
Suara dengkuran halus di tangkap oleh telinga Senja ketika ia membuka matanya. Sepertinya suaminya itu kelelahan karena ia harus bekerja siang hari dan ikut menjaga baby Zea di malam hari. Tadi, setelah menyusui baby Zea, Elang menyuruh Senja untuk tidur. Sementara ia yang menjaga baby Zea yang masih terjaga meskipun sudah kenyang.
Senja turun dari ranjang, ia merasa perutnya lapar. Saat hendak melangkah, ternyata baby Zea juga terbangun. Karena tak tega membangunkan suaminya yang mungkin baru beberapa menit terlelap, akhirnya Senja menggendong baby Zea.
"Kok Zea bangun? Mau temenin mommy cari mamam ya, sayang?" Senja terus mencium pipi bayi berusia tiga bulan tersebut.
Suasana dapur begitu sepi mengingat ini masih terlalu dini hari untuk para penghuni rumah besar tersebut bangun, termasuk para asisten rumah tangga.
Saat Senja menghangatkan makanan yang akan ia makan, ia di kejutan dengan seseorang yang baru saja mencium pipinya.
"Sayang,... Ngagetin aja. Kirain siapa," ucap Senja saat menoleh dan melihat suaminya sudah berdiri di sampingnya.
"Kok nggak bangunin aku?"
"Nggak tega buat banguninnya, kamu kelihatan capek banget," jawab Senja.
"Aku tuh nggak ada capek, sayang. Kan aku udah bilang, kalau butuh apa-apa, atau Zea mau ganti popok atau mimik asi, bangunin aku. Aku temenin. Sini Zea sama daddy. Mommy biar makan dulu,"
Senja menyerahkan Zea ke tangan Elang. Selama di Paris, mereka berdua sepakat untuk tidak memakai baby sitter. Senja ingin mengurus baby Zea dengan tangannya sendiri. Setelah kembali ke Jakarta nanti dan Senja sudah aktif bekerja kembali, ia baru akan memakai baby sitter untuk membantunya menjaga baby Zea jika ia sedang bekerja. Rencananya, mereka akan membawa baby Zea ke Jakarta satu bulan lagi, saat bayi cantik itu berusia empat bulan.
"Kamu makan dulu, aku dan Zea temenin," ucap Elang dan Senja mengangguk. Ia makan dengan lahapnya.
"Lapar banget ya, sayang?" tanya Elang yang memperhatikan istrinya makan.
Semenjak menyusui, Senja memang sering di landa lapar, meski malam, ia tak peduli tetap makan. Tak peduli jika berat badannya akan bertambah, semua demi Zea. Tapi, kenyataannya, tubuhnya tetap sama, tak bertambah gemuk dari sebelumnya, satu hal yang sangat ia syukuri. Bisa makan sepuasnya tanpa berpikir untuk diet.
__ADS_1
"Mau makan lagi?" tanya Elang yang melihat piring di depan Senja sudah tandas habis.
Senja menggeleng, "Udah kenyang, kita kembali ke kamar aja. Kaku pasti capek, tidur lagi," ucapnya.
Tiba di kamar, Elang menaruh baby Zea ke dalam box bayi yang ada di kamar utama tersebut.
"Kok di taruh di box?" tanya Senja heran, biasanya baby Zea selalu tidur diantar mereka. Kecuali....
"Cuma sebentar, daddinya kangen pengin berkeringat bareng momminya," bisik Elang seraya mengedipak sebelah matanya sebagai kode.
"Ck, dasar!" balas Senja.
"Ayolah, nyonya. Udah rindu berat ini. Nggak bisa di tahan. Udah makan juga kan? Tenaga full donk pasti,"
"Nanti Zea bangun gimana?"
"Beneran kilat ya? Nggak mau Zea bangun as kita lagi gituan, ngerasa berdosa banget asti, anaknya nangis malah kita tinggal ***-***," kata Senja yang mulai memejamkan matanya mendaat sentuhan lembut dari suaminya.
