
"Aku pergi dulu ya, nanti pulangnya aku jemput. Jangan kerja terlalu keras, jangan sampai kecapean. Aku nggak mau kamu dan baby kita kenapa-kenapa," pesan Elang sebelum ia meninggalkan Senja di ruangannya. Tak lupa, sebuah kecupan singkat mendarat di bibirnya. Tak mempedulikan keberadaan dua orang yang saling jaga jarak di ruangan tersebut, Kendra dan Sarah.
"Iya, hati-hati," jawab Senja tersenyum.
Baru mau melangkahkan kakinya, ponsel Elang berdering, ia langsung mengangkatnya saat melihat nama daddynya memenuhi layar ponselnya. Elang menoleh ke Senja, "Daddy," ucapnya tak bersemangat, karena bisa di pastikan untuk apa sang daddy meneleponnya jika bukan untuk merutukinya.
"Angkatlah!" suruh Senja sambil tersenyum.
"Help me!" ucap Elang lalu menggeser icon berwarna hijau di ponselnya. Senja kembali tersenyum. Lalu berdiri dan mendekati suaminya.
"Hal..."
"Heh anak tengil! Berani-beraninya baru mengangkat telepon daddy! Dari semalam daddy telepon nggak diangkat. Bosan jadi anak daddy sama mommy hah? Pulang ke Jakarta tapi nggak ngasih kabar dasar! Lupa sama kami? Dasar bocah! Udah berapa hari kembali ke Jakarta tapi nggak ada waktu buat ke rumah! Lupa jalan pulang ke rumah?" Repet Alex begitu panggilannya terhubung.
Elang hanya bisa nyengir sambil menoleh ke arah Senja yang ikut nyengir juga. Semenjak kembali ke Jakarta, memang mereka berdua belum sempat berkunjung ke rumah daddynya.
" Maaf dad, bukannya lupa, tapi emang belum ada waktu saja. Banyak yang harus El kerjakan setelah kembali," ucap Elang dengan nada cool namun sambil mengedipkan sebelah matanya kepada Senja yang mana membuat Sarah dan Kendra yang masih berada di sana dan tidak di sadari keberadaannya, menggedikkan bahu. Bisa-bisanya ada waktu buat menggoda istrinya, pikir mereka sefrekuensi.
"Heh, kamu pikir daddy nggak tahu yang kamu maksud banyak kerjaan itu? Ngerjain istri di kasur aja ada waktu banyak, tapi kasih kabar ke daddy nggak ada waktu," omel Alex.
Senja yang ikut mendengarkan ucapan daddy mertuanya langsung mencubit pinggang Elang," Kamu sih," omelnya. Elang lagi-lagi hanya bisa nyengir kepada Senja.
"Kalau ngerjain istri itu emang harus dad, buat nambah imun. Daddy lebih paham pasti," ucap Elang yang langsung mencium bibir Senja kilat. Membuat Sarah dan kendra memdengus bersamaan.
"Serasa jadi obat nyamuk," gumam Kendra dan Sarah bersamaan.
"Ssttttt!" seru Kendra kepada Sarah. Sarah menoleh ke arahnya, "Apa?" tanya Sarah tanpa suara, hanya dengan gerakan bibir saja.
"Nggak ada kan obat nyamuk merek Kendra?" tanya Kendra.
"Nggak, adanya selimut!" jawab Sarah.
Kendra menganggukkan kepalanya, "Oh,, berarti obat nyamuknya Sarah," ucap Kendra tersenyum meledek.
__ADS_1
"Itu sereh!" Sarah mencebik. Membuat Kendra tergelak tanpa suara dan langsung mengatupkan bibirnya saat Sarah menatapnya tajam.
Suara Elang yang sedang bicara dengan Alex kembali mendominasi ruangan.
"Daddy nggak mau tahu, malam ini bawa menantu daddy ke rumah. Garap sawahnya libur dulu, heran garap terus nggak panen-panen!" ucap Alex. Elang memang belum memberitahu perihal kehamilan Senja kepada keluarganya. Ia ingin memberi kejutan kepada mereka sebenarnya, dengan tiba-tiba datang ke rumah dan membawa kabar gembira. Tapi, tak tahunya sanga ayah sudah tak sabar ingin bertemu mereka.
"Iya iya, El tutup teleponnya. Banyak yang harus El kerjakan dad," satu kecupan mendarat di puncak kepala Senja.
"Emang harus gitu, setiap ngomong berakhir dengan cium? Geli!" cebik Kendra.
"Ngerjain apa? Istrimu? Masih pagi!"
