
Suasana tegang menyelimuti sebuah ruangan di kantor BaileyTex saat ini. Dimana Senja tampak sedang duduk dengan tangannya terus meremas jari kemarinya sendiri karena sedikit gugup. Di sampingnya, Elang duduk terdiam dengan wajah yang dingin dan tak bersahabat menatap setiap orang yang ada di ruangan tersebut terutama Ervan. Kedua laki-laki itu saling membunuh dalam tatapan mereka.
Hari ini adalah batas waktu untuk menandatangani surat pengalihan perusahaan beserta harta peninggalan tuan Bailey lainnya.
Di ruangan tersebut sudah ada nyonya Jolie beserta sekretarisnya, tuan Albert, tuan Damien dan juga Ervan. Mereka semua menantikan keputusan akhir Senja. Apa dia akan mempertahankan harta peninggalan ayahnya dan menikah dengan Ervan, atau melepaskan keduanya.
"Tentu saja kau sudah tahu kalau syarat mutlak untuk mendapatkan hak waris itu kau hatus menikah dengan anak sahabat kakakku? Dan aku tahu kalian adalah pasangan suami istri. Kau sudah menikah Senja, jadi kau tidak bisa mengambil alih perusahaan, kecuali... Kau bercerai dengan tuan Erlangga dan menikah dengan tuan Ervan," ucap nyonya Jolie penuh kemenangan.
Senja menarik napasnya dalam," Ya, seperti yang tante tahu, saya memang sudah menikah. Dan silahkan tante menikmati kekayaan peninggalan ayah saya. Meskipun saya pimir persyartan itu sangat tak masuk akal dan mencurigakan, tapi saya tidak peduli. Silahkan tante ambil semua yang bukan hak tante tersebut," ucap Senja tak gentar, ia bwrhasil menyembunyikan rasa nerveous dan kesedihannya karena tidak bisa menyelamatkan perusahaan ayahnya.
Apalagi jika benar kematian kedua orang tuanya adalah ulah nyonya Jolie, tentu saja Aenja merasa sangat bersalah dengan keputusannya tersebut. Akan tetapi, ia memang harua memilih dan ini pilihannya.
"Wah, sombong sekali kamu. Sok nggak butuh harta. Mentang-mentang suami kamu kaya? Hah dasar bodoh!" hina nyonya Jolie.
"Jaga ucapanmu nyonya! Jangan sampai kesabaranku hilang dan kai akan tanggung akibatnya!" sentak Elang yang tak terima istrinya di bilang bodoh.
"Maafkan saya tuan, tapi saya rasa Anda tak cocok dengannya, Anda terlalu berharga untuk perempuan sebodoh dia," jawab nyonya Jolie.
Kali ini tak hanya Elang yang emosi namun juga Ervan, mendemgar Senja di hina ia tak terima.
"Wah wah wah, hebat sekali keponakanku yang satu ini, di perebutkan dua pria sekaligus," sindir nyonya Jolie. Ia merasa di atas angin karena ia beberapa pemegang saham berpihak padanya dan sebentar lagi BaileyTex akan resmi sepenuhnya menjadi miliknya.
"Kau..." Elang sangat geram mendear oceham tidak penting dari mulut nyonya Jolie.
Dengan cepat, Senja meraih tangan Elang untuk menenangkannya, "Cepat, mana yang harus saya tanda tangani, biar saya bisa cepat pergi dari sini," ucap Senja menatap sinis nyonya Jolie.
"Nona, apa kau yakin dengan keputusanmu?" tanya tuan Albert.
"Iya, apa tidak sebaiknya pikirkan lagi, bagaimana perasaan Bailey jika tahu putrinya memilih mengkhianatinya seperti ini?" imbuh Damien.
Senja menoleh, "Tuan, selama ini hanya suami saya yang saya punya, dia satu-satunya yang selalu ada untuk saya. Saya tahu Anda sangay mencintai ayah saya. Tapi, tolong hargai keputusan saya, ini pilihan saya sendiri tanpa ada paksaan dari siapapun. Saya yakin yang terpenting untuk orang tua saya adalah melihat saya hidup dengan baik dan bahagia meskipun tanpa harta mereka," ucapnya kepada tuan Albert yang di balas anggukan mantap oleh tuan Albert.
__ADS_1
Senja beralih menatap tuan Damien tak suka namun juga bicara dengannya, hanya mengacuhkan pria paruh baya itu.
" Udah dramanya, ini cepat tanda tangan dan ceat pergi. Aku enek lihat drama kalian semua," sarkas nyonya Jolie.
Senja menarik berkas yang ada di depannya unyuk di tanda tangani. Elang yang menyaksikannya merasa bersalah. Usahanya kemarin-kemarin haruskan sia-sia.
Saat hendak membubuhkan tanda tangam di atas berkas tersebut, Kendra masuk tanpa permisi, "Tunggu nona, Anda jangan tanda tangan dulu!" pinta Kendra.
Elang menatap Kwndra dengan pertanyaan 'Kenapa? Apa yang terjadi?'.
Kendra hanya mengangguk aebagai jawabannya. Mengwrti maksud Kendra, pasti ada hal yang penting, Elang meminta Senja menunda menandatangani berkas tersebut. Senja menurut, ia meletakkan kembali bolpoint yang ia pegang.
Kendra mendekat dan berbisik tepat di telinga Elang. Setelahnya ia menyerahkan sebuah berkas kepada Elang. Elang tersenyum tipis menunjukkan kelegaan di hatinya. Ia menerima berkas tersebut lalu melemparnya ke depan nyonya Jolie.
