
Dua hari kemudian, Bianca yang baru saja kembali dari pemotretan di luar negeri tampak tergesa-gesa berjalan di lorong rumah sakit. Ia langsung melakukan penerbangan pertama setelah mendengar kabar soal kecelakaan Elang dari ayahnya.
Bianca yang berjalan tergesah tak melihat jika ada orang di depannya yang juga sedang berjalan.
Bruk! Bianca menabrak orang tersebut dari belakang, "Maaf, maaf saya buru-buru, tidak sengaja. Sekali lagi maaf," ucap Bianca mengayunkan kepalanya Berkali-kali.
"Bie?"
Mendengar namanya di sebut, Bianca mendongak, menatap laki-laki yang baru saja ia tabrak.
"Ka..k Ervan?" Bianca langsung mundur begitu menyadari yang di tabraknya adalah Ervan. Laki-laki yang dulu hampir saja menodainya.
Melihat wajah itu kembali, membuat bayangan masa lalu dimana Ervan yang membabi buta mencoba untuk meciumnya dan melepas paksa pakaiannya, terlintas kembali dalam ingatannya. Trauma yang susah ayah ia sembuhkan, seakan menghanyuinya kembali dalam waktu sekejap.
Tubuh Bianca gemetar, ia ketakutan melihat Ervan. Tubuhnya hampir limbung jika Ervan bergerak cepat memeganginya.
"Tolong lepaskan!" ucap Bianca dingin.
"Kalau aku lepaskan kamu akan jatuh," ucap Ervan.
"Lepas aku bilang!" Bianca meninggikan suaranya. Demi apapun ia sangat membenci laki-laki yang kini sedang mendekapnya tersebut.
"Maafkan aku Bie. Maafkan atas apa yang aku lakukan dulu terhadapmu. Aku benar-benar menyesal. Aku udah berusaha untuk bertemu kamu, aku ingin minta maaf secara langsung sama kamu, tapi aku tidak pernah memiliki kesempatan itu. Maafkan aku Bianca. Selama ini aku selalu di hantui rasa bersalah terhadap kamu," Ervan melupakan apa yang ia pendam selama ini.
"Lepaskan kak, atau aku teriak,"
"Teriak saja, aku nggak akan leasin sebelum kamu memaafkan aku, Bie,"
__ADS_1
"Kamu tahu, gara-gara kamu aku sampai trauma berbulan-bulan. Bahkan untuk menghadapi kak Elang pun aku sangat malu! Jangankan kak Elang, untuk dekat dengan pria lain pun aku merasa kotor!" Bianca mengumpat, mengeluarkan kekesalannya keada laki-laki bareng sek di depannya. Ya, meskipun tak sampai merenggut keperawannanya, tapi sentuhan-sentuhan dan ciuman membabi buta hampir di seluruh tubuhnya waktu itu membuat Bianca merasa rendah diri. Jejak-jejak jamahan Ervan seakan tak pernah bisa wrnah bisa di hapus seiring berjalannya waktu.
Apa yang selama ini ia jaga, bahkan Elang pun tak pernah melakukannya, di jamah paksa OLEH Ervan yang saat itu sedang di pengaruhi amarah dan dalam keadaan mabuk berat.
Yang paling Bianca sesali adalah, ia sedikit banyak menikmati cumbuan Ervan kala itu yang memang secara diam-diam ia kagumi tersebut.
Kejadian itu tak hanya menimbulkan trauma buat Bianca, tapi juga rasa bersalah terhadap Elang.
"Maafkan aku Bie. Maafkan aku, ijinkan aku memperbaiki semuanya. Aku mohon," ucap Ervan tulus, selama ini ia mencari kesempatan untuk meminta maaf terhadap Bianca namun selalu gagal.
Ervan kini beralih memeluk erat Bianca, sahabat dekat almarhumah adiknya. Gadis yang dulu diam-diam telah mencuri hatinya. Namun, rasa sakit hati dan amarahnya membuatkan hatinya hingga tega melakukan pelecehan terhadap gadis itu hingga meninggalkan luka yang dalam.
Bianca tercengang, saat menyadari kemeja yang ia kenakan basah. Ervan menangis? Sebwgitu menyesalnyakan pria tersebut? Apa dia benar-benar merasa bersalah atas yang terjadi dulu? Bianca hanya bisa diam mematung.
Sesaat keduanya lupa tujuan utama datang ke rumah sakit tersebut untuk menjenguk Elang. Mereka justru hanyut dalam masalah mereka sendiri.
