
"Sayang, ayo siap-siap tiup lilin. Semua sudah menunggu," ucap Anes.
"Sebentar, mom. Abang belum datang," ucap Gisel celingukan, mencari apakah Rega sudah terlihat.
"Kata mama Amel, abang udah di jalan, sebentar lagi sampai, kita tunggu di sana aja," ucap Anes menunjuk samping kolam renang yang sudah di hias sedemikian rupa dengan sebuah kue berukuran cukup besar terletak di tepi kolam renang tersebut.
Gisel menurut," Ayo mas Kend, mbak Sarah, kita ke sana!" Ajak Gisel.
Tak ingin membuat para tamu menunggu terlalu lama, akhirnya Gisel dan Gavin setuju untuk acara tiup lilin.
Setelah memberikan potongan kue pertama untuk mommy dan daddy, kini giliran Elang dan Senja. Gisel memberikan kue untuk Elang sementara Gavin untuk Senja. Setelahnya, Gisel dan Gavin bertukar potongan kue, hal itu selalu mereka lakukan saat ulang tahun.
Gisel memberikan potongan kue untuk mama Amel dan papa David seraya menunggu kedatangan Rega. Ia menyuapi mereka secara bergantian, mereka merupakan orang tua kedua untuk anak-anak daddy Alex. Namun, Gisel lah yang paling dekat dan manja kepada mereka.
"Makasih, sayang," mama Amel mencium pipi Amel. Sementara papa David, membelai rambutnya penuh sayang sebagai ungkapan sayangnya untuk Gisel.
Di tengah suasana haru dan penuh cinta untuk twins tersebut, datanglah sosok yang sejak tadi di nantikan oleh Gisel.
Rega berjalan mendekat ke arah mereka. Namun, yang menjadi perhatian bukanlah kedatangannya, melainkan sesosok perempuan yang berjalan di sampingnya. Menggandeng lengannya posesif. Wanita anggun dan cantik, sangat serasi dengan Rega.
Senja yang melihatnya bisa menyimpulkan apa yang akan terjadi, ia meremat lengan Elang, yang di balas usapan lembut di tangannya oleh Elang.
Semua yang hadir terdiam, terutama Gisel yang tampak tercenung. Seperti sedang menunggu sebuah penghakiman atas perasaannya selama ini. .
Gisel yang sedang membawa sepotong kue, yang akan ia berikan untuk Rega, tetap menyunggingkan senyum termanisnya meskipun perasaannya mulai tak enak.
Dunia Gisel serasa berhenti berputar Ketika Rega memperkenalkan wanita di sebelahnya sebagai kekasihnya.
"Ini Nandira, kekasih Abang," ucap Rega tegas.
Wanita tersebut mengulurkan tangannya, "Dira," ucapnya seraya memaksakan senyum.
Tangan Gisel mendadak kaku, bahkan kue yang ada di tangannya hampir jatuh jika tidak di ambil alih oleh Gavin. Wanita di depannya itu... Ia masih ingat, dialah Nandira yang dulu pernah ingin menyatakan perasaannya kepada Rega. Ia tak menyangka jika sekarang mereka benar-benar bersama. Wanita itu benar-benar menjadi seorang dokter.
Semua yang ada di sana hanya bisa terdiam dalam keterkejutan mereka. Gisel serasa tak mampu bernapas, ia berharap ini hanya sebuah mimpi.
__ADS_1
Namun, saat matanya mengedar, menyadari semua orang yang mengetahui kisahnya, kini seolah sedang menatapnya iba, ia sadar, ini adalah kenyataan. Inilah kado di hari ulang tahun sekaligus untuk kelulusannya.
"Sel,... Sel..." panggil Gavin lirih demi memastikan saudari kembarnya baik-baik saja.
Menyadari situasi, Gisel mencoba tegar, ia menghela napas dan menyambut uluran tangan wanita di depannya, "Gisel," ucapnya mencoba tersenyum meski dalam hati terluka. Wanita itu tak terlalu asing buatnya. Sering menyambangi Rega di rumah sakit, beberapa kali ia melihat wanita yang juga berprofesi sebagai dokter tersebut.
Namun, ia tak menyangka jika wanita itu adalah kekasih Rega. Memang Gisel akui, Nandira cantik dan lebih dewasa darinya.
"Selamat ulang tahun ya, Rega banyak cerita soal kamu, dan aku nggak nyangka adik kecil yang dia bilang menggemaskan, yang suka manja dan bikin ulah, penuh percaya diri mengejar dia, padahal udah di tolak Berkali-kali, ternyata cantik begini," ucap Dira.
"Dira, cukup!" ucap Rega yang merasa Nandira keterlaluan dan dia juga merasa tak pernah menceritakan apapun soal Gisel kepadanya. Dira langsung diam, tak berani melanjutkan kata-katanya begitu melihat sorot mata Rega.
Gisel hanya bisa memaksakan senyumnya, seperti itukah ia di mata Rega selama ini, hanya seorang anak kecil yang manja bahkan mungkin cengeng dan suka membuat ulah untuknya.
Mendengar ucapan Dira, Mama Amel tak terima, ia siap maju dan membuat perhitungan dengan wanita yang di bawa oleh putranya tersebut. Namun, papa David mencegahnya, ia memberi kode untuk tidak ikut campur.
"Kamu selalu begitu, awas aja kalau sampai Gisell kenapa-kenapa. Kamu sama Rega bakal berurusan denganku, camkan itu!" omel Amel kepada papa David.
