Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter One


__ADS_3

Di dunia ini ada banyak misteri yang begitu rumit. Dan sangat sulit untuk kamu pahami.


Tapi saat kamu menghadapi kesulitan dan belum bertemu solusinya. Maka ingatlah ini: 'bahwasanya Tuhan menciptakan dunia ini dengan sangat teliti, tidak ada sedikitpun kesalahan. Di mana ada pertanyaan, pasti ada jawaban, hanya saja...


Mungkin jawabannya sedang terpendam?'


Satu garis belum tentu adalah noda, karena bagi yang bisa, itu adalah awal dari sebuah karya seni yang maha indah.


###


Setetes keringat kembali jatuh dengan lambat mengikuti gravitasi. Menyiram tanah dan melegakan haus dari teriknya sinar mentari siang ini.


Seorang pria melepaskan cangkul penuh lumpurnya dengan santai. Dia berdiri dan menatap wajah sombong matahari yang terus mengintimidasinya. Tangannya dengan sadar bergerak untuk menghapus keringat yang masih ingin jatuh.


Dari arah kanan, seorang anak kecil berlari ria menuju arahnya. Tangannya melambai kearah pria itu dan berteriak:"Bapak!"


Pria baya itu menoleh dengan wajah yang tampak lelah. Tapi, setelah melihat si kecil, dia jelas tersenyum manis.


Dia melepaskan topi jerami di kepalanya dan berjalan menghampiri gadis itu. Tak lupa dia juga meneriakkan:"hati-hati!" Pada gadis kecil itu.


Jalan setapak yang kecil itu tidak beraspal, juga tidak di semen, jadi ada banyak batu kecil yang akan menganggu saat berjalan.


Wajah pria baya itu sedikit khawatir, karena dia melihat gadis kecil yang mirip kue itu nyaris tersandung oleh kerikil kecil.


Untunglah tangan hitam yang kurus segera menangkap tubuh gempal itu.


Tapi, pemilik tangan itu ternyata sangat kurus. Dia tidak bisa membantu gadis yang agak gemuk itu untuk terus berdiri seimbang. Akhirnya dengan tragis, mereka berdua jatuh.


Pria baya itu yang sempat lega menjadi gila lagi saat melihat dua anak yang sedang meringis karena terjatuh.


Dia berlari dengan panik, dan membantu gadis kecil yang putih dan agak gemuk itu untuk berdiri.


Dengan gelisah dia mengeledah tangan dan kaki gadis itu, takut akan ada memar akibat terjatuh.


"Kamu gak apa-apa kan sayang?" Tanyanya dengan lembut.


Gadis itu sudah menangis sejak dia jatuh. Sekarang, dia menatap orang di depannya dengan menyedihkan.


"Sakit!" Rengek gadis kecil itu dan menunjuk siku yang memang sedikit lecet.


Pria itu melihat bagian yang gadis kecil itu tunjukkan. Dia melihat siku yang tadi memang sempat dia lewatkan.


Dengan terburu-buru, dia mengambil tangan gadis itu. Dia meniupnya dengan penuh perhatian.


Gadis itu juga menatap ulah pria baya itu dengan wajah polos. Air matanya juga sudah tidak jatuh lagi.


"Sekarang udah enggak sakit lagi kan?" Tanya pria baya itu.


Gadis itu menggeleng.


Pria baya itu lega saat dia melihat gelengan gadis kecilnya.


Dengan senyum ramah, dia mengajak gadis kecil itu ke pondok lusuh yang berada tidak jauh dari sini.


Punggung keduanya sangat serasi dan bahagia. Meninggalkan gadis kecil hitam yang menatap gadis tadi penuh rasa iri.


Mata iri itu tidak bertahan lama. Dia mengelus luka di siku dan lututnya kasar. Meski tangan dan kakinya perih, dia tetap berlari dengan tas rantang makanan di tangan kirinya.


Dia menjadi sosok yang berlari mengejar perhatian dan kebahagian.


Dia adalah gadis yang malang. Lahir dari kebencian ayahnya terhadap ibunya. Gadis itu bukan hanya tidak di sukai ayahnya. Dia juga sering menjadi bahan ghibah dan ejekan warga kampung ini.


Tidak ada yang mau berteman dengannya hanya karena kulitnya yang tampak lebih gelap dari seluruh warga desa ini.


