
Elang memberikan air putih kepada Senja setelah mereka masuk ke dalam mobil.
"Minumlah dulu!" ucap Elang seraya menyodorkan botol air putih yang selalu ada di mobilnya.
"Terima kasih," Senja meraih botol minuman tersebut dan langsung meminumnya supaya lebih rileks. Badannya masih gemetar mengingat perkelahian di depan matanya barusan.
"Lebih tenang?" tanya Elang.
"Lumayan," sahut Senja singkat setelah menenggak air putih yabg Elang berikan.
Elang mulai melajukan mobilnya dengan kecepatan standar. Ia hanya diam saja, fokus menatap jalan raya di depannya tanpa bersuara. Senja yang sesekali meliriknya merasa bersalah karena tidak mengindahkan ucapan suaminya tadi pagi sebelum ia berangkat. Jika tak ada Ervan ataupun Elang, entah bagaimana kondisinya kini. Yang jelas jiwanya kan semakin trauma pastinya.
"Apa kau marah?" Senja memberanikan firi bertanya yang hanya di sahut embusan napas suaminya.
"Maaf," ucap Senja lirih.
Elang masih diam tak merespon, tatapannya hanya fokus ke jalanan. Ia tak menyangka akan bertemu Ervan lagi setelah sekian tahun mereka tak saking menyapa.
"El..." mulai merengek, tidak nyaman di diamkan seperti itu.
"Hem," sahut Elang singkat.
"Kau marah?" tanya Senja lagi.
"El...!" Senja mengeraskan suaranya hingga Elang kini menoleh ke arahnya.
"Iya aku marah! Kenapa kau tidak mendengarkan aku untuk tetap tinggal di hotel? Kenapa tidak mengindahkan ucapanku? Kalau mau keluar bisa bilang sama aku, tak perlu keluyuran sendiri. Bagaimana kalau mereka mencelakaimu? Bagaimana jika tadi tidak ada Ervan dan aku, apa yang akan terjadi sama kamu? Bagaimana pertanggung jawabanku atas amanah kakek untuk menjaga dan melindungimu jika kamu kenapa-kenapa? Kenapa kamu keras kepala sekali," ucap Elang panjang lebar. Sebenarnya ia tak berniat marah, tapi, ingatan tentang masa lalunya membuatnya kehilangan kesabarannya, ia meluapkan amarahnya kepada Senja.
"Aku hanya bosan di hotel, jadi aku keluar untuk jalan-jalan sambil belanja di pasar, aku pikir dapur di hotel cukup besar, sayang kalau tidak di gunakan untuk masak. Tapi tadi aku kehabisan uang cash, dan kau tahu, kartu ini tak ada gunanya saat aku butuh bantuan. Mana aku tahu akan bertemu dengan para preman itu," sahut Senja.
"Kalau tidak berguna, kenapa tidak kau buang saja tadi?"
"Tadi sempat ada niatan buat buang, tapi takutnya kamu marah," jawab Senja cuek.
__ADS_1
Elang mendesah mendengarnya, benar-benar punya pikiran untuk membuangnya? sungguh wanita ini kadar jiwa matrenya nol besar.
"Dan kamu tak perlu terus mengungkit kalau kamu menjaga dan melindungi aku semata karena amanah kakek, aku tak pernah lupa akan hal itu. Aku tak pernah minta kamu buat menikahiku, kamu sendiri yang memaksa," sambungnya, merasa sakit di dada mendengar Elang bicara seperti itu.
"Senja bukan begitu maksudku, aku..."
"Sudah cukup El, tak perlu di perpanjang lagi, jalan saja," ucap Senja, ia memalingkan wajahnya menatap luar jendela mobil. Tanpa terasa air matanya menetes begitu saja dan langsung ia tepis.
"Kenapa jadi dia yang marah? Harusnya kan aku yang marah," batin Elang kesal. Kesal karena kenyataannya Ervan yang menjadi penolong Senja tadi, kenapa harus Ervan? Laki-laki yang ia benci dan membencinya.
Elang pun tak bicara lagi, keheningan menyelimuti perjalanan mereka menuju ke hotel. Sesekali, Elang melirik istrinya menyesali apa yang sudah ia ucapkan tanpa sadar tadi. Tapi ia juga enggan untuk meminta maaf duluan, karena menurutnya Senja yang salah.
πΌπΌπΌ
Hingga sore hari, mereka masih saling diam satu sama lainnya. Membuat suasana hotel menjadi canggung dan sepi.
