Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 67 (Sebesar apa cinta untuknya)


__ADS_3

Selesai makan malam, kini mereka berbincang-bincang santai masih tetap berada di ruang makan.


"Gavin, mulai minggu depan, daddy harap kamu sudah mulai membantu daddy di perusahaan," ucap Alex kepada Gavin.


"Tapi dad... Gavin belum siap, kuliah Gavin belum selesai," ujar Gavin.


"Belajar dulu, nanti saat daddy pensiun dari perusahaan, biar kamu siap untuk menggantikan daddy, daddy semakin tua, tidak mungkin bisa memimpin perusahaan terus. Kakakmu sudah memiliki perusahaannya sendiri, siapa lagi yang mau bantu daddy kalau bukan kamu," ucap Alex.


Gavin hanya bisa menghela napas, entah kenapa dirinya tidak berminat sama sekali dengan perusahaan sang daddy, dia hanya ingin menjadi orang biasa. Ia menoleh ke arah David.


"Jika daddymu pensiun, papa juga akan pensiun," ucap David yang mengerti arti tatapan Gavin.


"Kan ada Gisell, biar dia yang bantu daddy," mengalihkan pandangan kepada saudari kembarnya.


"Apa? Kenapa aku? Aku tidak mau, aku hanya ingin menjadi seorang istri yang baik, bahkan sebenarnya kuliahpun aku tak mau, aku hanya ingin menikah dengan..."


"Uhuk!" deheman Rega menghentikan ucapan Gisell.


"Kau ini, hanya abang saja yang ada di otakmu itu, apa tidak ada hal lain. Hadeh sepertinya kau bahkan lupa jati dirimu sendiri, parah," seloroh Gavin.


"Gavin!" sentak Elang. Ia tahu apa yang dikatakan oleh Gavin benar adanya, tapi tidak seharusnya ia mengatakannya seperti itu di depan semua orang, itu akan mempermalukan adik bungsunya tersebut.


Sementara Rega, ia tidak tahu harus bicara apa.


"Dek, kamu masuk kamar saja," ucap Rega.


Gisell menatap lekat Rega, ia berharap laki-laki yang selalu memenuhi otak dan hatinya itu bisa sedikit saja menyatakan kalau dia juga menyukainya supaya ia tidak selalu terlihat konyol dan menyedihkan karena tidak tahu malunya mengejar dokter tampan tersebut.


Nyatanya Rega selalu diam, ia tak pernah mengiyakan ataupun menolak, ia sendiri tidak bisa jika harus menjauh dari Gisell, tapi ia juga tidak ingin membuat Gisell kehilangan jati diri dan cita-cita karenanya.


"Abang bilang sama mereka kalau abang suka sama adek, biar mereka tidak menertawakan Gisell terus bang. Kalau abang tidak suka, bilang tidak suka, biar adek tahu harus bagaimana," ucap gadis itu.


"Masuk kamar dek, atau abang tidak mau ketemu adek lagi," ucap Rega yang sebenarnya menahan sesuatu di dalam dadanya.


"Abang jahat!" Gisell langsung meninggalkan meja makan dan berlari menaiki anak tangga menuju kamarnya. Suasana yang seharusnya santai malah menjadi tegang.


"Maaf," ucap Gavin, ia merasa bersalah karena ianyang memulai mengungkit soal hal ini.

__ADS_1


"Kamu itu, makanya hati-hati kalau bicara," peringat Anes.


"Biar aku susul," ucap Senja, ia menoleh ke arah Elang meminta persetujuannya. Elang mengangguk dan Senja langsung berdiri dan menyusul Gisell ke kamarnya.


"Ya ampun kenapa jadi begini sih, anak gadisku kan jadi sedih," ucap Amel melihat ke arah Rega. Sebenarnya ia sangat berharap jika Gisell kelak menjadi menantunya. Akan tetapi, ia juga tidak mau memaksa Rega.


"Maafkan abang dek, suatu saat kamu akan mengerti, kalau duniamu itu luas, masih banyak yang bisa kamu lihat selain abang," batin Rega.


"Sudah sudah, pokoknya daddy nggak mau tahu, kamu harus mulai belajar tentang Parvis Group," ucap Alex tegas.


"Tapi dad..."


"Kenapa sayang, apa yang membuatmu tidak mau? Kau tak ingin membantu daddymu?"


"Bukan begitu mom, bukan Gavin tidak mau, tapi karena..."


"Karena dia menyukai orang biasa, tidak suka orang kaya," Gavin meneruskan ucapannya dalam hati.


"Karena apa?" desak Alex.


🌼 🌼 🌼


"Boleh aku masuk?" tanya Senja dari pintu ketika melihat Gisell sedang duduk menahan kesal, bahkan air mata hampir jatuh dari sudut matanya.


