
TOK TOK TOK
" Assalamualaikum, permisi ..... "
Rama dan aya saling berpandangan, rama beranjak bangun dari duduk nya dan segera membuka pintu sedangkan aya dengan sabar tetap berada di ruang tamu.
CEKLEK.
" eh pak Rt. waalaikum salam. Mari masuk pak, " sambut rama. Ternyata yang mengetuk pintu adalah pak malik.
" eh, nggak usah mas, saya cuma mau nganterin titipin dari teman saya yang petugas KUA, " jawab pak malik sembari menyerahkan sebuah amplop kecil berstempel kan cap resmi kantor KUA desa setempat.
" oh terima kasih pak, mari singgah dulu pak, " tawar rama ramah.
" nggak usah mas, saya mau langsung cek toko saja, insya allah nanti sore pembukuan nya akan di setor ke neng aya, " jawab pak malik sekalian pamit.
" oh iya pak, sekali lagi terima kasih ya pak, " kata rama sebelum akhirnya pak malik berjalan menjauh dari gawang pint.
Rama pun akhirnya masuk, di sofa nampak aya yang sudah menunggu dan penasaran dengan siapa yang datang.
" siapa mas ?" tanya aya begitu rama mendaratkan bokong nya di samping aya.
" pak malik sayang, " jawab rama. Aya sedikit mengerutkan keningnya heran. Jika pak malik datang kenapa tidak di suruh masuk ?.
" lalu? Pak malik nya dimana mas ? Nggak di suruh masuk?" tanya aya bertubi - tubi. Rama mencubit gemas ujung hidung aya.
" di suruh dong sayang, cuma kata pak malik mau ke toko umma, beliau datang cuma mengantarkan titipan dari kantor KUA, " jawab rama sambil menyodorkan amplop coklat tadi. Ia pun juga penasaran meskipun dalam hati sudah menduga apa isi nya.
Aya langsung menerima dan membukanya. Benar saja dugaan rama, isi nya adalah dua buku kecil yang mengesahkan status mereka sebagai suami istri. ( anggap aja the power of money dan kekuasaan ya,🙏🙏🙏 cerita ini penuh dg fiktif )
Pipi aya merona dengan sendiri nya saat ia tahu jika isi amplop coklat tadi ada buku nikah nya dengan sang suami.
' nikah ya ? Aku sama sekali tidak menyangka jika aku sudah menikah. Ya allah, sungguh engkau penentu segala skenario di dalam kehidupan hamba' batin aya.
__ADS_1
" kamu kenapa sayang ? Kok muka kamu merah gitu ?"tanya rama yang sedari tadi ternyata melihat ekspresi aya.
" ah, enggak mas, aya nggak kenapa - napa " sangkal aya. Ia mengalihkan pandangan nya dari sang suami.
Aya mulai membuka buku kecil itu, ia membaca dengan pelan - pelan. Nama sang suami dan nama nya nampak berjejer rapi di sana. Semakin turun tercetak tanggal lahir sang suami, pekerjaan suami nya.
' pengusaha ? Sebenar nya pekerjaan mas rama yang lebih spesifik apa sih ?' batin nya lagi.
Lalu turun lagi ke baris mahar yang di berikan leh rama kepada nya. Pertama - tama ia membaca pelan - pelan dan berulang - ulang. Sekali lagi ia baca dari awal.
' uang dirham senilai 21.000 dinar kuwait, dan mobil sport lamborghini Aventador ?'
' dinar kuwait ? 21.000 dinar kuwait ? Terus mobil ? Mobil sport lamborghini ?'
" masya allah mas, " pekik aya tanpa sadar. Rama bahkan sampai tersedak kopi yang tengah ia minum karena kaget dengan jeritan istri nya.
UHUK UHUK
" alhamdulillah, lega ya allah, " syukur rama. Ia lalu menoleh dan melihat aya yang masih merasa bersalah.
" kamu kenapa sayang ? Kok anteng terus tiba - tiba teriak seperti itu, " tanya rama lembut.
Seketika aya langsung teringat dengan keterkejutan nya yang menyebabkan rama sampai tersedak itu. Ia buru - buru menyodorkan buku nikah dan memberikan nya kepada rama. Bahkan aya langsung membuka nya di halaman yang tertuliskan mahar di sana.
