
Hidup ini bukan sebuah cerita, tapi cerita adalah hidup.
Jika cerita memiliki akhir, maka hidup tidak!
Bahkan kematian juga bukan sebuah akhir, tapi justru itu adalah awal yang baru. Dalam cerita tidak semuanya berakhir indah. Begitu juga dengan hidup.
Tapi, satu hal yang menjadi ciri khas dari cerita. Yaitu sebuah konflik yang membuat kisah yang awalnya monoton itu menjadi menarik.
Dan hidup, juga punya konfliknya sendiri. Hanya saja kita kadang tidak menyadarinya karena konflik itu terlalu kecil. Kita hanya menyadari ketika konflik itu sudah menjadi masalah besar dalam kisah kita.
Hidupku, adalah ceritaku!
Hidupmu adalah kisahmu.
Tapi, terkadang kisahmu dan ceritaku akan Salang bertabrakan dan membentuk romansa antara kamu dan aku.
***
Beberapa tahun ini Indonesia sudah menerapkan satu kendaraan bermotor dalam satu keluarga. Jadi, kemacetan di ibukota baru tidak seburuk di ibukota lama.
Sebuah mobil Lamborghini yang lewat bukan tidak ada. Bahkan ada cukup banyak, biasanya yang membawa mobil itu adalah artis atau orang kaya generasi kedua. Sehingga banyak orang sudah terbiasa dan tidak terlalu tertarik untuk terus menatap.
Tapi, mobil Lamborghini hijau itu masih menarik perhatian banyak orang. Selain warnanya yang memang mencolok karena berbeda dari mobil Lamborghini biasanya. Dua orang yang ada didalamnya juga menarik perhatian.
Seorang gadis berambut panjang ekor kuda yang bercadar dan seorang gadis lainnya yang berpakaian kantor kasual yang cantik.
Kleine tidak peduli dengan banyak orang yang melihat keanggunan dia. Fokusnya tetap pada setirnya, sesekali dia akan menyalip mobil lain dengan lincah.
"Aku harus bersyukur karena kau tidak mengebut hari ini!" Ujar Delora mengelus dadanya dengan santai.
Kleine yang mendengar itu mengangkat bibirnya setengah. Dia dengan senyum licik itu langsung menginjak pedal gas. Mobil Lamborghini hijau yang menjadi pusat perhatian itu hanya menyisakan bayangan.
"Akh! Aku hanya berkata seperti itu dan kau sudah mengambil seluruh nyawaku!" Teriak Delora menatap Kleine dengan kesal. Matanya melotot seakan ingin keluar saat itu juga.
Rambutnya yang tidak terikat terbang bebas ditiup angin. Kedua tangannya berpegangan erat pada self belt yang sudah ia pasang sebagai ancang-ancang sejak tadi.
"Penakut!" Tanggap Kleine dengan nada mengejek dan memperlambat kelajuan mobil.
__ADS_1
Dia senang menjadi jahil, terutama pada teman sekaligus asisten kecilnya ini.
"Kau ini, siapa yang penakut!" Ujar Delora dengan wajah cemberut. Dia menyilangkan tangannya didepan dada dan membuang muka keluar dari wajah Kleine.
Kleine mengabaikan Delora seperti biasanya. Kali ini dia tidak bermain lagi dengan kemudi ditangannya.
Menutup atap mobil, Kleine merasa jauh lebih baik karena dia pagi ini terlalu terik.
Beberapa menit berlalu, dan akhirnya mobil hijau mencolok itu sampai di tempat parkir bawah tanah perusahaan mereka.
Saat Kleine akan memarkir, sebuah mobil Lamborghini merah menerobos dan mengambil tempat yang awalnya ingin Kleine isi.
Orang yang lancang itu bahkan menunjukkan jari tengahnya keluar jendela pada mobil Kleine yang terlalu lambat parkir.
Kleine mengerutkan alisnya dengan kesal. Dia menatap Delora penuh makna.
Delora yang mendapat tatapan dari Kleine menjadi semakin kaku setelah terkejut akibat ulah orang itu. Dilihat dari tangannya, itu haruslah tangan seorang pria muda.
"Cari tahu dan berikan informasinya padaku!" Ujar Kleine dengan nada dingin yang sangat mendominasi.
Ini bukan pertama kalinya Kleine kesal, tapi ini pertama kalinya Kleine memberinya perintah dingin seperti ini. Delora bahkan tanpa sadar mengangguk.
"Mari kita lihat siapa yang paling cepat?" Bisik Kleine dengan senyum mematikan.
