Sepenggal Cinta Untuk Rama

Sepenggal Cinta Untuk Rama
115


__ADS_3

" may, apa sebaiknya lo berhenti buat deketin kak ra .. "


PLAK !!


Sebelum windi meyelesaikan ucapan nya, tamparan keras maya mengenai pipi windi dengan kuat. Jejak 5 jari maya tercetak kuat di wajah putih windi.


Nina dan tina menutup mulut mereka karena mereka kaget dnegan tindakan maya yang menurut mereka sudah keterlaluan. Windi, sang korban pun linglung di tempat, setelah sekian detik ia baru merasakan nyeri di pipi nya.


Dengan mata yang menatap tajam ke arah windi, maya nampak sangat marah. Dada nya nampak nai turun menahan emosi.


" TUTUP MULUT LO ! Apa maksud lo hah ! Jangan bilang lo juga suka sama pria gue 1" tuduh maya.


Windi tersulut emosi sejak saat maya menampar nya, di tambah tuduhan tak berdasar yang di layangkan oleh maya kepada nya.


CIS, terlalu naif selama ini ia mau berteman dengan gadis yang sembrono sepert maya, bukan hanya kejam, maya juga jahat dan egois. Windi sangat menyesal sekarang.


" lo ! Haaahhh .. Terserah lo mau ngomong apa ! Harus nya lo bisa baca situasi. Kak rama it udah NIKAH ! Udah punya ANAK !" tandas windi.


rahan may mengeras, i nampak gemetar menahan amara setelah mendengar apa yang di ucapkan oleh windi yang berubah menjadi berani.


" lo berani sama gue heh ? Lo nggak takut kalo gu minta bokap gue buat putus kontrak kerjasama dengan bokap lo !" ancam maya.


Ancaman yang selalu membayangi windi, tina dan nina. Windi hanya mendengus dan tersenyum dingin. Dengan memegangi pipi nya yang mulai membengkak, windi maju dan mengacungkan jari telunjuknya, menunju ke arah wajah maya. Ia sudah membulatkan tekad nya untuk berbicara kepada sang ayah. Lebih baik ia menjauhi masalah, jika pikiran nya mengenai rama benar, maka lebih baik bagi keluarga nya menjauh dari maya dari pada membantu nya.


" silahkan ! Gue nggak bakalan takut lagi ! Gue nggak mau lagi harus nahan keegoisan lo kepada kami selama ini ! Lo pikir, selama ini kami seneng bisa temenan sama lo yang egois ? Pikir pake otak lo, " balas windi.

__ADS_1


tina dan nina hanya menarik - narik windi, mencoba untuk menenangkan sahabat nya ini yang nampak nya sudah tidak bisa lagi menahan emosi nya.


Pertengkaran mereka cukup menarik perhatian siswa kelas teater lain nya. Nina dan tina berhasil menarik windi dn mengajak nya untuk pergi meninggalkan windi.


" lo harus inget, kami sudah coba buat ngingetin l. Lo harus bisa berpikir pintar sedikit !" ejek windi sambil menunjuk ke arah kepala nya sendiri sebelum akhir nya tubuh nya di seret oleh tina dan nina meninggalkan maya yang tengah terkejut dnegan keberanian windi untuk memberontak dari nya.


" si*l, berani banget mereka membelot ! Awas aja, gue bakalan bilang papa buat putus kontrak dengan orang tua mereka ! " desis maya tanpa menghiraukan peringatan yang di berikan oleh windi.


.


" hah ... Lo beneran nekat, win " ucap tina setelah mereka berhasil membawa Windi menuju taman depan gedung jurusan teater.


" ha ha ... gue nggak pernah ngerasa begitu lega kayak gini, " alas windi yang tidak nyambung.


" lo kenapa, nj**iir, " nina menoyor kepala windi dnegan gemas. Windi masih saja tertawa tanpa marah karena toyoran nina.


" huufftt .. Haaaahhh .... " windi nampak menghirup nafas dan menghembuskan perlahan sebelum ia mencoba menjawab pertanyaan para sahabat nya.