" mas, ini mahar mas buat aya ?" tanya aya dengan wajah polosnya. Rama hanya menerima dan langsung membaca nya sekilas.
" heem, iya yank, kenapa ?" jawab rama dengan santai terkesan tanpa dosa.
" mas, jangan bercanda ah. Kenapa mas ngasih aya mobil sport yang mahal banget ? Terus juga uang nya ? Dinar kuwait ? Ini bahkan setara dengan ..... "
Buru - buru aya mengambil ponsel yang ia taruh di atas meja dan masuk ke aplikasi kalkulator lalu mencari di menu currency. Ia mengetikan angka 21.000 sebelum nya mengubah pengaturan mata uang dari dinar kuwait ke rupiah. Mata nya kembali melotot saat ia mulai menghitung nol di sana,
" mas, ini hampir 1M " pekik aya panik meskipun tidak terlalu keras.
__ADS_1
Rama hanya terkekeh melihat aya yang panik. Ia sama sekali sudah menduga reaksi aya setelah tadi ia melihat reaksi aya saat melihat tabungan yang di siapkan mendiang mertua nya.
"sayang, tenang dulu. Sini duduk lagi, " kata rama santai. Aya menuruti suami nya meski ia masih saja gemetaran a.ka tremor.
" mas, jumlah nya banyak banget. Belum lagi mobil juga," cicit aya shock.
Rama mendongakkan wajah sang istri dan di arahkan kepada nya. Ia perlahan membuka kain cadar sang istri. Hingga ia bisa melihat wajah aya yang sepenuh nya memerah merona.
" sayang, dengerin mas. Mas memberikan mahar seperti itu karena mas tahu mas mampu dan kamu sangat layak untuk itu, jadi jangan seperti ini, " bujuk rama dengan lembut.
" tapi mas, itu terlalu banyak, " cicit aya lagi. Ia ingin menundukkan wajahnya tapi dengan cepat jari rama menahan nya agar tetap menatap mata rama.
" nggak banyak sayang, insya allah semua ini panta. Bahkan jika kamu mau, mas akan mengalihkan sebagian saham mas ke nama kamu, " ujar rama kepada aya. Aya kembali melotot.
" ish mas, nggak usah. Aya masih punya uang dari abah dan umma, ay .... "
" hei, uang dari abah dan umma kamu simpan ya sayang, setelah menikah mas yang akan menanggung semua kebutuhan kamu. Minta lah kepada mas apa pun yang kamu ingin kan dan jangan merasa tidak enak, " potong rama sebelum aya menyelesaikan ucapan nya.
" tapi mas ak ... "
" nurut kata mas ya sayang, " final rama dengan lembut yang membuat aya akhir nya bungkam dan pasrah. Ia tentu paham akan hak yang harus di dapat oleh seorang istri dari suami nya. Tapi aya hanya takut, jika rama malah memaksakan semua nya.
Bagaimana pun aya tahu jika rama masih berusia 20 tahun dan tercatat sebagai mahasiswa. Ia belum tahu dengan pasti suami nya ini kerja apa. bahkan di buku nikah tadi hanya tertulis sebagai pengusaha saja.
Tanpa aya tahu, jika sang suami adalah miliuner muda dengan aset di mana - mana. Rama memang belum memberi tahu diri nya mengenai MAHES MOTO. Karena rama belum sempat bicara.
Rama nampak beranjak menuju lantai atas. Tujuan nya adalah ke kamar sang istri tempat ia menaruh tas ransel yang semalam di berikan aric untuk wadah mahar uang, kunci mobil dan juga dompet pribadi rama yang biasa nya selalu di bawa oleh aric selaku asisten pribadi rama.
Aya hanya diam sambil mencerna setiap perkataan rama. Tanpa ia sadari rama sudah duduk lagi di samping nya dan mulai membuka isi tas yang ia bawa.
Rama kemudian menyodorkan sebuah kotak yang di hias indah yang berisi kan uang dinar kuwait. Lalu ia juga menyodorkan 1 buah kunci mobil dan dua kartu ATM berbeda warna.
" apa ini mas, "
__ADS_1