"Perusahaan ini sudah saya akuisisi, lihatlah sebagian besar pemegang saham sudah menjual saham yang mereka miliki kepada saya," ucap Elang tegas dan dingin. Ia tak menyangka jika Mr. Andrew berubah pikiran. Bahkan ada satu orang lagi yang diam-diam menjual sebagian sahamnya kepada Elang, entah siapa orang itu, Elang masih bekum tahu.
" Tidak mungkin, mereka tidak mungkin mengkhianatiku!" nyonya Jolie menggebrak meja frustrasi.
"Anda lupa, uang dan kekuasaan bisa merubah haluan seseorang. Yang tadinya mendukung menjadi melawan. Anda tentu tahu kan kalau uang bisa membuat orang lupa diri, termasuk Anda," tuan Albert ikut bicara, sampai sekarang masih curig kalau nyonya Jolie adalah dalang di balik kematian bosnya. Tapi sayangny tak pernah ada bukti.
" Dan saya akan memberikan perusahaan ini kepada pemili sesungguhnya, istri saya Senja," ucap Elang mantap.
Senja melongo tak percaya, sejauh ini pengorbanan suaminya untuknya? Untuk mengakuisisi perusahaan pasti ia harus mengeluarkan uang yang jumlahnya tidak bisa dihitung hanya dengan jari jemarinya.
" Boo... " Senja tak bisa berkata apa-apa lagi. Hidupnya saat ini terlalu sempurna memiliki Elang.
Elang mengangguk dan tersenyum kepada Senja. Manis sekali, membuat Ervan berdecak.
"Ck, drama banget sih. Udah buruan Cher, eh Senja tanda tangani itu berkas, mumpung cumi ini khilaf," ucapnya.
Elang memicingkn matanya menatap kesal kepada Ervan. Cumi? Meski sering protes di panggil cumi, tapi Ia rindu di panggil cumi sama mantan sahabatnya tersebut.
__ADS_1
Senja langsung menandatangani berkas yang tadi di bawa oleh Kendra. Rupanya Kendea sudh memepersiapkan semuanya barang kali keadaan berbalik ia tinggal memberikan berkas itu kepada bosnya.
"Ah sial, kau jangan lupa aku juga masih punya saham di perusahaan ini," ucap nyonya Jolie yang langsung menghentakkan kakinya dan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
Semua yang bwrada di ruangan tersebut bernapas lega setelah melihay nyonya Jolie pergi. Kecuali tuan damien, pria tua itu menatap tajam ke arah putranya. Yanh di tatap hanya nyengir sambil menyisir rambutnya dengan cool. Ia tahu pasti ayahnya itu sudah mengetahui sesuatu.
"Baru juga di sela buat bernapas, udah sampai aja berita itu ke telinga papa," batin Ervan.
Tuan Damien menarik lengan Ervan, "Pulang!" ucapnya jengkel. Yang di tarik hanya menurut, "Jangan senang dulu cumi, aku belum kalah. Senjamu itu mungkin memang jodohku nanti, siapa tahu kan dia jadi janda muda," ucap Ervan nyengir, padahal dalam hatinya ia amit-amit dengan ucapannya, jangan sampai jangan sampai, pikirnya.
"Cepat, papa harus buat perhitungan sama kamu, kenapa kamu menjual sebagian sahammu kepada pembunuh adikmu itu, dasar bodoh!" tuan Damien terus memarahi Ervan, suaranya ikut menghilang seiring menghilangnya bayangannya dari pandangan Elang dan Senja.
Elanh sedikit menyipitkan matanya, Sayup-sayup ia mendengar tuan Damien menyebutkn kata menjual saham, mungkinkah? Elang perlu bertanya kepada Kendra setelah ini.
"Selamat nona, akhirnya BaileyTex menjadi milik anda sepenuhnya, saya senang. Tuan pasti juga senang di sana melihat puterinya memiliki suami seperti tuan Erlangga," ucap tuan Albert tulus. Terlihat sorot haru dari kedua mata rentanya.
"Terima kasih tuan, semua juga berkat bantuan Anda," sahut Senja.
Tuan Albert pamit, Elang mengajak Senja untuk kembali ke hotel setelah semuanya selesai. Saat jeluar dari ruangan tersebut, ponsel Elang berdering. Ia menghentikan langkahnya, "Sayang, aku angkat telelpon dulu," ucapnya ada Senja. Senja mengangguk dan melepas genggaman tangannya ada tangan Elang.
Elanh sedikit menjauh lalu mengangkat panggilan.
"Mr. Andrew, terima kasih karena Anda sudah mau membantu saya," tembak Elang langsung saat berhasil terhubung.
"Oh sama-sama tuan Erlangga, harusnya Anda berterima aksih kepada tuan Ervan, kalau bukan karena beliau semalam, mungkin saya masih belum berubah pikiran, karena sebenarnya saham di BaileyTex akan saya berika untuk anak sya3, tapi ya sudahlah tak masalah," ucap tuan Andrew dari seberang telelpon.
"Ervan?" Elang mengernyitkan keningnya.
"Ya, tuan Ervan semalam menemui saya," kata Mr. Andrew.
"Oh baiklah, kalau begitu terima kasih untuk semuanya, kerja sama kita akan terus berlanjut. Anda bisa menyiapkan proposal selanjutnya," ucap Elang sebelum mengakhiri panggilannya. Ia kembali menyimpan ponselnya ke dalam saku celana bahan yang ia kenakan.
__ADS_1
"Ervan.... Curut itu..." gumamnya pelan. Sambil berjalan mendekati Senja, Elang terus memikirkan apa yang baru saja ia dengar. Ternyata diam-diam Ervan membantunya, atau lebih tepatnya membantu Senja? Entahlah Elang tak mengerti, sikap Ervan memang sering membuatnya ingin menonjoknya, tapi ia tahu sebenarnya hatinya baik.
🌼 🌼 🌼