
Pukul dua dini hari, Senja terbangun karena haus. Tanpa mengenakan pakaiannya terlebih dahulu, Senja langsung menarik selimut yang menutupi tubuhnya dan Elang hingga kini tubuh suaminya yang hanya memakai celana kolor tanpa memakai baju tersebut terekspos. Selimut itu ia gunakan untuk menggulung tubuhnya.Senja melirik sekilas ke arah suaminya yang tak terusik sama sekali, tetap terlelap. Perlahan Senja keluar kamar menuju ke dapur karena di kamar ia tak mendapati minum.
Setelah kembali ke dalam kamar, Senja tak lantas tidur, ia mendekati jendela kamar tersebut, mengamati deburan ombak dari pantai yang pencahayaannya hanya dari sinar bulan purnama tersebut. Entahlah apa yang wanita tersebut kini pikirkan, yang jelas, ia tersenyum mengingat apa yang semalam tadi dilakukannya bersama Elang.
Berbeda dengan waktu pertama kali mereka melakukannya yang berakhir dengan sedikit kekecewaan karena mereka melakukannya karena khilaf waktu itu. Namun, kali ini sangat berbeda, baik dirinya maupun Elang sama-sama menikmatinya. Bahkan di akhir pergumulan mereka, Elang mengucapkan kata cinta untuknya. Pipinya langsung bersemu merah jika mengingatnya.
"Ada apa denganku? Apa aku mulai menyukainya? Secepat ini?" gumamnya dalam hati, tangannya menyentuh pipinya yang memerah.
"Jangan GR dulu Senja, bisa jadi dia mengatakan cinta karena terbawa suasana saja," batinnya lagi.
Angin yang berhembus ke dalam kamar, membuat Elang yang tidak memakai baju terbangun. Dikuceknya kedua matanya dan langsung menangkap sosok istrinya yang sedang berdiri di sudut ruangan dalam gulungan selimut.
Elang bangun dan mendekati istrinya. Di peluknya Senja dari belakang.
"Kenapa berdiri di sini jam segini? Apa yang semalam kurang? Mau lagi?" Elang menjatuhkan dagunya di pundak Senja yang terbuka.
Senja tak menoleh, ia tahu hanya dari napasnya saja sudah hapal jika itu suaminya, apalagi dari sikap dan suaranya. Ia tersenyum seraya memejamkan matanya sekilas, menikmati pelukan Elang.
"Tadi aku kebangun karena haus El," ucapnya.
"Kenapa tidak membangunkan aku? Biar aku ambilkan minumnya,"
"Kau tidur lelap sekali tadi,"
Elang mencium leher Senja, sepertinya ia masih ingin melanjutkan pertempuran semalam.
"El, aku sudah lelah," ucap Senja, ia tidak sanggup lagi jika harus melayani suaminya. Seluruh badannya sudah terasa lelah.
"Baiklah, sekarang kita tidur lagi," ucap Elang yang langsung mengangkat tubuh Senja dan membawanya ke ranjang.
"El, beneran aku sudah lelah," ucap Senja dengan wajah memelas.
"Aku hanya mengajakmu tidur," Elang merebahkan tubuh Senja di atas tempat tidur.
Senja pun bernapas lega. Elang ikut menyusup masuk ke bawah selimut yang menutupi tubuh polos Senja. Di peluknya tubuh istrinya yang tak memakai apapun tersebut. Membuat hormon laki-lakinya bangkit kembali.
Susah payah Elang menahannya, ia tak ingin membuat Senja kelelahan hingga besok pagi bisa-bisa tak mampu berjalan jika ia paksa untuk melayaninya lagi. Di liriknya Senja sudah tertidur kembali, sementara ia masih harus berjuang menekan nafsunya yang kembali membuncah.
πΌπΌπΌ
Pagi pun tiba, cahaya matahari yang menyeruak masuk ke dalam kamar melalui celah-celah gordyn membuat Senja mulai mengerjapkan kedua matanya, untuk menyesuaikan dengan cahaya yang masuk tersebut. Ia menoleh ke sebelahnya, kosong. Tak ada suaminya di sana.