Senja terus meremat lengan Elang, ia bisa merasakan bagaimana erasaan Gisel saat ini. Hari yang seharusnyanya bahagia kini menjadi menyakitkan.
Kendra yang menyadari posisinya sebagai bawahan keluarga tersebut, hanya bisa menatap Gisel khawatir. Ia tak bisa berbuat apa-apa. Apalagi sok menjadi pahlawan kesiangan, ia tidak bisa melakukannya.
Sarah hanya diam menyaksikan drama di depannya dengan sesekali melirik ke samping, demi melihat raut wajah khawatir Kendra yang tak bisa laki-laki itu sembunyikan.
"Happy birth day and happy graduation ya Dik. Semoga panjang umur dan apa yang menjadi cita-cita kamu menajdi kenyataan," ucap Rega tulus, ia menyerahkan sebuah paper bag berisi hadiah untuk Gisel.
Gisel menerima paper bag tersebut dengan hati remuk redam. Ya, cita-citanya menjadi sebuah kenyataan, kenyataan pahit yang pasti.
"Terima kasih," hanya itu yang bisa Gisel ucapkan saat ini dengan terbata, berusaha kuat dan tidak menitikkan air mata. Acara baru saja di mulai, ia tak ingin membuat apa yang sudah mommy buat menjadi kacau.
"Nggak di lihat, Dik isinya?" ucap Rega yang juga berusaha tetap cuek dengan dengan kondisi Gisel saat ini yang tentu saja ia tahu pasti terluka.
Gisel membuka papar bag tersebut, ia terdiam melihat isinya, yaitu peralatan menggambar dengan kualitas terbaik dan sebuah buku tentang designer mode. Ia memandang Rega dan laki-laki itu mengangguk seraya tersenyum tulus.
Hadiah itu memang tak terlalu mahal, bisa dibilang sederhana. Namun, benda itu mengingatkan kalau dulu sekali, jauh sebelum ia merubah dunianya menajdi Rega, benda-benda tersebut menjadi kesayangan dan berharga buat Gisel yang suka menggambar dan bercinta-cita menjadi designer fashion terkenal.
__ADS_1
Gisel hampir atau bahkan mungkin sudah melupakan cita-citanya yang satu itu. Ia memang kuliah di jurusan Fashion mode, tapi semua itu hanya karena Rega yang menyuruhnya. Sebelumnya, ia ingin masuk jurusan kedokteran, sama seperti Rega. Tapi, Rega tahu itu bukan passion Gisel.
"Kamu mau jadi dokter, sama darah aja takut, Dek," Seloroh Rega kala itu. Ia yang sejak kecil dekat dengan Gisel, tahu betul bakat dan hobbi gadis itu yang perlahan ia lupakan demi mengejar dirinya yang bahkan sebenarnya tak pernah lari tersebut.
"Lanjutkan, mimpimu, Dek!" ucap Rega tersenyum tulus.
Jika biasanya Gisel akan terang-terangan memeluk Rega tanpa malu, tapi kini ia hanya bisa mengangguk. Lantas apa yang harus ia lanjutkan? Mimpinya untuk bersama pria yang ia kagumi dan gilai sejak dulu kini pupus sudah. Mimpi mana yang di maksud, Gisel merutuki nasibnya dalam hati.
"Kita lanjutkan acaranya, semuanya nikmati acaranya ya, jngan pulang sebelum have fun!" ucap Gisell tersenyum, namun dengan mata berkaca-kaca.
Acara pun berlanjut, Gisel pamit kepada Rega dan Dira untuk bergabung dengan yang lainnya, padahal ia ingin menyendiri.
Rega hanya bisa menatap punggung Gisel dengan tatapan nanar.
"Kamu cantik sekali malam ini, Dek. Maafkan abang, kamu harus sadar dan melihat, dunia begitu luas, masih banyak hal yang bisa kamu lihat. Jadilah dirimu sendiri dan lihatlah dunia yang begitu luas ini. Terima kasih karena malam ini kamu kuat, kamu hebat. Jika abang boleh meminta, jika abang boleh egois, jangan pernah berubah," batin Rega, matanya tak berkedip menatap punggung Gisell hingga tak lagi terlihat.
Dira hanya bisa menahan kesal melihat Rega yang terus memperhatikan Gisel dengan tatapan campur aduk, sedih, merasa bersalah dan mungkin... Cinta.
" Aku ambil minum dulu, kamu mau minum enggak?" tanya Dira.
Rega menggeleng, "Nanti aku ambil sendiri," ucapnya tanpa melihat Dira.
Dira sedikit menghentakkan kakinya, ia kesal karena seharusnya sebagai laki-laki, Regalah yang mengambilkannya minum. Nandira meninggalkan Rega dengan lamunannya.
Papa David mendekati Rega, ia menepuk bahu putra semata wayangnya tersebut. Rega menoleh dan papa David mengangguk, "It's Oke," ucapnya.
"Mama? bunda?" Rega mengkhawatirkan dua wanita penting baginya tersebut.
"Mama, biar apa yang handle. Kalau bunda, serahkan pawangnya, tak perlu khawatir," ucap David tersenyum seraya menepuk-nepuk bahu Rega.
🌼 🌼 🌼
💠💠 Jangan lewatkan like dan komen di setiap bab, kopinya juga boleh euy, biar melek ini mata 😄😄
Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠
__ADS_1