
" baik, masalah LION COBRA dan juga ponsel sudah deal, sekarang mari kita bahas mengenai kuliah kakak ipar, " kata zul mengejutkan aya.
Dengan mata yang ber binar - binar aya menatap rama. Rama sampai menaikan alisnya sebelah
" mas, aya boleh kuliah ?" tanya aya begitu antusias. Rama terkekeh begitu juga yang lain nya.
" tentu boleh dong sayang, bukan nya kamu juga sudah lulus SMA?" tanya balik rama. Aya seketika mengangguk anggukkan kepalanya dengan antusias. Bahkan sepasang bola mata hijau nya nampak sangat cerah.
Tapi tidak lama kebahagiaan aya, ia tiba - tiba berwajah muram dan menunduk.
Tingkah nya menjadikan rasa gemas di hati rama dan sahabatnya semakin membludak.
" kenapa lagi, hm?" tanya rama dengan sabar.
" tapi kan mas, biaya kuliah aya nanti akan sangat mahal, " cicit aya takut - takut.
Sontak ke empat sahabat rama tertawa terbahak - bahak mendengar cicitan nyonya bos nya. Dalam pikiran mereka, seorang istri dari bos MAHES MOTO memikirkan biaya kuliah yang tidak ada seujung kuku dengan kekayaan bersih seorang rama maheswari. Bahkan rama yang di kenal dingin pun kini sedang terpingkal karena ulah sang istri.
Aric sampai berpikir, apa jangan - jangan nyonya bos nya ini belum tahu mengenai mahar yang di berikan oleh rama semalam ?
Bagaimana reaksi aya jika tahu nilai mahar yang di berikan? Aric sangat menantikan reaksi itu.
Aya hanya cemberut melihat pertanyaan nya malah membuat suami dan teman - teman nya tertawa.
" ha ha ha, maaf maaf sayang, " ucap rama. Rama berusaha menetralkan ekspresi nya dan mencoba untuk serius kali ini.
__ADS_1
"sayang, bukan nya mendiang abah dan umma meninggalkan aset yang cukup banyak ?" tanya rama hati - hati. Karena ia tahu dari malik jika mendiang kedua mertua nya memiliki beberapa hektar sawah dan juga toko beras yang otomatis jatuh ke tangan aya. Rama sedikit bingung karena keuntungan dari kedua nya pasti juga tidak sedikit.
" hmmm iya sih mas, uang hasil keuntungan toko dan juga masih tersimpan rapi di tabungan. Aya juga tidak tahu berapa jumlah nya karena selama ini aya hanya di beri uang sesuai dengan kebutuhan aya dan juga sekolah. Abah dan umma bilang jika nanti nya uang tabungan itu untuk masa depan aya pas kuliah." jelas aya begitu polos dan terbuka. Rama senang karena istri nya jujur dan terbuka kepada nya.
jadi maksud kakak ipar, kakak ipar sama sekali tidak tahu jumlah tabungan itu sekarang ?" tanya zul yang mulai tertarik dengan cara didik mendiang orang tua aya.
Aya mengangguk. Bagi nya tidak masalah juga ia terbuka mengenai hal ini. Karena mereka berempat adalah orang yang sangat dekat dengan suami nya. Bahkan sudah di anggap saudara oleh sang suami.
" lalu siapa yang membantu mengelola semua nya setelah kepergian abah dan umma ?" tanya rama lagi.
" dulu mendiang abah dan umma mempercayakan semua administrasi kepada pak Rt dan istri nya. Dulu juga aya dan mendiang putri pak Rt belajar bersama mengenai administrasi dasar, "
" tapi setelah abah dan umma meninggal, saat itu aya kelas 2 Sma, aya harus fokus ke kenaikan kelas 3 dan setelah nya harus fokus untuk pelajaran da kelulusan, jadi aya masih di bantu pak Rt untuk mengurus semu kebutuhan bibit, pupuk sampai saat panen."
