Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 96


__ADS_3

“Kenapa nggak sadar-sadar sih sayang . Ayo dong bangun. Jangan buat aku khawatir,” Elang terus mengusap wajah Senja dengan lembut. Ia sudah tak sabar ingin membagi kebahagiaannya dengan sang istri yang kini masih belum sadar.


 


“Ya ampun, dokter bilang sebentar lagi Senja akan sadar. Tapi kenapa belum sadar juga. Sayang ayolah bangun,” Elang terus mondar-mandir di kamar tersebut. Padahal dokter baru sekitar lima menit yang lalu meninggalkan ruangan tersebut, namun Elang sudah tidak bisa sabar menunggu sampai Senja membuka matanya.


 


“Awas saja kalau sampai istriku tidak sadar-sadar, akan aku tuntut itu dokter. Dia kasih apa sih tadi, kenapa istriku belum bangun juga. Arrrghhh!” Elang kembali merangkak naik ke tempat tidur. Duduk bersila sambil terus membelai rambut Senja.


 


Saat seperti ini, membuatnya ingat dengan Kendra. Biasanya asisten sekaligus sahabatnya itu paling bisa di andalkan dengan segala ke-absurb-annya saat genting seperti ini. Setidaknya ia ada tempat untuk sekedar mengeluh atau mengumpat.


 


Elang menyesal kenapa kemarin buru-buru menyuruh Kendra kembali ke Jakarta. Jika tahu keadaan Senja akan seperti ini, tentu saja ia akan menyuruh Kend untuk tetap tinggal.


 


Elang benar-benar bingung, sekarang apa yang harus ia lakukan sembari menunggu Senja sadar dari pingsannya.


 


Elang memanggil asisten rumah tangganya, ia menyuruh mereka untuk menyiapkan makanan yang terbaik dengan penuh gizi untuk sang istri. Ia ingat pesan dokter tadi untuk selalu menjaga mood dan memberikan vitamin serta makanan yang bergizi untuk Senja. Apalagi ini adalah kehamilan pertamanya dan baru pada tahap trimester awal dimana kehamilan masih sangat renta.


 


“Cepat siapkan makanan terbaik yang ada di rumah ini. Ingat yang penuh dengan gizi dan sehat untuk istri dan calon anak saya!” perintah Elang.


 


“Baik tuan muda, kami akan segera membuatnya,”sahut pelayanannya.


 


“Tunggu! Selama saya dan istri saya masih berada di sini, kalian harus menjamin setiap asupan makanan yang masuk ke dalam perut istri saya. Saya tidak ingin kalian lalai sedikit pun. Apapun yabg istri saya inginkan nanti, harus kalian turuti namun dengan tetap memikirkan kondisinya,” pesan Elang sebelum pelayan undur diri.


 


“Baik tuan, kami akan melakukan yang terbaik untuk nyonya Senja. Kami permisi,” pelayan itu menunduk lalu pergi meninggalkan Elang yang masih saja kalut karena Senja belum sadar.


 


“Tunggu!” cegahnya lagi. Pelayan itu pun kembali menghentikan langkahnya, “Ya, tuan?”


 


“Apa kau pernah hamil sebelumnya?” tanya Elang. Membuat pelayan tersebut menatapnya aneh.


 

__ADS_1


“Maksud saya, apa kau sudah memiliki anak dan apa kau juga... Em maksudku apa kau juga sakit saat pertama hamil?”


 


“Iya tuan, dulu saat saya hamil juga pingsan seperti nyonya,” jawab pelayan yang kini usianya tak lagi muda tersebut.


 


Mendengar jawaban pelayannya, membuat Elang menaikkan sedikit sudut bibirnya. Ia merasa tidak sendiri dan ada teman senasib. Setidaknya, ia tak merasa buruk sendirian.


 


“Lalu, apa... Kau kesusahan waktu itu? Maksudku apa kau baik-baik saja sampai melahirkan bayimu itu?” tanya Elang penasaran. Daripada ia harus menelepon Anes dan menanyakan berbagai hal kepada sang ibu yang pasti akan heboh sendiri mengdengar kehamilan menantu kesayangannya. Lebih baik, ia sedikit bertanya kepada pelayan yang menurutnya cukup lebih berpengalaman darinya tersebut.


 


“ya, tuan.... Saya sangat senang dan baik-baik saja. Percayalah, nyonya muda juga pasti akan senang dan menikmati masa kehamilannya ini. Setiap perempuan hamil akan mengalami masalah masing-masing yang berbeda tiap individu, tapi kami menikmati momen-momen tersebut. Momen dimana suatu saat akan kami rindukan sebagai seorang ibu,” jelas pelayan. Dan sepertinya Elang cukup puas mendengar penuturan pelayannya.