Namanya Kleine Engel.


Sejak dia berada dalam kandungan, dia sudah di benci oleh ayahnya. Jadi saat dia lahir, ayahnya bahkan tidak ingin meliriknya. Apalagi untuk menamainya.


Ibunya adalah orang bisu, dan juga tidak bisa memberinya nama. Selain itu dia juga buta huruf, benar-benar tidak ada yang memberinya nama saat itu.


Sejak awal ayahnya tidak mencintai ibunya. Dia bisa menikah dengan ayahnya karena berhasil membuat jebakan. Dan memaksa ayahnya setelah jebakan itu berhasil dilakukan.


Jadi, namanya yang sangat aneh itu berasal dari orang asing yang tidak sengaja lewat. Dan menyebut dua kata itu.


Bapak kepala desa dengan baik hati membantu dia membuat akta kelahiran.


Setelah lahir, ibunya tidak lagi menaruh harapan kepadanya. Jadi, dia tidak pernah mau merawat gadis malang itu.


Di ambang hidup yang sudah benar-benar ujung. Keluarga kepala desa dengan baik hati merawat gadis itu.


Tapi naasnya, karena baru beberapa bulan setelah merawat Kleine. Keluarga itu mengalami kecelakaan saat sedang menuju kota.


Saat itu Kleine baru berumur kurang dari satu tahun. Tidak ada lagi susu untuk dia minum. Ibunya tidak mau mengurusnya. Bahkan merasa jijik jika melihatnya, begitu pula ayahnya.


Tidak pernah pulang setelah kelahirannya.


Karena merasa kasihan, tetangga ayahnya mau merawatnya. Tapi, tidak lama setelah itu, janda tua atau tetangga baik itu mati karena serangan jantung.


Semua warga desa yang awalnya bersimpati dengan bayi kecil itu mulai menghindar. Mereka mengira kedua kejadian itu berhubungan dengan Kleine.


Sejak itu, Kleine mendapat satu julukan.


Ya, pembawa sial!

__ADS_1


Padahal saat itu dia belum mengerti apapun, tidak sedikitpun. Bayi tidak berdosa itu di telantarkan.


Ibunya yang bisu juga mendapat banyak tekanan dari warga kampung. Karena tidak tahan lagi, dan tidak ingin terus di ejek. Dia dengan mudah menyerah pada hidup, meninggalkan Kleine sendirian di bumi yang kejam ini.


Setelah kematian ibunya, ayah Kleine dengan terpaksa harus merawat Kleine kecil.


Beberapa bulan setelah itu, ayahnya menikah dengan seorang janda muda.


Tidak ada yang tahu bagaimana dia bisa besar sampai sekarang. Mungkin ibu tirinya cukup baik, dan dengan rela merawatnya?


###


Tuhan tahu yang terbaik untuk setiap hambanya. Dia tidak tidur, hanya sedang ingin menguji umatnya agar menjadi lebih kuat.


Jika kamu punya masalah, bersabarlah. Atasi semuanya dengan tenang dan bijak. Semuanya tidak perlu terburu-buru. Cukup tenangkan dirimu. Sabar!


Yang paling penting usahamu, hasil hanya bersifat sementara. Tidak akan menjadi selamanya. Seburuk apapun hasil, setelah waktu menenggelamkannya. Percayalah, kamu tidak akan mengingatnya sebagai kegagalan.


Karena kelak kamu akan mengenangnya sebagai guru yang baik.


Kemenangan sendiri tidak berarti begitu banyak. Jika sudah habis masa pamernya, itu tidak akan berguna lagi.


Jadi, teruslah berjuang. Titik akhir masih jauh, karena kamu masih belum bisa melihatnya!


Tidak ada usaha yang sia-sia.


Sebelum kembali ke laut yang luas dan besar, air itu pernah terbang di dorong angin dan di paksa jatuh.


Lalu, harus mengikuti arus yang tidak poros. Permukaannya kasar, dan menyakitkan. Kadang jatuh berulang kali, dan harus menerpa batu demi batu yang keras.


Nyatanya itulah hidup, penuh perjuangan. Jika tidak ingin berjuang, maka jadilah pecundang yang tidak berguna.


***


Kleine, gadis itu tidak cantik. Tubuhnya kurus karena kekurangan gizi sejak kecil. Rambutnya ikal dan tidak terawat, kulitnya gelap dan hanya tinggi badannya yang tampak baik.


