
Sebelum ke acara, Elang mengajak Senja makan di restoran hotel terlebih dahulu, "Kita makan dulu ya sayang, kan belum sarapan," ucapnya lembut pada Senja. Senja hanya mengangguk saja, sebenarnya ia cukup deg-degan dan gugup saat ini.
Senja tercengang melihat kemewahan restauran di hotel bintang lima tersebut. Elang memesan beberapa menu masakan Perancis klasik dan juga beberapa menu makanan ringan yang menjadi andalan restauran tersebut.
"Boo, kenapa memilih makanannya banyak sekali, kita cuma berdua," ucap Senja pelan sesaat setelah pelayan pergi.
"Aku tidak tahu mana yang akan kamu sukai atau tidak, nanti makan saja sekuat perut kamu sayang, jangan di paksakan buat habisin makannya karena sayang uangnya," kata Elang tersenyum. Ia tahu apa yang kini sedang istrinya pikirkan mengingat harga satu menu makanan di sana sangat mahal.
Senja hanya tersenyum tipis mendengarnya, karena memang ia cukup tercengang saat melihat daftar harga di menu book tadi. Meskipun waktu sarapan mereka agak kesiangan waktunya, namun mereka berdua tetap menikmatinya.
🌼 🌼 🌼
Elang menggandeng tangan Senja berjalan menuju lobby hotel, " Apa kau gugup?" tanya Elang.
"Sedikit," jawab Senja yang tidak Bisa menyembunyikan kegugupam dan keresahannya.
Elang tersenyum, "Masih ada banyak waktu, kita jalan-jalan dulu," ucapnya lalu menarik tangan Senja keluar dari lobby hotel menuju sebuah mobil sport mewah yang sudah terparkir di depan hotel.
Elang membukakan pintu mobil, "Silahkan nyonya Erlangga," ucapnya membungkuk memepersilahkan sang istri masuk ke dalam hypercar Bugatti La Voiture Noire, mobil sport yang hanya ada satu unit di dunia.
"Apa sih Boo," Senja tersenyum geli dengan perlakuan suaminya, namun ia tetap masuk dan duduk manis di dalam mobil mewah tersebut.
Elang mengitari mobil lalu masuk dan duduk di belakang kemudi mobil.
"Ini mobil kamu?" pertanyaan polos dari Senja.
"Maunya sih begitu, tapi pemiliknya tidak mau menjualnya kepadaku. Ini mobil hanya ada satu di dunia," jawab Elang.
Senja hanya menganggukkan kepalanya, "Mobilnya disewakan?" tanyanya lagi yang mengundang gelak tawa dari sang suami, "Sudahlah jangan terlalu di pikirkan bagaimana sampai kita bisa menaiki mobil ini sayang, lebih baik kau isi kepalamu dengan namaku saja dari pada pertanyaan itu," kata Elang. *Karena Elang sendiri tidak tahu bagaimana bisa ia mengendarai mobil dengan harga 260 miliar lebih tersebut, hanya author yang tahu 😅.
"Tidak hanya di kepala, bahkan dihatiku saja sudah penuh dengan namamu Boo," sahut Senja tersipu.
"O ya? Cieeeee istriku udah bisa menggombal," goda Elang iseng.
__ADS_1
Senja hanya memicingkan matanya dan mencebik. Tak tahan melihat bibir Cherry nya yang baru saja manyun, Elang langsung menciumnya. Membuat Senja membulatkan matanya dan tubuhnya menegang. Elang sedikit tersenyum, meski sudah melakukannya berkali-kali masih saja sering kaku, pikirnya.
"Sebagai dissert untuk sarapan yang kesiangan barusan," ucap Elang setelah melepas pagutannya. Di usapnya sudut bibir sang istri karena gara-gara rakusnya lum*atan singkatnya, lipstick Senja menjadi sedikit berantakan.
"Sudah," ucap Elang ketika di lihatnya lipstik Senja yang sudah rapi kembali, "Sudah siap jalan-jalan nyonya Erlangga?" tanyanya.
"Siap tuan Erlangga," jawab Senja tersenyum. Elang melajukan mobilnya pelan setelah memastikan istrinya duduk dengan manis dan nyaman di sampingnya. Ia akan berusaha membuat suasana hati Senja menjadi sedikit santai dan tidak tegang. Ia tahu dan memaklumi jika istrinya tersebut pasti swdikit banyak gugup dan tegang, tapi ia mencoba meminimalisir nya.
"Emm Boo, dimana Kendra? Tumben tidak mengekor,"tanya Senja. Sejak dari rumah tuan Bailey, ia tak lagi kelihatan.
