali tenang dan sepi. Menyisakan dirinya, Sarah dan juga bunga-bunga dari Elang yang menyebarkan aroma harum ke seluruh ruangan.


"Semua berubah Sar. Niko yang aku kenal kini tak ada lagi, dia benar-benar berubah. Kenapa dia mau mempertarihkan semuanya demi menikahi Mitha," ucap Senja menerawang. Padahal ia hanya ingin semua kembali berdamai, karena kini ia telah menemukan kebahagiaannya sendiri.


Ia tak ingin lagi memeprmasalahkan kisah masa lalu ya yang menyakitkan. Secara tidak langsung, Senja berterima kasih atas pengkhianatan Niko dan Mitha yang pada akhirnya membawa dia kepada kebahagiaannya, Elang.


Sarah mendekat dan mengusap punggung sahabatnya tersebut, "Semua ini sudah menjadi pilihannya pak Niko Nja, ia pintar seharusnya tahu konsekuensi dari apa yang perbuat. Tapi dia memilih melakukannya. Mitha yang sudah merubah ya menjadi jahat, bukan kamu,"


🌼 🌼 🌼


πŸ’ πŸ’ Jangan lupa like, komen dan hadiahnya... Karena satu like dari kalian sangat berarti buat author... Terima kasih πŸ™πŸΌπŸ™πŸΌ

__ADS_1


Salam hangat author πŸ€—β€οΈβ€οΈπŸ’ πŸ’ 


__ADS_2