"Justru kalau pagi selalu bangun dad, emang daddy enggak?" Elang langsung mematikan panggilan daddynya. Jika tidak, bisa dipastikan daddy akan terus merepet dan itu hanya akan buat dia capek menjawab.
"Dengar kan? Malam ini kita ke rumah, demi kelanjutkan nama Parvis pada nama belakang suamimu," ucap Elang tersenyum.
"Ehem!" Kendra terpaksa berdehem keras untuk menyadarkan bosnya.
"Durasi bos, kita ada meeting setelah ini," ucap Kendra.
"Hem," sahut Elang singkat.
"Pergilah, sebelum Kendra mengeluh yang ujung-ujungnya minta naik gaji," canda Senja.
"Aku pergi dulu, selalu kasih kabar!" Elang mencium bibir Senja beberapa detik sebelum ia benar-benar meninggalkan ruangan tersebut.
"Sar, titip Senja," ucap Elang saat melewati Sarah yang sedikit menunduk hormat kepadanya, "I-ya Pak," sahut Sarah.
"Titip hati aku, boleh?" goda Kendra yang berjalan di belakang Elang. Sarah langsung mendongakkan kepalanya, menatap Kendra yang terus berjalan tanpa menoleh dengan sejuta pertanyaan.
"Sar, sini!" Senja meminta Sarah mendekat. Dengan sopan, Sarah berjalan mendekati Senja yang kini menjadi atasannya, " Ya, Bu?" ucap Sarah sedikit canggung. Biasanya ia akan blak-blakan kepada Senja, tapi kini status mereka berbeda. Tak mungkin ia selancang dulu, pikirnya.
"Bu...? Aduh kayak sama siapa aja sih, ini aku, Senja. Panggil kayak biasanya aja," ucap Senja.
__ADS_1
"Tapi kan sekaran An-da atasan saya," sahut Sarah canggung.
Senja justru tergelak melihat gelagat Sarah yang jadi aneh menurutnya, "Jangan kaku gitu ah, aku tetap Senja yang sama kok. Sahabat kamu. Nggak ada yang berubah. Nggak rindu nih sama aku?" Senja sudah berdiri di samping Sarah sambil merentangkan kedua tangannya.
Sarah sempat ragu untuk memeluk sahabatnya tersebut. Senja terus tersenyum dan mengangguk, Sarahpun langsung memeluknya," Huwaa Senja aku tuh kangen banget sama kamu, kamu kemana aja sih. Huwaaa, aku pikir kamu nggak bakal balik lagi, aku jadi kesepian nggak ada kamu di sini. Aku pikir bakal kehilangan kamu," ucap Sarah dengan hebohnya.
"Aku kan lagi honeymoon Sar, Dan di sana banyak hal terjadi. Sini aku ceritain," Senja menggandeng tangan Sarah untuk duduk di sofa. Senja sudah tak sabar untuk berbagi cerita dengan sahabatnya tersebut.
Berkali-kali Sarah mengatupkan bibirnya karena terkejut saat mendengar cerita Senja," Ya ampun Nja, tadinya aku nggak percaya keajaiban itu ada, tapi sekarang aku percaya. Semua bisa saja terjadi. Aku masih nggak percaya tempat kita bekerja ini sekarang jadi milik kamu, memang ya nggak ada yang nggak mungkin,"
"Iya, aku juga nggak nyangka bakal jadi begini Sar, hidupku yang dulunya kamu tahu sendirilah, sekarang berubah. Semua hal baik menghampiriku, kadang buat aku tak percaya dan menganggap ini seperti mimpi,"
"Tapi tunggu! Tadi pak Elang bilang dia nggak mau kamu sama baby kalian kenapa-kenapa. Itu artinya... Kamu...hamil?" tanya Sarah antusias. Senja mengangguk sambil tersenyum.
"Ada buah cintaku sama Elang di sini," ucap Senja mengusap perutnya.
"Oh ya ampun, akhirnya ada juga yang bakal manggil aku onty. Selamat ya Senjaku sayang. Aku seneng banget bakal punya ponakan," Sarah memeluk Senja.
"Pantas nggak balik-balik. Produksi sampai jadi ternyata. Gimana rasanya hamil?"
"Ya gini, semuanya jadi nikmat. Syukuri aja dan nikmati prosesnya kan?"
"Iyalah, proses buatnya kan emang enak, mana mungkin nggak dinikmati," sahut Sarah.
"Kayak yang tahu aja, emang pernah ngerasain?"
Keduanya pun tergelak bersama.
πΌ πΌ πΌ
π π Jangan lupa like, komen, vote dan mawarnya, tengkyu ππΌππΌ
Salam hangat author π€β€οΈβ€οΈπ π
__ADS_1