Senja Untuk Elang

Senja Untuk Elang
Episode 111


__ADS_3

Senja yang tidak menyangka akan mendapat tamatan secara mendadak langsung memegangi pipinya, ia menatap jengah kepada Mitha. Sekuat tenaga menahan emosinya untuk tidak membalas.


Sarah langsung mendorong tubuh Mitha hingga ia terjajar beberapa langkah ke belakang. Untuk saja tak sampai jatuh, mengingat Mitha yang sedang hamil besar.


"Heh gila ya kamu, Mith! beraninya nampar Senja! Udah bosan kerja di sini kamu?" Hardik Sarah.


Senja mengisyaratkan kepada Sarah yang sudah naik pitam ke ubun-ubun untuk sabar dan diam. Sarah menghela napas dalam dan menurut. Kalau Senja tak menahan ya, sudah di pastikan ia akan mengajak gelud wanita tak tahu diri tersebut.


"Senja, kenapa kamu lakuin itu sama mas Niko? Apa karena kamu dendam sama aku dan mas Niko makanya kamu melakukan ini. Apa lagi yang kamu harapkan dari kami? Kamu sendiri udah punya suami yang jauh diatas mas Niko, kenapa masih saja mengusik kami! Kenapa sampai harus memecat mas Niko?" ucap Mitha yang merasa sudah kehabisan akal saat mengetahui suaminya di pecat, tanpa tahu penyebabnya.


Dengan tenang, Senja duduk kembali di kursinya, "Menurut kamu, apa yang harus aku lakukan untuk orang yang sudah menggelapkan uang perusahaan. Apa aku harus memuji dan menyanjungnya?" ucap Senja.


Deg!


Mitha mundur satu langkah, ia tak menyangka apa yang suaminya lakukan pada akhirnya ketahuan juga.


"Aku masih berbaik hati dengan tidak memenjarakan suami kamu. Lalu, apa lagi yang kamu harapkan?" todong Senja. Ia sudah malas berurusan dengan Mitha. Tahu suaminya salah, masih saja bersikap arogan.


"Harusnya kamu mikir Senja, dulu saat kamu susah, apa-apa mas Niko. Kamu selalu nyusahin dia, minta bantuan dia ini itu. Nggak ada uang kuliah, kakek kamu sakit, siapa kalau bukan mas Niko? Ini balasan kamu buat dia?" kepalang malu dan marah, tak ada lagi muka di depan Senja, bahkan mungkin setelah ini ia juga akan kehilangan pekerjaan di perusahaan tersebut, Mitha tak gentar lagi.


"Berapa Saya harus membayar kebaikan suami kamu ke istri saya dulu? Berapa Saya harus bayar jasa-jasa yang sudah suami kamu lakukan buat istri Saya?" suara tegas Elang terdengar menggema di seluruh ruangan. Rupanya, ia mendengar ucapan Mitha barusan.


Semua yang ada di ruangn tersebut langsung mengalihkan pandangan mereka kepada dua laki-laki yang sedang berjalan masuk.


Elang langsung mendekati Senja dan mencium keningnya. Senja memejamkan matanya sejenak saat bibir suaminya mendarat di Keningnya, seolah ia melupakan kemarahannya kepada suaminya tersebut.


Elang sempat tercengang melihat ruangan sang istri yang penuh bunga tersebut. Ia menoleh, menatap tajam kearah Kendra sebelum melanjutkan memberi pelajaran untuk Mitha.


Kendra hanya bisa nyengir, ia sendiri cukup specless melihat hasil dari isi kepalanya tersebut.

__ADS_1


Saat mencium kening Senja, Elang melihat wajah Senja yang masih merah akibat tamparan Mitha. Elang menyentuh pipi Senja dengan lembut, sorot matanya meminta penjelasan dari sang istri.


Senja hnya menggelengkan kepalanya sebagai isyarat ia tidak apa-apa. Gelengan kepala Senja adalah jawaban dari pertanyaannya.


Elang memejamkan matanya, rahangnya seketika mengeras. Ia menoleh dan menatap tajam kepada Mitha, tangannya mengepal kuat, seolah siap untuk memberi sebuah bogeman untuk wanita yang berani menampar istrinya tersebut.


"Kau..!" pekiknya geram, gigi-giginya menggertak. Tangannya hampir saja benar-benar ia layangkan untuk membalas Mitha, kalau saja tidak di tahun oleh Senja. Istrinya tersebut Lagi-lagi menggelengkan kepalanya. Tangannya menahan tangan Elang yng sudah melayang diudar dan siap mendarat di wajah Mitha.


Tak peduli mau laki-laki atu perempuan, jika sudah berani menyentuh istrinya, Elang akan membalasnya berkali-kali lipat.