Delora merinding mendengar bisikan kecil Kleine yang lebih ke sebuah gumaman itu.
"Oke, aku akan segera mencari tahu!" Ujar Delora sigap.
Dia ingin menoleh dan melihat siapa orang akan keluar itu, tapi sepertinya mereka terlalu banyak mengobrol atau apa. Karena orang itu telah pergi ke lantai atas dan menyisakan punggung yang semakin kecil.
Sial! Umpat Delora dalam hati.
Tapi, dia melirik mobil Lamborghini merah itu. Dia tersenyum bahagia karena tidak akan sulit mencari informasi orang itu.
Kleine berubah pikiran untuk datang ke perusahaan. Jadi, dia memerintahkan Delora untuk segera turun.
"Tapi, bukankah kau tadi bilang akan melihat perusahaan?" Tanya Delora dengan bodoh saat dia sudah berdiri di luar mobil.
__ADS_1
"Apa peduliku?" Tanya Kleine dengan malas dan menyetir mobilnya keluar dari tempat gelap itu.
Di sisi lain, di sebuah mansion yang sangat besar dan mewah. Seorang gadis sedang memaki seorang pembantu yang tidak berhasil memuaskan keinginannya.
"Bukankah sudah kubilang untuk tidak menambahkan gula? Tidak berguna! Pergi dari pandanganku, jangan biarkan aku melihat kau lagi!" Teriak gadis itu dengan kesal.
Pembantu yang tampak sudah berkepala empat itu hanya diam. Nona muda ini sangat dimanjakan dan begitu mudah tersinggung. Apapun harus sesuai yang dia inginkan, dan dia akan selalu benar walau terkadang dia sendiri yang memesan salah.
Pelayan itu diam saja, walau sebenarnya dia tidak salah. Tadi Azel memang memesan jus mangga dengan satu sendok gula. Tapi setelah rasa manisnya berlebih, dia malah marah dan bilang pelayan itu ingin meracuninya.
Azel merasa kesal karena pelayan itu diam dan tidak menanggapinya. Dia mendengus kesal dan menoleh kesamping dengan sombong. Setelah masih tidak mendapat permohonan belas kasihan dari pelayan itu.Dia berjalan melangkahi pecahan gelas dengan angkuh dan berjalan ke ruang tamu.
Di ruang tamu yang luas, ada seorang pria paruh baya yang menyendiri. Duduk di sofa panjang dan besar, tubuh kecil dan kurusnya sangat tidak serasi.
"Kakek!" Teriak gadis tadi yang galak berubah menjadi suara manja yang sangat menggemaskan.
"Ada apa?" Tanya pria tua itu dengan wajah lelah dan penuh pengertian.
"Mereka menggangguku lagi!" Keluhnya dan memelas disamping pria tua yang sedang melihat dia dengan pengertian.
"Oh, Azel kakek tersayang... Katakan pada kakek, siapa yang berani menganggu cucu kesayangan kakek?" Tanya pria tua itu dengan senyum memanjakan.
"Para pembantu itu, mereka tidak pernah melakukan sesuatu seperti yang Azel katakan! Mereka sangat tidak berguna kakek!" Aduhnya melebihkan kisah palsu. Dia mengarang sedemikian rupa agar kakeknya semakin memanjakan dia.
"Oh, bukankah itu sangat mudah? Kalau dia tidak kau suka, kau tinggal pecat saja dia!" Ujar pria tua itu memberikan solusi yang tidak terlalu bertele-tele.
"Ah, benarkah begitu kakek? Tapi dia adalah pelayan lama rumah ini, bagaimana bisa begitu muda dipecat?" Tanya Azel tampak sangat bermasalah.
Hal ini tentu saja membuat pria tua itu semakin ingin memanjakan gadis berwajah putih chubby itu.
"Kalau begitu kau hukum saja semaumu!" Kata pria itu memberi usulan yang lain.
"Ah tapi aku tidak tega menghukum bibi itu, biar bagaimanapun juga dia sudah tua. Kakek yang harus menghukumnya untuk Azel?" Pinta gadis itu dengan mata berbinar yang sangat besar.
Melihat ini membuat pria itu semakin tidak bisa berpaling. Jadi, dia melepas dokumen di tangannya dan berdiri.
"Baiklah kalau begitu, pelayan mana yang mengganggu cucu kakek? Biar kakek menghukumnya!" Lalu pria tua itu mengajak Azel untuk menunjukkan arah.
__ADS_1
Mereka berjalan keluar dari ruang tamu menuju taman belakang tempat pelayan tadi Azel marahi.