Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 76


__ADS_3

"Aku selalu merasa bersalah ketika mengingatnya, karena tidak bisa menyelamatkan tuan dan nyonya. Hardian benar-benar membawa Anak tuan Bailey bersamanya, karena anak itu merupakan ancaman bagi adiknya jika masih hidup. Dan setahun setelah Hardian kembali ke Indonesia, aku sempat menghubunginya. Saat itu ia sedang berusaha menyembuhkan trauma nona Cherry, dengan membawanya ke psikiater..."


"Cherry...?" Elang menyela ucapan Tuan Albert.


" Ya, nama anak tuan Bailey adalah Abriella Cherry Bailey, yang artinya wanita pelindung yang di sayangi dan di cintai oleh semua orang putri dari tuan Bailey. Nyonya Dewi yang menginginkan nama Chery, selain artinya orang yang di sayangi dan di cintai juga karena nyonya Dewi sangat menyukai buah Chery, "jelas Tuan Albert.


Elang tersenyum tipis mendapati kebetulan atau memang takdir dimana ia juga memanggil Senja dengam sebutan My Cherry karena bibirnya yang merah bak buah Cherry meskipun tanpa di poles lipstik. Sementara Senja hanya terdiam, menunggu cerita tuan Albert selesai, entah apa yang perempuan itu pikirkan saat ini, yang jelas ingin sekali ia menangis mendengar cerita tuan Albert. Tapi, ia ingin mendengaro sampai selesai terlebih dahulu dan berusaha keras menahan air matanya.


" Sejak kejadian itu, nona Cherry menjadi pendiam tak mau bicara sedikitpun, setiap ada yang mendekati atau berkata sedikit keras ia akan ketakutan. Makanya Hardian membawanya ke psikolog anak.Tapi beberapa bulan kemudian, tepatnya mungkin saat nona Cherry mulai masuk sekolah, aku tidak bisa lagi menghubungi Hardian, sepertinya dia pindah dan mengubah identitas nona Cherry demi kebaikan dan memberi gadis cilik itu hidup baru,"


Tuan Albert mengakhiri ceritanya dengan mata berkaca-kaca. Hatinya kembali terusik dan sakit ketika mengingat kejadian di masa itu.


Elang memegang tangan Senja yang sejak tadi mencengkeram lengannya sangat kuat, seolah mencari kekuatan di sana untu menguatkan hatinya ketika mendengar cerita pelik dari laki-laki paruh baya itu.


Kini akhirnya air mata itu jatuh juga, Senja merasakan sesak di dadanya mengetahui kedua orang tuanya meninggal dengan cara yang tragis. Kilatan mimpi yang sering ia alami ternyata bukanlah hanya sebuah mimpi buruk, tapi merupakan sebuah kenyataan di masa kecilnya yang meninggalkan trauma cukup dalam baginya. Ya, meskipun ketika kecil ia sering di bawa ke pesikolog, tapi sampai ia dewasa mimpi itu masih sering menghantuinya.


Elang yang mengerti perasaan sang istri, langsung menggenggam erat tangannya. Ia tak menyangka jika istrinya yang selalu terlihat tegar dan kuat di depan orang lain tersebut ternyata memiliki masa lalu yang begitu sulit. Sangat berbeda dengannya yang sedari bayi hidup dalam kebahagiaan.


"Aku pikir tidak akan pernah bertemu dengam nona Cherry lagi, tapi saat aku mendapat email dari tuan David, aku merasa senang sekali, aku tidak peduli itu benar atau tidak kalau kamu adalah nona Cherryku, setidaknya email itu sangat membuatku bahagia dan antusias. Apalagi setelah melihatmu, aku yakin kalau kamu memang nona kecilku, wajahmu sangat mirip mereka berdua, terutama Dewi," ujar tuan Albert.


Senja pun tak kalah senangnya bisa mengetahui jati dirinya. Meskipun pada saat yang bersamaan, hatinya merasa sedih yang mendalam. Ia masih terdiam , belum bisa mengatakan apa-apa, hatinya sedang bergelut, mencoba menerima kenyataan menyakitkan itu.


Ia senang ternyata masih memiliki keluarga kandung, yaitu adik perempuan dari sang ayah, tapi sekaligus benci ketika mengingat cerita tuan Albert. Kenapa hanya karena harta, tantenya sendiri tega terhadap orang tuanya. Jika Winda yang membencinya, ia masih bisa memakluminya, tapi ini adalah saudara sedarah ayah kandungnya. Ternyata kentalnya darah tidak bisa menjamin hati manusia untuk tidak serakah.


"Hardian, dimana pria itu sekarang? Apa pria tua itu tidak merindukanku sama sekali, kenapa dia tidak datang bersama kalian?" tuan Albert menanyakan keberadaan kakek Senja sekaligus sahabatnya.

__ADS_1


"Kakek..." gumam Senja, ia kembali teringat almarhum sang kakek.


"Ya, Dimana pria tua itu? Aku ingin memukulnya sampai bosan karena berani menghilang selama ini," omel tuan Albert.


Senja langsung menatap tua Albert tak percaya, laki-laki itu seperti tidak menghormati kakeknya yang dari segi usia terlihat jelas terpaut cukup jauh.


" Tuan Hadinata, maksudnya tuan Hardian Hadinata sudah meninggal dunia," sahut Elang.