Elang berada di ruang tamu sedang menunggu kedatangan Kendra. Sementara Senja berada di kamar, memainkan game di ponselnya.
Tak berselang lama, Kendra datang dengan membawa dua paper bag berukuran sedang berisi bahan masakan. Elang sengaja memintanya untuk berbelanja karena barang belanjaan Senja tertinggal di jalanan tadi.
Elang melangkahkan kakinya mendahului Kendra setelah Kendra kembali ke ruang tamu. Kendra langsung mengikuti kemana Elang melangkah.
"Tutup pintunya," pinta Elang setelah mereka berdua sampai di ruang kerja.
"Ada apa bos? Apa ada masalah?" tanya Kendra setelah melakukan perintah Elang.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat petunjuk tentang Senja? Kedua orang tuanya mungkin? Atau apapun yang berhubungan dengan masa laku Senja mungkin?" tanya Elang to the poin.
Baru Kendra mau membuka mulutnya untuk menjawab, Elang mengangkat tangannya, mengisyaratkan supaya Kendra diam dulu. Kendra langsung mengatupkan kembali mulutnya, menunggu bosnya mengirim pesan kepada seseorang.
"Kalau mau masak, ada bahan-bahannya di dapur," send, pesan singkat yang di kirim Elang untuk Senja.
"Kenapa harus pakai kirim pesan sih? Ngomong langsung nggak bisa apa?" batin Senja kesal setelah menerima pesan singkat dari suaminya, padahal mereka berada di satu atap.
__ADS_1
"Eh api siapa yang belanja?" gumam Senja bertanya-tanya.
"Ah paling asisten menyebalkan itu," gumamnya lagi dan langsung beranjak keluar kamar.
Elang kembali meletakkan ponselnya setelah mengirim pesan dan tidak mendapat balasan. Di pijatnya pelan pelipisnya, memikirkan sebenarnya perlu atau tidak mereka diam-diaman seperti itu.
"Kau bisa bicara sekarang," Elang menatap ke arah Kendra yang masih mematung, berdiri di depannya.
"Kenapa wajahnya berubah begitu? Siapa yang baru saja ia kirimi pesan? Nona? Jangan bilang mereka sedang mogok bicara, mode silent. Astaga jangan sampai, bisa-bisa aku yang kena ini jika bos sudah bad mood duluan," batin Kendra.
"Malah diam, apa aku perlu mengulangi pertanyaanku tadi Kend?"
"Kan, mulai melampiaskan kekesalannya,"
Kendra menarik napasnya dalam, kemudian mengembuskannya pelan.
"Begini bos, saya sudah mencoba menyusuri semua tentang nona Senja. Nama, keluarga, latar belakang, semua sudah saya coba cari infonya. Tapi, saya tidak menemukan apapun. Sepertinya tuan Himawan (Nama kakek angkat Senja) sudah mengubah identitas nona Senja, sehingga tidak bisa di lacak oleh siapapun," jelas Kendra hati-hati, supaya tak membuat mood Elang semakin jelek setelah mendengar pencarian infonya belum mendapatkan hasil.
Benar saja, wajah Elang terlihat semakin kesal. Namun, ia juga tak bisa menyalahkan Kendra begitu saja, biasanya asistennya tersebut selalu bisa di andalkan, kali ini mungkin Kendra membutuhkan sedikit waktu lagi untuk mendapatkan informasi yang bosnya inginkan.
"Kuncinya hanya satu, yaitu kakek, tapi sekarang kakek angkat nona Senja sudah tidak ada, ini akan sedikit sulit," lanjut Kendra.
Elang mengeluarkan kalung milik Senja yang ia simpan di dalam box dan di taruh di laci meja kerjanya.
"Kamu perbaiki kalung ini, selain kunci utama ada pada kakek, sepertinya kalung ini bisa menjadi petunjuk. Kakek waktu itu bilang kaling ini kuncinya," ujar Elang menyorotkan box berisi kalung Senja yang putus tersebut kepada Kendra.
"Saya bukan tukang reparasi perhiasan bos," canda Kendra.
"Jangan buat aku menjadi buas dan ingin makan orang Kend," sarkas Elang.
"Gitu amat, kalau ada masalah ranjang, ya selesaikan di ranjang, jangan melampiaskan ke saya," gumam Kendra lirih, namun terdengar jelas oleh Elang. Membuatnya berdecih.
Kendra mengambil box kecil tersebut dan memasukkannya ke dalan saku jas yang melekat di tubuhnya.
__ADS_1