" cuma aya nggak tahu berapa - berapa keuntungan yang di simpan di tabungan aya. Aya hanya minta sama pak malik untuk kebutuhan kehidupan sehari - hari, " lanjutnya lagi.
Rama manggut - manggut mengerti. Ia kini bisa menyimpulkan jika mendiang mertua nya sangat percaya dengan malik dan istri nya. Pantas saja kedua pasangan paruh baya itu begitu menyayangi istri nya.
Rama tersenyum dan mengusap lembut kepala sang istri. aric, zul, zain, dan juga revan ikut tersenyum. Dala pandangan mereka, sosok malik dan sari memang orang yang baik. Mereka bahkan mudah sekali akrab dengan tokoh penting di desa ini meski baru pertama kali bertemu tadi.
" nanti kita cek bersama ya ke bank, " kata rama yang di angguki oleh aya.
" jadi, kamu mau masuk jurusan apa yank?" tanya rama lagi. Keempat sahabat rama sampai bergidik geli saat mendengar rama memanggil istri nya dengan sebutan sayang.
" ehm, mau manajemen bisnis aja, biar bisa bantu pak malik dan ibu mengelola toko mendiang umma, " jawab aya polos. Rama dan lain nya kembali terkikik geli mendengar jawaban aya.
__ADS_1
Pemikiran sederhana sang istri sungguh sangat menggelitik. Istri nya hanya berpikir untuk meneruskan usaha ke dua orang tua nya.
" kamu nggak pengen kerja di perusahaan yang besar di kota atau bahkan luar kota dan luar negeri gitu ?" tanya rama yang penasaran dengan jawaban dari aya.
" ehhm,, mungkin jika untuk pengalaman ya tentu pengen lah, tapi kan akan bags jika usaha mendiang abah sama umma semakin maju dn aya bisa mengelola nya" jawab aya santai.
Lagi, kelima pendengar setia langsung saja tergelak. Sungguh hebat batin mereka. Gadis di depan mereka ini sama sekali tidak memiliki ambisi untuk pergi ke kota.
Beberapa banyak yang sangat mendambakan kehidupan yang glamour dan penuh dengan gengsi. Apalagi itu wanita. Sebenar nya bukan hanya wanita. Pri pun sama. Rata - rata mereka ingin kuliah yang tinggi dan mendapat pekerjaan bergengsi di perusahaan besar.
Tapi bagaimana dengan pemikiran nyonya bos ny ini ? Yang ada di dalam pikiran nya adalah menjaga usaha peninggalan orang tua nya.
Diam - diam mereka berlima sedikit khawatir mengenai kehidupan kuliah aya nanti nya. Apalagi aya akan kuliah di tempat yang sama dengan mereka yang nota bene tempat nya di penuhi dengan manusia yang penuh dengan intrik. Akan kah aya akan bertahan ?
" baiklah, jadi kamu mau ambil jurusan bisnis manajemen ya, ?" tanya rama menegaskan sekali lagi. Aya mengangguk mantap.
" oke, kebetulan penerimaan mahasiswa baru juga sudah di buka mulai hari ini, mas akan minta aric dan juga zain untuk mendaftarkan kamu nanti sebelum mereka pergi ke perusahaan, " putus rama.
" baik bos nyonya bos hanya perlu menyiapkan persyaratan nya saja. Biar kami yang akan membawa nya, " ucap aric menyanggupi perintah rama.
" tu .. Tunggu, kenapa bukan kak zul dan kak revan saja ? Bukan kah mereka ada kelas siang ? Jika kak aric dan kak zain bolak balik pasti akan sangat merepotkan mereka, " kata aya merasa tidak enak.
" sayang, aric dan zain satu fakultas dengan mu nanti nya, begitu juga dengan mas. Bisa di katakan kami akan menjadi kakak tingkat kamu nanti nya " jelas rama pelan - pelan.
" jadi maksud mas, aku akan kuliah di tempat yang sama dengan kalian ?"
__ADS_1