Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 119


__ADS_3

Setelah kepergian si kembar, Elang dan Senja kembali di sibukkan dengan kegiatan mereka seperti semula. Bedanya, kini mereka lebih sering mengunjungi kediaman utama Parvis. Sesekali mereka juga menginap di sana demi sedikit mengurangi rasa kesepian mommy dan daddy.


Seperti pagi ini, Elang dan Senja memulai hari mereka di rumah utama karena semalam mereka menginap di sana.


Mereka mulai hari dengan sarapan bersama. Mommy Anes dan daddy Alex saling melempar pandang sejak tadi di sela-sela makan mereka karena tumben pagi itu anak dan menantunya saling mendiamkan sejak turun untuk sarapan tadi.


Senja tetap melayani suaminya seperti biasa, mengambilkan nasi dan lauknya, tak lupa ia menuangkan air putih ke dalam gelas di depan suaminya, namun semua itu ia lakukan dalam diam dengan wajah yang sedikit masam.


Mommy Anes bertanya kepada daddy Alex ada apa dengan kedua anaknya menggunakan bahasa mata, namun daddy Alex hanya bisa menggedikkan bahunya sebagai jawaban. Mommy Anes hanya mencebik samar, sebagai tanda tidak puas dengan jawaban suaminya.


Senja terus melahap sarapannya sambil sesekali menyesp susu hamil yang tadi di buatkan oleh bibi.


"Nanti kamu pulang ke sini saja, biar ada teman, jadi nggak kesepian," ucap Elang tiba-tiba di tengah suara dentingan sendok dan garpu yang saling bersahutan karena sejak tadi mereka hanya diam saja.


"Nggak mau, aku pulang ke rumah aja," jawab Senja singkat.


"Tapi, nanti kalau kamu butuh apa-apa, kalau anak kita mau makan apa-apa selama aku pergi gimana? Kalau di sini kan ada daddy dan mommy. Aku juga lebih tenang ninggalin kamu kalau kamu di sini," ucao Elang.


"Kalau nggk tenang ya jangan pergi, aku udah bilang jangan pergi, aku nggak mau di tinggal-tinggal tapi kamu nggak dengerin,"


"Aku pergi kan cuma beberapa hari, nanti weekend juga udah di rumah. Ada proyek penting yang harus aku tinjau langsung di sana, sayang,"


Mommy Anes dan daddy Alex kini paham kenapa anak dan menantunya tadi saling mendiamkan. Rupanya, Senja sedang merajuk karena tidak mau ditinggal oleh suaminya ke luar kota. Mereka melanjutkan makan, pura-pura tidak mendengar dan melihat perdebatan kecil anak dan menantunya. Sepertinya Elang dan Senja lupa jika di depan mereka ada mommy dan daddy.


"Sayang, ayolah. Kenapa seperti ini, biasanya juga tidak masalah aku tinggal beberaa hari. Aku ajak kamu, kamunya nggak mau, jadi aku harus gimana?" lanjut Elang.


Senja diam, biasanya dia memang tak masalah jika di tinggal ke luar kota maupun ke luar negeri untuk urusan pekerjaan. Tapi entahlah, kali ini kenapa perasaannya tidak enak. Ia tidak rela Elang meninggalkannya meskipun hanya ke luar kota saja.


"Kend ikut?" tanya Senja.


Elang menggeleng pelan. Senja mendengus, ia menoleh ke arah dua orang yang pura-pura sibuk dengan sendok, garpu dan piring di depan mereka yang membuat Senja mengurungkan niatnya untuk mengomeli suaminya.

__ADS_1


"Berangkat sekarang, aku tunggu di mobil," ucap Senja tanpa menatap suaminya. Ia berpamitan dengn mommy dan daddy, menyalami mereka bergantian sebelum melangkahkan kakinya menuju ke mobil.


Elang mengembuskan napasnya kasar melihat Senja berjalan menjauh dari ruang makan tersebut.


"Sabar... Ingat, kondisi emosional setiap wanita hamil berbeda-beda. Mungkin istrimu lagi pengin di manja, nggak mau jauh-jauh sama kamu," ucap mommy Anes mencoba menenangkan sang putra.


"Hem, El berangkat dulu, selama El pergi, titip Senja dan anak El," Elang bangkit dari duduknya. Setelah menyalami kedua orang tuanya bergantian, ia bergegas menyusul istrinya.