" kalian juga denger kan, ucapan sepasang senior tadi ?" tanya windi menatap nina dan tina bergantian. Nina dan tina tentu saja mengangguk. Hampir saja mereka terlupa karena insiden berani windi.


" .. Gue akin kalian pintar buat mengerti maksud dari para senior tadi, "


" g*la nggak sih, di kampus ini tuh ada buaannyaakk senior senior dari berbagai jurusan, " ucap windi sambil membentangkan tangan nya, memetakan jumlah para makhluk berjuluk wanita di kampus ini.


" dari semua wanita ini, mereka tentu saja banyak yang lebih cantik, lebih baik dari pada maya. Dan mereka hanya menganggap kak rama sebagai idola mereka, layak nya kita yang ngefans sama jun**kok, karena apa ?" ucap windi sambil mencoba mencerahkan pikiran dari nina dan tina.

__ADS_1


Tina dan nina mulai mencerna ucapan dari windi dan sedikit demi sedikit mulai mengerti arah pembicaraan windi.


" .. Karena mereka tahu, jika kak rama adalah sosok datar dan dingin. aura nya begitu menakutkan bagi siapa yang menjadi musuh nya. Dan itu semua sudah menjadi rahasia umum, bahkan di forum kampus pun sudah di beritakan, lagi pula, berita mengenai pernikahan dan memiliki anak di rilis oleh kak rama sendiri, apakah masih kurang bukti ? Berani kah kita menyenggol sosok ketua geng motor BLACK KING sekalipun mereka sudah di bubarkan ?" tanya windi lai.


" bukan di bubarkan, tetapi di jadi kan perusahaan keamanan, " ralat tina yang mulai bergidik saat menyadari betapa menakutkan nya situasi saat ini.


" nah, coba kalian pikir, seberapa kaya mahasiswa seperti kak rama yang bahkan bisa mendirikan perusahaan keamanan ? Kak rama dan para sahabat nya pasti memiliki latar belakang yang luar basa, jauh seperti yang bisa kita duga, " tambah windi yakin.


Nina dan tina terdiam lagi, mereka akhir nya mengangguk setuju dengan ucapan windi.


" maka dari itu, gue lebih baik ngobrol sma ayah gue. Nggak apalah jika maya aduin hal ini ke papa nya dan berimbas kepada perusahaan kita, gue denger, di ibukota ada perusahaan dapur baru, gue bakalan minta ayah agar ngajuin kerja sama yang baru di sana, " ucap windi memaparkan rencana nya. Rupa nya windi cukup pintar dalam membaca keadaan.


" lebih baik kita menghindari masalah, jika dugaan gue benar, soal kak rama yang memiliki latar belakang lebih dari sekedar peusahaan keamanan itu, maka akan bahaya jika kita ikut menyenggol nya, dan jika pun kak rama biasa saja, setidak nya kita bertiga terbebas dari teman toxic macam maya. Atau lo berdua lebih pilih di jadi kan kacung dan selalu di tindas sama maya ?" tanya windi menatap remeh ke arah nina dan tina.


Nina dan tina tentu saja bergidik ngeri mendengar ucapan windi. Dan mau tidak mau mereka mencibir saat mengingat bagaimana perlakuan maya kepada mereka bertiga sejak jaman SMA.


" bagaimana ? Lo berdua masih mau di perlakukan sebagai babu ? " tanya windi lagi dengan senyum sinis.


" ihhh,, ogah ya .. " jawab nina dan tina serentak. Membuat windi tertawa terbahak.


" tapi bagaimana kita bicara ke papa kita ? Pasti kita akan di amuk " tanya tina dengan cemas.


" kita bilang aja, jika ada kemungkinan maya mau menyinggung seorang yang besar, dan pasti akan berakibat fatal buat kita jika kita ikut campur, " jawab windi dengan santai. Nina dan tina mengangguk setuju.


...****************...

__ADS_1


__ADS_2