"Kemana dia? Apa sudah berangkat ke kantor? Jam berapa ini, masa iya sudah berangkat jam segini," gumamnya.
Tiba-tiba sosok yang sedang ia cari tersebut keluar dari kamar mandi sambil mengacak-acak rambutnya yang basah menggunakan handuk berwarna putih. Sementara tubuhnya hanya di lilit oleh handuk sebatas pinggangnya saja tanpa memakai atasan.
"Kau sudah bangun?" Elang mendekati Senja yang sedang memperhatikannya dengan tatapan kagum. Melihat air yang menetes dari rambutnya yang acak-acakan membuat Senja semakin mengagumi ketampanan suaminya tersebut.
"Kenapa? Aku tampan ya?" goda Elang tersenyum melihat Senja yang termangu menatapnya. Ia duduk di samping istrinya yang masih dalam posisi tiduran.
"Bangun dan mandilah, aku akan membuatkanmu sarapan. Kau pasti sudah lapar kan karena tenagamu terkuras semalam," ucapnya lembut, tangannya menyisipkan rambut Senja yang acak-acakan ke belakang telinganya.
"Iya, aku sudah lapar sekali," ucap Senja manja.
"Makanya, cepat sana mandi. biar nanti setelah makan ada tenaga lagi buat ehem-ehem," goda Elang.
Senja langsung membulatkan matanya sempurna mendengar ucapan Elang.
"Mau lagi?" tanyanya polos.
__ADS_1
"Tentu saja, kau pasti juga mau lagi kan? semalam saja kau begitu seksi, apalagi suaramu sangat seksi saat menyebut namaku. El oh el, terus El,"
Senja langsung mencubit pinggang Elang karena di goda oleh suaminya tersebut.
"Hahahaha kenapa? ingatkan sekarang, betapa kamu menikmatinya, El oh El," goda Elang lagi tersenyum.
"Tahu ah!" Senja langsung menutup telinganya menggunakan bantal, menyembunyikan wajahnya yang kini sudah bersemu merah.
"Aku tidak bersuara seperti itu!" protesnya dari balik bantal.
"O iya, tidak begitu tapi, terus sayang, terus El," ucap Elang terkekeh. Ia senang sekali menggoda istrinya tersebut.
"Elang! udah pergi sana! aku mau mandi," usirnya.
Elang menarik bantal yang menutupi kepala Senja. Langsung dikecupnya kening istrinya tersebut.
"Terima kasih buat semalam, sering-sering ya,"ucapnya menyeringai, dan langsung beranjak untuk memakai bajunya.
"Tapi, kau harus hati-hati El, harus ikut menghitung siklus bulananku, kau sudah janji semalam,"
"Baiklah," ucap Elang sambil memakai bajunya.
"Cepatlah mandi sana, atau mau aku ajak olah raga lagi?"
Senja langsung menarik selimutnya, dan membawanya ke kamar mandi. Sementara Elang turun ke dapur untuk membuat sarapan.
πΌπΌπΌ
Selesai sarapan, Senja dan Elang langsung kembali ke kamar. Elang terpaksa harus mandi lagi karena ia merasa badannya bau setelah tadi berkutat di dapur. Sementara Senja menyiapkan setelan jas dan dasi yang ia taruh di atas tempat tidur yang sudah ia rapikan tadi.
Setelah menyiapkan pakaian suaminya, Senja turun ke bawah membukakan pintu untuk Kendra yang baru saja tiba.
"Kenapa pakai pencet bel Kend? Bukannya kau tahu passcodenya?" tanya Senja setelah membuka pintu dan langsung kembaki masuk diikuti oleh Kendra.
"Kau mau menggajiku?" cebik Senja.
"Saya bukan Sultan seperti bos nona, apa Anda mau menerima gaji recehan dari saya?"
" Kend,"
"Ya nona?"
"Kenapa kamu selalu menyebalkan seperti ini?"
Kendra tak menjawab, ia justru fokus dengan benda pipih di tangannya.
"Tahu ah! Kenapa pagi-pagi kau sudah ke sini? Tidak ada pekerjaankah?"
"Ini pekerjaan saya nona," sahut Kendra cuek tanpa menoleh kepada yang di ajak bicara.