"Iya. Tenang aja, ekspres pokoknya!" jawab Elang. Dan seperti itulah mereka yang selalu memanfaatkan waktu yang singkat di sela-sela jam tidur baby Zea untuk melakukan kegiatan di atas ranjang. Meski kilat yang penting bagi Senja adalah kebutuhan dua orang penting dalam hidupnya itu sama-sama terpenuhi.
πΌπΌπΌ
Sembilan bulan kemudian...
Aroma harum semerbak dari dapur milik Senja pagi itu. Membuat Elang tak bisa menahan diri untuk tidak mendekat.
__ADS_1
"Pagi mommy!" Elang mencium pipi Senja yang sedang menyiapkan sarapan. Satu tangannya merengkuh tubuh sang istri dari belakang.
"Pagi juga daddy," sahut Senja tersenyum.
"Eh, anak mommy udah bangun? Pagi, sayang," Senja yang menyadari Zea ada di gendongan Elang langsung mencium gemas bayi yang tinggal menunggu jam saja akan berusia genap satu tahun tersebut.
"Masak apa sayang?" tanya Elang.
"Lagi buat spaghetti bolognise buat sarapan, boo," Tunggu saja di meja makan, sana. Sebentar lagi selesai," jawab Senja sambil mengaduk spaghetti yang hampir jadi itu.
"Kenapa nggak mbak aja sih yang masak? Kamu bawa perut aja kayak udah berat banget begini, nggak erku masakin aku nggak apa-apa, sayang," kata Elang yang tidak tega melihat istrinya yang kini sedang hamil anak kedua mereka. Rupanya, kegiatan mencari keringat bareng dini hari waktu itu berhasil menumbuhkan satu bibit unggul Elang kembali dalam rahim Senja.
Awalnya Elang merasa bersalah karena terlalu ceat menghamili istrinya kembali, apalagi terhadap baby Zea. Tapi, buat Senja itu sebuah anugerah, ia justru berterima kasih kepada Elang karena sudah menghamilinya lagi yang memang keinginannya untuk segera hamil kembali. Ia ingin melahirkan anak yang nanya untuk suaminya tersebut sebagai tanda cintanya.
Dan tentu saja, kasih sayang yang mereka curahkan buat baby Zea tak berkurang sedikitpun meski Senja kini sedang hamil.
"Enggak apa-apa, boo. Nggak capek. Justru aku harus banyak gerak, biar lahiran nanti bisa lancar. Uhhhh Zea haus ya? Sebentar ya, mbak, tolong buatkan Zea susu!" teriak Senja keada baby sitter yang membantu menjaga Zea.
"Sebentar ya sayang, mommy hampir selesai, habis itu Zea mik cucu sama mommy," Senja kembali mencium baby Zea yang sudah merengek-rengek minta di gendong oleh sang ibu.
"Zea sama daddy aja, ya. Kasihan mommy, tuh dalam perut mommy ada Dedek. Zea mau dedek cewek apa cowok?" tanya Elang. Namun, bayi berusia satu tahun itu tak menjawab.
Elang selalu gemas dengan tingkah putri kecilnya yang sebentar lagi akan menjadi kakak tersebut. Rasa penat dan lelah akibat pekerjaan akan menguap begitu saja ketika ia melangkahkan kakinya ke dalam rumah, gadis cilik ya itu selalu menyambut dengan riangnya. Bahkan, Zea akan setia menunggu Elang di depan kamar mandi hanya demi di suapi makan atau sekedar minta digendong ayahnya tersebut. Benar-benar anak daddy.
Hal itu membuat Senja, tak sabar ingin segera melahirkan anak kedua mereka, berharap yang kedua akan menjadi anak mommy.
__ADS_1
πΌ πΌ πΌ
π π Masih ada lagi, jangan lupa like di setiap babnya ππΌππΌπ π