"Kenapa? Apa kau merindukanya? Ck, ada suamimu di sini, malah nanyain laki-laki lain," cemburu mode on langsung melejit ke level ngegas.
"Aku cuma tanya, kenapa marah. Biasanya kan dia ngintil kemanapun kamu pergi," ucap Senja.
"Kend sibuk dengan pekerjaannya, biarkan saja itu memang tugasnya. Tugas kita adalah bukan madu, membuat Elang junior secepatnya. Ah shit! Kita bahkan belum melakukannya di sini," kesalnya,"Apa membuat baby di mobil adalah ide yang baik?"
"Boo, ih..." Senja menepuk lengan suaminya.
"Bercanda sayang, aku siap menunggu sampai si ujang benar-benar bisa bersemedi di goa keramat yang sempit,"
"Hem," Elang menarik tangan senja dan menyentuhkannya di atas celana bahan yang ia kenakan.
Sontak Senja langsung tergelak begitu menyadari ujang adalah julukan untuk benda berurat milik suaminya. Ada-ada saja, pikirnya.
Suasana menjadi hening sesaat.
"Apa ada tempat yang ingin kamu kunjungi selama di sini?" tanya Elang kemudian dengam terus melajukan mobilnya pelan, bahkan terkesan sangat pelan untuk ukuran mobil sport tercepat tersebut.
Senja terdiam, sebenarnya tempat yang benar-benar paling ingin ia kunjungi adalah makam kedua orang tuanya. Tapi, sepertinya sekarang bukan waktu yang tepat untuknya meminta kesana.
"Sayang..."
" Eh, emm Menara Eiffel," jawab Senja cepat. .
__ADS_1
"Hanya itu?" tanya Elang lagi.
Senja mengangguk, "Sebenarnya aku nggak tahu tempat-tempat di sini, tahunya hanya menara Eifel aja. Aku ikut aja mau kemana," ucapnya.
Elang tersenyum lalu mempercepat laju mobilnya. Tak butuh waktu lama, mereka sudah sampai di Menara Eiffell, karena jaraknya yang begitu dekat dengan hotel tempat mereka menginap.
Senja tersenyum senang ketika sampai di sana, " Indah sekali!" serunys antusias.
"Ayo!" Elang mengulurkan tangannya, Senja menyambut uluran tangan itu dengan ceria.
Senja sangat menikmati siang itu dengan mengabadikan momen tersebut ke dalam beberapa photo dan Elang sebagai photographer amatiarannya.
"Sudah belum Boo?" tanya Senja yang sudah merasa pegal dengan posenya saat ini. Pasalnya sejak tadi, Elang hanya diam dan tersenyum tanpa memberitahunya jika ia sudah mengambil gambar Senja.
"Sudah, banyak malah," ucap Elang.
Saat Senja tak berpose pun ia selalu mengambil gambarnya. Entah sudah berapa photo yang menghiasi ponsel Senja maupun Elang saat ini, banyak sekali. Setiap Senja bergerak, Elang langsung memotretnya secara candid. Baginya semua pose alami sang istri itu kelihatan cantik, natural dan sempurna. Dengan segala tawa riang yang menghiasi bibir Cherry itu.
"Yang ini bagus. Meski dari agak jauh, menara Eiffell nya kelihatan. Aku mau kirim ke Sarah sekarang," ucap wanita berlesung pipit tersebut, senyuman kecil tak pernah hilang dari bibirnya.
"Semua bagus dan cantik," ucap Elang membelai pipi Senja yang sedang asyik berkirim pesan kepada sahabatnya.
"Siang saja bagus begini, pasti malam lebih bagus. Katanya kalau malam di sini sangat indah," gumam Senja yang kembali melihat-lihat potret dirinya.
Elang tersenyum mendengarnya, "Iya, malam kita ke sini lagi," ucapnya seraya melingkarkan tangannya di perut sang istri. Menempelkan pipinya di pipi Senja. Senja langsung menoleh dan otomatis bibirnya mencium pipi Elang.
"Lanjutkan! Aku juga mau melihat hasil jepretanku tadi," ucap Elang santai tanpa Peduli Senja yang celingak-celinguk melihat sekitar, takut ada yang melihat kemesraan mereka.
"Ini Paris, gak ada yang peduli kita mau pelukan, ciuman atau guling-guling sekalipun. Cuek saja," ucap Elang. Ia langsung mencium. Bibir Senja dan sedikit melu*atnya, "Seperti ini misalnya," ucapnya santai tanpa dosa.
"Modus," ucap Senja. Elang tak peduli, dimanapun kapanpun ia berhak memeluk atau mencium istri sahnya, pikirnya.
__ADS_1
🌼 🌼 🌼