Serangan Cinta CEO Dingin

Serangan Cinta CEO Dingin
Chapter Forty Seven


__ADS_3

Ada begitu banyak orang yang kesal dan tidak senang semalam. Salah satunya adalah Azel. Setelah pulang dari perjamuan dengan kecewa, dia terus mengurung diri di kamarnya.


"Sayang, ada apa? Coba buka pintunya dan cerita sama kakek!"


Sejak Azel pulang dari perjamuan, gadis itu langsung lari ke kamarnya dan terus mengurung dirinya. Pria tua itu menjadi khawatir dan panik, apalagi setelah mendapat cerita dari keponakannya.


Dia tahu betul betapa di manjanya cucu satu ini, dan apapun pasti selalu dia dapatkan selama dia menginginkannya. Tapi, untuk seorang tuan muda dari keluarga yang tingkatnya lebih tinggi, pria tua itu hanya bisa diam-diam membujuk cucunya.


Azel yang berada di dalam sangat kacau, setiap barang telah memenuhi lantai. Dia sendiri terus memaki Greens yang menurutnya telah merebut pria yang dia suka. Mau bagaimana pun juga, baginya Lion adalah calon suaminya.


"Dasar j*l*Ng! Seharusnya kau mati saja, Akhh....!"


Dia mendorong jauh apapun yang ad di sekitarnya.


"Paman, ini kunci cadangannya!" Carlie menyerahkan rangkaian anak kunci pada tuan Carlos.


Dengan sigap, pria tua itu mengambil berbagai jenis anak kunci itu dan mulai memasukkan satu persatu. Sekarang dia sangat khawatir dengan keadaan Azel, karena sedari tadi gadis itu selalu berteriak dan juga selalu ada bunyi bedah yang pecah.


Saat pintu akhirnya terbuka, yang mereka lihat sangatlah kacau. Dan Azel duduk bersimpuh diantara banyaknya pecahan kaca. Tangannya tampak sedikit berdarah. Dengan panik tuan tua itu berlari menuju Azel.


Tapi tangannya langsung ditarik oleh Carlie. Dia menatap Carlie tidak mengerti. Namun, dia segera mengerti saat melihat pelayan segera datang dan menyapu serpihan kaca untuk mereka lewati.


Setalah bisa lewat dengan aman, selagi para pelayan membersihkan ruangan. Dia memeluk Azel yang sedang menangis.


"Hei, nak tenanglah! Jangan sedih, kakek akan membantumu! Tenang saja, kakek kenal dengan tuan tua Bramansa. Biar kakek kenalkan padamu lain kali, bagaimana?" Ujarnya menenangkan Azel.


Mendengar ucapan kakeknya memang telah berhasil membuat Azel tenang. "Benarkan kakek mengenal tuan Bramansa?" Tanya Azel dengan riang.


Tuan tua Carlos mengangguk. "Teman kecil, tapi kakek hanya akan mengenalkan dia padamu, tidak mengusulkan perjodohan. Kau harus bisa mendapatkan hati tuan tua Bramansa itu sendiri. Apa kau mau?" Tanyanya yang langsung mendapat anggukan antusias dari Azel.


Carlie yang dibelakang keduanya hanya bisa tersenyum. Dia tahu bahwa pamannya kenal dengan tuan Bramansa tua. Tapi, dia juga tahu hubungan mereka tidak akrab hanya sebuah hubungan kerjasama yang sangat formal.

__ADS_1


Namun, dia sangat senang karena Azel sudah tidak marah lagi.


***


Kleine sangat bebas setiap hari. Jadi, dia begitu mudah bosan. Tapi, tenang saja, dia tidak akan pernah bosan menjadi malas dan bebas seperti ini. Sekarang, dia sedang mengendari sepeda berwarna hijau ke sebuah gang kecil.


Rambutnya di kuncir kuda seperti biasanya. Kali ini untuk menghindari banyak masalah, dia memakai topi hijau besar yang berhasil menutupi sebagian wajahnya. Dia juga memakai baju kaos panjang warna hitam dan celana training hijau.


Karena pada dasarnya Kleine adalah pemalas sejati, jadi Kayuhan sepedanya sangat lambat. Gang yang dia masuki memang sangat sempit, tapi tidak sepi dan menyeramkan. Sesekali dia akan bertemu dengan tatapan aneh dari orang lain.


