
" may, kita ikutin mereka dari jarak aman saja, yang penting kita tahu mereka ke mana, " titah mita.
Maya mengangguk, mereka memang melajukan mobil nya dengan perlahan dan santai.
Dalam perjalanan nya, mita nampak sedikit mengerutkan kening nya, jalanan ini begitu familiar karena masih 1 kawasan komplek meski berbeda blok. Selama perjalanan, semakin lama semakin mita mengernyit karena mereka semakin memasuki kawasan elit.
Hingga akhir nya, mobil rama dan rombongan nya memasuki kawasan blok terakhir, blok yang hanya berisi deretan MANSION dengan harga yang super mahal.
Maya yang mengikuti mereka, sedikit merasa gemetar namun tetap menguatkan tangan nya di kendali stir nya.
" ma .. Mama, kita nggak salah lihat kan ? Area MANSION ... ?" pekik maya dengan ekspresi yang entah apa arti nya. Girang, cemburu, iri dan serakah.
Mita yang mendengar pekikan maya juga tengah tenggelam dalam lamunan nya saat ia menyadari jika rombongan rama memasuki kawasan mansion dan masih berjalan menuju mansion terbesar yang berada di ujung komplek. Mansion no 1 yang luas nya lebih dari 1 hektar.
" ber .. Berhenti may, " ucap mita saat ia mulai menguasai diri nya sendiri. Tepat saat rombongan rama mulai masuk ke sebuah gerbang yang menjulang tinggi, gerbang mansion milik rama.
Mita dan maya masih terdiam di atas keterkejutan mereka. Tidak ingin mempercayai mata mereka sendiri tapi bukti ada di depan mata.
Rama masuk ke mansion yang paling besar !!
Kedua anak dan ibu itu saling memandang dengan keterkejutan yang sama.
" ma, mereka benar - benar masuk ke dalam sana ?" tanya maya bodoh. Mita pun tidak bisa untuk tidak meneguk saliva nya kelat.
Mansion paling ujung adalah mansion dengan ukuran paling besar dan tentu saja harga sangat mahal.
Mita mengetahui ini saat ia dan ardhana membeli rumah untuk maya beberapa minggu yang lalu dan ia berbasa - basi menanyakan nya kepada pihak agen properti.
__ADS_1
Mansion dengan luas lebih dari 1 hektar itu di banderol dengan harga hampir 15M ! Jantung mita bergemuruh antara semangat dan rasa iri melihat anak tiri nya begitu kaya.
" tidak ada lagi rumah selain ini, di depan sana adalah jalan raya besar, jadi tidak salah lagi. Di sini pasti kakak mu tinggal, " jawab mita.
Mata maya sejenak bersinar, ia langsung membayangkan jika ia akan menjadi nyonya di mansion tersebut. Setelah ia berhasil menyingkirkan anak dan istri kakak nya, tentu saja.
Mita menyuruh maya untuk menyetir mobil hingga berada di depan gerbang yang menjulang tinggi . Kedua nya mengamati gerbang kokoh tersebut dan tidak bisa lai untuk tidak berdecak kagum.dari kejauhan, mereka bisa melihat bangunan 4 lantai yang kokoh di balik gerbang tinggi ini.
" ma, kita akan menjadi kaya, " gumam maya senang. Mita pun tersenyum erah. Ia lalu mengajak maya untuk pulang dan merencanakan sesuatu dengan cepat.
...****************...
Sementara it, rama dan rombongan nya sama sekali tidak sadar jika mereka tengah di kuntit sedari awal. Saat ini, setelah makan siang, semua memutuskan untuk beristirahat, jarang sekali mereka bisa menikmati waktu untuk tidur siang.
Ke tiga sahabat aya sudah menempati kamar tamu di lantai , sementara para sahabat rma memiliki kamar mereka sendiri di lantai 3.
