
Elang tengah berdiri dengan terus tersenyum memandangi Senja yang saat ini tengah berdiri di depannya. Mengenakan apapun, istrinya selalu tampak cantik.
"Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Senja, ia menunduk mengamati penampilannya yang mengenakan mini dress berwarna merah muda berlengan panjang yang menutupi sampai bawah lututnya tersebut.
"Cantik, selau cantik," puji Elang tersenyum.
Senja tersenyum mendengarnya, ia gantian mengamati suaminya yang kini memakai kemeja berwarna senada dengan sang istri. Jujur, ia sedikit merasa aneh saat Senja memintanya memakai kemeja berwarna pink tersebut. Namun, bagi Senja suaminya itu semakin terlihat keren malahan. Ia berjalan maju dan menangkup pipi Elang, "Suamiku keren, makin ganteng," ucapnya memuji Elang.
Di puji seperti itu, membuat kadar rasa percaya diri Elang semakin tinggi. Yang terenting baginya adalah bagaimana pandangan Senja terhadapnya, bukan orang lain. Ia masa bodoh dengan penilaian orang luar. Ia memang sengaja hanya mengenakan kemeja tersebut yang sedikit di gulung hingga ke sikunya, terlihat kasual namun tetap bisa untuk acara makan malam yang romantis.
" Kita mau kemana?" tanya Senja yang kini tengan menggandeng mesra lengan Elang saat memasuki lift.
"Jalan-jalan. Kita akan menikmati keindahan malam kota Paris. Pilih mau kemana? Club atau casino?" tanya Elang tersenyum. Membuat Senja langsung menyipitkan kedua matanya.
"Haha bercanda, kita akan ke Place De La Concorde," tukas Elang kemudian.
Namun, sebelum ke Place De La Concorde, Elang mengajak Senja makan malam romantis di sungai Seine, tepatnya di atas pesiar. Mereka berdua meikmati makanan Gourmet atau hidangan Perancis yang mewah di temani alunan melodi dari pemain piano dan bioala berbakat, menambah suasana semakin romantis. Hanya saja, Senja sedikit heran kenapa pesiar tersebut sepi tak ada pengunjung yang lainnya. Hanya ada mereka berdua di kapal tersebut? Ia menatap suaminya, ini pasti ulahnya yang membooking kapal berpanel kaca tersebut. Makan malam romantis selain di hotel pun benar-benar menjadi impian Senja yang nyata, ia bisa sambil menikmati keindahan sungai Seine dan juga menara Eifell. Tak bosan-bosannya ia mengagumi keindahan menara yang menjulang tinggi tersebut.
Selesai makan malam, Elang mengajak Senja ke Place De La Concorde. Butuh waktu sekitar empat puluh menitan perjalanan dari sungai Seine menuju ke alun-alun berbentuk oktagon tersebut.
Tampak Sebuah tugu mesir kuno (Luxor Obelisk) berdiri tegak ditengahnya, diapit dua air mancur bergaya romawi di sisi utara-selatan.
"Kita bersantai dulu di sini, kencan santi kayak pasangan lainnya," ucap Elang yang sudah menjatuhkan kepalanya di atas pangkuan Senja yang duduk di kursi panjang menikmati keindahan malam alun-alun tersebut. Suasana ramai tak lantas membuat Elang malu untuk bermanja-manja dengan sang istri.
" Sayang, kau tahu, di sini dulu tempat beberapa tokoh penting di penggalkepalanya," Elang mulai bercerita.
"Jangan di teruskan ih serem aku dengarnya, nggak usah cerita yang horor-horor," timpal Senja cepat. Ia menoleh ke kanan dan kiri, lalu mengdedik. Elang tersenyum, "Baru mau mulai jadi guide lagi biar dapat bayaran cium, udah ketakutan duluan. Kalau takut kan tinggal peluk aku," ujar Elang mengerling.
__ADS_1
"Hem maunya!" sahut Senja tersenyum seraya tangannya membelai rambut hitam milik suaminya.
"Emang mau!" sahut Elang yang langsung menarik tengkuk Senja supaya menunduk, ia langsung mengecup bibir cherrynya.
"Ck. Dasar!" decak Senja tersenyum, tangannya menyentuh bibir Elang gemas. Sementara Elang hanya cuek dan memejamkan matanya.
" Boo, aku mau naik itu!" seru Senja tiba-tiba seraya mengguncang lengan Elang saat ia melihat ada sebuah kincir raksasa yang terletak tak jauh dari place de La Concorde tersebut.
Elang langsung membuka matanya dan menoleh ke arah yang di tunjuk oleh Senja. Ia langsung bangkut dari tidurnya, "Ayo!" ajaknya mengulurkan tangan. Dengan senang hati menyambut ukuran tangannya.
Mereka berjalan menuju kincir raksasa yang menyala terang tersebut. Senja yang tidak sabaran menunggu Elang yang aedang membeli tiket berjalan duluan mendekati wahana berbentuk linkaran raksasa itu.