"Sayang, lepaskan. Biar aku kasih pelajaran wanita tidak tahu di untung ini," ucap Elang yang menatap Mitha penuh amarah. Sementara Mitha kini seperti burung yang kehilangan sayapnya. Diam, tak berdaya.


Senja menggelengkan lagi, "Aku tidak apa-apa. Aku tidak mau ayah dari anakku memukul seorang wanita, apalagi dia sedang hamil, sama sepertiku," ucap Senja berusaha menenangkan amarah suaminya.


"Aku tidak peduli!" Elang mengabaikan Ucapan Senja, ia menepis tangan Senja yang mengakibatkan istrinya itu sempoyongan hampir jatuh.


"Sayang, kau tidak apa-apa?" Elang segera merengkuh Senja ke dalam pelukannya. Menyesali apa yang baru saja ia lakukan, hampir saja ia mencelakakan sang istri.


"Aku... Aku.. Aku cuma mau beri dia pelajaran mas, dia sudah..."


"Cukup Mith, kita keluar sekarang!" Niko menarik paksa tangga Mitha sebelum Elang benar-benar memukulnya.


"Tapi mas..."


"Diam kamu, ini semua juga gara-gara kamu!" ucap Niko yang kini sudah kehilangan muka di depan orang-orang yang ada di ruangan tersebut.


"Bawa istrimu keluar sebelum kesabaran saya benar-benar habis. Sekalian kemasi barang-barangnya dan tinggalkan perusahaan ini, sekarang!" hardik Elang dengan tegas. Ia tak membutuhkan persetujuan Senja untuk memecat Mitha, ia terlalu murka dengan wanita itu.


Mendengarnya, Mitha hanya sedikit menarik sudut bibirnya, ia tak lagi terkejut karena sudah ia perkirakan sejak awal kenekatannya menampar Senja, tidak mungkin jika ia tetap bekerja di sana.

__ADS_1


"Tunggu!" ucap Elang. Ia menatap Kendra yang langsung tanggap. Ia mengeluarkan sebuah cek yang kemudian diisi dengan sejumlah nominal oleh Elang.


"Ambil itu sebagai balasan atas jasa dan kebaikan apa yang telah kalian berikan untuk istri saya. Jika dinilai dengan uang, cek itu sudah lebih dari cukup untuk membayar kebaikan kalian!" Elang melempar cek tersebut ke arah mereka.


Ia tak ingin kebaikan yang pernah mereka lakukan terus-terusan diungkit karena sudah pasti akan menyakiti perasaan Senja.


Dengan tak tahu malunya, Mitha mengambil cek tersebut. Ia tak peduli meski di peringati oleh Niko untuk tidak mengambilnya. Mereka butuh biaya untuk kelahiran bayi mereka sebentar lagi, dan kini mereka menjadi pengangguran, biar Bagaimana pun mereka butuh uang itu.


Setelah bayangan Niko dan Mitha tak nampak lagi, Elang segera meminta maaf karena kelalaiannya tadi, "Sayang, maafin aku. Gara-gara aku tadi kamu hampir terjatuh," ucapnya menyesal.


"Aku kan udah bilang, nggak usah di balas. Dia lagi hamil besar, kalau kamu mukul dia, terus dia kenapa-kenapa, kamu yang bakal di salahin," ucap Senja.


"Iya, tapi aku nggak jadi mukul dia kan? Ini gimana? Kita ke dokter ya?" Elang mengsuap-usap pipi Senja yang masih saja merah.


Senja menggelengkan, "Tidak perlu, tidak apa-apa,"


"Tidak apa-apa bagaimana, sampai merah begini," Elang meniup-niup pelan pipi Senja sambil terus mengusapnya.


"Berani sekali wanita itu menamparmu, bahkan semut aja nggak aku ijinin buat gigit kamu," Elang masih marah dan kesal jika ingat Mitha dan Niko.


"Kamu mecat Mitha, nggak bilang aku dulu,"


"Aku nggak perlu minta ijin kamu untuk itu, kamu setuju atau tidak, aku pastikan dia di pecat,"


Senja terdiam, rasa sakit akibat tamparan Mitha, tak lagi ia rasakan, berganti dengan rasa hangat yang di berikan oleh usapan lembut suaminya.


๐ŸŒผ๐ŸŒผ๐ŸŒผ


๐Ÿ’ ๐Ÿ’ Jangan lupa like komen dan kopi ya.. Terima kasih...

__ADS_1


Salam hangat author ๐Ÿค—โค๏ธโค๏ธ๐Ÿ’ ๐Ÿ’ 


__ADS_2