Kini aya tengah berbaring di dalam dekapan rama, kedua nya belum terlelap dan memutuskan untuk sedikit berbincang, karena hampir seminggu ini rma begitu sibuk di kantor serta menyusun skripsi nya sehingga waktu nya untuk aya terbatas.
" mas nggak ngantuk ?" tanya aya yang menikmati dekapan sang suami.
" hmmm, " balas rama pelan. Aya mencubit pelat perut rama karena hanya di balas dehaman saja.
" apa sih sayang ku, mas sedang menikmati waktu kita, " jawab rama.
" mas bahagia ?" tanya aya tiba - tiba.
" kenapa tanya begitu ?" jawab rama tidak senang.
__ADS_1
" hmmm, aya pikir mas akan terbebani dengan pernikahan dadakan kita, mas tahu sendiri bagaimana awal pernikahan kita. Bahkan kita aru kenalan belum nyampe 1 jam, eh di suruh nikah, " aya mengerucutkan bibir nya lucu. Membuat rama gemas dan langsung menyambar nya.
" kalau mas bilang mas jatuh cinta pada pandangan pertama, kira - kira kamu bakal percaya nggak ?" tanya rama. Tangan nya masih membelai rambut aya yang bebas tergerai.
" masa ? Kayak nya nggak mungkin deh, mas kan pas itu dingin banget, " jawab aya tak yakin.
" yaaa, tapi itu memang kenyataan nya, saat itu mas begitu tertarik dengan mata ini," jawab rama sambil mengusap lembut mata aya satu persatu.
" kenapa ? Warna nya indah ya ? Aku sendiri kadang merasa takjub loh, " papar aya percaya diri membuat rama terkekeh dengan ucapan aya yang narsis.
" hmmm, indah. Dan juga ... Meneduhkan, " tambah rama dengan jujur. Aya menjadi tersipu malu.
" .. Awal nya, mas anggap kamu sama saja seperti wanita - wanita yang deketin mas, yang malu - malu hanya untuk menarik perhatian mas, tapi saat amu marah dan melotot karena tuduhan mas saat itu, mas langsung sadar jika kamu berbeda, apalagi saat mas melihat binaran bola mata kamu, rasa nya langsung di seret ke dalam hutan rimbung yang suasana nya menenangkan," ucap rama. Aya masih terdiam. Ia mendengar sang suami mengungkapkan perasaan nya.
" .. Dan juga, pancaran mata kamu begitu lembut, seperti tatapan mata ... Bunda, " saat mengucapkan kalimat nya yang terakhir, rana sedikit merubah nada bicara nya menjadi sendu.
" mas kangen sama bunda ?" tanya aya hati - hati. Rama mendongakkan kepala nya, menatap manik hijau zamrud itu dengan lekat lalu perlahan ia mengangguk.
" mari kita menjenguk bunda mas, " ajak aya dnegan tersenyum. Rama bengong untuk beberapa waktu untuk mencerna ucapan aya. Apakah ia tidak sedang bermimpi ?
" mari jenguk bunda, seperti kita menjenguk abba dan umma aya, kita akan memperkenalkan si kembar kepada nenek nya. Bukan kah mas juga belum pernah mengajak aya untuk mengunjungi bunda ?" ucap aya menyakinkan rama. Rama gembira, ia mengangguk dan mengecupi tangan aya berkali - kali.
Memang benar, semenjak pernikahan nya dengan aya hampir setahun lebih, rama memang belum pernah mengajak nya mengunjungi makam sang bunda,selain karena ia cukup sibuk dengan pekerjaan nya, ia juga masih trauma untuk kembali ke sana sendiri. karena makam sang bunda berada di ibukota. Kali ini aya mengajaknya, ia tentu akan bersedia mengajak aya.
" baik, mas akan mengajak kamu, aqil dan aqila untuk mengunjungi bunda, beliau pasti akan merasa bahagia, " jawab rama.
" ... Tapi, setelah mas selesain ini semua ,,, "
__ADS_1