
Aya hanya menoleh menatap rama, seakan tatapan nya tengah protes kepada rama. Apakah harus segitu nya ?.
Rama hanya tersenyum dan mengelus kepala aya yang tertutup jilbab panjang nya. Dan aya akhirnya memilih untuk pasrah dengan pengaturan rama. Dalam hati ia hanya berdoa supaya tidak terjadi apa - apa hingga acara persalinan nya.
" baik, nak rama. Saya akan menerima kepercayaan yang nak rama berikan. saya juga berharap agar aya menjalan persalinan normal sesuai usia nya, " ucap dokter rani.
Selesai berbincang - bincang sebentar, rama dan aya akhirnya meninggalkan ruang praktek dokter rani.
" mas, kamu kenapa ? Kok seperti nya sedikit murung ?" tanya aya saat mereka sudah mulai memasuki mobil.
Rama terdiam, lalu ia menghadap ke arah aya dan menatap nya sendu.
" mas takut sayang, mas taut kamu kenapa - napa. Dada mas berdebar kencang saat dokter rani memperingatkan kita tadi, " ucap rama memilih jujur.
Aya tersenyum dan mengambil tangan rama kemudian di genggam nya tangan besar itu.
" mas percaya sama allah kan, kita serahkan semua nya kepada allah ya, hidup mati kita rejeki kita, insya allah sudah ada yang mengatur, " ucap aya dengan lembut. Rama mengangguk. Kegundahan nya sedikit mereda.
" mas, aya cuma minta 1 hal, jika naudzubillah terjadi apa - apa dengan aya, aya minta sama mas, mas harus pilih mereka berdua, " ucap aya sambil mengelus lembut perut nya. Para jabang bayi merespon dengan menendang perut aya dari dalam sana.
DEG
Jantung rama semakin berdebar kencang, ia segera melihat aya yang tengah tersenyum kepda nya tanpa ada rasa bersalah setelah mengucapkan hal yang mengerikan bagi rama.
" ja.. Jangan ngomong sembarangan sayang. Astagfirullah, istighfar kamu " ucap rama sedikit meninggikan suara nya. Tapi sedetik kemudian ia tersadar sudah membentak aya. Ia menangis dan memeluk aya erat.
" ma maafin mas, mas nggak sengaja bentak kamu, mas hanya kaget dan takut saat kamu bicara seperti itu, jangan mikir yang aneh - aneh sayang, jangan tinggalin mas, ucap rama dengan cepat.
Aya yang sempat tertegun dengan bentakan rama, seketika tersenyum. Ia tidak merasa tersinggung. Karena ia tahu rama sedang kalut. Tapi entah kenapa, ia hanya ingin berucap seperti itu, tanpa tahu jika rama trauma dengan kata - kata berbau kematian.
Tentu saja bayang - bayang saat sang bunda berjuang di ruangan rumah sakit 6 tahun yang lalu masih membekas di hati rama.
" mas, aya nggak apa apa. Aya yang harus nya minta maaf kepada mas, maafin aya yang sudah bicara aneh - aneh, " ucap aya.
Kedua nya saling berpelukan agak lama, sesaat kemudian rama akhirnya melajukan mobil nya dan kembali ke mansion.
...****************...
__ADS_1
seminggu berlalu begitu saja, kehidupan aya yang sedang hamil tua tetapi belum ada yang mengetahui selain sahabat rama dan sahabat nya nampak begitu tenang. Hari ini mereka akan mendapat kan hasil ujian semester 1, sementara rama, aric, zul, dan zain sudah akan menyelesaikan magang mereka begitu pula dengan paa mahasiswa tingkat 6 lain nya.
" sayang, jangan lupa pakai jam tangan dan bros kamu, " ucap rama saat mereka tengah bersiap berangkat ke kantor untuk menyelesaikan prosesi magang nya.
Meskipun aya sedikit heran dengan permintaan rama yang tiba - tiba mendesak nya untuk memakai jam yang memang biasa dia pakai, aya tetap tersenyum dan mengangguk. Rama melihat ke arah punggung aya yang sedang menyiapkan pakaian untuk nya.
' ya allah, perasaan apa ini. Kenapa jantungku berdebar - debar kayak gini, ' batin rama.
' semoga tidak terjadi apa - apa ' lanjut rama
...****************...