🌼 🌼 🌼


"Bumil, kenapa lagi sih? Dari tadi di tekuk terus itu muka?" tanya Sarah sambil duduk di epan Senja.


"El pergi, ke luar kota," jawab Senja datar.


Sarah mengernyit, "Lah, biasanya juga gitu kan? Kalau nggak je luar kota juga ke luar negeri, kamu biasa aja. Nanti juga dua atau tiga hari lagi udah ngekepin kaku lagi," ucapnya.


"Tahu lah Sar, anak aku nih kayaknya yang nggak mau jauh dari daddinya. Perasaan aku nggak enak aja, kayak nggak tenang kayak biasanya. Bawaan hamil kali ya?" Ucap Senja.


"Paling iya, Nja. Udah jangan cemberut gitu, kalau nggak ridho suami pergi ntar malah kenapa-kenapa lagi di jalan,"


"Makanya, mending doain supaya selamat sampai tujuan sampai balik lagi, daripada di pusing in begitu. O ya, hari ini ada meeting sama pak Ervan, nggak lupa kan?" Sarah mengingatkan.


"Iya, aku ingat. Malas banget sih, harus meeting sama Ervan, sedangkan El malah mau pergi," keluh Senja.


"Tenang, kan ada aku," seloroh Sarah.


Senja mengambil ponselnya karena ada pesan masuk, "Aku berangkat ya, jangan ngambek lagi, suami kamu pergi juga buat masa depan anak kita, diusahakan pulang secepatnya. Titip anak aku ya, love you my Cherry," di bacanya pesan dari Elang.


Tanpa terasa, air matanya menetes begitu saja. Entahlah, Senja sendiri tak tahu kenapa ia bisa secengeng ini, padahal ini bukan pertama kali Elang pergi. Senja merasa kesal dengan dirinya sendiri yang semakin manja dan cengeng tersebut.


Tanpa Senja sadari, Ervan sudah berdiri di depan pintu ruangannya. Sarah hendak menyadarkan Senja yang masih hanyut dalam perasaannya karena ia melihat laki-laki tampan yang sudah lanang masuk dan berdiri di depan pintu tanpa menunggu di pesilakan terlebih dahulu.

__ADS_1


Namun, Sarah mengurungkan niatnya ketika Ervan menggelengkan kepalanya seraya menempelkan jari telunjuknya di depan bibirnya sendiri. Sarah patuh, seolah ia telah terhipnotis oleh ketampanan pria tersebut.


Ervan melangkah masuk, "Wanita hamil nggak boleh keseringan menangis," ucapnya begitu sampai di depan Senja.


Senja mendongak, "Ervan?" ucapnya.


Ervan tersenyum, "Teman datang, bukanya di sambut pelukan hangat malah di sambut pakai ingus, dasar!" ucapnya.


Senja berdecih, "Apaan sih, katanya nanti meeting ya, sekarang udah ke sini aja. El lagi pergi, jangan buat ulah," ucap Senja.


"Bagus dong kalau begitu, nggak ada satpam yang bakal mengacaukan kencan, eh meeting kita maksudnya," ucap Ervan terkekeh.


"Pergi sana, meeting ya kita tunda saja, aku lagi nggak mood," ucap Senja.


"Weh, enak aja. Time is money, seenaknya aja nunda nunda. Aku udah merelakan sebagian sahamku untuk di beli si cumi, jangan makin buatku bangkrut, dong,"


"Siapa suruh menjualnya," cebik Senja lagi.


"Oh, jadi kamu lebih memilih jadi istri aku dari pada si cumi, kenapa nggak bilang dari awal, tahu gitu aku nggak jual saham sama si cumi. Nggak harus kena amuk bokap juga jadinya,"


Senja berdecih sambil menggelengkan kepalanya, "Kalau El tahu, kamu di sini, menggodaku. Habis kamu," ucapnya.


"Tapi kan dia nggak ada di sini ," Ervan mengedipkan satu matanya menggoda Senja.


"Gila," umpat Senja setengah terkekeh.


"Aku memang tergila-gila padamu,"


Senja mendelik.


"Dulu," ucap Ervan terkekeh.

__ADS_1


" Dan sepertinya masih sampai sekarang," lanjutnya dalam hati.


🌼 🌼 🌼


__ADS_2