
" lalu, apakah lo bakal kembali ke kediaman di ibukota ?" tanya zul dengan santai. Membuat aric, zian dan revan menajamkan pendengaran mereka, menanti jawaban dari rama.
Rama memasukkan tangan nya ke dalam kantong celana, menerawang ke atas langit - langit lantai 1 dan sedikit bernostalgia sebelum menjawab pertanyaan zul.
" mungkin jika di minta untuk memaafkan, gue akan berusaha untuk ikhlas buat memaafkan nya. Tapi ... Jika di minta untuk kembali ke dalam rumah itu, meskipun di sana banyak kenangan gue sama bunda. Gue nggak akan mau."
" ... Karena gue yakin, penyihir tua itu sudah pasti merubah semua kenangan yang di tinggalkan oleh bunda gue, " jawab rama dengan mantap.
Benar, sebenar nya, di hati nya yang paling dalam, akan terasa susah untuk memaafkan kelakuan dari ardhana, tetapi ucapan dari aya, yang bilang jika bagaimana pun perlakuan yang sudah di lakukan oleh ardhana kepada nya, ia tetap memiliki darah yang sama dengan ardhana. Ardhana tetap akan menjadi ayah yang membuat nya berada di dunia ini. Fakta yang sama sekali tidak bisa untuk di ubah lagi.
" bos, di mana pun nanti nya lo tinggal, kami akan tetap menjadi saudara lo, " hibur zain yang di angguki oleh tiga orang lain nya, membuat hati rama terasa hangat.
" terima kasih, " ucap rama dengan tulus dn tersenyum hangat.
...****************...
keesokan hari nya, rama dan aya sama - sama bangun pagi. Setelah menyelesaikan keperluan si kembar, kedua nya turun untuk sarapan dengan aric dan lain nya.
mereka berempat menyempatkan untuk sarapan bareng dengan rama dan aya sebelum nanti nya akan berpencar karena pekerjaan masing - masing.
Hari in, secara khusus, rama mengajukan cuti dan tidak pergi bekerja. Ia melakukan nya untuk menyambut kedatangan ardhana ke mansion.
Meskipun akan terasa canggung, rama tidak akan membiarkan aya menghadapi sosok ayah mertua yang pasti nya begitu asing.
Hari ini pun, si kembar nampak begitu anteng dan tenang. Seolah - olah mereka tahu jika sang kakek akan datang berkunjung.
Ke dua nya kompak bertingkah manis, jauh dari kebiasaan nya yang selalu ada saja kegiatan yang mereka lakukan. Entah itu berlatih untuk merangkak, menggigiti jempol kaki, atau sekedar membuat seisi mansion kelimpungan karena ulah merea yang mulai aktif.
__ADS_1
" bang, revan berangkat ke kampus dulu, " pamit revan yang menjadi orang terakhir yang tinggal setelah aric, zain dan zul yang sudah terlebih dahulu berangkat ke kantor.
" hmmm, hati - hati " sahut rama yang di acungi jempol oleh revan.
" mas, kapan ayah akan sampai ?" tanya aya. Istri rama ini terlihat menjadi gugup dan sedikit menjadi menyibukkan diri untuk menyiapkan segala menu yang akan di sajikan.
Bahkan aya bolak balik mengecek kesiapan dapur dan berkali - kali mengetes rasa kure yang sudah di buat nya kemarin sore.
Si kembar yang di baringkan di karpet tebal pun sampai ikut menoleh ke kanan dan ke kiri mengikuti gerakan sang umma yang mondar mandir.
Rama hanya bisa menggelengkan kepala nya, saat melihat kelakuan istri nya. Ia yang sudah bertahun - tahun tida bertemu dengan sang ayah saja merasa tenang,, tetapi sang istri malah begitu cemas.
" yank, tenang dulu, bisa ?" ucap rama dengan lembut. Aya berhenti dan tersenyum canggung ke arah rama. Ia menggaruk kepala nya yang tertutup oleh jilbab panang nya.
" aya gugup, " aku aya. Ia duduk di samping rama yang sedang mengawasi si kembar.
Nyata nya, ia kini ikut merasakan gugup. Sedikit, hanya sedikit.
Setelah memutuskan untuk memaafkan sang ayah, rama tentu saja memiliki kecanggungan. Jika saat pertemuan awal mereka ia di penuhi dengan kebencian dan dendam, sehingga ia sama sekali tidak repot - repot untuk mengatur sikap nya. Maka kini, ia mulai mengatur bagaimna nanti nya ia harus menyapa sosok yang selama ini mengabaikan nya.
" tuan muda, beliau sudah datang .. " ujar pak nardi. Membuat atensi rama dan aya teralihkan ke sosok pak nardi yang berdiri di depan pintu. Tepat nya di depan interkom yang terhubung dari pos satpam di depan sana.
Rama dan aya saling berpandangan dan mengangguk, pak nardi segera menginfokan agar membiarkan mobil yang berisi ayah tuan muda nya masuk dan ia pun bersiap menyambut tamu tersebut di luar sana.
Sementara aya dan rama, masing - masing dari mereka mulai meraup aqil dan aqila pada gendongan mereka masing - masing, membuat dua bayi gemoy itu merasa kebingungan.
Rama dan aya menunggu di ruang tau. Langkah demi langkah dari ardhana mulai terdengar di telinga rma. Membuat nya semain merasakan kegugupan. Sementara aya malah bersikap tenang, sekaligus excited.
__ADS_1
Aqil dan aqila hanya saling memandang dan sesekali mengarahkan pandangan mereka kepada sang abu dan umma nya.
Aqila&aqil: ada apa dengan umma dan abu ?
DRAP DRAP DRAP.
Suara langkah sepatu terhenti tepat di jarak 3 meter d depan aya dan rama. Di sana berdiri sosok tegap paruh baya dengan rambut yang mulai memutih.
Rama dengan cermat mulai mengamati rupa sang ayah yang sudah hampir 7 tahun tidak di temui nya.
Badan yang sudah mulai menua meskipun tetap saja tegap, mata sayu dengan lingkar hitam cukup parah, yang rama yakini baru muncul karena tadi malam terjadi.
Bagaimana rama tahu ? Rupa nya setelah mengirimkan beberapa video maya dan mita, rama memerintahkan seseorang untuk mengawasi rumah ardhana yang berada di blok A.
Ia secara tidak langsung bisa tahu jika ardhana sudah memanggil polisi untuk menjebloskan mita ke dalam penjara dan juga mengusir maya.
Hati kecil nya terasa lega, bahwa dengan ini ardhana sedikit menunjukkan rasa penyesalan nya dengan tiak lagi mengasihi mita dan maya. Dengan ini rama juga bisa memaafkan ardhana dengan ikhlas.
Sementara ardhana, ia menatap nyalang ke arah pria muda yang berada tak jauh di depan nya, pria muda itu adalah anak nya yang selama ini ia telantarkan.
Rama terlihat begitu gagah, garis wajah nya yang sedikit menurun dari nya dan juga laksmi nampak dewasa dan matang. Lalu, di banding dengan diri nya yang nampak sayu dan sendu, nyata nya rama memiliki kehidupan yang lebih baik dari nya.
Ardhana tentu saja bersyukur dan juga merasa bersalah. Bersyukur karena rama tumbuh dengan baik, dan bersalah karena ia tidak ada saat masa - masa tumbuh nya rama.
Pandangan nya beralih ke sosok wanita mungil bercadar di samping rama. Mata wanita mungil itu menyipit pertanda ia tengah tersenyum kepada nya.
" AYAH .... "
__ADS_1