
Senja sejak tadi sibuk mencicipi semua makanan yang tersedia di pesta. Elang hanya bisa menggelengkan kepalanya, ia tak ingin mengatai istrinya itu kini nap su makannya menjadi 'Rakus', tapi begitulah yang ada dalam pikirannya. Tapi masih mending, dari pada angkatan hamil muda tapi mabuk parah, muntah terus sampai tidak bisa makan apa-apa, malah lebih parah lagi. Kasihan istri dan juga calon anaknya, pikir Elang yang sejak tadi mengekori Senja, membawakan piring yang diisi macam-macam makanan hingga hampir penuh.
Saat selesai mengambil beberapa makanan, Senja memutuskan menepi untuk menikmati makanan tersebut. Namun, langkahnya terhenti ketika melihat Gisel sedang duduk sendiri di tempat yang sepi dan pencahayaan kurang tersebut.
"Kenapa berhenti?" tanya Elang yang hampir menubruknya. Senja menjawab dengan menggerakkan dagunya mengarah kepada sosok yang duduk dengan posisi membelakangi mereka.
"Aku nggak jadi makan, kamu makan aja kalau mau. Atau taruh lagi aja, boo," melihat adik iparnya yang tampak murung dang pasti sedih membuat selera makan Senja menguap begitu saja.
Akan tetapi, saat Senja hendak melangkahkan kakinya mendekati Gisel, Elang menahannya dengan menarik tangannya. Senja menoleh, hendak protes. Elang mengisyaratkan untuk diam saat melihat Kendra mendekati Gisel lalu duduk di samping gadis tersebut, "Jadi makan?" tanyanya kemudian dan Senja mengangguk.
🌼 🌼 🌼
Gisel menoleh saat menyadari seseorang tengah duduk di sampingnya.
"Mas Kend," ucapnya lirih. Kendra tersenyum, "Are you oke?" tanyanya.
Gisel mengangguk meskipun sebenarnya ia tak baik-baik saja. Sesaat, mereka berdua saling diam.
Kendra hanya bisa tersenyum samar dan masih sama, selalu menyembunyikan perasaannya yng sesungguhnya. Ia dan Gisel sebenarnya sama-sama memiliki luka dalam kisah cinta mereka. Mungkin lebih tepatnya cinta yang belum atau mungkin tak sampai. Seandainya hati bisa memilih, tentu saja mereka akan memilih untuk mencintai orang yang juga mencintai kita. Tetapi terkadang cinta itu buta dan bodoh, lebih memilih sakit hati karena mencintai orang yang tak bisa membalas perasaan kita.
Kendra sedikit berjengit karena terkejut, tiba-tiba Gisel menyadarkan kepalanya di pundaknya, "Pinjam bahunya, boleh ya, mas?" ucapnya.
Kendra mengusap kepala Gisel, "Menangislah kalau mau menangis, jangan di tahan," ucapnya.
Gisel pun tak lagi bisa menahan air mata yang sejak tadi berusaha ia tahan. Hatinya terlalu sakit untuk menerima kenyataan ini, terlalu kecewa hingga air mata itu mengalir dengan derasnya meski ia sudah berusaha menahannya. Jika tidak mengingat situasi, ia pasti sudah sejak tadi menangis, mengurung diri di kamar.
"Kenapa cinta semenyakitkan ini, mas? Seandainya kita bisa mengatur perasaan kita sendiri, kepada siapa dia harus berlabuh, pasti aku udah memilih untuk mencintai mas Kendra. Maafkan aku ya mas. Mencintai orang yang mencintai orang lain ternyata semenyakitkan ini. Salut sama mas Kend, bagaimana bisa tetap legowo, padahal yang aku lakukan sama mas itu bisa di bilang jahat, maafkan aku mas," ucap Gisel kemudian. Matanya kembali berkaca-kaca mengingat rasa sakitnya kembali.
"Tapi, bukankah cinta yang sesungguhnya adalah bisa bahagia dan legowo melihat orang yang kita cintai bahagia? Meski kebahagiaannya bukan kita?" ucap Kendra, lebih tepatnya ia sedang membicarakan dirinya sendiri. Meskipun ia tahu kata-kata itu lebih banyak munafiknya. Karena nyatanya, hati terkadang tetap saja egois, tetap merasa sakit melihat orang yang kita cintai bersama yang lain.
"Mas," panggil Gisel lirih.
__ADS_1
"Hem," sahut Kendra.
"Saat aku bisa merelakan abang, apa saat itu mas Kend masih sama perasaannya terhadapku? Atau mas Kend juga sudah move on dari aku?"
"Entahlah, aku juga nggak tahu. Hanya waktu yang bisa menjawabnya," jawab Kendra.
"Tunggu aku ya mas. Tapi, kalau saat itu mas Kend udah menemukan yang lain, aku akan bahagia untuk mas Kend,"
Kendra tercengang mendengarnya, apa itu artinya Gisel akan berusaha untuk mencintai dia dan melupakan Rega? Tapi, benarkah Gisel bisa benar-benar merelakan Rega suatu saat nanti? Kendra tak ingin terlalu berharap.