 “Baiklah, kau boleh pergi sekarang!” ucap Elang. Sebenarnya masih banyak pertanyaan di dalam kepalanya, namun ia terlalu gengsi jika harus bertanya banyak hal kepada pelayannya tersebut.


 Beberapa saat setelah pelayan pergi, Senja mulai membuka matanya.


 


“Euuuhhh,,” lenguh Senja sembari memegangi kepalanya yang terasa pening.


 


“Sayang, syukurlah kau sudah bangun. Apa ada yang sakit, dimana? Di sini, di sini atau di sini?” tanya elang dengan hebohnya sembari menyentuh pipi, kening dan berakhir di perut Senja.


 


 


Senja yang mendapati tingkah aneh sang suami hanya bisa menatapnya seraya mengernyitkan dahi.


 


“Boo, kamu kenapa? Apa kau baik-baik saja? Apa kamu sakit sayang?” tanya Senja heran.


 


“Tidak sayang , aku baik-baik saja. Harusnya aku yang tanya apa yang kamu rasakan sekarang?” Elang balik bertanya.


 


“Ada apa denganmu boo, baru aku tinggal pingsan sebentar tapi kau sudah berubah, jadi aneh,” ucap Anes. Bersamaan dengan itu, dua pelayan datang dengan membawa nampan berisi beberapa makanan dan juga buah-buahan segar.


 


“Letakkan di situ dan kalian boleh pergi!” perintah Elang menunjuk nakas.

__ADS_1


“Sayang, kau lapar? Bukankah tadi sudah makan?” tanya Senja.


 


“Tidak sayang, bukan aku yang akan makan. Tapi kau, kau harus banyak makan makanan yang bergizi dan sehat,” jawab Elang.


 


“Aku? Aku masih kenyang. Bagaimana bisa aku makan lagi, sebanyak ini? Ayolah boo. Jangan bercanda. Baru sebentar tadi aku makan masakanmu. Kalau sekarang harus makan lagi tidak muat di perutku,” keluh Senja.


 


“Tapi sayang, itu tadi kamu makan Cuma sedikit sebelum pingsan. Itu hanya cukup untuk makan satu orang. Sedangkan sekarang ada makhluk lain di perutmu, jadi makannya harus double sayang, makan ya, aku suapi,” Elang mengambil makanan diatas nakas.


 


Senja tak  menghiraukan ucapan Elang, ia hanya fokus dengan kata-kata makhluk lain dalam perut yang diucapkan oleh suaminya.


“Makhluk lain? Apa maksudnya? Ada apa dengan perutku Boo? Jangan buat aku takut, makhluk apa maksudnya?” tanya Senja. Ia merasa merinding, berspekulasi dengan pemikirannya sendiri soal sosok yang tak kasat mata yang menempel pada tubuhnya.


“Iya, makhluk lain sayang. Calon anak kita,” ucap Elang, tangannya mengusap lembut perut Senja dari balik blouse yang ia kenakan. Ia sampai lupa memberi tahu sang istri soal kehamilannya karena terlalu heboh sendiri


 


“Oh calon anak kita.... Eh apa? A-nak siapa?” Senja yang awalnya santai menanggapi langsung berubah terkejut setelah menelaah ucapannya sendiri.


 


“Anak kita...” terang Elang.


“Anak kita? Boo, aku.... Aku hamil?” netra Senja langsung membulat sempurna dan berkaca-kaca.


Elang mengangguk mantap seraya tersenyum,” Iya sayang, kata dokter tadi kamu sedang mengandung anakku. Calon generasi penerus pertama keluarga Parvis,” jelas Elang dengan senyum sumringahnya.


“Mengandung... Anak? Bayi? Sayang, aku hamil? Beneran?” Senja tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya. Ia langsung memeluk Elang.


“Apa kau senang?” tanya Senja kepada Elang.


“Tentu saja sayang, tidak ada hal yang membahagiakan selain berita ini. Akhirnya kita akan punya baby made in Paris!” seru Elang.


“Terima kasih, karena sudah mengandung anakku,” imbuhnya langsung mencium kening Senja. Senja memejamkan matanya, menikmati kecupan sayang dari Elang yang begitu dalam. Air matanya lolos begitu saja karena terlalu senang dengan berita tersebut.


🌼 🌼 🌼


💠💠Assalamualaikum author kembali.... Maaf ya lama baru bisa up lagi, ini pun masih belum bisa maksimal... Yang mengikuti IG-ku pasti tahu alasannya.


Jangan lupa jaga kesehatan dan tetap patuhi protokol kesehatan. Dan... Semangat terus buat para pejuang isoman...


Jangan lupa like, komen dan votenya terima kasih 🙏🏼🙏🏼


Salam hangat author ❤️🤗💠💠

__ADS_1


 


 


__ADS_2