Deg! Mendengar ucapan Elang, tuan Albert langsung lemas, sahabat yang selama ini ia rindukan kini tak mungkin lagi ia temui.


"Pria tua itu, kenapa meninggalkanku tanpa menemuiku dulu, dasar aki-aki," ucap tuan Albert, meski terdengar mengumpat, namun terlihat jelas kesedihan dalam wajahnya.


Ya, walaupun usia tuan Albert dan kakek Hardian terpaut cukup jauh, namun kedekatan mereka mengikis perbedaan usia itu menjadi sebuah persahabatan dan persaudaraan.


"Tuan, apa Anda memiliki photo kedua orang tua saya?" tanya Senja.


"Senja, panggil istri saya Senja saja tuan, karena namanya sekarang Senja Khaira Dewi," ucap Elang ketika tuan Albert hendak berdiri dari duduknya.


Elang tidak suka jika orang lain memanggil istrinya dengan nama Cherry, hanya dia yang boleh memanggilnya seperti itu.


Tuan Albert tersenyum tipis lalu mengangguk, ia meyakini jika nama Dewi sengaja Hardian ambil dari nama ibu kandung Senja.


" Baiklah, nona Senja,"ucap Pria paruh baya tersebut dan langsung berjalan menuju kamarnya untuk mengambil photo tuan dan nyonya Bailey.


Tak berselang lama, tuan albert kembali dan menyerahkan selembar photo yang sudah mulai usang dan ada sebagian gambar yang sudah buram tak terlihat. Namun, wajah kedua orangtua Senja masih terlihat sangat jelas.

__ADS_1


Senja tak kuasa menitikkan air matanya, ini pertama kalinya dia melihat dengan jelas wajah kedua orang tuanya meskipun hanya melalui sebuah photo. Di usapnya photo tersebut. Tuan dan nyonya Bailey tampak bahagia di dalam pohoto tersebut, dimana nyonya Bailey memangku seorang bayi, yang Senja duga itu adalah dirinya waktu bayi dulu. Kalung yang melingkar di leher ibunya, persis dengan yang melingkar di lehernya.


"Tuan, apa saya boleh meminta photo ini?" tanya Senja.


"Tentu saja nona, kau lebih berhak menyimpannya," jawab tuan Albert yang membuat Senja langsung tersenyum karena senang sekali.


Pembicaraan mereka pun terus berlanjut hingga waktu makan siang tiba. Tuan Albert menjamu Elang, Senja dan kendra yang sejak tadi lebih banyak diam untuk makan siang di kediamannya.


Bahkan, tuan albert meminta Elang dan senja untuk menginap di rumahnya selama mereka di Paris. Tuan Bailey hanya tinggal sendiri setelah istrinya meninggal. Semua anaknya sudah memiliki rumah masing-masing. Namun, tentu saja Elang menolak. Ia sudah menyiapkan segalanya untuk sang istri, mulai dari hotel terbaik hingga kejutan lainnya. Ia tak ingin bulan madu mereka terganggu.


Setelah makan siang, tuan Albert mengajak ketiganya untuk berkeliling rumah sambil membicarakan rencana ke depannya sebelum akhirnya mereka berpamitan.


"Nyonya, putrimu sudah dewasa. Ia sangat cantik dan baik sepertimu. Hardian, pria tua itu berhasil memberi kehidupan baru untuk putrimu tuan, nyonya," gumam tuan Albert dalam dian seraya melambaikan tangannya ke arah Senja dan Elang yang siap masuk ke dalam mobil.


Ketika mobil yang di tumpangi Elang dan senja pergi meninggalkan pekarangan rumahnya, tuan Albert langsung berbalik badan dan mengusap air matanya yang menetes.


Sementara itu, sejak keluar dari rumah tuan Albert Senja lebih banyak terdiam, tangannya terus memegangi photo kedua orang tuanya. Kedua matanya tak pernah berpalong, teris memandangi potret kedua oranh tuanya. Entah apa yang ada dalam pikirannya saat ini. Ingin menangispun rasanya tak bisa, air matanya seakan tertahan menumpuk dan siap untuk di tumpahkan secara bersamaan.


Elang meraih tubuh Senja ke dalam pelukannya, ia mengerti akan perasaan sang istri saat ini. Ia pun tak bisa berkata banyak karena sejujurnya ia cukup terkejut dengan kenyataan soal orang tua Senja yang begitu tragis dan dramatis menurutnya. Elang membiarkan Senja terdiam dalam pelukannya.


"Nanti akan aku perbaiki photonya ya, biar jadi bagus dan jelas lagi," ucap Elang, di kecupnya kening sang istri. Senja hanya mengangguk tanpa suara, "Lihat ayahku tamoan, dan ibuku cantik sekali," ucapnya kemudian.


"Tidak heran jika putri mereka sangat cantik bak bidadari," sahut Elang. Ternyata gombalan receh Elang, mampu membuat istrinya sedikit tersenyum.


"Kend..." ucap Elang melihat Kendra yang fokus menatap jalanan di depannya.

__ADS_1


Kendra yang peka dengan situasi sang bos langsung meminta sopir menghentikan mobilnya dan mengajaknya keluar dari mobil lalu berjalan sedikit menjauh dari mobil. Memberikan waktu untuk Elang menghibur sang istri dengan caranya sendiri, yang tentu saja akan merusak telinga dan otak suci bahkan urat malunya jika tetap berada di dalam mobil.


🌼 🌼 🌼


__ADS_2