Senja langsung menghentakkan kakinya meninggalkan Kendra.
"Kau tunggulah, biar aku panggilkan El," ucapnya tanpa Menoleh.
"Terima kasih nona," ujar Kendra.
Sesampainya di kamar, Senja melihat Elang sedang mengancingkan kancing lengan kemejanya. Senja meraih dasi dan memasangkannya tanpa bersuara.
"Kenapa kau cemberut seperti itu?" tanya Elang menarik pinggang Senja hingga lebih mendekat.
__ADS_1
"Kenapa kau mempunyai asisten menyebalkan seperti itu?" sahut Senja.
Elang hanya tersenyum mendengarnya.
"Apa kau mau memecatnya?" tantang Elang.
"Bisakah?"
Elang menggeleng.
"Aku tidak bisa melakukan apapun tanpanya, dia yang menemaniku dari titik nol hingga sekarang. Dia bukan hanya sekedar asisten buatku. Kau jangan membuatku harus memilih, karena aku tidak bisa,"
"Hahaha aku hanya bercanda El, aku tahu dia menyebalkan seperti itu pasti ketularan dirimu. Kamu yang mengguruinya kan?" Ujar Senja terkekeh, ia mengurut simpul dasinya ke atas.
"Kau ini, kenapa selalu menggemaskan? Ah aku tahu kenapa kamu cemberut, pasti karena menginginkannya lagi kan? Kendra hanya sebagai alasan kan? Aku rasa, aku masih ada waktu sekitar lima belas menit lagi, cukup buat tambahan," ucapnya menyeringai.
"Ti tidak, cepatlah. Kend sudah menunggumu," Senja mengambil jas Elang dan memakaikannya.
πΌπΌπΌ
"Kend, apa jadwalku hari ini?"tanya Elang begitu melihat Kendra yang sedang duduk di ruang tamu.
"Hari ini menemui investor lama kita bos," jawab Kendra.
"Siapa?" tanya Elang.
"Dari perusahaan Aditama Bos,"
"Siapa yang akan datang?"
"Nona Claudya bos,"
Elang mengembuskan napasnya mendengar nama tersebut. Ia sudah menduga jika pasti wanita yang menggilainya tersebut jika ada pertemuan antara perusahaan mereka setiap kali Elang ke kota tersebut. Wanita tersebut selalu menggunakan kesempatan pertemuan mereka untuk menggoda Elang.
"Senja, kau ikutlah denganku!" Elang menoleh ke arah istrinya yang berdiri di belakangnya.
"Aku?" menunjuk wajahnya sendiri.
"Hem," Elang mengangguk.
"Bolehkah?"
"Tentu nona, Anda akan menjadi pahlawan bos hari ini jika ikut," Kendra yang menjawabnya.
Senja menatap Kendra, seolah bertanya apa maksudnya.
"Sudahlah jangan dengarkan dia, kau bersiaplah," ucap Elang.
Senja naik ke atas untuk berganti pakaian.
"Kenapa kau tidak bilang jika wanita itu yang akan kita temui?" protes Elang setelah Senja pergi.
"Barusan saya bilang bos, dan juga sudah biasa kan wanita itu yang datang untuk meeting?"
"Ck. Dasar! Satu lagi, jangan menatap istriku seperti itu," peringatnya.
"*Lalu aku harus menatap nona seperti apa? Kalau menatapnya biasa saja tidak boleh. Apa aku harus merem ketika bicara dengannya?"
__ADS_1
π Jangan lupa like, komen dan hadiahnya. Buat yang belum update MT maupun NT yuk buruan update, karena jika belum update poin atau koin yabg kalian kasih tidak masuk.
O ya, novel Senja untuk Elang ini sengaja belum aku kontrakin, dan tahu kan kalau tidak kontrak tidak dapat apa-apa? Aku masih mikir-mikir apa mau tetap lanjut di sini atau aku ungsikan. Tapi jujur, aku mencintai kalian pembaca cerita recehku di sini. Dan berat banget jika harus meninggalkan kalian, jadi yuk ah biar cinta kita berbalaskan dukung aku biar tetap semangat nulis di sini, berikan cinta kalian buatku juga π€π€π€π π π