"Masuklah kak," ucap Gisell.


Senja masuk dan duduk di samping Gisell.


"Aku baik-baik saja kak, tidak usah khawatir. Sudah biasa seperti ini, nanti mood aku juga cepat baik lagi kok," ucap Gisell sebelum Senja bertanya.


"Aku tahu itu. Emm, apa kau benar-benar menyukai Rega?"


"bukan hanya sekedar suka kak, tapi cinta. Aku cinta mati sama abang. Aku tidak peduli dengan yang lainnya, aku hanya ingin bersama abang. Tapi abang selalu begitu, tidak pernah bilang cinta tapi juga tidak menolak, kadang buat aku bingung dan kesal sendiri. Tapi, kalau abang menolak cintaku, aku juga nggak bisa, aku nggak siap, duniaku akan hancur karena abang adalah dunikau, kakak ipar. Kenapa mencintai bisa sesesak ini rasanya kak," ucap Gisell, ia mencurahkan isi hatinya kepada Senja.


"Apa kamu pernah mendengar kalau cinta itu tidak harus memiliki?"


"Sering kak, mommy sering bilang, tapi abang dunia Gisell, jika tanpa abang aku nggak bisa,"

__ADS_1


Senja meraih tubuh adik iparnya ke dalam pelukannya. Ia berpikir jika itu mungkin obsesi atau benar-benar cinta.


"Tenanglah, jika memang jodoh tak akan kemana. Sakit memang mencintai tanpa di cintai, ada istilah lebih baik di cintai daripada mencintai. Tapi akan lebih baik lagi jika saling mencintai," ucap Senja. Jika ia melihat tatapan Rega terhadap Gisell, ia merasa ada sesuatu di sana. Namun, ia sendiri tidak bisa menyimpulkan begitu saja.


" Kakak ipar benar, jadi aku harus berusaha lagi untuk membuat abang menyatakan kalau dia juga mencintaiku. Ya aku harus berusaha lebih, aku nggak akan menyerah sebelum abang balas cintaku atau abang menikah dengan perempuan lain, karena aku tidak mau jadi pelakor, tapi saat itu pasti duniaku benar-benar hancur," ucap Gisell berapi-api, moodnya mendadak bersemngat dan di akhir kalimatnya langsung membuang napas berat.


Senja tersenyum tipis, sepertinya Gisell salah mengartikan ucapannya tadi.


" Kalau begitu kamu harus semangat," akhirnya Senja hanya bisa menyemangati Gisell.


"Em, apa tidak ada cowok lain yang dekat sama kamu?" tanya Senja.


"Yang deketin banyak kak, tapi tidak ada yang menarik, mata aku cuma bisa lihat abang aja, yang lainnya buram. Selain daddy, papa, kakak sama Gavin loh maksudnya ya," jelas Gisell.


Lagi-lagi Senja tersenyum tipis, segitu cinta matinya Gisell dengan Rega, hingga dunianya terasa sangat sempit yaitu hanya Rega.


" Apa kmu tidak ingin mengejar cita-citamu terlebih dahulu sebelum mengejar cinta? "


" Tidak kak, cita-cita ku cuma ingin bersama abang, menjadi nyonya Regantara. Bisa bersamanya, menjadi istri dan ibu dari anak-anaknya, tidak ada hal lain yang lebih indah dari itu" jawab Gisell.


Senja hanya tersenyum tipis menanggapinya, ia benar-benar tidak tahu harus berkata apa.


"Kakak ipar sendiri bagaimana? Seberapa cinta kakak ipar kepada kakak?" Gisell mengubah posisi duduknya menghadap Senja.


"Em itu..." pertanyaan Gisell membuat Senja berpikir sebesar apa cinta untuk suaminya tersebut.


Gisell mengerjap-ngerjapkan matanya, ia tak sabar ingin mendengar jawaban Senja.


"Kakak ipar belum mencintai kakak ya?" tanya Gisell, ada nada kecewa dari pertanyaannya barusan.


"Eh tidak, bukan begitu," Senja langsung menggeleng cepat.


"Ya, aku tahu. Tidak ada yang bisa menolak pesona kakak. Tapi sebesar apa cinta kakak ipar? Apa sebesar cintaku buat abang?" Gisel sangat penasaran.


"Aku cinta sama dia, sebesar... Tidak bisa aku ungkapkan dengan kata-kata. Yang jelas jika di sandingkan dengan gunung atau lautan, lebih besar dari keduanya," ucap Senja mantap. Tanpa ia sadari, Elang kini tengah mengukir senyum bahagianya di ambang pintu karena mendengar penuturannya barusan.


🌼 🌼 🌼

__ADS_1


__ADS_2