Di dalam hatinya Kleine memuji kecantikannya yang tertutup namun tetap bisa menarik minat banyak orang. Tapi, dia yang terlalu percaya diri itu tidak tahu bahwa orang yang melihatnya bukan karena kecantikannya. Melainkan karena sendal beruang besar dan juga Kayuhan sepedanya yang lambat dan selalu oleng kekanan dan kekiri.


Saat sampai di depan sebuah restoran kecil, Kleine turun dari sepedanya dan mendorong sepeda itu masuk ke dalam restoran.


Tentu saja seorang pelayan yang melihatnya akan langsung menghentikan aksinya itu. "Maaf nona, sepeda ada tidak bisa dibawa masuk ke dalam!" Ujarnya dengan sopan.


Kleine mengerutkan kening tidak senang. Dia melihat sekeliling dan semua orang menatapnya dengan penuh ejekan. Dia membalas tatapan mereka dengan matanya yang setajam elang.


Pelayan itu agak gugup dan takut karena tatapan tajam dari Kleine. Dia mengangguk dengan tidak yakin. "Ada apa ini?" Tanya pelayan pria pada pelayan wanita itu.


"Apakah restoran ini membuat aturan tidak boleh membawa sepeda masuk?" Tanya Kleine pada pria itu dengan nada provokasi.


Pria itu sedikit terpesona dengan suara yang tajam namun menenangkan itu. Dia menoleh pada wanita itu. Tampilannya sangat biasa, tapi dia sangat menawan.


"Nona ini, kami sangat meminta maaf, tapi di restoran kami tidak boleh membawa sepeda masuk, bahkan restoran lain juga menerapkan hal yang sama!" Jelasnya dengan penuh perhatian.


"Hem! Kalau begitu kau bawa sepeda ini keluar dan jaga dia sampai aku selesai dengan urusanku!" Angguk Kleine dan menyerahkan sepeda itu ke tangan pria yang masih bingung.


"Eh, tapi nona! Saya perlu bekerja." Ujarnya berusaha menolak dan mendorong sepeda itu kembali ke Kleine lagi.


"Tenang saja, aku akan membayarmu!" Ujar Kleine malas dan berjalan masuk ke arah dapur. "Eh, nona itu adalah dapur, anda tidak boleh masuk!" Cegah pelayan wanita tadi.

__ADS_1


Kleine sangat kesal karena tangannya telah di sentuh oleh sembarang orang. "Lepaskan!" Ujarnya dingin.


Pelayan wanita itu dengan sigap dan takut langsung menarik tangannya pergi.


"Ada apa ini, mengapa begitu ribut?" Tanya seseorang dari balik Kleine. Kleine berbalik dan melihat wajah cantik sahabatnya yang sedikit berminyak.


"Lea, akhirnya kau datang! Huhu, mereka mengangguk. Lihat mereka bilang ada aturan bahwa aku tidak bisa membawa sepedaku masuk. Dia juga tidak membiarkan aku datang menemuimu. Dan mereka semua mentertawakan aku," aduh Kleine dengan manja. Dia memeluk tangan Lea dan mulai menuduh orang lain satu persatu dengan air matanya.


Lea mengelus kepala Kleine dengan sayang dan menatap semua orang dengan wajah garang. Tiba-tiba...


Bruk!!!


Kleine langsung di dorong jatuh ke bawah oleh Lea. "Berhentilah membuat ulah!" Ujarnya dengan garang dan menatap para pelayannya, "kembalilah ke pekerjaan kalian! Ah, maaf atas gangguannya!" Bungkuknya dengan senyum ramah.


"Eh, lalu sepedanya?" Tanya pelayan pria itu.


"Buang saja ke tempat sampah!" Jawab Lea malas dan berbalik untuk kembali ke dapur.


Kleine yang kesal mengulurkan kakinya agar Lea tersandung. Semua orang melihat tubuh Lea yang sudah condong ke depan dan akan mencium lantai dalam hitungan detik.


Tapi, beberapa detik setelahnya. Sebuah tangan kokoh terulur dan menarik Lea ke dalam pelukannya.


Bukannya berhasil mengacaukan Lea, kleine justru mendapat makanan anjing dari drama romantis kedua orang itu.


###


Assalamualaikum semuanya😚


kalian ada yang rindu aku gak nih, udah ngilang lama banget nih. kirain bakal ada yang nyari, ternya gak😭


gak papa deh, yang penting aku selalu rindu kalian.

__ADS_1


sampai jumpa lagi✋👋✋👋


__ADS_2