Senja yang mendengar obrolan keduanya, mengunyah kuenya dengan mata berkaca-kaca, ia ikut larut dalam kesedihan mereka.
Sementara Elang hanya bisa diam, memperhatikan Kendra dan Gisel dalam diamnya. Tentu saja, sebagai seorang kakak menginginkan kebahagiaan untuk adik kesayangannya tersebut.
"Kita ke sana, biarkan mereka menenangkan diri di sini," bisik Elang. Senja menurut, "Aku udah nggak mau makan, kenyang mendadak," ucapnya.
"Tega kamu, kenapa kamu melakukannya. Mama kecewa sama kamu, Ga!" terdengar jelas oleh Senja dan Elang, mama Amel sedang mengomeli Rega saat mereka melintasi nnnruang keluarga.
"Diam kamu! Jangan ikut campur, kamu selalu membela dan mendukung apa yang di lakukan anak ini, sampai dia tega melakukan ini," tak hanya Rega, papa David pun kena semprot mama Amel.
Papa David langsung mengatupkan bibirnya rapat. Jika istrinya sudah memasang mode galak, lebih bain dia diam dan membiarkannya mencak-mencsp sepuasnya, kalau sudah lelah ia akan diam sendiri.
"Kalau memang nggak cinta dan memilih wanita lain, tapi jangan begini caranya. Ini hari yang penting, hari yang seharusnya membahagiakan buat Gisel, Regaa! Tapi kamu malah menghancurkan semuanya. Apa nggak bisa tahan sampai besok-besok. Setidaknya biarkan malam ini Gisel bahagia. Kamu sukses menghancurkan hatinya, hati mama juga. Kalau sampai anak gadisku kenapa-kenapa, mama nggak akan maafin. Dan satu lagi, terserah kamu mau pacaran sama siapa kalau memang tidak bisa dengan Gisel, tapi mama nggak akan pernah setuju dengan wanita yang kamu bawa tadi, ingat itu!"
" El, urus anak kurang ajar ini, mama nggak tahu lagi harus gimana sama dia, terserah mau kamu apaan dia, mama udah mumet!" ucap mama Amel yang melihat Elang dan Senja ternyata sejak tadi menyimak di depan pintu.
" Sayang, kamu ajak mama ke depan. Nggak enak sama para tamu, kalau kita malah begini. Mama sama papa ke depan ya, bantu El, acara belum selesai. nanti El menyusul, El mau bicara dengan Rega dulu," ucap Elang. Karena ia tahu pasti momminya saat ini sedang berada di kamar dan daddinya sejak menenangkan. Sementara di luar masih banyak tamu yang tak tahu jika sedang ada masalah intern dalam keluarga tersebut berkat Gisel yang berhasil bisa menahan rasa sakitnya di depan semua orang tadi.
"Sayang, ayo kita keluar, aku harus menghandle para kolega bisnis Parvis Group, aku harus menggantikan Bos menjamu mereka," ajak papa David. Namun mama Amel bergeming, ia masih kesal dengan Suaminya. Papa David menghela napas dalam.
"Papa ke depan dulu, tolong bujuk mama!" ucap papa David kepada Senja. Senja mengangguk, dan ia berhasil membujuk mama Amel untuk meninggalkan Rega dan suaminya.
__ADS_1
"Jangan senang dulu, mama bakal buat perhitungan nanti sama kamu!" ucap mama Amel menatap tajam kepada Rega sebelum sebelum ia dan Senja pergi dari sana.
Setelah semuanya pergi, tinggal ia dan Elang, Rega mengusap wajahnya kasar.
"Sorry El," hanya itu yang bisa ia katakan.
Elang duduk di sisi kiri Rega, "Apa harus seperti ini Ga?" tanyanya.
"Ini cara terkahir yang aku bisa, El. Semua udah aku coba, tapi lihat sendiri kan, dia malah semakin tak peduli dan tenggelam dalam obsesinya,"
"Meskipun kamu tahu resikonya?"
Rega mengangguk, "Meskipun resikonya Gisel akan sangat membenciku setelah ini," ucap Rega, namun sejunurnya dalam hati ia tak ingin hal itu terjadi. Ia ingin hubungannya dengan Gisell tetap baik-baik saja.
"Ga, aku cariin ternyata di sini. Pulang yuk, udah malam, udah capek banget, pengin tidur. Besok aku ada jadwal visit pagi-pagi," suara Nandira menghentikan obrolan Elang dan Rega.
"Hem," Rega mengangguk.
"Aku antar Dira dulu," pamit Rega keada Elang. Elang mengangguk.
"Titip Dia," ucap Rega yang tak bisa menyembunyikan kekhawatirannya setengah berbisik kepada Elang.
"Hem, jangan khawatir," sahut Elang mengangguk.
🌼 🌼 🌼
💠💠
Untuk kisah Rega sama Gisel, insyaallah nanti ada novelnya sendiri (meskipun entah kapan akan rilis dan dimana rilisnya 😄😄)
Jangan lupa like. Komen dan kopinya, votenya yang masih juga boleh 😄😄
__ADS_1
Salam hangat author 🤗❤️❤️💠💠