"Ayo cepat boo, kita naik!" Senja menarik tangan Elang begitu suaminya tersebut mendekat.
Pelan tapi pasti, bianglala raksasa itu bergerak semakin ke atas. Dari atas sana, mwrek bisa melihay keindahan sisi lain kota Paris di malam hari, "Keren sekali!" seru Senja senang.
"Lihat boo, kita berada di atas sekarang, hampir sampai puncak! Em itu mana ya? Apa kau tahu?" Senja menunjuk sebuh tempat antusias.
" Duduk sini, jangan banyak gerak," Elang menarik tangan Senja ketika perempuan itu heboh tak bisa diam, mungkin jika orang lain melihat akan mengatakan di norak, tapi bagi Elang itu menggemaskan.
Senja menurut, dia duduk merapat ke Elang. Jari jemarinya bwrtautan dengan jari jemari Elang dan di letakkan di atas paha suaminya tersebut. Namun, kepalanya membelakangi Elang, masih mengagumi keindahan malam kota Paris dari sisi yang berbeda. Sesekali bibirnya berdecak karena takjub. Membuat Elang ing sekali meraup bibir yang terus mengeluarkan suara tersebut.
"Ngadep sini sayang, dari tadi heboh sendiri. Di sini ada pemandangan yang lebih menakjubkan dari itu semua," ucap Elang, ia menarik dagu Senja supaya menoleh padanya.
"Iya iya, ciptaan Tuhan yang satu ini memang paling the best, tapi biarkan aku menikmati ciptaan Tuhan yang lainnya," sahut Senja yang langsung menoleh kembali.
Dengan cepat, Elang kembali menarik dagunya dan bibirnya langsung menempel sempurna di bibir Senja saat kincir yang mereka duduki tepat berada di puncak.
__ADS_1
Senja yang tak bisa menolak setiap pesona yang di berikan suaminya, hanya bisa membalas ciuman suaminya. Senja langsung membenarkan duduknya supaya lebih nyaman tanpa melepas agutan suaminya. Tangannya refleks langsung melingkar di tengkuk Elang, seakan meminta lebih dalam lagi Elang menciumnya. Momen indah pun mereka cipatakan di atas kincir raksasa itu juga.
Setelah rurun dari kincir raksasa, Elang megajak Senja berkeliling tempat wisata di sekitar Place De La Concorde. Ini menajdi kencan yang menyenngkn untuk mereka. Memang benar, kencan setelah menikah itu sangat menyenangkan.
Malam semakin larut, waktu menunjukkan hampir pukul setengah satu dini hari ketika mereka berdua sampai di puncak menara Eifell.
"Masih ada waktu, sebelum tutup jam satu," ucap Elang. Namun ucapannya hanya seperti angin lalu bagi Senja, karena nyatanya wanita itu kini kembali asyik menikmati sudut kota yang lain lagi dari puncak menara tersebut yang juga menjadi salah satu angan-angannya sejak dulu.
Elang hanya bisa menggelengkan kepalanya seraya tersenyum, bisa membuat sang isrei selalu tersenyum dengan hal-hal sederhana seperti ini benar-benar membuatnya bahagia. Elang mendekati Senja dan langsung melingkarkan tangan kirinya teat di atas dada Senja. Senja langsung mengecup lengan suaminya yang di balas sebuah ciuman sayang diatas puncak kepalanya.
Mereka benar-benar menghabiskn waktu di puncak menara tersebut hingga waktunya tutup.
"Aku tidak ingin kembali ke hotel," ucap Senja.
"Kita jalan-jalan lagi," sambungnya cepat.
"Apa tidak capek? Tidk ingin istirahat, tidur?" tanya Elang dan Senja menggeleng, "Mau jalan-jalan lagi," ucapnya.
Elang mendeaah pelan namjn tetap twrsenyum, "Baiklah, mari kita habiskan malm ini di jalanan," ucapnya mengacak-acak rambut Senja dengan gemas. Mata istrinya rersebut terlihat masih cerah, seperti tak ada rasa kantuk yang menderanya.
"Thank you my BooBoo,,," ucap Senja senang.
"Anything for you, my Cherry," sahut Elang tersenyum.
Seketika jiwa kekanakn Senja langsung muncul, ia berlarian kesana kemari menyusuri jalanan yang mulai tampak sepi dan sungai Seine kembali menjadi sasaran penjelajahan kaki mereka saat menjelang subuh. Benar-benar malam yang sangat menyenangkan bagi Senja.
Elang yang mulai menguap, mengajaknya kembali ke hotel subuh itu. Senja yang merasa sudah ouas menghabiskan malam di luar pun lanhsung mengiyakan ajakan Elang.
__ADS_1
Sesampainya di hotel, merek berdua langsunf tepar di atas tempat tidur dengan posisi saling bersebrangan, asal menjatuhkan tubuh satu sama lain karena kini mereka benar-benar di landa kantuk yang amat sangat.
πΌ πΌπΌ