Saat ini, aya sedang berkumpul dengan para sahabat nya di kelas. Tempat biasa yang di gunakan oleh aya dan sahabat nya menghabiskan waktu saat tidak ada kelas,beruntung kelas aya dan para sahabat nya semua sama, sehingga rama tidak terlalu khawatir dan mempercayakan penjagaan aya kepada ketiga sahabat nya itu.
" udah 32 minggu kan, ay ?" tanya mira. Mta nya tengah mengawasi tangan rani yang tengah bertengger di perut aya.
" uhhh, nendang lagi dong.. " rutinitas dari rani dan lain nya adalah berlomba lomba mendapatkan tendangan dari calon si kembar.
" ih gantian lah ran, lo mah di kuasain dewek " sewot acha yang juga ingin merasa kan tendangan maut dari duo kembar.
" tau nih, udah setengah jam sendiri loh dia, parah bener " tambah mira yang juga tengah menunggu giliran.
" oh iya mir, gimana nih, bang aric ?" tanya aya sambil menaik turunkan alis nya. Mira yakin di balik kain cadar aya itu tersembunyi seringai jahil.
Mira sudah merona wajah nya mendengar pertanyaan aya. Sementara rani dan acha bersiap memasang telinga meskipun tangan mereka masih bertengger di perut buncit aya.
Mira memang tengah dekat dengan aric. Siapa yang sangka jika sahabat rama yang sifat nya hampir 11 12 dengan rama itu begitu berani mendekati mira. Sosok aric yang pendiam, datar dan sedikit dingin itu rupa nya akan meleleh di hadapan mira yang super energik. Seperti nya memang jodoh mencerminkan diri itu nyata ada nya.
" ehhmm, semalam dia ngajak ketemu, " jawab mira malu - malu.
" wohoooooooo... Acha dan rani sontak berteriak heboh. Mata mira nampak mendelik mendengar nya sementara aya hanya terkekeh, tapi sebenar nya ia juga ikut bersorak.
" terus .. Terus " desak rani tana memperdulikan delikan mata mira yang seakan menembus wajah nya itu.
" ehhhmm. Dia nembak gue, " akhir nya mira memilih jujur kepada para sahabat nya, toh mereka bertiga cukup bisa menjaga rahasia. Apalagi ada aya yang nota bene adalah istri dari bos aric.
" uhuuuyyyyy cie cie " teriak rani yang makin heboh.
__ADS_1
" ih kalian apaan sih " ucap mira dengan wajah yang semakin merona.
" ha ha ha, dasar. Terus kamu jawab apa ?" tanya aya yang penasaran.
" ehhh,,, .. Aku ... Menerima nya " bisik mira malu - malu. Aya, rani dan acha saling berpandangan.
" wooooooooohhhhhhhh, PEJE PEJE LAH ini mah " teriak rani lagi. Beruntung kelas hanya berisi mereka berempat, sehingga teriakan - teriakan mereka tidak menganggu yang lain.
" si rani kek toa sue !" gerutu mira dengan rona merah di pipi.
" ha ha ha, selam ..... "
" permisi, ada yang nama nya aya ?
Sebelum aya menyelesaikan ucapan nya, terdengar suara seorang mahasiswi yang memanggil nama nya.
" eh iya, saya aya. Ada apa ya ?" tanya aya sopan.
" kamu di panggil sama bu anis, sekarang di tunggu di ruangan nya, " ujar mahasiswi tersebut. Kemudian ia berpamitan pergi.
Ke empat nya berpandangan. Mira, rni, dan acha bersiap untuk berdiri.
" kalian mau kemana ?" tanya aya yang heran.
" ya mau nganterin lo lah, " jawab mira santai diangguki oleh kedua nya.
" ngga usah lah, ruangan bu anis juga cuma deket, " jawab aya. Ia sudah mulai beranjak pergi.
" yang bener? Udah ah, kami anter aja. Nanti kak rama marah" ucp rani yang cemas.
" beneran nggak usah. Kalian tunggu di sini bentar ya, " kata aya sambil pergi menuju ruangan bu anis yang memang hanya berada di ujung lorong kelas aya.
Suasana kampus di sekitar kelas aya entah kenapa nampak sepi, tidak ada mahasiswa yang berlalu lalang di sana.
Aya berjalan dnegan santai, dengan tatapan mata yang sedikit menunduk.
GREP DUG
__ADS_1
Mata aya berkunang - kunang
' MAS RAMA .... '