Di usianya yang baru menginjak sepuluh tahun ini. Tinggi Kleine sudah jauh berbeda dari kebanyakan anak lain di desa.


Sayangnya badan kurus itu sangat tidak serasi jika di padukan dengan tinggi badan yang menjulang.


Kleine terjatuh lagi tanpa sengaja saat dia berlari mengejar ayah dan anak itu. Dia meringis dengan sakit, karena luka kali ini cukup besar.


Kuku di jari kakinya hilang setengah. Bendungan di matanya rusak, dan membanjiri pipi tirus hitam itu dengan air sungai kecil.


Ayahnya, menoleh dan melihat gadis itu terjatuh. Dia berdecak kesal. Berjongkok dan berbicara beberapa kata halus dengan gadis kecil di depannya.


Setelah itu, gadis itu berjalan dengan riang menuju gubuk yang sudah sangat dekat.


Sedangkan, pria baya itu berjalan menuju ke arah Kleine.


Kaki itu tidak indah, tertutup kain kotor yang sangat berlumpur. Kleine hanya bisa  melihat jari kakinya saja. Tanpa alas kaki, jari itu tidak dapat di kenali kukunya.


Tapi, yang paling pasti adalah setiap jari kaki itu, memiliki ukuran tiga kali lebih besar dari jarinya yang saat ini terluka.


Kleine tahu siapa itu, dia tidak berani menatap ke atas.


Dia tidak yakin, tapi dia sangat senang dalam pikirannya.


'Apakah ayah ingin membantuku?' batinnya berteriak penuh harap.


Harapan Kleine semakin besar, terutama saat pria baya itu membungkuk. Jantungnya berdebar-debar dengan harapan penuh.


Namun, Kleine langsung di tampar oleh harapan itu setelahnya. Karena pria baya itu tidak meliriknya dan membantunya sedikitpun. Dia hanya mengambil rantang makanan yang ada di samping Kleine.


Setelahnya dia berbalik dan melambai pada gadis yang ada di atas gubuk itu.


Tidak sedikitpun dia melirik Kleine. Tidak juga ada kata perhatian dan kekhawatiran. Bahkan jika itu adalah sebuah amarah, Kleine tidak pernah mendapatnya.


Air mata yang tadi sudah reda, kembali jatuh dengan ringan. Setetes dan berlanjut ke tetesan lainnya.


~Bagi orang lain, di pukul itu adalah hal yang paling menyakitkan.


Sebagian orang bilang kata-kata kasar sangat menyayat.


Tapi, tapi bagiku...


Pengabaian adalah titik inti dari semua rasa sakit itu~ Kleine.


Kleine tahu bahwa hidupnya tidak di terima. Sejak lahir dia tidak pernah di inginkan. Semua orang menjauh darinya.


Ibunya...


Ayahnya...


Kleine ragu dia lahir dari rahim seorang ibu.


Kadang dia bertanya pada dirinya sendiri, apa dia turun dari alam kematian?


Mengapa dia begitu di benci?


Saat rasa sakit yang di dalam ada, rasa sakit karena terluka di kaki tidak lagi terasa.


Yang paling menyakitkan sudah ada, lalu apa lagi rasa sakit yang kecil itu.

__ADS_1


Kleine menghapus air mata yang tidak bisa berhenti mengalir itu. Dengan perlahan dia berdiri, celana sobek pada bagian lutut. Bajunya sudah penuh bekas jahitan.


Kulitnya hitam, dan dia sangat kotor setelah terjatuh dua kali. Di tambah lagi dengan air mata yang mengotori wajahnya.


Dia tampak sangat menyedihkan.


Dengan langkah goyah, dia berjalan pincang ke arah yang berbeda dengan pria baya tadi.


Di dunia ini dia tidak di terima, tapi dia juga tidak mau mengakhiri hidupnya hanya karena penolakan banyak orang.


Hidup ini sangat berarti. Hanya ada satu untuk selamanya.


Apakah layak menyia-nyiakan anugrah indah hanya karena pembayaran atas anugrah itu?


Mungkin jika orang lain berada di posisi Kleine, mereka sudah lama ingin mati. Karena hidup yang terlalu tak memihak.


Tapi, Kleine tidak!