Bianca seperti merasakan kembali perasaan aneh yang dulu sekali pernah ia rasakan saat setiap kalo melihat Ervan secara diam-diam jika ia berkunjung ke apartemen Ersya. Perasaan yang selalu membuatnya merasa bersalah terhadap Elang.
" Tidak Bie, aku nggak akan leasin sebelum memaafkan aku, maafkan Kak Ervan Bie," ucap Ervan.
"Baiklah kalau itu mau Kak Ervan, aku maafin. Tapi untuk apa yang sudah kakak lakukan kepadaku dan kak Elang, aku belum ikhlas," ucap Bianca bergetar.
Ervan melepaskan pelukannya, "Yang penting kamu maafin dulu, terima kasih Bie. Aku lega sekarang, setidaknya rasa bersalah itu sedikit berkurang.
Bianca diam, apa ini? Kenapa dengan hatinya, kenapa dia dengan mudahnya memaafkan atas apa yang terjadi? Bukankah dirinya seharusnya membenci Ervan hingga ubun-ubun? Trauma itu, rasa rendah diri itu? Bukankah seharusnya ada harga yang sangat mahal untu membayarnya? Dengan melihat Ervan menderita mungkin? Ah Bianca kacau sendiri dengan pikirannya. Begitulah. Kadang hati memang suka menghianati otak.
"Ervan? Bianca?" Suara Senja memecah keheningan yang baru saja terjadi DIANTARA Bianca dan Ervan.
__ADS_1
"Senja? Aku kira kamu di dalam," ucap Ervan.
"Aku baru kembali dari kantor. Bie," Senja menyapa mantan kekasih suaminya tersebut.
Bianca langsung menubruk Senja, "Kakak, Nja. Bagaimana bisa kakak mengalami ini, terus kondisinya sekarang bagaimana? Maafkan aku karen kau baru bisa ke sini, aku baru mendengar dari daddy semalam, aku terlalu sibuk bekerja hingga tak tahu kabar apapun di luar," Bianca menangis dalam pelukan Senja.
Senja yang sudah terlalu lelah menangis, hanya bisa mengelus punggung Bianca, ia tak lagi mengeluarkan air matanya.
" Ayo kita ke ruangannya sekarang. Semua sudah menunggu, barusan mommy menelepon, El sudah sadar, makanya aku buru-buru ke sini," ucap Senja tersenyum. Meskipun bukan dia yang dilihat oleh Elang pertama kali saat sadar, tapi itu tak penting. Yang terpenting suaminya kini sudah sadar. Tak ada hal membahagiakan kecuali suaminya yang kembali membuka mata saat ini.
"Benarkah? Syukurlah kalau begitu," sahut Bianca dengan mata berbinar.
"Yah, gagal dong aku nikung bumil, udah sadar ternyata," celetuj Ervan namun tak bisa menyembunyikan kebahagiannya, dua sekaligus. Mendapat maaf dari Bianca dan sadarnya mantan sahabat, yang sebenarnya tak pernah benar-benar menjadi mantan tersebut.
Mommy dan daddy yang kebetulan tadi sedang menjaga Elang, tak bisa menyembunyikan senyum lega mereka. Mereka terus mengucap syukur atas sadarnya Elang yang kini sedang di periksa oleh dokter.
"Secara keseluruhan, kondisinya cukup baik. Bisa di bilang ini sebuah keajaiban. Tuan Erlangga berhasil melewati masa kritisnya. Kita akan melakukan observasi lebih lanjut lagi, apakah ada efek lain yang di timbulkan akibat kecelakaan itu atau tidak. Saya permisi dulu," pamit dokter yang menggantikan tugas Rega tersebut, karena Rega sedang mengisi seminar di sebuah universitas.
"Terima kasih dokter," ucap daddy Alex.
"Sayang, terima kasih karena sudah sadar. Mommy senang sekali," ucap mommy Anes berkaca-kaca.
"El baik-baik saja mom, mommy jangan menangis lagi. Mata momny sampai sembab begitu," ucap Elang.
"Bagaimana mommy nggak sedih, kalau anak mommy nyawanya tinggal sehelai rambut," sahut mommy Anes sambil memeluk Elang.
Dalam pelukan momminya, Elang tersenyum melihat ke arah pintu, "Bie...."
__ADS_1
🌼 🌼 🌼
Kaburrrrrrr 🏃♀️🏃♀️🏃♀️ sebelum di demo sama readers, gegara akhir bab 😅😅