Dia bisa bertahan di atas pengabaian orang lain, dia sendiri tidak tahu bagaimana dia bertahan sampai sekarang.


Di jalan yang ramai, kiri dan kanan Kleine bisa mendengar tawa dari semua orang.


Musim ini semua warga biasanya membajak tanah, agar menjadi subur saat menanam jagung nantinya.


Dari gubuk ke gubuk, Kleine tidak bisa menahan mata irinya.


Tapi, apa iri bisa membuat semua yang dia inginkan terkabul?


Tidak!


Jadi lepaskanlah...


Kleine tersenyum dalam kesendirian. Beberapa warga yang melihatnya mengira dia gila karena tersenyum tanpa alasan.


Di jalan, jika ada orang yang lewat dari arah yang berlawanan. Mereka akan memutar balik karena ada Kleine.


Atau mereka akan menarik anak mereka menjauh dari Kleine. Lalu, menatap Kleine dengan mata bermusuhan.


Beberapa anak nakal akan berteriak dari jauh.


Mengatakan Kleine gila, pembawa sial, bodoh dan kata menyakitkan lainnya.


Ada juga yang dengan berani melemparkan batu seukuran kepalan tangan anak-anak.


Kleine berusaha menghindar dari lemparan itu. Tapi, karena bukan satu saja yang melempar. Kleine tidak bisa menghindar.


Di antara banyak batu yang mengenai Kleine, ada sebuah batu yang keras mengenai kening Kleine.


Tubuh Kleine terjatuh. Keningnya berdarah, karena batu itu punya permukaan yang kasar.


Sekarang, Kleine bahkan tidak merasakan air mata lagi.


Mungkin air matanya sudah kering?


Anak-anak itu juga punya rasa takut dan batasan. Saat melihat darah di kening Kleine, mereka berhenti melempar batu dan berlari.


Sejak awal, dari tadi kaki Kleine tidak berhenti berdarah. Sekarang kening Kleine juga berdarah.


Kepala pusing dengan cepat, karena terlalu banyak mengeluarkan darah.


Dari ladang ayahnya, sampai tempat ini. Berjarak sekitar seratus meter. Jadi, sejak tadi darah Kleine sudah banyak keluar.


Di jalan yang menyeramkan karena tertutup banyak pohon-pohon. Kleine jatuh tersungkur.


Tetes air mata terakhir jatuh ke tanah, dan setelahnya Kleine tidak sadarkan diri.


Darah dari kaki dan keningnya tidak kunjung berhenti. Terus mengalir.


Tapi, setelah beberapa saat darah itu mengering dan menutup luka.


Mungkin Tuhan tahu bahwa orang yang baik itu harus lebih cepat dia ambil. Agar hidup orang baik itu tidak terlalu menderita.


Atau, mungkin... Tuhan terlalu menyayangi Kleine. Jadi dia ingin mengambil Kleine kembali lebih cepat.


Nafas Kleine semakin melemah, sejak tadi dia bahkan belum minum seteguk air. Dan dia tidak diberi makan sejak beberapa hari yang lalu.


Mungkin hidupnya memang akan berakhir disini.


Kleine pernah berkata: "Jika suatu hari aku pergi, aku yakin tidak akan ada yang menangisi kepergian diriku! Tapi, aku percaya. Langit baik padaku, dan saat aku pergi. Maka dia akan menangis untuk mengiringi kepergian diriku!"


Perkataan yang begitu angkuh itu bukan tanpa alasan. Dulu, saat Kleine di hukum ibu tirinya karena kesalahan. Kleine harus berjemur di bawah teriknya matahari.


Bibir Kleine pecah-pecah karena kehausan. Wajahnya sudah memutih karena kelaparan. Dan keringat dingin sudah mengucur, memandikan dia dengan air asin itu.


Di saat paling kritis itu, hujan datang. Menghilangkan panas, menghapus dahaga dan menemani rasa sepi yang Kleine alami.


Dan hal itu tidak terjadi sekali saja. Ada lebih dari sekali hujan datang disaat Kleine membutuhkannya.


Benar saja apa yang Kleine katakan, hujan memang turun saat nafas Kleine sudah tidak terlihat lagi.


Hidup Kleine berakhir di sini...


Kisah yang pendek ini memang tidak panjang...

__ADS_1


Sampai jumpa, di sisi lain kehidupan~ Kleine.


***


__ADS_2